Kitab Wahyu Disebut Juga Kitab

Kitab
Wahyu kepada Yohanes
(singkatnya
Kitab Wahyu) yakni kitab terakhir dalam kanon nan menutup sejarah Perjanjian Baru dalam Alkitab Kristen.[1]
Kitab ini kembali yakni sebuah kitab Kristen nan berisikan penglihatan, lambang, tanda, ketentuan, serta kejadian-situasi yang berkaitan dengan pengajaran Tuhan kepada bangsa Yahudi.[2]
Selain itu, Kitab Tanzil merupakan salah satu kitab yang sulit dipahami dalam Alkitab sehingga menimbulkan banyak penafsiran atasnya.[3]
Lega zaman 2 Masehi, basyar Masehi memiliki kesadaran bahwa kitab Wahyu yaitu kode figuratif nan meramalkan hamba allah-manusia maupun peristiwa-keadaan tertentu yang mengantar pada pengahabisan zaman.[4]
Sreg ketika itu, sekelompok kabilah Montanis menyingkir ke padang padang pasir Frigia buat menyaksikan Yerusalem firdausi turun dari langit, belaka mereka semua kecewa dengan pengharapan mereka.[4]

Daftar sentral

  • 1
    Struktur
  • 2
    Ayat-ayat terkenal
  • 3
    Parasan Belakangan

    • 3.1
      Carik
    • 3.2
      Keadaan Sosial dan Kebijakan
  • 4
    Apokaliptik
  • 5
    Memaklumi Kitab Wahyu

    • 5.1
      Pandangan Profetis
    • 5.2
      Pandangan Spiritualistis
    • 5.3
      Rukyah Historis Kritis
  • 6
    Barang bawaan Doktrin

    • 6.1
      Eskatologi
    • 6.2
      Etika
    • 6.3
      Eklesiologi
  • 7
    Tujuh Gereja di Asia
  • 8
    Tujuh perkataan bahagia
  • 9
    Tatap lagi
  • 10
    Teks
  • 11
    Pranala asing

Struktur

Menurut Metzger, kitab Wahyu ini dapat dibagi sebagai berikut:[5]

  • Prolog {{Alkitab|Wahyu 1:1-8
  • Tujuh adegan paralel, dengan pembatas pada ayat-ayat:
    • Wahyu 3:22
    • Wahyu 8:2
    • Tanzil 11:19
    • Wahyu 14:20
    • Wangsit 16:21
    • Wahyu 19:21
  • Epilog
    Wahyu 22:6-21

Ayat-ayat terkenal

  • Tajali 1:8: (Yesus bersabda:) “
    Aku yaitu Alfa dan Omega, firman Allah Allah, yang mempunyai dan yang telah mempunyai dan yang jemah, Tuhan.
  • Wahyu 1:17-18: (Yesus berfirman:) “
    Jangan mengirik! Aku yaitu Nan Tadinya dan Yang Penghabisan,
    18dan Yang Hayat. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku semangat, setakat selama-lamanya dan Aku menjawat apa kunci maut dan kerajaan maut
    .
  • Wahyu 3:20: (Yesus berfirman:) “
    Lihat, Aku bersimbah di muka gerbang dan mengetok; kalau memiliki cucu adam yang mendengar kritik-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan serentak dengan dia, dan kamu bersama-seperti Aku.
  • Wahyu 22:20: Dia (Yesus) yang memberi kesaksian akan halnya semuanya ini, berbicara: “
    Ya, Aku menclok segera!
    ” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!
  • Ayat terakhir
    Petunjuk 22:21: Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.

Latar Belakangan

Penulis

Penyalin kitab ini menjuluki label Yohanes,[6]
[7]
seumpama “tali pusar dan sekutumu dalam kesulitan, n domestik Kerajaan dan dalam kebulatan hati menantikan Yesus, berada di pulau nan bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan maka dari itu Yesus.”[8]
Jelas ia tidak menulis secara anonim[9]
Beberapa mahir menganggap penulisnya yaitu rasul Yohanes bin Zebedeus.[10]
Hal ini pula didukung oleh argumen Yustinus Syahid nan tercatat dalam Dialog dengan Trypho pada periode 135.[11]
Juru tulis Wahyu memasyarakatkan diri sebagai seorang nabi (Wahyu 1:2-3;
Ajaran 22:6,9,19).[10]
Dia bekerja di Asia Kecil dan merupakan seorang keturunan Yahudi.[10]
Sreg masa itu umat Masehi disiksa dan dikejar-buru karena kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus bagaikan Anak Allah, sehingga dengan menulis kitab ini sang penulis berhasrat berhasrat memberi nasib kepada sidang pembaca dan pendengarnya, dan juga untuk menjorokkan mereka moga kukuh percaya pada waktu kejadian demikian.[10]

Peta
Anatolia Barat
(suntuk tertera Asia Mungil) menunjukkan pulau Patmos dan sapta kota yang dikatakan dalam Kitab Wahyu.

Keadaan Sosial dan Strategi

Baginda Titus Flavius Caesar Domitianus Augustus

Setelah kekaisaran Romawi mengalahkan kerajaan Yunani/Greece pada tahun 168 sebelum kristen, maka pemerintah mengharuskan rakyat menyembah dewi Roma.[2]
Tetapi demikian, dewi ini tidak n kepunyaan wujud dan terdapat sebuah pemikiran apabila dewi ini nantinya akan disembah maka akan sulit bikin mendapat dukungan berasal bermacam kaum yang berlainan.[2]
Oleh karena hal inilah, maka kekaisaran Romawi mulai memberlakukan pemujaan terhadap sinuhun.[2]
Pada saat itu aji Nerolah yang memimpin bangsa Romawi. Dia melakukan kekerasan dan penganiayaan pada orang Masehi hingga yang belakang sekalinya lega musim 64 Nero menyalakan kota Roma dan orang Kristen diproduksi menjadi kambing hitam atas kebakaran tersebut.[2]

Plong masa pemerintahan Domitian, emir dengan giat melaksanakan pendewaan atas dirinya sendiri.[1]
Dia menamai dirinya umpama allah, cak bagi mungkin belaka yang lain konstan kepada dia akan dinyatakan menghujat allah serta dinilai sebagai penghianat kerajaan.[1]
Kamu kembali membuat regulasi di intern kerajaan, salah satunya yaitu setiap pembesar kekaisaran yang bertekad bersuara dengannya atau menclok memasrahkan laporan kepadanya haruslah menyapanya dengan Sang pencipta.[2]

Pasca- kuasa kebijakan rezim kekaisaran Romawi stabil, misalnya sistem transportasi yang maju, jaminan keamanan bagi masyarakat, serta acaram keamanan perdagangan, maka tercetuslah sebuah istilah dalam sejarah politik Romawi yaitu
Pax Romana.[2]
Pax Romana
yaitu sebuah istilah yang dipakai makanya rakyat kerjakan mengucapkan tanda terimakasih pada aji.[2]
Setiap tahun pun telah diputuskan bahwa rakyat harus bakal mengasapi cak bagi menyembah raja internal kuil.[2]
Hamba allah-orang Kristen nan hidup pada hari ini mengalami tekanan dari para pembesar pemerintah.[2]
Namun demikian, demi iman kepercayaan mereka yang terus mereka pertahankan mereka rela kerjakan dianiaya dan dibunuh.[2]
Hal ini menyebabkan banyak insan Kristen nan menjadi martir.[2]

Apokaliptik

Kitab Wahyu merupakan sebuah kitab yang mengutarakan pemikiran serta kesusasteraan apokaliptik.[10]
Pemikiran dan varietas sastra apokaliptik sebetulnya sudah mengembang di kalangan basyar-bani adam Ibrani sejak zaman kelompokan Makabe (zaman ke-2 SM) sampai pengahabisan zaman ke-2 Masehi (sekitar tahun 200).[10]
Kesusasteraan apokaliptik intern kitab Visiun diperlihatkan dengan kejadian mempunyai bermacam jenis wujud rukyat.[10]
Penglihatan nan disampaikan terutama mencantol pada zaman terakhir.[10]
Pada zaman terakhir ini, kuasa-kuasa kejam akan memperbudak umat yang tetap pada segala sesuatu nan diajarkan agama, sahaja lega yang pinggul sekalinya kejahatan itu akan dihancurkan dan umat nan berketentuan akan diselamatkan.[10]
Kristus akan menang melawan karas hati dan membedakan semua umat percaya.[10]

Rukyat-penglihatan privat kitab Wangsit penuh dengan kiasan dan lambang nan runyam bagi dipahami.[10]
Namun demikian, kiasan dan lambang intern kitab Wahyu tak dapat dipahami secara harafiah.[10]
Lambang tersebut lain dapat digambarkan ataupun dikhayalkan sebagai satu kenyataan.[10]

Memahami Kitab Wahyu

Intern memahami Kitab Wahyu, terdapat tiga macam pandangan teologis yang sangat menentukan kegiatan pendekatan lakukan memahami Kitab Wahi diantaranya pandangan
profetis, rukyah
spiritualistis, dan pandangan
bersejarah-kritis.[3]

Pandangan Profetis

Pandangan profetis menganggap Tanzil sepenuhnya merupakan nubuatan tentang pengahabisan zaman, terutama jika dihubungkan dengan Kitab Daniel dan bagian-bagian eskatologis bukan internal Injil.[3]
Penglihatan profetis terbagi dalam tiga persebaran ialah rukyat
preteris, pandangan
futuris, dan penglihatan
historis.[3]
Pandangan
preteris
berusaha memafhumi Kitab Wahyu dengan melihat hal-situasi pada zaman pertama, misalnya mengenai penyiksaan terhadap dom nan digambarkan seperti metafora “ibu berpunca wanita-wanita perempuan lacur dan bersumber kehinaan bumi” (Tajali 17:5).[3]
Hal lain pun yaitu Harmagedon (Visiun 16:6) dipandang ibarat penghakiman Allah atas individu-orang Yahudi yang dilakukan maka itu prajurit-prajurit Romawi yang digambarkan sebagai binatang.[3]
Pandangan
futuris
menganggap semua atau beberapa akbar nubuat Wangsit merupakan mengenai kejadian nan akan terjadi pada musim depan, menjelang kedatangan Kristus kedua.[3]
Pandangan futuris juga mempercayai bahwa siksaan dahsyat akan terjadi yakni waktu sapta musim, ketika orang beriman di seluruh lingkungan hayat akan mengalami penganiayaan dan kesyahidan serta akan disucikan dan dikuatkan olehnya.[3]
Rukyah futuris ini pertama kali dimunculkan maka itu dua makhluk penulis Katolik yaitu Manuel Lacunza dan Ribera.[3]
Pandangan historis menganggap Tanzil sebagai petunjuk bakal uluran waktu pecah zaman pertama sampai kedatangan Yesus yang kedua.[3]
Secara politis, huruf angka-bunyi bahasa dalam kitab ini dimaknai ibarat nubuat tentang perpecahan tahap demi tahap dan degradasi kerajaan Romawi, timbulnya perpecahan di Eropa Barat dan bangunnya kerajaan Islam di Timur.[3]
Secara gerejawi Wahyu dipahami`laksana ramalan adapun perluasan gereja, bahwa setelah penganiayaan yang dialami, basilika terus mengembang sampai menaklukkan seluruh lingkungan spirit.[3]

Pandangan Spiritualistis

Penglihatan ini menekankan definisi spiritual di kencong pewartaan Kitab Wahyu.[3]
Pandangan-penglihatan yang dipaparkan n domestik kitab ini dipahami sebagai ungkapan kebenaran rohani yang tidak berkesudahan, yang kerap dinyatakan di sepanjang memori.[3]
Internal pandangan ini, pewartaan kitab Wahyu selalu dimaknai secara alegoris.[3]
Gambaran-bayangan yang memiliki di dalamnya dianggap andai simbolisme hal-peristiwa di pengahabisan zaman.[3]

Pandangan Historis Kritis

Penglihatan ini memahami Kitab Tajali dengan pendekatan bersejarah-kritis.[3]
Menurut pandangan ini, wanti-wanti kitab Wahyu tidak mungkin dipahami tanpa analisis historis atas latar belakangan penulisannya.[3]
Bahasa-bahasa apokaliptis yang dipergunakan boleh dipahami apabila latar belakangan konteksnya semakin lewat dikenal.[3]
Pandangan historis-kritis mencerna kitab wahyu dalam konteks historis zaman pertama dalam sastra apokaliptik Yahudi dan Serani.[3]

Muatan Teologi

Eskatologi

Kognisi eskatologis kitab ini terdapat dalam
Wangsit 1:7, di sana digambarkan mengenai situasi kesanggupan Kristus yang kedua kalinya.[12]
Selain itu, eshkatologi kitab ini juga tak lagi peristiwa kala nanti yang dinantikan, melainkan situasi waktu sekarang yang mendemonstrasikan kuasa Allah, karena Yesus bercakap “Aku datang segera”.[3]
Selain itu, tema kerajaan Tuhan n domestik kitab Petunjuk dipengaruhi oleh pengertian kerajaan seribu tahun.[12]
Sebelum hal mempunyai kerajaan seribu periode, karuan akan mempunyai kesulitan yang akbar, namun kesulitan tersebut akan hilang saat Kristus mengalahkan sumber kesulitan.[12]

Etika

Dasar etika Kristen kerumahtanggaan kitab Wangsit dikemukakan internal
Tajali 1:5, “…memang Tuhan menyelamatkan umatnya berpokok tanah Mesir, sahaja sekali lagi membinasakan mereka nan tidak percaya.”[3]
Secara figuratif dan tipologis, pengalaman Israel ini merupakan ilustrasi lakukan gereja.[3]
Kerumahtanggaan Yesus, Allah telah menyelamatkan umatnya berpunca dosa-dosa mereka plong masa lampau, namun mereka yang bukan berkepastian akan dibinasakan.[3]
Berita ini merupakan dasar perintah di mana cucu adam beriman dipanggil buat menggandeng garis pembatas dengan orang yang enggak beriman, sebab semua akan dihakimi berlandaskan tingkah lakunya.[3]
Tingkah laku memiliki guna sebuah respons nan tepat terhadap karya keselamatan Sang pencipta n domestik Yesus, nan telah diterima oleh orang-anak adam percaya.[3]

Eklesiologi

Eklesiologi kitab Visiun mencerminkan bahwa jemaat terdiri dari saudara-saudara laki-junjungan dan ari-ari-saudara nona n domestik suatu tanggungan Yang mahakuasa.[3]
Semua bagian jemaat disebut sebagai hamba-hamba atau pelayan-pelayan.[3]
Terlebih malaikat pun dikatakan sebagai sesama hamba allah pion (Wahyu 22:9).[3]
Gagasan dasar ini menjelaskan struktur jabatan gereja nan diduga telah diterapkan di Asia Mungil puas pengahabisan zaman permulaan.[3]
Satu-satunya jabatan khusus privat kitab Wahyu yaitu nabi, namun tidak menunjukkan bahwa jabatan tersebut dilembagakan.[3]
Diteliti dari tesmak pandang ekumenis, penulis Wangsit sangat mencamkan situasi jemaat lokal, sebab jemaat itu yaitu onderdil yang menentukan masa depan gereja secara semuanya.[3]

Sapta Gereja di Asia

Yohanes diperintahkan cak bagi menggambar manuskrip kepada ke tujuh jemaat/gereja di Asia Kerdil (Wahyu 1:4, 11) yaitu:

  • 1. Efesus (Wahyu 2:1-7)
  • 2. Smirna (Visiun 2:8-11)
  • 3. Pergamus (Wahyu 2:12-17)
  • 4. Tiatira (Wahyu 2:18-29)
  • 5. Sardis (Visiun 3:1-6)
  • 6. Filadelfia (Tajali 3:7-13)
  • 7. Laodikia (Petunjuk 3:14-22)

Tujuh ucapan bahagia

Menurut Metzger, internal kitab Wahyu ini terdapat tujuh bacot bahagia, yaitu puas ayat-ayat
Wahyu 1:3,
Wahyu 14:13,
Wahyu 16:15,
Ramalan 19:9,
Tajali 20:6,
Wahyu 22:7,
Wahyu 22:14.[5]

Berbahagialah dia nan mendiktekan dan mereka nan mendengarkan pengenalan-kata tanzil ini, dan yang menuruti apa nan mempunyai termuat di dalamnya, sebab waktunya sudah dempet.
[13]
Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah sosok-orang mati yang senyap dalam Almalik, sejak sekarang ini.” “Bukan main,” introduksi Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena barang apa tingkah kayun mereka menyertai mereka.”
[14]
Lihatlah, Aku hinggap seperti mana penjahat. Berbahagialah dia, nan bersiap-siap dan yang membidas pakaiannya, agar dia jangan berlaku dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.”
[15]
Lalu dia berbicara kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya juga kepadaku: “Perkataan ini yaitu dolan, perkataan-mulut dari Allah.”
[16]
Berbahagia dan kuduslah dia, yang mendapat bagian n domestik kebangkitan pertama itu. Kematian nan kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, belaka mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah ibarat raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.
[17]
Selayaknya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti bacot-perkataan nubuat kitab ini!
[18]
Berbahagialah mereka nan membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-tumbuhan nyawa dan timbrung melalui pintu-gapura gerbang ke privat kota itu.
[19]

Tatap pula

  • Patmos
  • Yohanes

Pustaka

  1. ^
    a
    b
    c
    Merrill C. Tenney. 1995.
    Survei Perjanjian Baru. Malang: Yayasan Penerbit Garai Mas. Hal. 473.
  2. ^
    a
    b
    c
    d
    e
    f
    g
    h
    i
    j
    k
    l
    Peter Wongso. 1999.
    Eksposisi Ilmu agama Alkitab: Kitab Tajali. Malang: Seminari Bibel Asia Tenggara. Hlm. 1.
  3. ^
    a
    b
    c
    d
    e
    f
    g
    h
    i
    j
    k
    l
    m
    n
    o
    p
    q
    r
    s
    cakrawala
    u
    v
    w
    x
    y
    z
    aa
    ab
    ac
    ad
    ae
    af
    Bambang Subandrijo. 2022.
    Menyingkap Pesan-pesan Perjanjian Baru 2. Bandung: Bina Sarana Informasi. Hlm. 135-150.
  4. ^
    a
    b
    Dianne Bergant & Robert J. Karris (eds). 2002.
    Kata keterangan Alkitab Perjanjian Mentah. Yogyakarta: Kanisius. 477.
  5. ^
    a
    b
    Metzger, Bruce M., Breaking the code. Understanding the Book of Revelation. Nashville, Abingdon Press. 1993.
  6. ^

    Wahyu 1:1-4
  7. ^

    Wahyu 22:4
  8. ^

    Wahyu 1:9
  9. ^
    Willi Marxsen.
    Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap kelainan-masalahnya. Jakarta:Bukit Indah. 2008. ISBN:9789794159219.
  10. ^
    a
    b
    c
    d
    e
    f
    g
    h
    i
    j
    k
    l
    m
    C. Groenen. 1984.
    Pengantar ke Dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Hlm.394-398.
  11. ^
    Dave Hagelberg. 1997.
    Artian Kitab Wahyu. Yogyakarta: Yayasan Andi. Hlm.1.
  12. ^
    a
    b
    c

    (Indonesia)Donald Guthrie. 1992.
    Teologi Perjanjian Baru 3. Jakarta: BPK Gunung Indah. Peristiwa. 156-157
  13. ^

    Wahi 1:3
  14. ^

    Ajaran 14:13
  15. ^

    Visiun 16:15
  16. ^

    Wahyu 19:9
  17. ^

    Wangsit 20:6
  18. ^

    Wahyu 22:7
  19. ^

    Wahyu 22:14

Pranala asing

  • Images of Revelation. Lev Regelson
  • Ramalan Pengahabisan Zaman Yunus Ciptawilangga, MBA

Nubuat kepada Yohanes

Αποκάλυψη του Ιωάννη
(Apokalypse tou Ioanne)

Bibel

Ilham 1 • 2 • 3 • 4 • 5 • 6 • 7 • 8 • 9 • 10 • 11 • 12 • 13 • 14 • 15 • 16 • 17 • 18 • 19 • 20 • 21 • 22

Toponimi/Istilah

Abadon • Alfa • Apolion • Apsintus • Asia Kecil • Babel • Efesus • Filadelfia • Harmagedon • Laodikia • Mesir • Omega • Patmos • Pergamus • Sardis • Smirna • Sodom • Tiatira • Yerusalem

Nama orang

Balak • Bileam • Iblis • Izebel • Nikolaus • Yesus Kristus • Yohanes

Sumber

Teks Yunani • Latin Vulgata • Versi Interpretasi Baru • Versi Wycliffe • Varian King James • Versi American Bendera • Varian World English

Tindasan Yudas ← •

Kitab-kitab internal Bibel

Perjanjian Lama
Perjanjian Baru

Lihat pula : Deuterokanonika dan Apokrif

Wikipedia book
Wikipedia:Buku/Bibel


BukuWiki Alkitab

Tujuh Gereja di Asia

  • 1. Efesus
  • 2. Smirna
  • 3. Pergamus
  • 4. Tiatira
  • 5. Sardis
  • 6. Filadelfia
  • 7. Laodikia

Efesus is located in Turki

Efesus

Smirna

Pergamus

Tiatira

Sardis

Filadelfia

Laodikia

Wahyu kepada Yohanes: pasal 1, 2 dan 3



Sumber :

wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, ensiklopedia.web.id, kk.nomor.net, dsb-nya.

Source: http://kk.sttbandung.ac.id/id3/1-3060-2940/Kitab-Wahyu_31283_ensiklopedia-bebas-q-sttbandung.html

Posted by: caribes.net