Kumpulan Bahan Kimia Pembuat Sabun

Oleh : Agus Wahidi

Pembuatan Sabun

Selain lemak dan alkali, pembuatan sabun pun memperalat bahan adendum yang tidak. Mangsa bukan yang digunakan untuk pembuatan sabun tersebut adalah bahan pembuat tubuh sabun batangan, bahan pengisi, garam, objek pewarna dan objek pewangi. Sasaran produsen badan sabun cuci (builder) diberikan bagi menambah daya cuci sabun cair, dapat diberikan nyata soda kristal, natrium silikat dan natrium sulfat. Mangsa pengisi (fillers) digunakan untuk menambah bobot sabun cuci, menaikkan densitas sabun cair, dan menambah pusat cuci sabun. Objek pencuci yang ditambahkan biasanya adalah kaolin, puder, magnesium karbonat dan pun soda abu serta sodium silikat yang boleh berfungsi juga seumpama antioksidan. Garam juga dibutuhkan kerumahtanggaan pembuatan sabun colek yaitu berfungsi bak pembentuk inti lega proses pemadatan. Garam yang ditambahkan biasanya yakni NaCl. Dengan menambahkan NaCl maka akan terlatih inti sabun dan mengulangulang terbentuknya padatan sabun batangan. Garam yang digunakan mudah-mudahan murni, tidak mengandung Fe, Cl, atau Mg. Takdirnya akan dibuat sabun cuci cair, tidak diperlukan penambahan garam ini.

Sejumlah target diperlukan bak antioksidan, yaitu bahan nan bisa menstabilkan sabun batangan sehingga tidak menjadi rancid. Sodium silikat, sodium hiposulfit, dan natrium tiosulfat diketahui dapat digunakan sebagai antioksidan. Stanous klorida lagi merupakan antioksidan nan sangat kuat dan juga boleh memutihkan sabun atau sebagai bleaching agent. Sedangakan bagi bahan tambahan parfum, nan biasa digunakan merupakan patchouli alcohol, cresol, pyrethrum, dan sulfur. Pada sabun cuci juga digunakan pelarut organic begitu juga petroleum naphta dan sikloheksanol. Internal hal ini yang perlu untuk diketahui merupakan bahwa adat pencuci dari sabun disebabkan karena sabun cair merupakan senyawa surfaktan yang bisa menurunkan tegangan satah sambil mengemulsi kotoran. Pengelompokkan minyak surfaktan bagaikan anionik, kationik atau netral tergantung sifat dasar gugus hidrofiliknya. Sabun dengan gugus karboksilatnya adalah surfaktan anionik yang berkepribadian antibakteri.

Alkali nan digunakan buat proses penyabunan adalah kaustik (NaOH) dan soda kalium (KOH). Natrium hidroksida kaustik digunakan cak bagi takhlik sabun colek keras sedangkan soda potasium buat membuat sabun lunak setakat larutan seperti langir. Soda Q yang mengandung campuran K2CO3, Na2CO3
dan NaOH dapat dimanfaatkan umpama sumber alkali. Oleh karena predestinasi K2CO3
kaustik soda Q patut tinggi sehingga soda Q potensial untuk digunakan mewujudkan sabun hancuran. Proses pembentukan sabun colek dikenal perumpamaan reaksi penyabunan atau saponifikasi, ialah reaksi antara lemak/gliserida dengan basa seperti berikut:

Cemberut lemak nan digunakan dapat diperoleh dari beberapa sumur yakni:

Penjatahan sabun colek berdasarkan jenis asam enak menjadi beberapa jenis sabun colek merupakan sabun cair untuk toilet dan sabun batangan untuk industry. Jenis ini dikelompokkan beralaskan hierarki kalung carbon asam lemak bebasnya.

Faktor yang Mempengaruhi Pembilasan

Mula-mula reaksi pengumbahan berjalan lambat karena minyak dan larutan alkali yakni larutan yang bukan saling larut (Immiscible). Sesudah terbentuk sabun maka kecepatan reaksi akan meningkat, sehingga reaksi pembersihan bersifat sebagai reaksi autokatalitik, di mana pada kesudahannya kepantasan reaksi akan melandai juga karena jumlah patra yang telah berkurang.( Bailey’s, 1964 ). Reaksi pembilasan yakni reaksi eksotermis sehingga harus diperhatikan pada saat penambahan minyak dan alkali hendaknya tidak terjadi panas yang berlebihan. Pada proses pembasuhan, penyisipan enceran alkali (KOH atau NaOH) dilakukan sedikit demi sedikit sambil diaduk dan dipanasi untuk menghasilkan sabun bubuk cairan. Untuk membuat proses nan kian sempurna dan merata maka pengadukan harus lebih baik. Sabun cairan yang diperoleh kemudian diasamkan lakukan melepaskan asam lemaknya (Levenspiel, 1972). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi penyabunan, antara bukan: (1). Konsentrasi cairan KOH/NaOH, Konsentrasi basa yang digunakan dihitung berdasarkan stokiometri reaksinya, dimana penambahan basa harus sedikit berlebih dari minyak agar tersabunnya sempurna. Kalau basa yang digunakan terlalu pekat akan menyebabkan terpecahnya mimikri pada enceran sehingga fasenya tidak homogen., padahal kalau basa yang digunakan terlalu melemah, maka reaksi akan membutuhkan periode yang lebih lama.

(2). Suhu (Cakrawala), Ditinjau dari segi thermodinamikanya, pertambahan suhu akan mengedrop hasil, hal ini dapat dilihat terbit persamaan Van`t Hoff :

Karena reaksi penyabunan merupakan reaksi eksotermis (∆H negatif), maka dengan kenaikan temperatur akan boleh memperkecil harga K (konstanta keseimbangan), tetapi sekiranya ditinjau dari segi ilmu gerak, kenaikan hawa akan menaikan kelajuan reaksi. Kejadian ini dapat dilihat berpokok pertepatan Arhenius berikut ini (Smith 1987) :

Intern pertautan ini, k adalah konstanta kelajuan reaksi, A merupakan faktor tumbukan, E adalah energi aktivasi (cal/grmol), T adalah suhu (ºK), dan R adalah tetapan gas ideal (cal/grmol.K). Berdasarkan persamaan tersebut maka dengan adanya kenaikan suhu berarti harga k (konstanta kecepatan reaksi) bertambah segara. Jadi pada kisaran suhu tertentu, kenaikan temperatur akan mempercepat reaksi, yang artinya menaikan hasil internal tahun yang lebih cepat. Cuma jika peningkatan guru telah melebihi master optimumnya maka akan menyebabkan penyunatan hasil karena harga konstanta keseimbangan reaksi K akan turun nan bermanfaat reaksi beringsut ke arah pereaksi ataupun dengan kata lain hasilnya akan menurun. Turunnya harga konstanta kesamarataan reaksi makanya naiknya suhu merupakan akibat dari reaksi penyabunan yang berkarakter eksotermis (Levenspiel, 1972). (3). Pengadukan, Pengadukan dilakukan untuk memperbesar probabilitas tumbukan molekul-molekul reaktan yang bereaksi. Jika tumbukan antar zarah reaktan semakin osean, maka kemungkinan terjadinya reaksi semakin besar sekali lagi. Hal ini sesuai dengan persamaan Arhenius dimana konstanta kepantasan reaksi k akan semakin segara dengan semakin sering terjadinya tumbukan yang disimbolkan dengan konstanta A (Levenspiel, 1987). (4) . Waktu, Semakin lama musim reaksi menyebabkan semakin banyak juga minyak yang dapat tersabunkan, berharga hasil nan didapat juga semakin jenjang, tetapi jikalau reaksi telah mencapai kondisi setimbangnya, penambahan waktu enggak akan meningkatkan jumlah patra yang tersabunkan.

Sabun batangan terutama sabun bersiram bisa dibuat dengan beraneka macam keberagaman cara dan level produksi. Sabun dapat dibuat internal skala besar cak bagi industry dan dapat dibuat dalam skala boncel untuk home industry. Riuk suatu internal skala kecil buat home industry caranya dengan uraian sebagai berikut : Kaidah membuat Sabun Bersiram , Bahan-Bahan nan dibutuhkan : (1). Patra atau Lemak – Hampir semua minyak / lemak alami bisa dibuat menjadi sabun. Cari yang mudah doang seperti: Minyak Kelapa, Petro Sawit, Minyak Zaitun, Minyak Jagung, Minyak Kacang. (2).  NaOH / KOH – Bagi menidakkan minyak / mak-nyus menjadi sabun cair. Bisa beli di took bulan-bulanan ilmu pisah, ambil yang teknis saja, (3). Air – Laksana katalis/pelarut. Diskriminatif air sulingan ataupun air minum kemasan. Air dari pam tidak bagus, banyak mengandung mineral. (4). Essential dan Fragrance Oils – Sebagai pengharum. Beli di toko sasaran kimia alias lainnya. (5). Pewarna – Cak bagi mewarnai sabun. Bisa juga memakai cat makanan. (6). Zat Aditif – Rempah, herbal, talk, bubuk kanji/maizena bisa ditambahkan plong saat “trace”. Alat-alat yang dibutuhkan : (1). Sebuah topeng sederhana – Dipakai selama pembuatan cair NaOH / KOH saja. (2).  Kacamata – Dipakai selama pembuatan larutan NaOH / KOH sekadar. (3). Sepasang sarung tangan tiras – Dipakai selama pembuatan sabun. (4). Jambangan plastik – Bakal wadah air. (5). Timbangan tanur (dengan perbandingan terkecil 1 atau 5 gram). (6). Kantong plastik mungil – Cak bagi NaOH/KOH. (7).  Spatula stainless steel atau plastik-polipropilen – Untuk menuangkan NaOH / KOH dan mengaduknya. (8). Wadah berpangkal kaca ataupun plastik-polipropilene – Cak bagi tempat larutan NaOH/KOH dengan air. (9). Wadah dari plastik – Kerjakan serta medan air dan minyak. (10). Kain – Untuk menutup gemblengan selepas diisi sabun cuci. (11). Plastik tipis – Untuk melapisi cetakan. (12). Cetakan. (13). Blender dengan tutupnya. (14). Tiras – Untuk menutup blender. Cara pembuatan : (1). Siapkan cetakan. Tempaan boleh apa hanya. Bisa loyang yang diminyaki, tampan plastik nan dialasi plastik tipis ataupun honcoe PVC yang diminyaki. Siapkan cetakan yang cukup untuk menampung semua hasil pembuatan sabun cuci. Gemblengan: Untuk cetakan anda bisa menggunakan kayu atau kubus yang dilapisi plastic tipis, bahkan pipa PVC dapat dipakai. Jika menggunakan pipa PVC tutup bagian bawah dengan plastik yang diikat dengan karet bilang-bilang, semprotkan patra ke dalamnya, tuangkan hasil sabun. Selepas mengeras buka tutupnya, tolak lalu runjam akan menghasilkan sabun cair yang bulat. Estetika ataupun peran seni dalam pembuatan sabun cair dapatmeningkatkan nilai jual berasal sabun cair, bintang sartan cetakan boleh dibuat sedemikian rupa agar menetapi kegantengan nan diminati banyak orang.

Deduksi

Sabun cair merupakan komoditas yang bulan-bulanan bakunya banyak dijumpai di Indonesia, sehingga peluasan bisnis pembuatan sabun di Indonesia lalu potensial dan memiliki peluang yang nan samudra bikin modern karena kebutuhan sabun dari tahu ke tahun tentu meningkat. Agar kualitas sabun terbentuk maka teradat diperhatikan factor yang mempengaruhi dalam proses pembuatannya. Sabun cuci yang baik harus memenuhi kualitas higienis, estetika dan aroma.

Referensi

Levenspiel, O., 1972.
Chemical Reaction Engineering
, 2 Ed. John Wiley &  ons, Inc., New York, hal. 21-22

Aloysius, H.P., 1999,
Kimia Cak bagi Perguruan tinggi, edisi keenam. Jilid 1, Erlangga, Jakarta, hal. 521

Alexander J, Shirrton, Swern D, Norris FA, and Maihl KF, 1964,

“Bailey’s Industrial Oil and Fat Product”
,3rdEd. John Wiley & Sons, New York, London, Sydney.

Perry, R.H. and Green, D.W., 1984,

“Perry’s Chemical Engineer’s Handbook”
, 6 Ed. Mc Graw Hill BookCompany, Inc, New York. SII.0005-72

Source: https://sman1-singkawang.sch.id/en/guru/artikel-guru/10-pembuatan-sabun.html

Posted by: caribes.net