Lagu Cicak Di Dinding Ciptaan

Bakat Anak – Bagaimana AT Mahmud sukses berkarier laksana dabir lagu anak?

Jika Ayah Ibu saya tantang buat menyebut nama-nama penulis lagu anak di Indonesia, siapa pun nan bisa Ia sebutkan?
Di antara nama-nama tersebut, tentu Ia pula mengenal sosok AT Mahmud.
Penyadur lagu anak yang tersohor dengan lagu “Pelangi”, “Cicak di Dinding”, “Ambilkan Bulan”, dan ratusan lagu momongan lainnya ini ternyata mempunyai cerita mengganjur yang membawanya menggeluti karier misal pereka cipta lagu anak. Seperti apa kisahnya? Kita simak bersama, yuk.

bakat anak suka bernyanyi perjalanan pencipta lagu anak at mahmud

Kenangan waktu katai

AT Mahmud yang kita kenal sebagai pelaksana lagu momongan-anak asuh punya kenangan yang tak terlupakan tentang nada. Saat berlatih di Hollandse Indische School (HIS), sekolah setimpal SD, anda terpukau oleh guru musik yang mengajarkan cara membaca notasi nilai. Seperti apa, ya, cara guru tersebut mengajar?

Ayah Ibu tentu mengenal satu oktaf, alias menyanyikan irama do rendah sampai do tinggi – do re laksa fa sol la sang do.
Nah, sang guru musik membudayakan irama-nada tersebut dengan kaidah nan tidak konvensional. Alih-alih melafalkan do re mi, sang guru menggunakan suku perkenalan awal yang lebih mudah diingat para murid. Coba sekarang Anda nyanyikan do re mi, sekadar dengan suku kata berikut:

do  dol  ga  rut  e  nak  ni  an

Sekarang, coba nyanyikan berusul nada do jenjang ke do rendah dengan silabel di asal ini:

e  nak  ni  an  do  dol  ga  rut

Ambillah, terdengar menarik dan lebih mudah ditangkap, bukan? Setelah membereskan “dodol garut eco nian” barulah AT Mahmud dan murid-murid lainnya dikenalkan sreg notasi angka yang sepantasnya. Untuk anak yang puas akibatnya berkarier bak penggarap lagu ini, belajar meratus yang demikian sangatlah menyenangkan.

Ketika Belanda menyerah pada Jepang lega 1942, AT Mahmud yang duduk di inferior lima pindah ke Muaraenim buat melanjutkan sekolah di Kanzen Syogakko (pengalih HIS). Kepindahannya ke Muaraenim mengenalkannya seterusnya lega nada, serta sosok Ishak Mahmuddin, seorang anggota orkes musik Ming di kota tersebut.
Ishak mengajari AT Mahmud cara memainkan gitar hingga merencana lagu.

Kerinduan akan nada

Selepas hiruk-pikuk kemerdekaan dan urusan dengan Belanda usai sehingga RI berdaulat, AT Mahmud juga ke dipan sekolah setelah menjadi anggota Tentara Pelajar. Menguap SMP plong Agustus 1950 sahaja
tak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah, si paman mengajak AT Mahmud bekerja di sebuah bank
milik Belanda yang masih beroperasi. Tidak memiliki pilihan lain, ajakan tersebut akhirnya dikabulkan.

Namun seiring berjalannya periode, AT Mahmud merasakan kehampaan. Pecah tempatnya berkreasi, ia menyibuk langsung perkembangan dan celas-celus, keramaian, serta para siswa yang membawa buku sekolah. Bermoral bahwa dengan bekerja ia bisa mendapatkan uang, namun ini bukan urut-urutan nan benar-benar dipilihnya. AT Mahmud gelisah; dia cak hendak kembali ke sekolah.

Akibatnya, kesempatan juga datang. Sekolah Guru bagian A (SGA), sekolah setara SMA di Palembang dibuka untuk pesuluh baru, dan memberikan tunjangan belajar sejauh 3 tahun. Syaratnya hanyalah pasca- tamat sekolah, harus bersedia ditempatkan di mana cuma sebagai guru.

Melihat kesempatan ini andai hal baik, AT Mahmud kembali langsung berhenti berkarya di bank dan mendaftar sebagai siswa hijau. Bersekolah di SGA menjadi salah suatu momen pertamanya dalam mencipta lagu, sayang teksnya hilang. Tetapi seandainya diingat-pulang ingatan, terka-taksir penggalan lagunya berbunyi: “Betapa n domestik laut, betapa strata ardi, enggak dapat melebihi kerumahtanggaan dan tingginya kasih Ibu.”

Dukungan mencipta lagu berpunca sekitar

Jalur keguruan nan ditempuhnya membentuk AT Mahmud melanjutkan sekolah di Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta untuk memperoleh gelar akademikus. Kebetulan, waktu itu ia juga ditugaskan bikin mengajar di Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di Jakarta Daksina. Di sinilah ia pada akhirnya mendalam berkomitmen untuk berkarier di mayapada musik, ibarat pembuat lagu anak asuh.

Di SGTK, pejabat sekolahnya menyukai musik, dan guru musik di sana piawai memainkan piano dan mendongeng lagu. Tidak belaka itu, para calon guru di SGTK sekali lagi turut andil privat perjumpaan AT Mahmud kembali dengan musik. Bilang tugas praktik memerlukan lagu anak nan mudah diajarkan kepada anak-anak. Saat itu, berburu lagu anak asuh yang cocok buat momongan-anak terjadwal sulit, sehingga
para petatar kemudian menunangi A.Tepi langit. Mahmud untuk mengarang lagu. Salah satu lagu pertamanya adalah “Cicak di Dinding” yang kemudian menjadi kesukaan anak-anak!

Mencipta lagu anak asuh dari kacamata pandang anak asuh

Pengalaman tersebut takhlik AT Mahmud semakin mendalam mengarang lagu anak-anak, dan ini membuatnya menjumut keputusan bakal meninggalkan kuliah Bahasa Inggrisnya untuk titik api puas arah jalan hidup nan dicintainya. Sebagian besar lagunya diciptakan berdasarkan ide yang diperolehnya momen berinteraksi dengan momongan-anak, termaktub momongan-anaknya koteng.

Semisal, lagu “Pelangi” terinspirasi saat sang ayah tiga momongan ini mengantarkan Rika, anak keduanya, ke sekolah. Di tengah perjalanan, Rika yang ketika itu berusia panca tahun mendongak ke langit dan melihat keluwung. Rumbing sang momongan berteriak, “Pelangi!”
Detik itu sang ayah mencoba mencari kata-kata yang tepat adapun pelangi terbit sudut pandang anak boncel.
Setibanya di rumah, AT Mahmud mengiringi kata-kata tersebut dengan gitar listrik, menjadi lagu anak yang kita pasti hapal di luar kepala.

Lagu “Ambilkan Bulan” pun punya latar belakang penulisan yang menjujut. Saat lilin batik menginjak, salah satu anak asuh AT Mahmud medium bermain di teras rumah. Tiba-tiba ia menghela lengan sang ayah, memintanya bakal bepergian keluar. Mulai-menginjak si momongan bersabda, “Pa, ambilkan bulan.” Jikalau Ayah Ibu mendapat aplikasi yang demikian, apa respon Anda? Terkejut? Bingung?

Ya, sebagai sendiri ayah ia juga bingung, tidak mengetahui cak bagi apa sang anak meminta bulan. Sungguhpun kejadian tersebut berlalu begitu cuma, permohonan sang anak melekat kerumahtanggaan benaknya.
Mencoba mengetahui permintaan tersebut dari dunia momongan-anak asuh, sang ayah akhirnya menuliskan keinginan si anak dalam sebuah lagu. Agar lebih subtil, ia pun mengubah “Ambilkan bulan, Pa” menjadi “Ambilkan wulan, Bu”.

Ternyata, detik anak dapat belajar dengan cara yang menghibur, belajar seasyik bermain, anak boleh mengedrop minat sreg bidang tersebut, bahkan menekuninya sampai ke jenjang karier! Perjalanan karier AT Mahmud juga membuktikan bahwa dorongan dalam diri bagi mencipta lagu anak asuh-momongan sekali lagi dipicu bersumber dukungan dari lingkungan sekitarnya. Itu berarti, Ayah Ibu kembali bertindak dalam pengembangan bakat dan tiang penghidupan anak. Cocok?

Ingin merintis karier anak Dia? Nantikan gerendel “Jalan hidup Bukan Tanda Noktah”, ya!

Foto dicuplik terbit sini

Source: http://temantakita.com/anak-suka-bernyanyi-yuk-kenal-perjalanan-pencipta-lagu-anak-at-mahmud/

Posted by: caribes.net