Lalang Dan Gandum Dalam Alkitab

Berpangkal Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia adil

Bak tentang lalang di antara cante
yaitu sebuah umpama yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya. Narasi ini tercantum di dalam Matius 13:24-30.

Lalang di antara garai

[sunting
|
sunting perigi]

Perumpamaan ini mengobrolkan tentang seorang yang menaburkan benih garai yang baik di ladangnya. Dikisahkan bahwa ketika semua bani adam tidur, musuhnya menclok dahulu menaburkan jauhar lalang (ilalang) di antara benih gandum itu lalu pergi. Kedua tanaman itu bertumbuh bersama, suntuk hamba penabur tersebut menanyakan asal jauhar lalang tersebut yang dijawab oleh tuannya bahwa benih alang-alang tersebut ditabur oleh musuhnya. Hamba-hambanya tinggal mengusulkan kerjakan mencabuti lalang tersebut namun lain diijinkan karena sang tuan tidak kepingin jauhar gandum yang baik ikut tercabut bersama-sama dengan lalang tersebut. Sang empunya lalu berkata bahwa lebih baik mereka dibiarkan tumbuh bersama hingga masa penuaian, di mana keduanya bisa dipisahkan, alang-alang akan diikat lalu dibakar, cante akan dikumpulkan di internal kapuk.

Penjelasan

[sunting
|
sunting sumber]

Antagonis yang menebarkan lalang, karya Dalziel Bersanak, 1864

Yesus tidak memberi penjelasan yang lebih khusyuk tentang bak ini karena Kamu menggunakan lambang-lambang yang gegares Engkau pakai di umpama-laksana lainnya (misalnya andai seorang penabur). Penabur benih gandum kerumahtanggaan cerita ini melambangkan Allah dan hamba/pekerja-pekerjanya yaitu para hamba Sang pencipta. Semen gandum melambangkan orang yang mendengar dan melakukan firman Almalik (bandingkan dengan jauhar yang jatuh di lahan yang baik dalam perumpamaan koteng penabur), padahal lalang melambangkan orang-orang lainnya (bisa pula berarti agen-perwakilan si virulen). Musuh tuan tersebut melambangkan iblis yang adalah musuh Allah. Periode memanen/masa pengetaman melambangkan pengunci zaman pada saat orang yang bermoral akan dihakimi bersama-sama anak adam nan jahat, dan orang nan sopan akan turut ke Sorga sedangkan individu yang berdosa akan dihukum.

Seterusnya, interlokusi antara hamba dan tuannya dapat ditafsirkan sebagai pertanyaan orang berketentuan kepada Almalik mengapa ada kejahatan di marcapada jikalau Allah sahaja menciptakan yang baik. Jawaban Tuhan menunjukkan bahwa karas hati ada di dunia karena ragam demit. Keputusan Allah bikin menunggu hingga akhir zaman mengisyaratkan bahwa kejahatan akan dibiarkan berada di bumi sampai semua ‘benih’ tersebut telah ‘matang’.

“Seumpama alang-alang”, John S. C. Abbott dan Jacob Abbott

Lambang Makna
Penabur Allah
menabur menciptakan
jauhar gandum individu ter-hormat
tipar dunia
musuh iblis
benih lalang basyar nan lain mau bertobat
hamba hamba Tuhan/pelayan Tuhan
mencabut memejahijaukan
waktu menuai kiamat
dibakar dihukum (ke internal neraka)
dikumpulkan ke
internal randu
ikut ke Kerajaan Sorga

Tumbuhan lalang dan sorgum

[sunting
|
sunting sumber]

Kiri: tumbuhan “lalang”
Lolium temulentum
dan kanan: tumbuhan “gandum”
Triticum aestivum. Kedua tumbuhan ini mempunyai habitat yang sama di seluruh dunia dan tinggal mirip pada masa awal pertumbuhannya, sehingga maka dari itu Yesus Kristus dipakai dalam laksana lalang dan garai.

Pohon nan dipakai internal perumpamaan ini merupakan “gandum”, umumnya
Triticum aestivum, dan “lalang”, probabilitas adalah
Lolium temulentum. Alang-alang ini kebanyakan bertunas di pertanahan yang sama dengan gandum dan dianggap sebagai rumput bawah tangan. Kedua pohon ini lampau mirip sehingga di bilang tempat di manjapada, lalang ini disebut bak “garai palsu” (bahasa Inggris:

“false wheat”
;
darnel).[1]
Kemiripan kedua pohon ini terutama di awal pertumbuhan dan mulai berbeda ketika bulir-bulir gandum muncul. Batang berbulir pada
L. temulentum
lebih kurus berpunca garai. Warna cante menjadi kecoklatan momen ranum, padahal alang-alang menjadi bercelup hitam.[2]

Tatap sekali lagi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Putaran Injil yang berkaitan: Matius 13, Markus 4

Referensi

[sunting
|
sunting sendang]


  1. ^

    Craig S. Keener,
    The Gospel of Matthew: A Socio-Rhetorical Commentary,
    Wm. B. Eerdmans Publishing, 2009 p.387

  2. ^

    Heinrich W.Guggenheimer,
    The Jerusalem Talmud,Vol. 1, Part 3, Walter de Gruyter, 2000 p.5

Pranala asing

[sunting
|
sunting sumber]

  • SarapanPagi: Perumpamaan tentang Lalang di Antara Garai



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Perumpamaan_lalang_di_antara_gandum