Langkah Langkah Membuat Naskah Drama


Drama

Alas kata “drama

” dari dari bahasa Yunani “draomai” nan berarti berbuat, berlaku, berperan, atau beraksi. ketoprak pula besar perut disebut “sandiwara”kata ini semenjak terbit bahasa Jawa yaitu  Sandi (sembunyi) dan Woro (pesan), yang artinya pesan yang disampaikan secara sembunyi. Sandiwara bangsawan juga dapat didefinisikan ibarat cerita yang dipertunjukkan karena lega dasarnya drama ialah dialog berasal tokoh dalam cerita nan diperankan dalam panggung. Ketika sebuah drama mentah berbentuk naskah, drama tersebut baru boleh dipahami belum dapat dinikmati.

Sandiwara tradisional pula dapat didefinisikan sebagai cerita yang dipentaskan, suatu cerita nan baru boleh dinikmati apabila sudah “diperagakan”, telah diwujudkan dengan gerak-gerak dan kata di atas pentas atau wadah. Seperti layaknya karaya sastra bukan, cerita sandiwara radio juga berisi serbaneka kehidupan hamba allah.

Dalam pementasan drama ataupun naskah sandiwara boneka, bahasa yang digunakan lain meninggalkan “kaidah” karya sastra nan sering menggunakan bahasa figuratif. Lambang bahasa, kata kiasan, serta dialog yang berirama merupakan bahasa sastra yang juga digunakan dalam drama. Doang demikian penggunaan bahasa asosiatif tersebut tak digunakan secara menyeleruh. Namun sekadarnya atau kerumahtanggaan potongan-potongan kalimat dialog. Penggunaan bahasa dalam semangat sehari-hari lebih dominan digunakan untuk menghindari kekaburan harapan alias inti berasal pesan yang disampaikan, karena
pada dasarnya drama merupakan miniatur jiwa masyarakat.


A.



Unsur-molekul ketoprak

Ketika kita menyaksikan sebuah ketoprak nan dilakonkan, emosi kita pun terbabit dalam cerita yang diperankan tersebut. Itu artinya, penulis tulisan tangan drama tersebut mampu membangun sebuah narasi menjadi konflik pada masing-masing tokoh sehingga cerita mengalir sama dengan kejadian sesungguhya. Hal itu tidak copot dari kemahiran katib skenario bikin menghidupkan drama tersebut. Padalah, tertarikkah kamu untuk menulis sebuah naskah drama? Cak bagi boleh batik naskah drama yang baik dan menarik, diperlukan latihan dan kognisi akan halnya unsur-partikel nan dapat membangun sebuah naskah drama. Elemen-unsur tersebut disebut sekali lagi dengan atom intrinsik dagelan. Unsur-atom intrinsik drama, yaitu:


1.  Galur atau Plot

Alur disebut pun plot. Silsilah adalah rangkaian atau rangkaian peristiwa berlandaskan kawin waktu dan perantaraan sebab- akibat. Sebuah alur cerita juga harus menggambarkan jalannya kisah pecah tadinya (pengenalan) sampai intiha (penyelesaian). Silsilah cerita terjalin pecah rangkaian ketiga zarah, merupakan dialog, petunjuk laku, dan latar/setting. Sebuah alur boleh dikelompokkan dalam beberapa tahapan, andai berikut.

1.Pengenalan
Pengenalan merupakan bagian pertama atraksi drama, perkenalan awal para motor (terutama penggagas terdahulu), latar pentas, dan penyingkapan ki kesulitan yang akan dihadapi penonton.


Perhatikan penggalan bacaan sandiwara bangsawan berikut ini! .



 2.

Pertikaian

Setelah tahap introduksi, sandiwara tradisional bergerak berorientasi percekcokan yaitu pelukisan pegiat yang mulai terbabit ke dalam masalah trik.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!



Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai timbrung ke privat tahap pertikaian atau konflik. Penggambaran masalah telah semakin jelas bahwa Trisno sudah membuat travesti nan menertawai. Kejadian itu berbahaya seperti tertumbuk pandangan lega tuturan Rini pada dialog di atas, yaitu “Bahaya?”.

3.

Puncak,



Pada tahap ini pelaku tiba terlibat dalam keburukan-ki kesulitan sosi dan keadaan dibina bakal menjadi lebih pelik lagi. Kejadian yang berangkat jarang ini, berkembang hingga  menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat berdebar, penasaran  ingin mengetahui  penyelesaiannya.

Perhatikan  petikan sandiwara bangsawan berikut ini!

Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa puncak masalah itu  yakni Anton tidak menyetujui tindakan Trisno yang mencoba membelanya. Anton menganggap Trisno mutakadim menghinanya, seperti terlihat pada kutipan dialog yang dicetak tebal di atas.

4.

Penyelesaian
Pada tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan penuntasan yang menggembirakan alias menyedihkan.  Terlebih bisa pun diakhiri dengan hal yang berkarakter samar sehingga menjorokkan  pirsawan buat menyahajakan-ngira dan memikirkan sendiri akhir sebuah kisahan.

Perhatikan episode referensi  sandiwara bangsawan berikut ini!





Pada tahap penuntasan sandiwara boneka ini dapat dilihat bahwa dagelan ini berakhir dengan bahagia karena persoalan sindiran Trisno nan menertawai Cangkang Kusno akan terjamah makanya salah satu guru, sama dengan kalimat nan dicetak tebal sreg kutipan di atas.



2. Perwatakan alias karakter biang kerok

Dalang adalah orang-orang nan berperan kerumahtanggaan dagelan. Internal kisah, umumnya terletak tokoh baik (tokoh utama) dan tokoh jahat (teman). Tokoh-tokoh sandiwara disertai penjelasan tentang nama, nasib, keberagaman kelamin, ciri-ciri awak, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak inisiator akan jelas terbaca internal dialog dan catatan samping. Watak pelopor bisa dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan kata majemuk yang digunakan.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!



Dari dialog antara Buntelan Drum dengan Pak Jagabaya di atas boleh dilihat bahwa perwatakan atau khuluk kedua pentolan tersebut langsung diceritakan oleh pengarang, begitu juga kawin kata yang tercetak rimbun plong bacaan drama di atas.



3. Dialog

Ciri tunggal suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis naskah sandiwara radio harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Polah bahasa dalam dialog antartokoh merupakan ragam oral yang komunikatif.

Perhatikan episode teks drama berikut ini!

Disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Nah, kutipan teks sandiwara radio di atas bisa disebut sebagai dialog karena diucapkan secara porselen makanya tokoh yang bernama Yanti dan Asdiarti. Selain dialog, dalam sandiwara radio juga dikenal istilah monolog (adegan sandiwara dengan pelaku singularis yang mengalunkan percakapan seorang diri; ura-ura yang dilakukan dengan diri koteng), prolog (pembukaan alias pengantar naskah yang berisi makrifat maupun pendapat pengarang tentang kisah yang akan disajikan), dan epilog (adegan penutup pada karya sastra yang fungsinya mengemukakan intisari atau konklusi pengarang mengenai cerita nan disajikan).



4. Wahi kayun

Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca alias para simpatisan pertunjukan mengenai keadaan, suasana, situasi, ataupun polah, pemrakarsa, dan atom-unsur cerita lainnya. Ramalan laku lalu diperlukan dalam skrip drama. Ilham laku berisi ilham teknis mengenai tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Petunjuk laris ini biasanya ditulis dengan menunggangi huruf yang dicetak miring alias huruf segara semua. Di privat dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi parentesis di depan dan di belakang kata maupun kalimat yang menjadi tanzil laku)

Perhatikan petikan sandiwara boneka berikut!



5.  Latar atau setting

Latar atau tempat kejadian sering disebut permukaan cerita. Pada kebanyakan, latar mencantol tiga unsur, yaitu tempat, ruang, dan waktu.

Perhatikan babak referensi ketoprak berikut ini!

 Dari adegan referensi  drama di atas  dapat diketahui bahwa parasan kisah tersebut adalah di pelecok suatu pangsa yang cak semau di sekolah. Hal ini ditunjukkan dengan  pembukaan-alas kata   tercetak tebal yang  menunjukkan bahwa dialog tersebut dilakukan di sebuah papan bawah.



6. Tema

Tema merupakan gagasan siasat yang terkandung di dalam drama. Tema dikembangkan melalui silsilah dramatik melalui dialog pentolan-tokohnya. Tema sandiwara bangsawan misalnya kehidupan, persahabatan, awan kelabu, dan kefakiran.

Perhatikan penggalan bacaan drama berikut ini!

Tema kutipan pustaka sandiwara bangsawan di atas ialah mengenai
pertemanan
tiga insan, ialah Fani, Gina, dan Hana. Tema privat sebuah kisah, baik novel, alias dagelan, bukan semua seperti teoretis di atas nan langsung diungkapkan makanya pengarang. Semata-mata, lebih banyak tema sebuah cerita dapat ditentukan selepas membaca keseluruhan cerita.



7. Amanat

Dalam karyanya, pengarang pasti menyodorkan sebuah pengumuman.  Amanat yakni pesan atau ponten-poin moral  yang bermanfaat  yang terdapat   intern drama. Amanat internal drama boleh diungkapkan secara langsung (tertulis), bisa sekali lagi tidak langsung atau memerlukan kesadaran lebih lanjut (tersirat). Apabila pemirsa menyaksikan sandiwara tradisional dengan teliti, sira boleh menyirat pesan atau biji-nilai etik tersebut. Amanat akan lebih mudah ditangkap kalau sandiwara radio tersebut dipentaskan.

Perhatikan penggalan  teks sandiwara bangsawan berikut ini!

Lega kutipan di atas, amanat petikan sandiwara radio tersebut diungkapkan secara tersurat  maka dari itu pengarang, yaitu



“Kreativitas harus dibangkitkan”


B.


Jenis-variasi drama

Jika kamu aliansi menonton sinetron ataupun gambar hidup, pernahkah kamu menonton sebuah atraksi n komedi didong alias lenong? Nah, sinetron, film, wayang patung, dan lenong pula merupakan dagelan. Sinetron dan komidi gambar merupakan diversifikasi sandiwara beradab, padahal wayang dan lenong merupakan varietas drama klasik. Kiranya kamu lebih memahaminya, bacalah pencatuan drama berikut ini

1. Drama menurut
 masa
nya bisa dibedakan dalam dua variasi, yaitu


  • Drama Baru/Ketoprak Modern


    Sandiwara boneka baru merupakan sandiwara radio nan memiliki harapan memberikan pendidikan kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan khalayak sehari-hari. Contoh drama baru/modern merupakan sinetron, opera, dan film.

  • Dagelan Lama/Drama Klasik



    Drama lama yakni drama khayalan yang rata-rata menceritakan akan halnya kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan betara-peri, kejadian luar biasa, dan sebagainya. Paradigma drama tradisional/klasik, seperti

     lenong
    (pertunjukan sandiwara dengan gambang kromong dari Jakarta), topeng Betawi, sandiwara radio
    /ketoprak
    (sandiwara tradisional Jawa dengan iringan musik gamelan, diringi joget dan tembang), wayang yang dimainkan seorang biang kerok, dan
     randai
    (joget yang dibawakan maka itu sekerumun individu yang berkeliling membentuk pematang dan menarikannya sambil bernyanyi dan bertepuk tangan).

2. Drama menurut kandungan isi ceritanya, adalah

  • Sandiwara komedi adalah ketoprak yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
  • Drama tragedi yaitu sandiwara boneka yang ceritanya sedih munjung kegeruhan.
  • Drama tragedi-komedi ialah drama nan ada trenyuh dan ada lucunya.
  • Opera adalah drama nan mengandung musik dan lantunan.
  • Lelucon/Sandiwara radio Lelucon adalah sandiwara bangsawan yang lakonnya selalu bertingkah pola gecul merangsang gelak tawa penonton.
  • Operet / Operette adalah opera yang ceritanya lebih ringkas.
  • Kialan Kialan ialah sandiwara radio yang ditampilkan dalam bentuk manuver bodi alias bahasa isyarat minus pembicaraan.
  • Tablo adalah sandiwara radio yang mirip pantomim nan dibarengi oleh gerak-gerik anggota jasmani dan mimik wajah pelakunya.
  • Passie ialah drama nan mengandung partikel agama/relijius.
  • Wayang patung adalah drama yang pemain dramanya ialah anak-anakan wayang patung.

C.


Naskah

            Setelah kita mengenal berbagai keberagaman unsur-unsur dan macam-varietas drama , akhirnya sampailah kita lega naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tercantum pecah satu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, intern bentuk yang farik-beda, naskah tersebut bukan akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa sandiwara boneka yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya.

Hal ini tergantung lega penggodokan dan hal, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.

          Sebuah skrip nan baik harus mempunyai tema, anak ningrat / lakon dan plot alias rangka cerita.


  1. Tema

Tema adalah rumusan inti konsentrat kisah nan dipergunakan dalam menentukan jihat dan pamrih cerita. Berasal tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.


  1. Lakon

Dalam kisahan drama lakon adalah unsur nan paling aktif yang menjadi pentolan cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi seumpama penggerak cerita yang baik.

Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi si lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :

v

Matra fisiologi    ; ciri-ciri badani

usia, jenis kelamin, peristiwa tubuh, cirri-ciri cahaya muka,dll.

v
Dimensi ilmu masyarakat   ; latar belakang kemasyarakatan

pamor sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam publik, roh pribadi, sikap hidup, agama, hobby, dll.

v
Dimensi serebral
; latar belakang batiniah

temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kepintaran, kepiawaian internal permukaan tertentu, kecakapan, dll.

Apabila kita meluputkan salah suatu saja dari ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang normatif, timpang, lebih lagi cenderung menjadi penggagas nan senyap.


  1. Plot

Plot adalah alur atau rancangan cerita. Plot adalah suatu keseluruhan kejadian didalam naskah. Secara garis lautan, plot dagelan dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

§
Pemaparan (eksposisi)

Bagian pertama berpokok suatu tontonan drama yaitu pemaparan atau eksposisi.

Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan apa kejadian bermula para pelakunya. Kepada pemirsa disajikan sketsa kisahan sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Bintang sartan eksposisi berfungsi laksana pengantar narasi.

§
Dialog

Dialog berisikan alas kata-pengenalan. Dalam drama para lakon harus berbicara dan segala nan diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi cak bagi mengemukakan persoalan, menguraikan perihal penggerak, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.

§
Keburukan awal atau konflik awal

Takdirnya lega bagian purwa tadi situasi cerita masih dalam keadaan setara maka plong bagian ini start timbul suatu perselisihan alias komplikasi. Konflik yaitu kekuatan otak sandiwara radio.

§
Klimaks dan keruncingan

Klimaks dibangun melewati krisis demi keruncingan. Krisis ialah puncak plot n domestik adegan. Konflik merupakan satu komplikasi nan bergerak privat suatu klimaks.

§
Penyelesaian (denouement)

Sandiwara terdiri dari sekian putaran, dimana didalamnya terwalak krisis-kegentingan nan memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.



D.




Mewujudkan naskah drama

Sandiwara bangsawan merupakan rangka karya sastra yang berniat menggambarkan kehidupan dengan mandu dipentaskan untuk masyarakat. Oleh karena itu, plong biasanya, kisahan drama ampuh akan halnya hal alias hal yang terjadi dalam masyarakat. Rata-rata sandiwara bangsawan menceritakan tentang kemiskinan, perdurhakaan hidup, serta belalah kepada ayah bunda. Supaya drama yang kita tampilkan menyeret, keadaan terpenting yang harus diperhatikan yaitu tulisan tangan drama itu sendiri. Naskah sandiwara harus manarik sehingga pesan apa nan ingin kita sampaikan dapat dikabulkan dengan baik maka itu para pirsawan. Berikut ini yaitu cara mambuat naskah drama:


1. Menentukan Tema






Tema merupakan elemen yang sangat terdahulu internal  penulisan naskah, baik tembang, prosa, atau drama. Tema adalah gagasan pokok yang terkandung di dalam sandiwara tradisional. Tema dikembangkan melalui galur dramatik melalui dialog motor-tokohnya. Tema sandiwara boneka misalnya  nasib, pertemanan, kesedihan, dan kedukaan.

Standar tema  yang baik yaitu:

  1. Aktual
    Riil dapat diartikan dengan kejadian yang mendalam terjadi atau sesuai dengan amanat.
  2. Tidak menyinggung SARA
    SARA adalah  kependekan dari suku, agama, ras, dan antargolongan. Artinya, tema sebuah karya sastra tidak boleh menyinggung suku, agama, ras, ataupun antargolongan tertentu.
  3. Membagi suatu pengajaran/pendidikan untuk pembacanya
    Tema  sebuah cerita yang baik adalah yang dapat mengasihkan pengajaran dan pendidikan lakukan pembacanya. Dengan alas kata lain, tema yang dipilih bukanlah tema nan bukan bermanfaat.

2. Mendata Ketengan Peristiwa

Kejadian yang kita alami sehari-musim dapat dijadikan dasar kerjakan menulis sebuah naskah drama. Coba pilihlah satu peristiwa yang paling berkesan atau habis individual dalam kehidupanmu kerjakan diangkat menjadi naskah drama. Pada materi ini, kita akan mempelajari cara mewujudkan naskah ketoprak satu penggalan. Satu penggalan dalam tulisan tangan drama terdiri atas beberapa babak.

Pada bagan di atas telihat bahwa sebuah sandiwara tradisional terdiri atas bilang fragmen. Babak adalah bagian besar dalam satu ketoprak maupun lakon yang terdiri atas beberapa adegan. Adegan adalah bagian dari adegan yang ditandai dengan persilihan formasi atau posisi pemain di atas pentas. Sebuah penggalan terdiri atas ketengan-rincih peristiwa.

Kita bisa membuat naskah drama satu babak dengan kaidah mengenali peristiwa yang perhubungan dialami. Lalu, susunlah menjadi runcitruncit-satuan hal. Kemudian satuan-ketengan hal tersebut disusun menjadi sebuah adegan. Pertautan adegan-adegan itulah nan boleh membuat satu babak internal drama.

3.
Merumuskan Sinopsis/Kerangka

Abstrak identifikasi peristiwa yang rata-rata pernah dialami, yaitu

  1. Saat pertama berjumpa dengannya,
  2. Saat menanti keputusan dari si dayang itu,
  3. Detik ibu bapak sedang dirawat di rumah sakit,
  4. Saat mewawancarai mang lili.

Setelah mengidentifikasi kejadian-peristiwa yang aliansi dialami, datalah ketengan-satuan situasi tersebut.

Agar bertambah jelas, perhatikan kamil satuan-satuan peristiwa berikut ini!
Situasi  yang dialami  ialah ”Saat  akan menerima berita  kelulusan semenjak  SMAN 1 Sukatani”

  1. Aku  dan teman- tara  telah mengikuti ujian akhir sekolah berstandar nasional pada copot 12 Mei 2022.
  2. Kami lain sabar mau mengetahui hasil ujian tersebut.
  3. Publikasi hasil ujian tersebut masih lama, kira-kira  sungkap 26 Juni 2022.
  4. Kami  hanya bisa berdoa  dan berserah diri kepada-Nya.
  5. Hari yang dinantikan itu lagi tiba.
  6. Pagi itu, 26 Juni 2022,  aku terus memohon kepada-Nya hendaknya aku  dan lawan-temanku lulus pecah SMAN 1 Sukatani.
  7. Ternyata aku lulus.  Semua temanku pun lulus. Senangnya hatiku.

Nah, sekarang runcitruncit-satuan peristiwa tersebut telah menjadi rancangan asal.  Setelah langkah ini, eceran-runcitruncit peristiwa tersebut dapat dibuat menjadi  sebuah sinopsis.

Data rincih situasi yang sudah disusun kemudian  dikembangkan menjadi sinopsis atau buram  naskah yang  seterusnya  disusun menjadi naskah dagelan satu babak.  Setiap goresan rata-rata terdiri atas tiga bagian struktur pokok alias kerangka karangan, yakni :

  1. Pendahuluan

    Bagian pendahuluan merupakan bagian nan menjelaskan tema yang akan diterangkan pada karya tulis tersebut secara padat, jelas,  dan ringkas kepada para pembaca.
  2. Puncak/Klimaks.
    Bagian klimaks adalah babak yang memunculkan konflik cerita nan terjadi di antara penggerak-tokoh. Kejadian privat konflik bisa bermacam ragam bentuknya berangkat dari yang ringan hingga yang sukar,
  3. Penyelesaian

    Bagian Penyelesaian ialah bagian nan berisi jawaban perampungan terbit konflik dalam cerita. Inferensi penghabisan cerita bisa berakhir bahagia dan bisa juga berpisah tragis.

Semenjak teoretis data rincih situasi ”Saat akan mengakuri berita kelulusan dari SMAN 1 Sukatani”, dapat dikembangkan sinopsis/susuk seperti berikut ini.




Pada tanggal  12  Mei 2022 lalu aku dan p versus-tampin  mengikuti ujian penutup sekolah berstandar nasional  di  SMAN 1 Sukatani, Bekasi.  Ujian itu berlangsung sejauh sapta tahun, dari perian Senin sebatas Jumat. Kini  aku dan teman-saingan  sedang menunggu kenyataan  miskram itu. Kami  tak kepala dingin kepingin mengetahui hasil ujian tersebut.  Hal ini wajar karena pemberitahuan hasil tentamen tersebut masih lama, tebak-sangkil  copot 26 Juni 2022. Sungguhpun aku  dan oponen-teman sudah berusaha sebaik barangkali mempersiapkan diri kerjakan menghadapi ujian tersebut, setia saja kami  merasa tidak tenang.  Kami  hanya bisa berdoa  dan berserah diri kepada-Nya.  Hingga hari nan  dinantikan itu pun tiba.  Pagi itu, 26 Juni 2022,  aku terus memohon kepada-Nya seharusnya aku  dan teman-temanku menguap berbunga SMA. Oh, betapa  senangnya hatiku karena aku lenyap ujian, sekali lagi teman-temanku.

Sinopsis di atas terbagi atas tiga episode, yaitu  pendahuluan  pada kalimat nan tercetak sensasional, puncak atau klimaks plong kalimat nan  tercetak merah, dan penyelesaian pada kalimat  yang tercetak hijau.

       4. Meluaskan Sinopsis Menjadi Naskah Satu Babak

Tiga anju menulis ketoprak telah dilakukan, yaitu menentukan tema, mendata satuan kejadian, dan menyusun data satuan kejadian tersebut menjadi sebuah  naskah dagelan satu babak.

Berikut ini merupakan contoh bagian naskah sandiwara bangsawan suatu episode nan dibuat berdasarkan  sinopsis/kerangka di atas.

Panggung menyantirkan sebuah  papan bawah. Ada  empat meja, catur kursi murid, sebuah meja dan kedudukan bakal guru, dan sebuah papan tulis. Di dinding papan bawah terlihat foto  Kiai Kepala negara dan Duta Presiden. Letak  perlengkapan itu diatur sedemikian rupa sehingga memasrahkan kesan sebuah kelas.Putri, seorang petatar kelas XII, terbantah tengah berbincang dengan teman sebangkunya.

Perawan

:

(Sambil menulis sesuatu di sentral tulisnya) Bay, kamu yakin kalau kita akan lulus  UN?

Obay

:

(Menengah asik membaca sebuah buku cerita) Aku yakin, Put. Kita ’morong sudah berusaha semaksimal siapa.

Gadis

:

Iya,  aku tahu, tapi pengumuman keluron itu masih lama.  Ujian itu baru berlalu  lima perian nan lampau.

Aku penasaran ingin cepat mencerna hasilnya.

Obay

:

Sabarlah Put..

Putri

:

Tapi aku benar-benar penasaran.

Obay

:

Tidak cuma anda yang penasaran, Put. Aku sekali lagi.

Putri

:

Betul. Teman-teman yang tak juga karuan seperti mana kita, ya, Bay?

Source: https://alink-friend.blogspot.com/2012/04/langkah-langkah-membuat-drama.html

Posted by: caribes.net