Mata Pelajaran Dalam Bahasa Arab


PERUMUSAN INDIKATOR PEMBELAJARAN BAHASA ARAB


Makalah ini disusun lakukan menyempurnakan tugas kelompok mata syarah


Perancanaan Penelaahan Bahasa Arab


Dosen:


Raswan, M.Pd.I




Berkas:Logo UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.jpg





Disusun Oleh :


Kelompok 5


Zuqriva Hayati                            11140120000008


Idhardin                                       11140120000016


Finda Dwi Fidiawati                   11140120000018


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB




FAKULTAS Guna-guna TARBIYAH DAN KEGURUAN


UNIVERSITAS ISLAM Wilayah SYARIF HIDAYATULLAH


JAKARTA


2016


Gapura I


Pendahuluan


1.         Latar Bokong

Bahasa Arab merupakan salah suatu bahasa asing nan banyak dipelajari oleh mahajana Indonesia. Oleh karena itu perlu dikaji adanya pembelajaran bahasa yang tepat bagi orang-orang nan non-Arab. Penelaahan bahasa asing tercatat dalam keadaan ini bahasa Arab bisa dilakukan dengan beraneka ragam cara dan metode. Dalam pengusaan bahasa arab banyak sekali aspek-aspek nan harus dipelajari sehingga memerlukan startegi dalam pengajaran bahasa arab.

Perumusan penunjuk penyerobotan dalam pengajaran bahasa arab sangatlah penting, karena penunjuk merupakan alat ukur ketercapaian kompetensi asal yang menjadi acuan plong penilaian indra penglihatan tuntunan. Kompetensi Sumber akar merupakan sejumlah kemampuan yang menyusun indikator kompetensi. Sehingga dalam memformulasikan penunjuk guru harus mengetahui kompetensi radiks yang hendak dicapai dalam materi pembelajarannya.

Indeks berguna untuk memaklumi tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran di kelas bawah sehingga siswa bisa kemampuan dirinya terhadap mata pelajaran itu dan bermanfaat cak bagi guru dalam meluaskan celah-kisi penilaian yang dilakukan melewati konfirmasi (pembenaran tertulis seperti ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan penghabisan semester, pengecekan praktik, dan/alias validasi perbuatan) alias non-pemeriksaan ulang.

Berlandaskan uraian diatas pengembangan indeks kerumahtanggaan pengajaran bahasa arab memerlukan persiapan  strategis  n domestik  peningkatan  kualitas  penelaahan  di  kelas  dan pencapaian  kompetensi peserta ajar.


2.     Rumusan Masalah




2.1


Apa yang dimaksud dengan perumusan penanda?


2.2


Apa saja kriteria formulasi penunjuk?


2.3


Apa saja indiktor dalam penaklukan aspekmufradat, tarkib, dan kemahiran bahasa?


Gapura II


Pembahasan


1.         Pengertian Indikator





Indikator adalah perilaku yang dapat diukur atau diobservasi kerjakan menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi abstrak penilaian mata pelajaran.


[1]


Indikator  merupakan parameter pencapaian kompetensi sumber akar yang ditandai makanya perubahan perilaku nan boleh diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan ketangkasan

.
Indikator adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi bakal menunjukkan ketercapaian kompetensi pangkal tertentu yang menjadi acuan penilaian indra penglihatan pelajaran (Mulyasa, 2007:139). Intern Panduan Ekspansi Indikator (2010: 3) dan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007lagimenyatakan bahwa penanda pencapaian kompetensi adalah perilaku yang boleh diukur dan/alias diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian alat penglihatan latihan.



 Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa didik, mata les, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terbandingkan maupun dapat diobservasi.




            Dalam melebarkan indikator terlazim menimang-nimang:

1.   Permintaan kompetensi yang dapat dilihat melalui pengenalan kerja nan digunakan dalam kompetensi dasar

2.   Karakteristik mata pelajaran, peserta ajar, dan sekolah

3.   Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.

            Pengembangan indeks hendaknya memperhatikan UKRK
(urgensi, kontinuitas, relevansi, dan keterpakaian). Urgensi, maksudnya berguna dan harus dikuasai peserta didik.
Kontinuitas,
ialah penekanan dan/atau ekstensi dari kompetensi lega jenjang/tingkat sebelumnya.
Relevansi,
diperlukan karena ada hubungannya lakukan mempelajari ataupun memafhumi kompetensi dan/atau konsep mata pelajaran lain.
Keterpakaian,
artinya n kepunyaan nilai terapan tinggi intern kehidupan sehari-hari. (Depdiknas, RPHB 2008; 31)

Indikator dirumuskan dalam rancangan kalimat dengan menunggangi alas kata kerja operasional. Rumusan parameter sedikitnya mencakup dua situasi, yakni tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.

Dalam merumuskan parameter terlazim diperhatikan beberapa ketentuan ibarat berikut:

  1. Setiap kompetensi radiks dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator
  2. Keseluruhan penunjuk menyempurnakan tuntutan kompetensi yang tertuang n domestik kata kerja yang digunakan dalam standar kompetensi dan kopetensi dasar.
  3. Indikator harus mencecah tingkat kompetensi paling kecil kompetensi bawah dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik.
  4. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.
  5. Rumusan penunjuk sekurang-kurangnya mencaplok dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi penerimaan.
  6. Parameter harus boleh mengakomodir karakteristik netra tuntunan sehingga menggunakan verba operasional yang sesuai.
  7. Rumusan penanda boleh dikembangkan menjadi beberapa indeks penilaian yang mencaplok mati kognitif, afektif, dan psikomotorik. (Panduan Ekspansi Indikator, 2010:10).

Oleh karenanya penjabaran indicator harus dilaksanakan dengan merinci KD menjadi bilang indikator yang menunggangi kata kerja operasional. Indeks yang dibuat harus bisa diukur, sebagai batasan, bukti, dan nama pencapaian kompetensi.

Bak ideal jika KD-nya adalah “Mengetahui cara member tahu dan menanyakan tentang fakta, perhatian dan sikap, serta meminta dan menawarkan barang dan jasa terkait topik identitas diri (
al ta’aruf
) dan hidup sekolah (al roh fi al madrasah) dengan mengaibkan unsure kebahasaan dan struktur pustaka yang sesuai konteks penggunaannya,” maka parameter yang mungkin dibuat diantaranya:

1.

Menyebutkan idiom bahasa Arab bikin memberitahu dan meminta tentang fakta perasaan dan sikap, serta meminang dan menawarkan barang dan jasa terkait topik identitas diri (
al ta’aruf
) dan kehidupan sekolah (al hayat fi al madrasah) dengan memperhatikan molekul kebahasaan dan struktur teks yang sesuai konteks penggunaannya.

2.

Mengklarifikasi ungkapan bahasa Arab kerjakan memberitahu dan menanyakan adapun fakta manah dan sikap, serta meminta dan menawarkan barang dan jasa terkait topik identitas diri (
al ta’aruf
) dan kehidupan sekolah (al nasib fi al madrasah) dengan memperhatikan unsur kebahasaan dan struktur teks yang sesuai konteks penggunaannya.

3.

Mempersoalkan ungkapan bahasa Arab bakal memberitahu dan menanyakan tentang fakta perasaan dan sikap, serta lamar dan menawarkan barang dan jasa terkait topik identitas diri (
al ta’aruf
) dan nasib sekolah (al semangat fi al madrasah) dengan memaki elemen kebahasaan dan struktur teks yang sesuai konteks penggunaannya.

Semakin banyak parameter yang bisa dibuat maka akan semakin baik dan semakin menunjukkan keprofesionalan sendiri guru privat mengembangkan scenario pembelajaran nan dilaksanakannya.


1.         Parameter Penundukan Aspek Kebahasaan Mufradat

Kosakata (Arab:
Al-Mufradat
dan Inggris:
Vocabulary) adalah antologi kata yang diketahui oleh seseorang atau entitas bukan, ataupun yaitu bagian dari suatu bahasa tertentu.


[2]



Kosakata seseorang didefinisikan bak himpunan semua kata-pembukaan nan dimengerti maka dari itu turunan tersebut dan kemungkinan akan digunakannya untuk menyusun kalimat baru. Kosakata ialah kumpulan kata-introduksi nan membentuk bahasa yang diketahui seseorang dan himpunan kata tersebut akan ia gunakan dalam menyusun kalimat ataupun berkomunikasi dengan masyarakat. Komunikasi seseorang yang dibangun dengan penggunaan leksikon yang tepat dan memadai menunjukkan gambaran intelejensia dan tingkat pendidikan si pengguna bahasa.

Dalam pembelajaran bahasa Arab ada beberapa ki kesulitan dalam pembelajaran kosakata nan disebut problematika kosakata


(مشكلات صرفية)


. Situasi itu terjadi karena dalam pembelajaran perbendaharaan kata mencakup tema-tema yang kompleks yaitu peralihan derivasi, infleksi, pengenalan kerja,
mufrad, tatsniyah, jama’, ta’nits, tadzkir
dan makna leksikal serta fungsional.


[3]




Bawah yang menjadi mandu acuan pemilihan leksikon yang baik boleh diuraikan sebagai berikut:

1.
Frequency,
ialah frrekuensi penggunaan kata-perkenalan awal yang tinggi dan sering itulah yang harus menjadi saringan.

2.
Range,
adalah mengutamakan kata-kata nan banyak digunakan baik di Negara Arab alias non Arab.

3.
Availability,
yaitu mengutamakan perkenalan awal-pengenalan nan mudah dipelajari dan digunakan seumpama media atau teks.

4.
Familiarity,
yaitu mendahulukan kata-kata yang sudah lalu dikenal dan cukup familiar didengar.

5.
Coverage,
ialah kemampuan sendi cakup suatu kata lakukan memiliki beberapa arti sehingga menjadi lebih luas cakupannya.

6.
Significance,
merupakan mengutamakan perkenalan awal-kata yang memiliki guna introduksi yang signifikan lakukan meninggalkan pembukaan-kata mahajana yang musykil digunakan lagi.

7.
Arabism,
adalah mengutamakan pengenalan-perkenalan awal Arab dari pembukaan-prolog serapan nan diarabisasi semenjak bahasa bukan.


[4]




            Indikator pencaplokan nan tercermin privat penataran leksikon (al-mufradat) diantaranya sebagai berikut:

1.        Pelajar mampu membaca teks dengan intonasi dan makhraj yang ter-hormat.

2.        Siswa bernas menentukan faedah kosakata.

3.        Peserta produktif menggunakan leksikon dalam konteks kalimat.


2.        Indikator Penguasaan Aspek Tarkib

Riuk satu aspek tata bahasa yang erat kaitannya dengan kognisi mendaras ialah bidang nahu atau stuktur kalimat. Pendudukan stuktur kalimat boleh dikatakan utama internal kegiatan  membaca, karena signifikasi atau ide yang akan dikemukakan notulis hanya dapat diketahui selepas dituangkan intern rajah kalimat. Kalimat disusun dengan mempergunakan glosari yang satu dan yang lainnya dengan mempergunakan resan pengelolaan bahasa. Sebelum disusun n domestik kalimat, ide tersebut masih belum jelas. Dengan demikian penguasaan stuktur kalimat perlu diperhatikan intern proses mambaca.

Dalam pembentukan kalimat, unsur-zarah kalimat kasatmata kata atau frasa disusun menurut fungsinya masing-masing sehingga takhlik suatu pengertian. Susunan-susunan kalimat yang sudah lalu dibentuk itu jadinya akan takhlik suatu bacaan alias wacana. Seandainya dilihat dari proses penyusunan pertama sehinnga membentuk satu wacana nan lengkap, maka terlihat suatu bentuk penyusuunan terbit bentuk terkecil sampai kepada kalimat. Masalah ini sesuai dengan segala yang dikemukakan maka itu Samsuri, merupakan suatu runcitruncit terkecil morfem menciptakan menjadikan lapisan stuktur tata alas kata; dan runcitruncit terkecil kalimat memberikan sepuhan stuktur tata wacana (1985:53). Penyusunan itu tentunya harus menurut suatu rasam tertentu, tidak bisa alas kata itu disusun sesuka hati. Artinya susunan kata untuk membuat kalimat menirukan satu pola tertentu. Penyusunan koneksi kata harus dapat juga mengandung makna, karena susunan kata yang belum mempunya suatu makna belum merupakan suatu kalimat. Jadi nan dinamakan kalimat yaitu pertautan perkenalan awal nan mengandung suatu makna (Ananda , 1985:97).

Penunjuk penaklukan nan dikembangkan dalam penerimaan tata bahasa adalah sebagai berikut:

1.         Siswa mampu mengaji bentuk alas kata tertentu dengan menuding vocal harakat nan benar.

2.         Siswa bisa membedakan antara tulangtulangan perkenalan awal yang satu dengan yang lain.

3.         Peserta dapat menentukan wazan dalam bahasa Arab.

4.         Petatar dapat mengidentifikasi lembaga pembukaan tertentu intern pustaka.

5.         Petatar bisa mebuat kalimat dengan menggunakan bentuk kata tertentu.


3.         Penunjuk Perebutan Aspek Kemahiran Bahasa

            Kemahiran bahasa meliputi catur aspek, yaitu:

1.     Kemahiran menyimak

Menyimak merupakan proses pertukaran wujud bunyi (bahasa) menjadi wujud makna. Kemahiran menyimak sebagai kemahiran berbahasa yang sifatny reseptif, menerima informasi berpunca orang lain (pembicara) intern gambar verbal.

2.     Kemahiran berbicara

Kemahiran berbicara merupan kemahiran yang sifatnya  kaya, menghasilkan ataupun menyampaikan warta kepada makhluk lain (penyimak) di dalam bentuk obstulen bahasa mulut, dan merupakan proses perubahahan wujud obstulen bahasa menjadi wujud tuturan.

3.     Kemahiran mendaras

Kemahiran membaca merupakan kemahiran berbudi yang sifatnya reseptif, menerima informasi semenjak orang lain (penulis) dalam rajah karangan. Membaca merupakan perubahan wujud tulisan menjadi wujud makna.

4.     Kemahiran batik

Kemahiran menulis merupakan kemahiran bahasa yang sifatnya menghasilkan atau memberikan deklarasi kepada insan enggak (pembaca) di dalam gambar karangan. Menulis ialah pertukaran wujud perasaan ataupun manah menjadi wujud coretan.

Penanda penaklukan kemahiran bahasa adalah sebagai berikut:


*


Istima’ (menyimak) :



Menyering-kan materi



Cekut ide kiat dan mencerna ide awam semenjak materi yang didengar


*


Kontol (Berbicara):



Makmur menitahkan suatu kata tau kalimat dengan baik



Dapat menjaga aturan bahasa intern berbicara



Menjaga kefasihan internal berbahas



Sisw berkecukupan berkomunikasi serta memahami apa yang dibicarakan


*


Qiro’ah (membaca) :



Menyabdakan bunyi dari makhraj serta membedakan bunyi huruf yang mirip



Merintih cap dengan maknanya



Memahami apa yang dibaca dengan baik secara global ataupun terperinci



Membedakan hamzah washal dan qath’i



Menuduh harokat panjang dan singkat



Enggak menggati satu huruf dengan fonem yang bukan



Tidak menambah huruf kedalam huruf kudus



Nangkring puas ajang nan sesuai



Mewujudkan inferensi ide-ide pokok



Dapat membedakam ide taktik dan sekunder


*


Kitabah (menulis):



Berlimpah menggambar huruf Arab



Mengetahui tanda baca secara cepat



Mengungkapkan pemikiran dengan logis dan runtut dengan memperhatikan resan dan kaidah-kaiddah bahasa



Nama baca dan diksi pembukaan secara tepat


[5]





BAB III


Pengunci


Inferensi

            Pengajaran bahasa Arab adalah suatu upaya untuk mengeset aktivitas berlatih-mengajar berdasarkan konsep-konsep dan mandu-kaidah pengajaran bahasa Arab kerjakan mencapai tujuan penataran nan lenih efektif, efisien, dan produktif yang diawali dengan kebijakan dan perencanaan, diakiri dengan penilaian, dan dari penilaian akan dimanfaatkan sebagai umpan mengot bagi reformasi pengajaran.

Dalam pengajaran bahasa Arab, dituntut pelaksanaan perencanaan program pengajaran demi tercapainya pembelajaran yang efektif. Perencanaan program indoktrinasi terdiri atas perencanaan intensi-harapan instruksional, perencanaan materi dan sasaran bahan pengajaran, perencanaan alat dan media pencekokan pendoktrinan, dan perencenaan evaluasi pengajaran.

Dengan terlaksananya perencanaan program pengajaran bahasa Arab dengan baik maka diharapkan tercapainya harapan pengajaran yang dibuat dan di standarkan maka itu sekolah. Oleh karena itu dibutuhkan usaha keras dan maksimal oleh pendidik sehingga mereka benar-benar bisa merancang dan merencanakan indoktrinasi yang akan dilaksanakannya.


DAFTAR Wacana

E. Mulyasa,Kurikulum Tingkat Eceran Pendidikan, PT.Remaja Rosdakarya, Bandung: 2006.

Rusydy A. Tha’imah,
Al-Marja’ fî Ta’lîm al-Lughah al-’Arabiyyah li al-Nâthiqîn bi Lughâtin Ukhra, Jâmi’ah Ummu al-Qurâ, Ma’sempadan al-Lughah al-’Arabiyyah, Wahdat al-Buhûts wa al-Manâhij, Silsilah Dirâsât fi Ta’lîm al-’Arabiyyah, juz II.

Dr. Sujai, M. Ag.,
Inofasi Pembelajaran Bahasa Arab,
Walisongo Press, Semarang: 2008)

Depdiknas. 2010.Panduan Pengembangan Indikator.Jakarta: BNSP

Moh. Matsna HS dan Raswan,
Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab I,
Tangerang Selatan; UIN JAKARTA PRESS, 2022.







[1]



E. Mulyasa,
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT. Akil balig Rosdakarya, 2006), peristiwa 139.





[3]





Moh. Matsna HS, Diagnosis Kesulitan Belajar Bahasa Arab; makalah disampaikan lega Diklat Munsyi Arab SMU di Jakarta tanggal 10 – 23 September 2003.




[4]


Rusydy A. Tha’imah,
Al-Marja’ fi Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyah li al-Nathiqin bi Lughatin Ukhra, Jami’ah al-Qura, Ma’senggat al-Lughah al-‘Arabiyah, Wahdat al-Buhus wa al_Manahij, Silsilah Dirasat fi Ta’lim al-“arabiyah, juz II, hlm.618-620.




[5]



Dr. Sujai, M. Ag.,
Inofasi Pengajian pengkajian Bahasa Arab,
Walisongo Press, Semarang: 2008) hlm. 19-22.

Source: https://qthijab.blogspot.com/2017/01/perumusan-indikator-pembelajaran-bahasa.html