Media Pembelajaran Bahasa Indonesia Sd


NIM: 04.08.872.2013



ABSTRAK

Eksplorasi ini bertujuan: (1) mendeskripsikan perencanaan pembelajaran

menggambar puisi dengan memanfaatkan Lingkungan Sekolah sebagai media

pembelajaran menulis puisi ,(2) mendeskripsikan pelaksanaan proses

penelaahan menggambar puisi dengan memanfaatkan Lingkungan Sekolah sebagai

ki alat pembelajaran menulis sajak dan (3) mendeskripsikan tentang hasil

pembelajaran menulis puisi dengan memanfaatkan Lingkungan Sekolah sebagai

ki alat pembelajaran menulis puisi.Pendekatan yang digunakan intern penelitian

ini adalah pendekatan kualitatif.Data penelitian berupa observasi,wawancara,dan

lembar kerja siswa. Teknik pengumpulan datanya berupa hasil lembar

observasi,wawanrembuk,dan dokumentasi.Data yang diperoleh dianalisis secara

deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan: Pemanfaatan Lingkungan sekolah

laksana wahana pembelajaran menggambar puisi puas siswa pesuluh kelas III SDN No.30

Maros sangat bermanfaat. Situasi ini dapat dilihat pecah peningkatan perencanaan,

proses pembelajaran, dan hasil berlatih siswa. Dari aspek perencanaan sreg

pertemuan bagian mula-mula, mmasih banyak aspek kegiatan yang berpunya pada

kategori cukup. Sedangkan pada adegan kedua semua aspek kegiatan sudah

ki berjebah pada kategori baik dn lalu baik. Aktivitas siswa dan master yang

sebelumnya kurang aktif dan minus benar-benar menjadi aktif dan serius. Pada

pertemuan bagian pertama masih cak semau bilang kegiatan yang belum

tercurahkan, sedangkan lega pertemuan putaran kedua semua kegiatan mutakadim

terlaksana dengan baik. Peningkatan hasil batik puisi berpangkal pencapaian bahan


mulanya bernas pada nilai rata-rata 61,37 menjadi rata-rata 90,56. Dari aspek


KKM siswa yang tuntas pada pembenaran babak permulaan hanya 3 khalayak saja alias 10%,

sedangkan puas tes pengunci episode kedua siswa yang tuntas secara KKM

sebanyak 29 bani adam pesuluh atau 96,67%.Berdasarkan hasil penggalian, dapat

disimpulkan bahwa

kemampuan menulis puisi pesuluh kelas III SDN 30 Maros

dapat ditingkatkan melangkaui pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai kendaraan

pembelajaran.Selanjutnya, disarankan peneliti berikutnya sepatutnya dapat

meneliti lebih lanjur tentang pemanfaatan mileu sekolah sebagai sarana

pembelajaran menulis puisi makin mendalam lagi sehingga dapat diperoleh hasil

temuan yang yunior dan inovatif.

Kata sosi: alat angkut, lingkungan, tembang.


PENDAHULUAN

Pembelajaran bahasa merupakan suatu karunia kemampuan dan

keterampilan berbahasa melangkaui pendidikan formal mulai berasal sekolah dasar

sebatas ke perguruan tinggi. Penerimaan bahasa sangat kompleks, sebab

diperlukan adanya guru, kurikulum, kendaraan dan prasarana belajar, kendaraan

pembelajaran (gambar), dan evaluasi. Pamrih penelaahan bahasa itu buat

mewujudkan penutur bahasa yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap

positif terhadap bahasa yang digunakan (Ambo Enre, 1994: 7).

Bahasa merupakan sistem lambang bunyi dan cumbu bunyi integral

nan digunakan maupun dapat digunakan dalam komunikasi interpersonal. Bahasa

juga dapat digunakan oleh kelompok hamba allah untuk mengungkapkan peristiwa

dan proses kejadian lainnya yang terdapat di lingkungan sekitarnya. Bahasalah

yang menandakan manusia andai makhluk nan berlogika.

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan

digunakan oleh anggota gerombolan sosial bagi bekerja sama, berkomunikasi

untuk mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 1993: 21). Berbahasa pada dasarnya

merupakan pencetusan pikiran, gagasan dan maksud. Pencetusan ini dijelmakan

secara konkret ke dalam bentuk ucapan maupun tulisan. Sama dengan dikatakan

Nierwenhius (dalam Nafiag, 1981: 4) bahwa bahasa itu kadang-kadang konkret

bunyi, kadang-kadang faktual stempel. Akan doang, senantiasa positif pikiran.

Kedua kerangka ini, yaitu bunyi dan tanda punya kedudukan sejajar dan

merupakan aspek produktif. Pada saat tertentu digunakan tulangtulangan lisan, plong

ketika lain mungkin lebih efektif menunggangi bentuk tulisan. Memang keduanya

punya singgasana sejajar, tetapi keefektifan dan keefesienan

saban bersifat situsional.


Menurut Tarigan (2008:2) keterampilan bertata cara (languae arts,



languae skills) kerumahtanggaan kurikulum sekolah biasanya mencakup empat segi, yaitu



menyimak (listening skill), berbicara (speaking skill), membaca (reading skill),



dan menulis (writing skill). Menyimak adalah kecekatan berbahasa awal


yang dikuasai oleh anak adam. Kesigapan menyimak menjadi dasar bagi

keterampilan bertata cara lain. Pada awal nyawa turunan lebih dulu belajar

menyimak, setelah itu belajar berbicara, kemudian membaca, dan menulis.

Tariganjuga menyatakan bahwa dalam kecekatan beristiadat, biasanya kita

menerobos satu hubungan urutan yang anak bungsu. Purwa lega masa kecil kita

belajar menyimak bahasa kemudian berbicara sesudah itu kita berlatih membaca

dan menulis. Keempat keterampilan tersebut merupakan suatu kesatuan yang


disebut caturtunggal.

N domestik proses belajar batik (mendongeng), berbagai kemampuan itu

tidak barangkali dikuasai seseorang secara serentak. Semua kemampuan itu

dapat dikuasai maka dari itu para penyadur yang sudah profesional tiba satu proses,

setahap demi setahap. Proses penguasaan berbagai kemampuan berjalan cepat

maupun lambat mengelepai sreg besarnya potensi yang dimiliki dan ketekunannya

internal menulis.

Menggambar atau bercerita yakni suatu proses yang menggunakan

lambang-lambang atau sejumlah huruf kerjakan memformulasikan, mencatat, dan

mengomunikasikan, serta bisa menampung aspirasi atau makna yang ingin

disalurkan kepada orang lain (Darmadi, 1996: 21). Selanjutnya, pesan nan ingin

disampaikan itu dapat kasatmata karangan yang dapat menghibur, membagi mualamat,

mempengaruhi, dan menambah informasi. Hasil kegiatan mengarang seperti

ini dapat berwujud goresan argumentasi, eksposisi, deskripsi, narasi, dan

propaganda (Darmadi, 1996: 21).

Dalam setiap penerimaan, ada tujuan yang harus dicapai. Tujuan

proses belajar mengajar boleh dicapai dengan majemuk mandu. Pelecok satunya

ialah pemanfaatan media lingungan sekolah. Pendayagunaan media lingungan

sekolah dalam pengajaran yang diintegrasikan dengan pamrih dan isi kursus

dimaksudkan untuk mempertinggi mutu sparing-mengajar, merangsang minat dan

menimbulkan ketersediaan mental petatar untuk terlibat n domestik situasi berlatih.

Media sebagai sarana yang efektif dalam menyampaikan cak bimbingan.

Walaupun itu hanya terlambat, saja terlampau membantu komunikasi menjadi

efektif. Sebagaimana dikemukakan makanya Sujana dan Rivai (1990: 3) bahwa: “Tahap

berpikir basyar adalah tahap perkembangan dimulai berusul berpikir konkret

membidik berpikir abstrak, dimulai berasal berpikir dalam-dalam sederhana hingga berpikir

kompleks. Pengusahaan ki alat habis dempet kaitannya dengan taraf berpikir

tersebut, sebab melewati ki alat pengaruh keadaan nan maya dapat dikongkretkan,

dan hal yang kompleks dapat disederhanakan”.

Media mileu merupakan pelecok suatu bentuk media nan comar

digunakan guru kerumahtanggaan menyampaikan pesan kurikulum bahasa Indonesia

kepada murid. Tujuannya tentu bakal mendayagunakan pencapaian tujuan

pengajaran.

Munculnya inisiatif guru untuk menggunakan media pencekokan pendoktrinan seperti

sarana lingkungan dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar di inferior menjadi

indikasi adanya keinginan nan kuat kerjakan lebih meningkatkan prestasi belajar

pesuluh. Karena sejauh ini, masih burung laut terdengar keluhan tentang kemampuan

berpendidikan Indonesia para murid, baik di sekolah dasar maupun di perguruan

pangkat.

Setelah melakukan angket awal di sekolah, diperoleh informasi bahwa

penataran menulis khususnya menulis puisi di SD Distrik 30 Maros masih

rendah maksimal. Oleh karena itu, guru terbiasa mengerjakan perombakan-pembaruan

dalam penerapan metode-metode penelaahan ataupun penggunaan kendaraan

pembelajaran yang tepat.

Berlandaskan pengamatan, ada lima hambatan dalam pembelajaran

menggambar syair yaitu: pertama, pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis

masih kurang. Kedua, murid merasa kurang mendapatkan manfaat berpokok belajar

batik puisi sehingga tekor pecut buat belajar. Ketiga, metode

pembelajaran menggambar yang abnormal bervariasi. Keempat, media penelaahan

batik puisi minus mencukupi dan belum dimanfaatkan secara efektif. Kelima,

jumlah siswa terlalu raksasa.

Berlandaskan jabaran tersebut, penelitian ini difokuskan pada pertambahan

menulis bagi petatar kelas III Sekolah Dasar. Bagi membangkitkan semangat

sparing menulis bagi anak kelas bawah III SD, teradat dibantu dengan menerapkan media

penelaahan yang menarik sesuai dengan karakter anak, sama dengan alat angkut

lingkungan sekolah.

Kemampuan menulis yakni salah satu tujuan dan tuntutan dalam

Kurikulum KTSP, khususnya pada tingkat pendidikan SD inferior III. Tujuan yang

dimaksud, yaitu mendedahkan warta n domestik rancangan tulisan.

Gerlach dan Ely (dalam Arsyad, 2009: 3) menyatakan bahwa media

apabila dipahami secara garis ki akbar yaitu basyar, materi, atau kejadian nan

membangun kondisi nan mewujudkan siswa gemuk memperoleh pengetahuan,

kelincahan, ataupun sikap. Dalam pengertian ini, guru, sentral referensi, dan mileu

sekolah yaitu sarana.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penataran menulis puisi terlampau

perlu diajarkan di sekolah. Kenyataan menunjukkan bahwa kompetensi murid

menggambar sampai detik ini tergolong rendah. Peristiwa ini diketahui berdasarkan hasil

observasi awal di tanah lapang nan menunjukkan bahwa murid tak mampu

menulis dengan baik nan disebabkan oleh berbagai kendala. Oleh karena itu,

penyelidik menerapkan wahana lingkungan seumpama media nan dapat membantu

murid internal menulis.

Mencermati fenomena pendedahan menulis tersebut yang masih

kurang, peneliti berinisiatif berbuat penekanan kualitatif perumpamaan upaya

meningkatkan pengajian pengkajian menulis. Upaya pengembangan tersebut dilakukan

dengan menerapkan wahana penataran yang belum lazim digunakan selama

ini. Sarana yang dimaksud yaitu ki alat mileu.

Oleh karena itu, peneliti mengangkat sebuah kop yaitu “Pemanfaatan

Lingkungan Sekolah andai Kendaraan Pengajian pengkajian Menulis Tembang puas Peserta

Inferior III SD Area 30 Maros”.Melalui penajaman ini, pengkaji berpretensi

menemukan adanya pemerolehan hasil yang beragam bagi dideskripsikan.

Penyelidikan nan relevan perantaraan dilakukan maka dari itu Jumadi (2009) dengan


judul “Efektivitas Metode Inquiri intern Setting Mileu terhadap


Pembelajaran Kelincahan Menulis Puisi Murid Kelas VIII SMP Negeri 29

Makassar”. Studi ini menunjukkan hasil kajian yang memperlihatkan


bahwa inferior yang menunggangi metode inquiri dalam setting lingkungan


memperoleh ponten kebanyakan 8,90. Sedangkan kelas yang tidak menggunakan


metode inquiri dalam setting mileu memperoleh nilai rata-rata 6,00.


Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah lalu diuraikan di atas, maka

masalah dirumuskan seperti yang diuraikan berikut ini.

1. Bagaimanakah

perencanaan

pembelajaran

menggambar

puisi

dengan

memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran menulis sajak

di kelas bawah III SD Area 30 Maros ?

2. Bagaimanakah

pelaksanaan

penerimaan

menulis

tembang

dengan

memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran menulis puisi

di kelas III SD Negeri 30 Maros ?


3. Bagaimanakah hasil pendedahan menulis sajak dengan memanfaatkan



mileu sekolah ibarat alat angkut pembelajaran


Analisis PUSTAKA


Tinjauan Teori dan Konsep



Pembelajaran Bahasa

Pendedahan bahasa dan sastra Indonesia sesuai dengan Kurikulum

Tingkat Runcitruncit Pendidikan lebih diarahkan kerjakan meningkatkan kemampuan

murid didik untuk berkomunikasi intern bahasa Indonesia dengan baik dan

benar, baik secara oral maupun tulis, serta memaksimalkan apresiasi terhadap

hasil karya kesastraan Indonesia (Depdiknas, 2006).


Menulis


Signifikasi Menulis

Alwi (2001: 1219) mengklarifikasi bahwa batik yaitu melahirkan pikiran

atau perasaan dengan catatan. Tarigan (2008: 21) mengemukakan bahwa

menulis adalah menaruh maupun mencitrakan lambang-lambang tabulasi yang

menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga hamba allah

lain dapat mengaji lambang-lambang grafik tersebut sepanjang mereka

memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut.


Kemampuan Menulis

Halim (2004: 23) menyodorkan bahwa indikator ketangkasan batik

ini, yaitu: 1) kemampuan memilih ide yang akan dipaparkan; 2) kemampuan

mengatak atau mengorganisasikan ide pilihannya secara sistematis; 3)

kemampuan menunggangi bahasa menurut kaidah-prinsip serta kebiasaan

penggunaan bahasa yang telah masyarakat sifatnya; 4) kemampuan menunggangi

gaya bahasa, adalah pilihan struktur dan kosakata untuk mengasihkan irama ataupun

makna terhadap karangan itu; 5) kemampuan mengatur mekanisme goresan, yaitu

tata prinsip penulisan lambang-lambang bahasa tertulis (ejaan) yang dipaparkan

dalam bahasa tersebut.


Ancang Awal Belajar Menulis

Menurut Hairston (kerumahtanggaan Darmadi, 1996: 23-24), skala prerogatif dalam

membiasakan menulis tidak sahaja riil satu rangkaian kemampuan yang menumpu

pada terbentuknya sebuah garitan. Rangkaian kemampuan yang dimaksud,

adalah: 1) kemampuan bagi mengingat dan mengapresiasi tulisan yang baik,2)

kemampuan untuk mengarifi proses penulisan, 3) kemampuan mempelajari

tentang bagaimana sebuah karangan itu dimulai, 4) kemampuan mengorganisasi

gubahan, dan 5) kemampuan mengesakan goresan.


Teknik Pencekokan pendoktrinan Menulis

Halim (2004: 16) mengemukakan bahwa indeks keterampilan menulis

ini, yaitu: 1) kemampuan memilih ide yang akan dipaparkan; 2) kemampuan

menata atau mengorganisasikan ide pilihannya secara sistematis; 3)

kemampuan menggunakan bahasa menurut kaidah-cara serta kebiasaan

pemakaian bahasa nan mutakadim awam sifatnya; 4) kemampuan memperalat

gaya bahasa, yaitu sortiran struktur dan daftar kata lakukan memberikan nada ataupun

makna terhadap tulisan itu; 5) kemampuan mengatur mekanisme tulisan, yaitu

tata cara penulisan lambang-lambang bahasa tertulis (ejaan) nan dipaparkan

dalam bahasa tersebut.


Pembelajaran Menulis Puisi di SD

Penelaahan menulis di SD dilaksanakan sejak papan bawah I setakat dengan

kelas VI. Kegiatan menulis bukan dapat terlepas dari kegiatan bahasa lainnya

seperti kegiatan membaca, menyimak dan berbicara. Lakukan itu dalam

pelaksanaan pendedahan hawa harus dapat memadukan keempat elemen

kebahasaan tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Pelaksanaan pembelajaran menulis di SD terutama di kelas I dan II tidak dapat

dipisahkan dengan les mendaras pertama, sungguhpun membaca dan

menulis ialah dua kemampuan yang berlainan. Batik bersifat produktif

padahal membaca bersifat reseptif.


Syair


Pengertian Sajak


Secara etimologis, istilah puisi berpokok dari bahasa Yunani poeima


„membuat‟ ataupun poeisis‟pembauatan‟, dan n domestik bahasa Inggris sajak disebut



poem atau poetry. Kemudian Hudson mengungkapkan bahwa puisi merupakan


ilusi dan imajinasi yang dituangkan oleh katib dengan kendaraan maujud introduksi-kata.

Sajak juga merupakan riuk suatu cabang sastra (Aminuddin, 2009: 134). Waluyo

(2007: 25) menyatakan puisi adalah karya sastra nan mengungkapkan manah

dan ingatan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan

kekuatan bahasa dan struktur fisik serta struktur batin.


Zarah-molekul Puisi

Molekul-partikel puisi terdiri atas dua bagian yakni unsur bagan (struktur

fisik) dan struktur batin tembang.

1) Struktur fisik puisi

Struktur bodi puisi, terdiri atas:

a) Diksi (Pemilihan Kata)

b) Pengimajian atau Pencitraan

c) Introduksi konkret

d) Bahasa figuratif (majas)

e) Verifikasi

f) Tipografi


Alat angkut Penataran


Konotasi Media Penelaahan

Gerlach dan Ely (dalam Arsyad, 2009: 3) menyatakan bahwa media

apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, alias situasi yang

membangun kondisi nan membuat siswa gemuk memperoleh kenyataan,

kelincahan, atau sikap. Dalam signifikasi ini, guru, sosi referensi, dan mileu

sekolah yaitu media. Secara lebih eksklusif, pengertian ki alat dalam proses

belajar mengajar condong diartikan sebagai alat-peranti grafis, photografis, atau

elektronis untuk merajut, memproses, dan memformulasikan kembali informasi

optis atau oral.


METODE Penekanan



Pendekatan Investigasi

Jenis penelitian ini diarahkan ke penelitian deskriptif kualitatif, dimana

data yang dihasilkan nantinya positif pendeskripsian. Empat hal yang akan

dideskreipsikan yakni perencanaan, pelaksanaan, serta hasil pengajian pengkajian

menulis puisi dengan memanfaatkan mileu sekolah umpama ki alat

pembelajaran menggambar tembang di kelas III SD Negeri 30 Maros.


Lokasi dan Waktu Riset

Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas III SD Negeri 30 Maros pada

bulan Februari 2022. Sekolah ini mempunyai 12 rombongan belajar dengan jumlah

keseluruhan siswa bikin perian wahi 2022 – 2022 berjumlah 298 siswa,

sementara tenaga pendidik berjumlah 18 sosok. Kualifikasi tingkat pendidikan

tenaga pengajarnya,semua guru di sekolah tersebut berkualifikasi jauhari (S-1),

kecuali pengarah sekolah yang berkualifikasi (S-2).Peneliti mencoket kelas bawah III

bagi dijadikan sampel pengkajian.


Batasan Istilah


Menulis Puisi

Menulis puisi yang dimaksudkan dalam penelitian ini merupakan kegiatan yang

dilakukan oleh peserta nan didasari mulai sejak hasil pengamatan di lingkuangan dan

kemudian dituliskan intern rancangan larik-larik di dalam puisi.

Media Lingkungan

Sarana lingkungan merupakan tempat bagi pelajar yang sekaligus dijadikan

sebagai sarana intern rajah bagi mengejar inspirasi kerumahtanggaan menggambar puisi. Sajak

yang dihasilkan oleh siswa tersapu dengan kendaraan mileu sekolah yang

diamatinya.


Unit Analisis dan Penentuan Informan

Pengkaji mengambil unit analisis di kelas III SD Negeri 30 Maros menerobos

pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar kerja siswa. Pedoman

observasi adalah format khusus nan menjadi panduan bikin penyelidik buat

memperoleh data terbit piagam tertulis terhadap proses pendedahan, atau

hasil belajar. Dokumen termasuk berupa perangkat pembelajaran yang dibuat oleh

guru dan hasil pekerjaan siswa.

Pedoman temu ramah adalah format yang digunakan buat memperoleh

data ataupun memperoleh klarifikasi bermula hawa ataupun siswa adapun data nan

dianggap belum jelas .Penyelidik menunggangi wawanrembuk koheren yakni peneliti

akan menanyakan apa saja yang berhubungan dengan penggalian dengan

menyiagakan pertanyaan-soal secara tertulis (dalam Sugiyono, 2008: 233).

Rayon kerja siswa yakni format yang digunakan oleh siswa buat

membiasakan batik tembang. Ukuran ini digunakan dalam proses penelaahan di kelas.


Teknik Akumulasi Data

Peneliti akan menggunakan teknik pemberian pengecekan menulis puisi,

observasi, dan wawancara dalam pendalaman ini. Guru akan memeberikan validasi

menulis puisi diakhir pertemuan. Hadiah tes ini dalam bentuk lawai kerja

siswa. Tes ini digunakan lakukan mengtahui seberapa jauh keberhasilan proses

pembelajaran menulis puisi. Penyelidik juga akan terlibat langsung secara penuh

dalam seluruh kegiatan proses penelitian itu. Pengkaji akan mengamati kegiatan

penataran menulis tembang dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai

media penataran di kelas. Teknik yang lain yang akan digunakan yakni


temu duga tekun (in – depth interview) adalah proses memperoleh


keterangan bagi harapan penyelidikan dengan cara soal jawab spontan bertatap

muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai,

dengan atau tanpa menunggangi pedoman wawancara (dalam Sutopo, 2006:

72).


Teknik Analisis Data


Analisis data dalam investigasi ini menggunakan dasar analisis pola alir


yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1992). Analisis data model ini

terdiri atas: (1) rabat data, (2) pengutaraan data, dan (3) penarikan deduksi

dan pengecekan data. Tahapan analisis data tersebut dapat terjadi secara

bersamaan dan berulang sejauh dan sesudah diadakan penyelidikan.


HASIL Penyelidikan



Deskripsi Pratindakan

Sebelum dilaksanakan penataran menulis puisi, terlebih silam

peneliti mengadakan observasi di lokasi riset. Tujuannya adalah kerjakan

memaklumi kemampuan siswa dan ki kesulitan yang camar dialami oleh siswa

dalam penerimaan menggambar puisi peserta kelas III SDN No.30 Maros.

Salah suatu kegiatan yang dilakukan pada proses observasi yaitu

mengerjakan wawancara kepada responden, intern keadaan ini guru kelas III. Hasil

dengar pendapat menyatakan bahwa guru kelas III mengalami hambatan dalam hal

menulis tembang. Murid masih kesulitan internal mengembangkan ide bagi membuat

syair nan utuh. Kesulitan utama siswa ialah membuat dirinya titik api puas satu

komplikasi yang akan dikembangkan menjadi sebuah syair.

Berdasarkan basil observasi ditemukan komplikasi privat pembelajaran

menggambar puisi, adalah permulaan, pemahaman siswa terhadap kelincahan menulis

sajak masih kurang. Kedua, murid merasa rendah mendapatkan manfaat berpunca

belajar menulis sajak sehingga abnormal motivasi buat belajar. Ketiga, metode

pembelajaran batik yang invalid berjenis-jenis. Keempat, sarana pendedahan

menggambar puisi kurang mencukupi dan belum dimanfaatkan secara efektif.

Berdasarkan dari pengamatan awal tersebut penyelidik menawarkan penggunaan


kendaraan lingkungan sebagai upaya meningkatkan kemampuan menulis puisi petatar


kelas III SDN No.30 Maros.


Guru dan peneliti sepakat menerapkan penggunaan media lingkungan


dalam pengajian pengkajian menulis puisi siswa kelas bawah III SDN No.30 Maros.

Berdasarkan hasil observasi tersebut maka dibuat satu perangkat

pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran tersebut dirancang

sedemikian rupa kiranya relevan dengan pembelajaran menggambar puisi. Oleh karena

itu, ditentukan upaya pelaksanaan yang meliputi unsur kerangka pembelajaran

merupakan; standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, materi

penelaahan, metode pembelajaran, langkah-persiapan kegiatan pembelajaran,

sumber membiasakan, media / peranti pembelajaran, dan penilaian.


Perencanaan Pengajian pengkajian

Perencanaan internal studi ini yang harus dilakukan adalah persiapan

proses membiasakan mengajar dalam bentuk program tulang beragangan pembelajaran dan

gambar kegiatan yang dilakukan oleh peneliti, guru, dan pesuluh. Kegiatan peneliti,

yaitu (1) menyiapkan silabus; (2) berkolaborasi dengan suhu menyusun buram

pembelajaran; (3) mendukung temperatur dalam melaksanakan pembelajaran di kelas;

(4) berkolaborasi dengan master melakukan tes, dan (5) menganalisis hasil testimoni.

Kegiatan guru, menghampari (1) bersama pengkaji menyusun rencana

pembelajaran; (2) berbuat aktivitas penerimaan sesuai dengan petunjuk

dalam kerangka penataran; (3) suhu bersama pengkaji melakukan tes; (4)

membiji hasil tes, (5) memberikan umpan balik tentang hasil verifikasi pesuluh; dan (6)

memberikan penghargaan kepada murid atau kelompok yang kompetensinya

memenuhi barometer.

Kegiatan siswa, meliputi (1) mengikuti kegiatan penataran, (2)

menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran, dan (3) menerima umpan balik dari

guru. Pengamatan dilakukan dengan mengamati kegiatan suhu dan siswa dalam

proses pendedahan.

Sebelumnya, guru dan peneliti berserikat dalam menyusun

perlengkapan pembelajaran (lembaga pelaksanaan pendedahan). Mengenai standar

kompetensi nan digunakan merupakan ”Mengungkapkan manah, perasaan dan

warta dalam gambar coretan terbelakang

dan syair”. Standar kompetensi

tersebut dijabarkan ke intern kompetensi dasar ”Menulis puisi berdasarkan

gambar dengan seleksian kata nan menarik”. Tujuan pembelajaran nan kepingin

dicapai adalah (1) peserta didik boleh batik syair berdasarkan lingkungan, (2)

Peserta bimbing dapat menulis saf-larik puisi, dan (3) Siswa pelihara boleh menulis

puisi dengan pilihan kata yang tepat. Berdasarkan hal tersebut maka disusunlah

rencana

pelaksanaan

pendedahan

lega

setiap

pertemuan

dengan

menimang-nimang bilang aspek ialah mengembangkan materi jaga,

menyusun langkah-awalan pembelajaran, menentukan kaidah memotivasi siswa

mengembangkan metode pembelaajran, berekspansi media pendedahan,

memilih sumber belajar, dan evaluasi. Kesesuaian RPP dengan kebutuhan

proses penelaahan akan diobservasi lega setiap pertemuannya. Apabila terserah

hal yang patut bagi diretidak sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran,

maka akan dilakukan revisi pada pertemuan selanjutnya.


Pertemuan pertama dan kedua

RPP nan digunakan pada pertemuan pertama dan kedua ialah

RPP nan sama. Kegiatan pada pertemuan permulaan difokuskan pada

pemahaman pesuluh terhadap puisi dan langkah-langkah menulis puisi.

Sedangkan untuk pertemuan kedua difokuskan puas kegiatan mengaibkan target

dan praktek batik puisi. Mengenai penilaian RPP sesuai dengan yang diamati

pada pelaksanaan pengkhususan pada pertemuan permulaan dan kedua adalah

sebagai berikut:

Tabel 1 Hasil observasi perencanaan penerimaan menulis puisi


kelas III SDN No.30 Maros


No



Kegiatan



Deskripsi



Kualifikasi


1



2



3



4

1

Mengembangkan


Materi

a. Kesesuaian materi dengan

tujuan

b. Cakupan materi

c. Kesesuaian materi dengan

kemampuan dan kebutuhan

a. Tercantum kegiatan sediakala

b. Tertera kegiatan inti

c. Teragendakan kegiatan akhir

2

2

3

3

Menentukan prinsip

memotivasi petatar

a. Menyiagakan

apersepsi

yang

menarik

sesuai

dengan

harapan

pengajian pengkajian

2

4

5

Mengembangkan

kendaraan

a. Media sesuai dengan pamrih

b. Media menarik siswa

c. Alat angkut

sesuai

kemampuan

a. Sesuai dengan intensi

a. Sesuai dengan tujuan

Source: https://id.123dok.com/article/maros-syamsuryani-pemanfaatan-lingkungan-sekolah-sebagai-media-pembelajaran.y4w6r259