Metode Ijtihad Imam Syafi I

Muhammad Hidayat
(2016)
ANALISIS TERHADAP IJTIHAD Imam SYAFI’I
(PERUBAHAN DARI QAULUL QADIM KEPADA
QAULUL JADID DAN PENTARJIHANNYA).

Thesis thesis, Universitas Islam Negeri Sunan Syarif Kebiri Riau.

Abstract

Kesediaan Imam Syafi’i bak mujtahid muthlaq, tidak rontok berpokok kontrol
perjalanan keilmuannya bermula suatu aliran fiqh ke rotasi fiqh lainnya, sehingga melahirkan
metode ijtihad yang merupakan perpaduan berpokok dua aliran fiqh nan berbeda. Seiring dengan
banyaknya penyelidikan hukum yang dilakukan, mempengaruhi lahirnya fatwa revisi terhadap
fatwa lama. Inilah yang tergoyahkan dabir wajib mengkaji dan meneliti berpangkal literatur nan cak semau
tentang faktor nan mendorong lahirnya fatwa revisi tersebut dan bagaimana sisi
pengamalannya, disamping metode ijtihad nan ditetapkan Imam Syafi’i. Metode yang
digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, karena data yang
dikumpulkan bersifat kualitatif (pemikiran), yaitu pemikiran Imam Syafi’i, bertujuan untuk
memberi bayangan secara sistematis dan akurat adapun persoalan yang dikaji. Kitab
jalan hidup bawah yang digunakan dalam penulisan ini antara lain karya Al-Syafi’i (Al-Risalah
dan Al-Umm), karya Al-Mawaridi (Al-Hawi Al-Kabir), dan karya Abi Ishaq Al-Syairazi
(Al-Muhazzab). Pecah sumber yang digunakan terkumpul sejumlah data, selanjutnya dianalisa
dengan menggunakan teknik analisa isi (wacana), dan berhasil diperoleh beberapa temuan,
antara tidak : dalam berijtihad, Pendeta Syafi’i memperalat Al-Qur`an, Sunnah, Ijma’, dan
qiyas sebagai sumber hukum dan Imam Syafi’i terlampau menekankan adanya penggait setiap
hukum dengan bukti tekstual nash-nash syar’i. disamping itu beliau merevisi fatwanya
dalam buram qaulul jadid karena menemukan dalil nan makin langgeng dan sudut pandang
berlainan terhadap dalil yang sama. Menurutnya yang mesti diamalkan oleh pengikutnya
adalah qaulul jadid. Maka dari itu karena itu setiap orang yang memberikan fatwa harus mengikuti
qada dan qadar yang telah ditetapkan Imam Syafi’i koteng.
Dan tidak rontok juga supremsi perjalanan intelektualnya nan gegares berpindah –
mengimbit yang tidak menetap di satu provinsi saja. Akibat pengembaraan ini, al-Syafi’i sering
menemukan keadaan-hal baru. Seiring dengan penemuan ini, ia gelojoh mengubah fatwa lama-nya.
Salah suatu bentuk perubahannya yakni melahirkan fatwa baru ketika bertempat di Mesir,
nan kemudian diistilahkan dengan qaulul jadid. Setelah membentuk qauul jadid, al-Syafi’i
melarang pengikutnya berpegang pada fatwa lama-nya di Irak yang kemudian diistilahkan
dengan qaulul qadim. Dalam penyelidikan lebih jauh terhadap pendapat-pendapat al-Syafi’i,
dalil-dalil, dan metode istinbath yang digunakan, para mujtahid tarjih terkemuka dalam
mazhab Syafi’i menemukan bahwa sebagian qaulul qadim ternyata lebih awet berusul sreg
qaulul jadid. Akibat penciptaan ini, mereka men-tarjih-ketel qaulul qadim tersebut, meskipun
bentrok dengan larangan al-Syifi’i kepada pengikutnya. Hal inilah nan memotivasi
notulis mengkaji permasalahan ini dengan menunggangi studi pustaka (library
research) yang beralaskan data kualitatif, melalui pendekatan normatif-historis. Internal
menjelaskan kiat-pokok permasalahan penelitian ini, penulis menggunakan metode
deskriptif-analitis. Sumber primernya adalah literatur-literatur fiqh Syafi’yyah, khususnya
yang membicarakan secara detil tentang qawl qadim dan qaulul jadid serta perkembangannya.

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Selam, Praktik Keyakinan
Divisions: Program Pascasarjana > S2
Depositing User:
Mutiara Jannati
Date Deposited: 15 Feb 2022 09:31
Last Modified: 15 Feb 2022 09:31
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/2492

Actions (login required)

View Item View Item

Source: https://repository.uin-suska.ac.id/2492/

Posted by: caribes.net