Nama Ibu Kh Ahmad Dahlan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kyai Haji

Ahmad Dahlan

أحمد دحلان

Fotografi

Potret Ahmad Dahlan, sungkap tidak diketahui

Atasan Umum Muhammadiyah ke-1

Masa jabatan


18 November 1912 – 23 Februari 1923
Pendahulu Tidak cak semau, jabatan bau kencur
Pengganti K.H. Ibrahim
Deklarasi pribadi
Lahir

Muhammad Darwis

(1868-08-01)1 Agustus 1868

Kauman, Yogyakarta, Kesultanan Yogyakarta, Hindia Belanda

Meninggal 23 Februari 1923(1923-02-23)
(nasib 54)

Yogyakarta, Sultanat Yogyakarta, Hindia Belanda

Makam Taman bahagia Karangkajen, Yogyakarta
Agama Islam
Antiwirawan Siti Walidah
Anak 7
Orang renta
  • Haji Abu Bakar (ayah)
  • Siti Aminah (ibu)
Denominasi Sunni
Dikenal sebagai Pendiri Muhammadiyah
Pekerjaan
  • Kyai

Kyai Haji Ahmad Dahlan
(bahasa Arab:
أحمد دحلان‎; 1 Agustus 1868 – 23 Februari 1923, lahir dengan nama
Muhammad Darwis) adalah seorang Ulama Samudra bergelar Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Muhammadiyah. Anda adalah putra keempat berpangkal sapta bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abuk Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Surau Besar Kasultanan Yogyakarta plong masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan yakni putra berasal H. Ibrahim nan kembali menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sreg perian itu.

Nasib awal

[sunting
|
sunting sumber]

Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah
Muhammad Darwis. Dia yakni anak keempat dari sapta bani adam bersanak nan keseluruhan saudaranya amoi, kecuali adik bungsunya. Beliau termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, keseleo koteng yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu penggerak pendakyahan agama Selam di Jawa.[1]
Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana ‘Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Borek Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, kiai Ilyas, buya Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, K.H. Abuk Bakar, dan Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan).[2]
Nasab dari Syaikh Maulana Malik Ibrahim berbimbing kepada rasul Islam, Muhammad.[3]

Karier agama

[sunting
|
sunting perigi]

Pada umur 15 tahun, engkau naik haji dan tinggal di Makkah selama lima periode. Pada periode ini, Ahmad Dahlan start belajar agama dengan melandaskan pemikiran-pemikiran pembaharu intern Islam, sama dengan Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyyah.[4]
Detik pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, kamu berganti stempel menjadi Ahmad Dahlan.

Muhammadiyah

[sunting
|
sunting sumber]

Sreg tahun 1903, ia bertolak kembali ke Makkah dan menetap selama dua hari. Pada waktu ini, dia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru berasal pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada perian 1912, sira mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah didirikan bakal mencapai cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan intern cara berpikir dan menderma menurut tuntunan agama Islam. Sira ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk juga hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan hadis. Perkumpulan ini meleleh bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Dan sejak sediakala Dahlan sudah menetapkan bahwa Muhammadiyah tidak organisasi politik tetapi berkepribadian sosial dan mengalir di bidang pendidikan.

Perumpamaan koteng yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan lagi dengan mudah diterima dan dihormati di tengah galangan mahajana, sehingga beliau juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Advokat Kanjeng Rasul Muhammad (ﷺ).

Gagasan pendirian Muhammadiyah maka dari itu Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari anak bini maupun bersumber mahajana sekitarnya. Berbagai gugatan, dakwaan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama hijau nan menyalahi agama Selam. Ada nan menuduhnya kiai palsu, karena telah ikut-ikutan bangsa Belanda nan Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Kepribadian Utomo yang biasanya semenjak golongan priyayi, dan bermacam rupa tudingan lain. Saat itu Ahmad Dahlan luang mengajar agama Selam di sekolah OSVIA Magelang, yang merupakan sekolah khusus Belanda cak bagi anak-anak asuh priayi. Justru ada pula orang yang hendak membunuhnya. Doang dia berteguh lever bakal melanjutkan cita-cita dan perbantahan perombakan Islam di tanah air dapat tanggulang semua obstruksi tersebut.

Pada rontok 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan syariat. Permohonan itu baru dikabulkan lega tahun 1914, dengan Manuskrip Keabadian Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Abolisi itu hanya berlaku untuk negeri Yogyakarta dan organisasi ini sekadar boleh bergerak di area Yogyakarta. Berpokok Pemerintah Hindia Belanda kulur kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Makanya kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di area lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-Iain telah merembah cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Kerjakan mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan memunculkan sepatutnya cagak Muhammadiyah di asing Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Ujung Pandang, Ahmadiyah[5]
di Garut. Padahal di Unik berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) nan mendapat didikan dari cabang Muhammadiyah. Lebih lagi privat daerah tingkat Yogyakarta sendiri sira menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan kerjakan mengadakan pengajian dan menjalankan keistimewaan Islam.

Majemuk perkumpulan dan jama’ah ini berbintang terang bimbingan dari Muhammadiyah, di antaranya yakni Ikhwanul-Muslimin,[6]
Taqwimuddin, Seri Muda, Hambudi-Asli, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi.[7]

Dahlan juga berteman dan berdialog dengan motor agama enggak seperti Pastur van Lith pada 1914-1918. Van Lith yakni pastur purwa yang diajak dialog maka dari itu Dahlan. Pastur van Lith di Muntilan nan merupakan pencetus di kalangan keimanan Katolik. Pada saat itu Buya Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja dengan gaun hajinya.[8]

Gagasan peremajaan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke bermacam ragam kota, di samping kembali melalui relasi-hubungan jual beli nan dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan pemberontakan nan osean berpunca masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Jamhur-jamhur bersumber beraneka ragam wilayah lain berdatangan kepadanya kerjakan menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama bertambah berkembang hampir di seluruh Indonesia. Makanya karena itu, lega tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan tuntutan kepada pemerintah Hindia Belanda cak bagi mendirikan simpang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini masin lidah oleh pemerintah Hindia Belanda pada copot 2 September 1921.

Andai seorang nan demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah buat proses evaluasi kerja dan pemilihan penasihat n domestik Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali intern setahun), nan momen itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum).

Karier lain

[sunting
|
sunting mata air]

Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang patut berakibat dengan berdagang batik yang saat itu yakni profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.

Usia pribadi

[sunting
|
sunting sumber]

Sepulang dari Makkah, dia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak asuh kiai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, koteng Pahlawan Kebangsaan dan pendiri Aisyiyah. Terbit perkawinannya dengan Siti Walidah, Dahlan mendapat enam sosok anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.[1]
Di samping itu, Dahlan kontak pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Anda juga pernah mengawini Nyai Rum, adik bapak Munawwir Krapyak. Dahlan sekali lagi memiliki putra dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Dia perkariban juga menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.[9]
[10]

Mortalitas dan warisan

[sunting
|
sunting perigi]

Dahlan meninggal pada tahun 1923 dan dimakamkan di pemakaman Karangkajen, Yogyakarta.[11]
[12]

Atas jasa-jasa K.H. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melampaui peremajaan Selam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya perumpamaan Pahlawan Kebangsaan dengan tembusan Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Radiks-radiks penetapan itu yakni sebagai berikut:

  1. KH. Ahmad Dahlan sudah lalu mempelopori kebangkitan ummat Islam cak bagi mencatat nasibnya laksana bangsa terjajah nan masih harus sparing dan berbuat;
  2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memasrahkan ajaran Selam yang murni kepada bangsanya. Ilham yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal untuk masyarakat dan umat, dengan bawah iman dan Islam;
  3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan nasion, dengan nasib ajaran Islam; dan
  4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) sudah lalu mempelopori kebangkitan wanita Indonesia cak bagi mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum laki-laki.

Dalam budaya tenar

[sunting
|
sunting sumber]

Kisah hidup dan perjuangan Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah diangkat ke layar rata gigi dengan judul Sang Pencerah (2010) yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Tak hanya menceritakan tentang rekaman kisah Ahmad Dahlan, komidi gambar ini kembali bercerita akan halnya perjuangan dan kehidupan semangat kebangsaan anak muda dalam merepresentasikan pemikiran-pemikirannya yang dianggap bertentangan dengan pemahaman agama dan budaya pada periode itu, dengan latar belakang suasana Kebangkitan Kewarganegaraan. Naskah sinema ini kemudian dialihmediakan menjadi novel berjudul sama yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral.

Lihat pula

[sunting
|
sunting perigi]

  • Aisyiyah
  • Muhammadiyah
  • Muhammad Sangidu
  • Nyai Ahmad Dahlan
  • Sang Pencerah

Rujukan

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b



    Kutojo dan Safwan, 1991

  2. ^

    Yunus Salam, 1968: 6

  3. ^


    “Walisongo Nasab Nabi Muhammad SAW, Berikut Zuriat Lengkapnya”.
    SINDOnews.com
    . Diakses terlepas
    2022-12-16
    .





  4. ^


    aanardianto (2021-05-02). “Melacak Jejak Atma Purifikasi dan Pembaharuan Kiyai Dahlan”.
    Muhammadiyah
    (n domestik bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2022-12-16
    .





  5. ^

    Tak Ahmadiyyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad. Lihat: Mubarok, Aceng Husni (2010),
    Menziarahi Bisikan Nisan Tajdid: Refleksi Jelang Sekurun Muhammadiyah, dalam “Suatu Abad Muhammadiyah: Mengkaji Ulang Sebelah Penyempuraan”, Dawam Rahardjo, dkk.

  6. ^

    Ini bukan Ikhwanul Muslimun Hasan al-Banna.

  7. ^

    Kutojo dan Safwan, 1991: 33

  8. ^

    Muhammadiyah Gerakan Restorasi, Haedar Nashir, 2022

  9. ^

    Yunus Salam, 1968: 9

  10. ^


    Wahyudi, Jarot (2002). Burhanuddin, Jajat, ed.
    Nyai Ahmad Dahlan: Penggerak Perempuan Muhammadiyah. Jamhur Perempuan Indonesia. Jakarta: Gramedia Bacaan Utama. hlm. 39–67. ISBN 978-979-686-644-1.





  11. ^


    Syoedja’, Muhammad (1993).
    Kisah Tentang Kiyai Haji Ahmad Dahlan Catatan Haji Muhammad Syoedja’
    . Jakarta: Rhineka Cipta.





  12. ^


    Sartono. “KH. A Dahlan, Wong Agung Dengan Kober Terlambat”. Diakses tanggal
    1 February
    2022
    .




Daftar bacaan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Salam, Yunus (1968).
    Riwayat Hidup KHA. Dahlan. Amal dan perjuangannya. Jakarta: Depot Pengadjaran Muhammadijah.
  • Kutojo, Sutrisno, Mardanas Safwan (1991).
    K.H. Ahmad Dahlan: riwayat hidup dan perjuangannya. Bandung: Angkasa.
  • Ricklefs, M.C. (1994).
    A History of Modern Indonesia Since c. 1300, 2nd ed. Stanford: Stanford University Press.
  • Vickers, Adrian (2005).
    A History of Modern Indonesia. New York: Cambridge University Press. ISBN 0-521-54262-2.



Pranala asing

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Indonesia)
    “Pendiri Muhammadiyah” Bio KH Ahmad Dahlan di Ensiklopedi Penggerak Indonesia Diarsipkan 2022-12-23 di Wayback Machine.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan

Posted by: caribes.net