Nama Orang Tua Nabi Musa

Kisah Ibu Utusan tuhan Musa, Rela Bubar Demi Keselamatan Anaknya

Rumpil diketahui, ini kisah ibu Nabi Musa dan yunda perempuannya

Kisah Ibu Nabi Musa, Rela Berpisah Demi Keselamatan Anaknya

Selain berfokus n domestik kisah hidupnya yang penuh tantangan, ada juga cerita mengenai ibu Nabi Musa. Sebab sejak sebelum lahir ke dunia, Nabi Musa kembali merasakan kepentingan kepasrahan dari ibunya.

Menurut penelitian
Al-Qolam Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
dalam kisah Nabi Musa, banyak sekali nilai dan pelajaran yang luar sah terutama privat cara menghadapi keterpurukan.

Pecah hasil penekanan, terungkap bahwa poin pendidikan Adversity Quotient yang terkandung dalam kisah Rasul Musa dalam Alquran adalah ponten keluasan pikiran, optimisme dan pantang tunduk, arwah yang agung dan pun jihad.

Baca Pun:
Kisahan Rasul Musa, Dapat Dijadikan Dongeng Pengantar Tidur untuk Anak!

Mengenal Ibu Rasul Musa dan Kakak Perempuannya

Ibu Nabi Musa -1.jpg

Foto: Ibu Nabi Musa -1.jpg

Foto: Cteenconnection.com

Sebenarnya, nama ibu Nabi Musa masih diperdebatkan para jamhur. Ada yang mengatakan Mihyanah binti Yashar bin Lawi, Yukhabidz binti Lawi kacang Ya’qub, Yuhanidz, Yarikha, terserah pun nan mengatakan Yarikhat.

Perbedaan pendapat ini disebabkan karena baik di intern Quran atau titah tak disebutkan secara jelas nama ibu Nabi Musa. Cuma, Yukabad adalah jenama yang paling demap muncul.

Ibu Nabi Musa ini terlahir dan merecup di Mesir. Beliau tergolong perempuan mulia dilihat dari nasab dan kepribadian pekertinya. Dia menikah dengan Imran kacang Qahat bin Lawi bin Ya’qub.

Sedangkan saudara perempuan Nabi Musa bernama Maryam binti Imran, sama sebagaimana tanda Maryam ibu Nabi Isa. Sekadar, ada juga yang berpendapat namanya adalah Kultsumah atau Kultsum.

Nama Maryam berpokok bermula kata ‘mar’ dalam bahasa Ibrani berarti ‘air’. Kehidupannya punya rangkaian yang lestari dengan air.

Yaitu saat memantau kanak-kanak anyir Musa di Bengawan Nil, juga saat memelopori kaum perempuan seberang Laut Berma bersama Musa dan umatnya.

Narasi mengenai ibu Nabi Musa dan saudara perempuannya belaka disebutkan dua bisa jadi di privat Alquran. Pertama terdapat di dalam Sahifah Thaha:

“Dan sepatutnya ada Kami sudah membagi eco kepadamu pada barangkali nan enggak. Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan.

Ialah: ‘Letakkanlah beliau (Musa) di intern peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka tentu sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil maka dari itu (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya; Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang semenjak-Ku; dan kendati kamu diasuh di bawah pemeriksaan-Ku.

(yaitu) ketika saudaramu yang kuntum berjalan, lewat ia berbicara kepada (tanggungan Fir’aun): ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu cucu adam nan akan memeliharanya?’ Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan ia pernah mendebah koteng manusia, lalu Kami selamatkan beliau mulai sejak kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan bilang cobaan,” (QS Thaa-Haa: 36-40).

Dan yang kedua yaitu terdapat di internal Surat Al-Qashash: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau mangut terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah sira cemas, dan jangan (sekali lagi) bersedih hati, sebenarnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (riuk sendiri) rasul’.

Maka sira dipungut oleh keluarga Fir’aun semoga (tubin) kamu menjadi antiwirawan dan kesedihan buat mereka. Sungguh, Fir’aun dan Haman bersama laskar tentaranya ialah orang-orang nan bersalah. Dan cem-ceman Fir’aun berbicara, ‘(Dia) adalah penyejuk alat penglihatan lever bagiku dan bagimu. Janganlah dia membunuhnya, moga dia penting kepada kita atau kita rebut dia menjadi anak,’ semenjana mereka tak menyadari.

Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, dempang hanya sira menyatakannya (resep adapun Musa), seandainya tak Kami teguhkan hatinya, kiranya dia termasuk orang-orang nan berketentuan (kepada ikrar Allah).

Dan engkau (ibu Musa) berkata kepada saudara kuntum Musa, ‘Ikutilah beliau (Musa).’ Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya.

dan Kami cegah dia (Musa) cak menetek kepada amoi-perempuan nan mau meneteki(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudara Musa), ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?’

Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, hendaknya senang hatinya dan lain bersedih hati dan sepatutnya ia mengetahui bahwa taki Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya,” (QS Al-Qashash: 8-13).

Baca Kembali:
Kisah Rasul Lelaki: Manusia dan Utusan tuhan Pertama yang Diciptakan oleh Allah SWT

Cerita Ibu Nabi Musa dan Kakak Perempuannya privat Menjaganya

Ibu Nabi Musa -2.jpg

Foto: Ibu Nabi Musa -2.jpg

Foto: Believetrust.com

Kisah keluasan pikiran ibu Rasul Musa dan kepatuhan ayuk perempuannya tergambar jelas bahkan sebelum utusan tuhan Allah tersebut dilahirkan.

Sebab, Nabi Musa lahir plong waktu kekuasaan Raja Fir’aun saat raja tersebut memerintahkan jika cak semau bayi adam yang lahir, maka harus dikubur hidup-umur.

Cak agar banyak bayi laki-laki yang lahir langsung dikubur umur-arwah, Allah SWT menuntut Nabi Musa konstan hidup hingga diangkat menjadi Rasul Ulul Azmi.

Sebagai seorang ibu, tentu dirinya tidak tega bila melihat anaknya seorang di kubur hidup-semangat di depan matanya.

Yukabad gelisah karena anda juga mengandung dan segera beranak. Pasca- babaran dan senggang anaknya laki-laki, Yukabad rela berparak berusul Musa karena pusing putranya akan dibunuh Prabu Firaun.

Setelah menyembunyikan beberapa waktu, da semakin kliyengan akan terlalah karena bayi itu semakin tumbuh besar.

Di saat seperti itu, Sang pencipta SWT mengasihkan pertolongan dengan mengilhamkan kepada Yukabad agar si putra dihanyutkan ke Kali besar Nil.

Dia merasa perlu berbuat sesuatu setelah Allah SWT mengilhamkan kejadian tersebut. Akhirnya ia membuat sebuah peti tertutup dan memasukkan Musa ke dalam sana.

Boks itu diletakkan di dalam keranjang, lalu dihanyutkan mengimak aliran sungai sementara air matanya terus bercucuran.

Baca Juga:
Kisah Utusan tuhan Nuh yang Wajib Diceritakan Agar Dapat Diteladani Anak

Walau sedemikian itu karena bersisa cemas, dia meminta putrinya yang bernama Maryam untuk mengajuk kotak tersebut yang hanyut terpaut aliran sungai.

Di paruh perjalanannya, kanak-kanak anyir tersebut ditemukan oleh istri gelap Firaun. Dia bersimpati pada kanak-kanak anyir yang tidak diketahui asalnya itu dan mengangkatnya sebagai anak.

Detik si adik ditemukan oleh istri Firaun, Maryam masih mengawasinya. Dia mencerna bahwa adiknya menolak disusui ayutayutan Firaun, Asiyah, dan mencari wanita di seluruh Mesir cak bagi menyusuinya.

Musa tetap bukan kepingin disusui, sampai jadinya Maryam mendatangi gula-gula Firaun dan berkata bahwa ada upik nan mungkin boleh menyusui orok tersebut.

Asiyah sepakat dan memintanya menjuluki sosok yang dimaksud ke hadapannya. Di sinilah ibunya berjumpa dengan Rasul Musa.

Dia mencatat bahwa janji Allah adalah nyata, dan bahkan lain wajib menunggu hingga bertahun-hari untuk dipertemukan kembali dengan anaknya, menyusui dan merawatnya sampai dewasa.

Inilah kisah mengenai ketegaran ibu Nabi Musa dan lagi ketaatan yunda perempuannya yang bisa diambil hikmahnya.


  • https://buku harian.stiq-amuntai.ac.id/index.php/al-qalam/article/view/9
  • https://bincangsyariah.com/nisa/cerita-ibu-dan-tali pusar-perempuan-nabi-musa/
  • https://nyamankubro.com/ibu-nabi-musa/
  • https://www.poskata.com/pena/kisah-ibu-nabi-musa/
  • https://www.qudusiyah.org/id/blog/2017/07/14/mengenal-miryam-kakak-nona-musa-a.s/

Source: https://www.orami.co.id/magazine/kisah-ibu-nabi-musa

Posted by: caribes.net