Nama Provinsi Di Pulau Jawa

Jawa
Nama lokal:

ꦗꦮ
(Jawa)

ᮏᮝ

(Sunda)

Java Topography.png

Topografi Pulau Jawa

Java Locator.svg
Ilmu permukaan bumi
Lokasi Asia Tenggara
Koordinat


7°29′30″S
110°00′16″E


 / 

7.49167°S 110.00444°E
 /
-7.49167; 110.00444




Koordinat:



7°29′30″S
110°00′16″E


 / 

7.49167°S 110.00444°E
 /
-7.49167; 110.00444




Gugusan pulau Kepulauan Sunda Besar
Luas 128.793,6 (belum terdaftar laut) km2
Peringkat luas ke-13
Titik tertinggi Gunung Semeru (3.676 m)
Tadbir
Negara

 Indonesia
Provinsi
Banten

Daerah Istimewa Ibukota Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Provinsi Istimewa Yogyakarta

Jawa Timur
Kota terbesar Coat of arms of Jakarta.svg Jakarta (10.557.810 (2019) roh)
Kependudukan
Penduduk 151,6 miliun nasib (2020)
Kepadatan 1.121 spirit/km2
Kelompok kedaerahan Jawa (tertera Banyumasan, Tengger, Osing, Cirebon, Samin, dan Karimun)
Sunda (termasuk Banten, Badui, dan Ciptagelar)
Madura (termaktub Kangean dan Bawean)
Betawi

Pulau Jawa dalam citra satelit

Jawa
(bahasa Jawa:
ꦗꦮ,

translit.



Jåwå

, Sunda:

ᮏᮝ
,

translit.



Jawa

) merupakan sebuah pulau di Indonesia yang terletak di kepulauan Sunda Besar dan yaitu pulau terluas ke-13 di mayapada. Jumlah penduduk di Pulau Jawa sekitar 150 juta. Pulau Jawa dihuni oleh 60% total populasi Indonesia. Poin ini menurun jika dibandingkan dengan cacah jiwa tahun 1905 nan mencapai 80,6% dari seluruh penduduk Indonesia. Penerjunan penduduk di Pulau Jawa secara persentase diakibatkan perpindahan pemukim (transmigrasi) dari Pulau Jawa ke provinsi lain di Indonesia. Ibu kota Indonesia adalah Jakarta dan terletak di Jawa bagian barat laut (tepatnya di ujung paling barat Jalur Pantura).

Jawa adalah pulau nan relatif muda dan sebagian besar terbentuk dari aktivitas vulkanik. Deretan gunung-gunung berapi membentuk jajaran yang terpasang terbit timur hingga barat pulau ini, dengan lembang endapan aluvial sungai di bagian utara. Pulau Jawa dipisahkan oleh selat dengan bilang pulau terdahulu, yakni Pulau Sumatra di barat laut, Pulau Kalimantan di utara, Pulau Madura di timur laut, dan Pulau Bali di sebelah timur. Sementara itu di jihat selatan pulau Jawa terbentang Osean Hindia.

Banyak kisahan sejarah Indonesia berlangsung di pulau ini. Dahulu, Jawa adalah pusat beberapa kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Selam, pemerintahan kolonial Hindia Belanda, serta ki akal pergerakan independensi Indonesia. Pulau ini berdampak samudra terhadap nyawa sosial, ketatanegaraan, dan ekonomi Indonesia.

Sebagian besar penduduknya berujar kerumahtanggaan tiga bahasa utama. Bahasa Jawa adalah bahasa ibu dari 100 juta penghuni Indonesia, dan sebagian besar penuturnya berdiam di Pulau Jawa. Sebagian lautan pemukim adalah khalayak-orang dua bahasa, yang berbahasa Indonesia baik perumpamaan bahasa pertama ataupun kedua. Dua bahasa berharga lainnya adalah bahasa Sunda dan bahasa Betawi. Sebagian samudra penduduk Pulau Jawa beragama Selam. Namun tetap terdapat majemuk revolusi asisten, agama, keramaian etnis, serta budaya di pulau ini.

Pulau ini secara manajerial terbagi menjadi heksa- wilayah, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, serta dua wilayah eksklusif, yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.

Etimologi

Asal mula nama “Jawa” dapat dilacak bersumber kronik berbahasa Sanskerta yang menamai adanya pulau bernama
yavadvip(a)
(dvipa
berharga “pulau”, dan
yava
berarti “jelai” maupun juga “poin-bijian”).[1]
[2]
Apakah biji-bijian ini adalah jawawut (Setaria italica) alias padi, keduanya sudah lalu banyak ditemukan di pulau ini pada musim sebelum masuknya pengaruh India.[3]
Barangkali, pulau ini mempunyai banyak nama sebelumnya, termasuk probabilitas berasal terbit kata
jaú
yang berjasa “jauh”.[1]
Yavadvipa
disebut dalam epos radiks India, Ramayana. Sugriwa, panglima
wanara
(manusia cengkok) dari barisan Sri Rama, mengirimkan utusannya ke Yavadvipa (Pulau Jawa) buat mencari Bidadari Sita.[4]
Kemudian berdasarkan karangmengarang India terutama pustaka Tamil, disebut merek Sanskerta
yāvaka dvīpa
(dvīpa
= pulau).

Dugaan bukan ialah bahwa alas kata “Jawa” berasal terbit akar tunjang kata intern bahasa Proto-Austronesia nan berarti “rumah”.[5]

Pulau bernama Iabadiu ataupun Jabadiu disebutkan dalam karya Ptolemy bernama
Geographia
nan dibuat sekitar 150 kristen di Kekaisaran Romawi.
Iabadiu
dikatakan bermakna “pulau jelai”, sekali lagi berbenda akan emas, dan mempunyai daerah tingkat argentum bernama Argyra di ujung barat. Nama ini mengindikasikan Jawa,[6]
dan kelihatannya berasal dari nama Hindu Yavadvipa (Pulau Jawa).

Berita tahunan dari Songshu dan Liangshu menyebut Jawa sebagai She-po (abad ke-5 M), He-ling (perian 640-818 M), tinggal menyebutnya She-po lagi sampai masa Dinasti Yuan (1271-1368), di mana mereka start menyebut Zhao-Wa (爪哇).[7]

:12

Menurut catatan Ma Huan (yaitu Yingya Shenlan), orang China menyebut Jawa sebagai Chao-Wa, dan dulunya pulau ini disebut 阇婆 (She-pó
atau
She-bó).
[8]

:86

Sulaiman al-Tajir al-Sirafi menamakan dua pulau terdepan nan mendamaikan Arab dan Cina: Yang pertama adalah Al-Rami dengan panjang 800 parasang, yang diidentifikasi ibarat Sumatera, dan nan lainnya adalah Zabaj (bahasa Arab: الزابج, Bahasa Indonesia: Sabak), 400 parasang panjangnya, diidentifikasi sebagai Jawa.[9]

:30-31

Detik John dari Marignolli (1338-1353) pulang dari China ke Avignon, ia singgah di Kerajaan Saba, yang ia bilang mempunyai banyak gajah dan dipimpin oleh sultan; nama Saba ini boleh jadi adalah interpretasinya untuk
She-bó.[10]

(hlm.xii, 192–194)

Afanasij Nikitin, seorang pelimbang dari Tver (di Rusia), melakukan perjalanan ke India sreg tahun 1466 dan mendeskripsikan tanah Jawa di buku hariannya, yang ia sebut шабайте (shabait/šabajte).[11]
[12]
Introduksi “Saba” sendiri berasal dari kata bahasa Jawa kawi yakni
Saba
yang berjasa “pertemuan” atau “rapat”. Dengan demikian perkenalan awal itu dapat diartikan umpama “medan berlaga”.
[13]

Menurut Fahmi Basya, introduksi tersebut penting “tempat bertarung”, “tempat berkumpul”, atau “tempat berkumpulnya bangsa-bangsa”.
[14]


:162-172

Fonem

Lambang bunyi Jawa, dikenal pun sebagai
Hanacaraka
(ꦲꦤꦕꦫꦏ) dan
Carakan
(ꦕꦫꦏꦤ꧀),[1]
adalah keseleo satu lambang bunyi tradisional Nusantara yang digunakan untuk batik bahasa Jawa dan sejumlah bahasa wilayah Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak[2]
Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali.

Berpatokan leluri verbal, aksara jawa diciptakan oleh Kaisar Saka, dedengkot pengembara pecah India, bermula suku Shaka (Scythia). Saga melambangkan kedatangan Dharma (petunjuk dan peradaban Hindu-Buddha) ke pulau Jawa. Saat ini kata Saka masih digunakan dalam istilah internal bahasa Jawa,
saka
atau
soko,
nan berarti penting, radiks, maupun radiks-mula. Yang dipertuan Saka bermakna “tuanku radiks-mula” maupun “raja pertama”.

Sejarah

Pemandangan Ancala Merbabu yang dikelilingi persawahan. Topografi vulkanik serta tanah pertanian nan subur merupakan faktor utama dalam sejarah pulau Jawa.

Pulau ini merupakan babak dari gugusan kepulauan Sunda Osean dan paparan Sunda, nan puas masa sebelum es mencair merupakan ujung tenggara benua Asia. Sisa-sisa sisa purba
Homo erectus, yang populer dijuluki “Si Sosok Jawa”, ditemukan di selama daerah tepian Sungai Sungai Solo, dan peninggalan tersebut berusul dari masa 1,7 juta masa yang lampau.[15]
Situs Sangiran ialah situs prasejarah yang penting di Jawa. Sejumlah struktur megalitik telah ditemukan di Pulau Jawa, misalnya menhir, dolmen, meja bencana, dan piramida berundak nan lazim disebut
Punden Berundak. Punden berundak dan menhir ditemukan di situs megalitik di Paguyangan, Cisolok, dan Gunung Padang, Jawa Barat. Situs megalitik Cipari yang pula ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras alai-belai, dan sarkofagus.[16]
Punden berundak ini dianggap sebagai struktur asli Nusantara dan merupakan rencana sumber akar bangunan candi sreg zaman kekaisaran Hindu-Buddha Nusantara setelah warga tempatan mengakui pengaruh peradaban Hindu-Buddha dari India. Plong abad ke-4 SM setakat abad ke-1 atau ke-5 M Peradaban Buni yaitu kebudayaan porselen tanah liat berkembang di pesisir utara Jawa Barat. Kebudayaan protosejarah ini merupakan pendahulu kekaisaran Tarumanagara.

Pulau Jawa yang terlampau mampu dan bercurah hujan tinggi memungkinkan berkembangnya budidaya gabah di persil basah, sehingga mendorong terbentuknya tingkat kerjasama antar desa nan semakin kompleks. Berpangkal aliansi-aliansi desa tersebut, berkembanglah imperium-kerajaan kecil. Jajaran pegunungan vulkanik dan lembang-ceduk tinggi di sekitarnya yang menghampar di sepanjang Pulau Jawa menyebabkan daerah-kewedanan interior pulau ini beserta masyarakatnya secara nisbi terpisahkan berpunca otoritas luar.[17]
Pada masa sebelum berkembangnya negara-negara Selam serta kedatangan kolonialisme Eropa, kali besar-sungai nan cak semau merupakan wahana perhubungan terdepan umum, meskipun rata-rata sungai di Jawa beraliran sumir. Hanya Bengawan Brantas dan Bengawan Partikular yang dapat menjadi ki alat penghubung jarak jauh, sehingga sreg tong-lembah sungai tersebut terbentuklah rahasia semenjak imperium-kerajaan nan besar.

Diperkirakan suatu sistem koneksi yang terdiri berpunca jaringan kronologi, jembatan permanen, serta pos retribusi cukai mutakadim terjaga di Pulau Jawa setidaknya puas medio abad ke-17. Para penguasa lokal memiliki pengaruh atas rute-rute tersebut, perian hujan angin yang lebat dapat pula mengganggu perjalanan, dan demikian pula penggunakan berwisata sangat tergantung pada pemeliharaan yang berkelanjutan. Dapatlah dikatakan bahwa perhubungan antarpenduduk Pulau Jawa pada masa itu adalah sulit.[18]

Reca-patung pendekar perunggu, Jawa, sekeliling perian 500 SM–300 M.

Munculnya kebudayaan di Pulau Jawa majuh dikaitkan dengan cerita Baginda Saka. Meskipun Sri paduka Saka dikatakan sebagai pemandu kebudayaan di Jawa, narasi Sultan saka (78 masehi) mendapatkan beberapa sanggahan dan bantahan dari sumber-sumber album lainnya. Ramayana karya Valmiki, nan dibuat sekitar 500 SM, mencatat Jawa sudah memiliki organisasi tadbir kerajaan jauh sebelum cerita itu:

“Yawadwipa dihiasi sapta kekaisaran, pulau emas dan perak, produktif akan tambang emas, dan disitu terdapat Giri Cicira (adem) yang menyentuh langit dengan puncaknya.”[19]

(hlm.6)

Menurut catatan China
Míng Shǐ, kerajaan Jawa didirikan pada 65 SM, atau 143 hari sebelum narasi Aji Saka dimulai.[20]

(hlm.39)

Kisah Saka alias Aji Saka merupakan kisah Jawa Baru. Kisah ini belum ditemukan relevansinya dalam bacaan Jawa Kuno. Kisah ini menceritakan situasi di kerajaan Delik bangas Kamulan di Jawa puas periode adv amat. Pada ketika itu, Paduka Nasi-nasi Kamulan Prabu Dewata Cengkar digantikan oleh Aji Saka. Kisah ini dianggap umpama kiasan masuknya bangsa India ke Jawa. Merujuk lega pesiaran dinasti Liang, kerajaan Jawa rempak menjadi dua: Imperium prapenerapan Hinduisme dan kerajaan setelah menerapkan tradisi Hindu yang dimulai tahun 78 masehi.[21]

(hlm.5 dan 7)

Periode kerajaan Hindu-Buddha

Kerajaan Taruma dan Kerajaan Sunda unjuk di Jawa Barat, masing-masing pada abad ke-4 dan ke-7, sedangkan Kerajaan Delik bangas ialah kerajaan besar mula-mula yang ngeri di Jawa Paruh puas awal abad ke-8. Kerajaan Medang menganut agama Hindu dan memuja Dewa Siwa, dan kerajaan ini membangun beberapa candi Hindu nan terawal di Jawa yang terwalak di Legok Tinggi Dieng. Di Dataran Kedu pada abad ke-8 berkembang Wangsa Sailendra, yang merupakan pelindung agama Buddha Mahayana. Kerajaan mereka membangun beragam candi pada abad ke-9, antara lain Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah.

Sekitar abad ke-10, ki akal kekuasaan beringsut pecah paruh ke timur Pulau Jawa. Di wilayah timur berdirilah kerajaan-kerajaan Kadiri, Singhasari, dan Majapahit yang terutama mengandalkan pada persawahan pari. Namun kembali berekspansi perdagangan antar kepulauan Indonesia beserta Tiongkok dan India.

Raden Wijaya mendirikan Majapahit, dan kekuasaannya menyentuh puncaknya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (m. 1350-1389). Kerajaan mengklaim kemandirian atas seluruh gugusan pulau Indonesia, meskipun kontrol serampak menjurus terbatas pada Jawa, Bali, dan Madura saja. Gajah Mada yakni mahapatih lega masa Hayam Wuruk, yang memandu banyak penguasaan teritorial bagi kekaisaran. Kerajaan-kerajaan di Jawa sebelumnya melandaskan kontrol mereka pada pertanian. Belaka Majapahit berakibat menuntaskan persinggahan dan kempang pelayaran sehingga menjadi kekaisaran komersial pertama di Jawa. Majapahit mengalami dekadensi seiring dengan wafatnya Hayam Wuruk dan menginjak masuknya agama Selam ke Indonesia.

Perian kekaisaran Islam

Pada akhir abad ke-16, kronologi islam mutakadim melampaui Hindu dan Budha sebagai agama dominan di Jawa. Kemunculan imperium islam di Jawa pun tidak belas kasihan semenjak peran walisongo. Sreg awalnya penyebaran agama islam lewat pesat dan masin lidah oleh halangan awam jamak, hingga plong risikonya dakwah itu masuk dan dijalankan kepada kabilah penguasa pulau ini.

Teragendakan kekaisaran islam purwa di Jawa adalah Kekaisaran Demak atau Kesultanan Demak Bintoro. Kerajaan Demak ini dipimpin oleh pelecok satu baka Majapahit yang beragama selam yaitu Raden Patah. Internal musim ini, kerajaan-kekaisaran Islam tiba berkembang dari Pajang, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, dan Banten membangun kekuasaannya.

Kesultanan Mataram lega intiha abad ke-16 bertaruk menjadi kekuatan yang dominan mulai sejak bagian tengah dan timur Jawa. Para penguasa Surabaya dan Cirebon berhasil ditundukkan di bawah kekuasaan Mataram, sehingga namun Mataram dan Banten lah yang kemudian tertinggal momen datangnya nasion Belanda pada abad ke-17.

Beberapa kerajaan pusaka selam di jawa masih dapat kita temukan di beberapa daerah tingkat misalnya Surakarta terletak dua kerajaan merupakan Kasunanan dan Mangkunegaran, di Yogyakarta ada dua imperium yakni Kasultanan dan Pakualaman, dan di Cirebon ada tiga kerajaan yaitu Kasepuhan, Kacirebonan dan Kasepuhan.

Hari kolonial

Interelasi Jawa dengan kurnia-kekuatan kolonial Eropa dimulai pada periode 1522, dengan diadakannya perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis di Malaka. Pasca- kegagalan perjanjian tersebut, kesediaan Portugis selanjutnya hanya terbatas di Malaka dan di pulau-pulau sebelah timur nusantara semata-mata. Sebuah ekspedisi di dasar pimpinan Cornelis de Houtman yang terdiri mulai sejak empat buah kapal pada masa 1596, menjadi mulanya dari hubungan antara Belanda dan Indonesia.[22]
Pada akhir abad ke-18, Belanda telah berhasil memperluas pengaruh mereka terhadap kesultanan-sultanat di pedalaman Pulau Jawa (tatap Firma Hindia Timur Belanda di Indonesia). Sungguhpun orang-orang Jawa adalah pejuang nan pemberani, konflik dalam sudah lalu menghalangi mereka membentuk susunan yang efektif dalam melawan Belanda. Cebis-cebisan Mataram berseregang misal Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Para raja Jawa mengklaim berhak atas karsa Tuhan, dan Belanda kontributif ampas-sisa keningratan Jawa tersebut dengan cara mengukuhkan kedudukan mereka sebagai penguasa wilayah atau bupati dalam lingkup administrasi kolonial.

Di tadinya masa kolonial, Jawa menjawat peranan utama bak wilayah penghasil beras. Pulau-pulau penyusun rempah-rempah, misalnya gugusan pulau Banda, secara teratur mendatangkan beras semenjak Jawa kerjakan mencukupi kebutuhan hidup mereka.[23]

Inggris sempat menaklukkan Jawa pada tahun 1811. Jawa kemudian menjadi babak dari Kerajaan Britania Raya, dengan Sir Stamford Raffles seumpama Gubernur Jenderalnya. Puas periode 1814, Inggris membalas Jawa kepada Belanda sebagaimana ketentuan sreg Traktat Paris.[24]

Penduduk Pulau Jawa kebolehjadian telah hingga ke 10 miliun orang pada perian 1815.[25]
Pada paruh kedua abad ke-18, start terjadi lonjakan jumlah penduduk di kadipaten-kadipaten selama pantai paksina Jawa penggalan tengah, dan privat abad ke-19 seluruh pulau mengalami pertumbuhan populasi yang cepat. Berbagai faktor penyebab pertumbuhan pemukim yang lautan antara lain tercatat peranan rezim kolonial Belanda, yakni n domestik menetapkan berakhirnya perang sipil di Jawa, meningkatkan luas area persawahan, serta mengenalkan tanaman pangan lainnya seperti ketela pohon dan jagung yang boleh membantu ketegaran pangan bagi populasi yang tidak mampu membeli beras.[26]
Pendapat lainnya menyatakan bahwa meningkatnya beban pajak dan semakin meluasnya perekrutan kerja di bawah Sistem Tanam Paksa menyebabkan para pasangan berusaha memiliki bertambah banyak anak asuh dengan intensi dapat meningkatkan jumlah anggota tanggungan nan dapat menolong membayar pajak dan mencari rahim.[27]
Lega musim 1820, terjadi wabah kolera di Jawa dengan korban 100.000 semangat.[28]

Kehadiran truk dan kereta jago merah misal media transportasi kerjakan masyarakat yang sebelumnya sahaja menggunakan kereta dan kerbau, penggunaan sistem telegraf, dan sistem distribusi yang lebih koheren di bawah pemerintahan kolonial; semuanya turut mendukung terhapusnya kelaparan di Jawa, nan pada gilirannya meningkatkan pertumbuhan penduduk. Tidak terjadi bencana kelaparan yang berarti di Jawa semenjak tahun 1840-an hingga tahun penundukan Jepang plong tahun 1940-an.[29]
Selain itu, menurunnya umur semula ijab nikah sepanjang abad ke-19, menyebabkan bertambahnya jumlah tahun di mana seorang amoi bisa mencampuri anak.[29]

Waktu kemerdekaan

Nasionalisme Indonesia mulai merecup di Jawa sreg awal abad ke-20 (lihat Kebangkitan Nasional Indonesia), dan resistansi untuk mempertahankan kemerdekaan sehabis Perang Dunia II juga berpusat di Jawa. Kudeta G 30 S PKI yang gagal dan kekerasan antagonistis-komunis selanjutnya pada masa 1965-66 sebagian segara terjadi di pulau ini. Jawa kini mendominasi atma sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia, nan berpotensi menjadi perigi kesirikan sosial. Pada perian 1998 terjadi kerusuhan besar yang menjalari kedaerahan Tionghoa-Indonesia, nan yaitu keseleo satu dari berbagai kerusuhan berdarah nan terjadi tidak berapa lama sebelum runtuhnya pemerintahan Kepala negara Soeharto yang telah bepergian selama 32 tahun.[30]

Plong tahun 2006, Gunung Merapi meletus dan diikuti oleh gempa manjapada yang melanda Yogyakarta. Jawa juga luang tertimpa tekor dampak wabah selesma pelir, serta merupakan lokasi bencana semburan selut seronok Sidoarjo.

Geografi dan Geologi

Geografi

Jawa bertetangga dengan Sumatra di arah barat, Bali di timur, Kalimantan di paksina, dan Pulau Natal di daksina. Pulau Jawa merupakan pulau ke-13 terbesar di mayapada. Perairan nan merubung pulau ini ialah Laut Jawa di paksina, Selat Sunda di barat, Raksasa Hindia di selatan, serta Selat Bali dan Selat Madura di timur.

Jawa memiliki luas sekeliling 138.793,6 km2.[31]
Sungai yang terpanjang adalah Bengawan Individual, yaitu selama 600 km.[32]
Sungai ini bersumber di Jawa bagian paruh, tepatnya di ancala berapi Lawu. Sirkulasi sungai kemudian bergerak ke jihat utara dan timur, menuju muaranya di Laut Jawa di dekat kota Surabaya.

Rapat persaudaraan keseluruhan wilayah Jawa pernah memperoleh dampak dari aktivitas gunung berapi. Terletak tiga desimal delapan gunung yang terpampang dari timur ke barat pulau ini, yang kesemuanya pada waktu tertentu gabungan menjadi dolok berapi aktif. Argo berapi tertinggi di Jawa adalah Jabal Semeru (3.676 m) dan giri teratas kedua Gunung Slamet (3.432 m), sedangkan ancala berapi paling aktif di Jawa dan bahkan di Indonesia adalah Ardi Merapi (2.968 m) serta Gunung Kelud (1.731 m). Gunung-gunung dan dataran janjang nan berjarak bubar membantu distrik pedalaman terbagi menjadi beberapa daerah nan relatif terisolasi dan cocok untuk persawahan lahan basah. Lahan persawahan padi di Jawa adalah salah satu nan tersubur di dunia.[33]
Jawa adalah tempat pertama penanaman kopi di Indonesia, yaitu sejak perian 1699. Kini, kopi arabika banyak ditanam di Dataran tinggi Ijen baik oleh para petani boncel maupun maka dari itu perladangan-perkebunan lautan.

Suhu rata-rata sepanjang periode adalah antara 22 °C sampai 29 °C, dengan kelembapan rata-rata 75%. Daerah pantai utara biasanya lebih erotis, dengan biasanya 34 °C sreg siang masa di musim kemarau. Titik terdingin (guru rata-rata) di pulau Jawa berada di Giri Slamet, kendati bukan merupakan titik tertinggi pulau ini. Daerah pesisir selatan kebanyakan kian sejuk daripada tepi laut utara. Perian hujan berawal pada bulan Oktober dan berakhir pada rembulan April, di mana hujan biasanya turun di magrib musim, dan pada bulan-bulan selainnya hujan biasanya sahaja turun sebentar-sebentar tetapi. Curah hujan tertinggi umumnya terjadi lega bulan-wulan rembulan Januari dan Februari. Wilayah dengan curah hujan tertinggi berada di Ketenger, Banyumas yaitu 8.134,00 mm masing-masing periode.[34]
Sedangkan curah hujan terendah berlambak di provinsi rantau paksina Jawa Timur hanya 900 mm sendirisendiri tahun.

Luas negeri pangan di Pulau Jawa sampai ke 30.791,28 km² atau menyentuh 24% dari luas Pulau Jawa sebesar 128.297 km². Berpangkal 24% hutan alias berasal 30.791,28 km² hutan nan ada di pulau Jawa, 19% di antaranya merupakan kawasan tutupan rimba dan 5% di antaranya ialah kebun raya.[35]
400 ribu hektar lahan wana tersebut berstatus sangat kritis dan 600 ribu tanah hutan di antaranya berstatus dempang responsif.[36]

Geologi

Pemerian ilmu bumi Jawa paling abstrak diungkap kerumahtanggaan van Bemmelen (1949).[37]
Sebagai pulau, Jawa secara geologi relatif muda. Pembentukan dimulai pecah tahun Tersier. Sebelumnya, kerak marcapada yang membuat pulau ini berlambak di bawah permukaan laut. Aktivitas orogenis yang intensif sejak kala Oligosen dan Miosen mengangkat dasar laut sehingga pada kala Pliosen dan Pleistosen wujud Pulau Jawa sudah mulai terbentuk. Kotoran-cerih dasar laut masih tampak, membentuk fitur sebagian raksasa area karst di selatan pulau ini.

Van Bemmelen memberi Pulau Jawa kerumahtanggaan sapta satuan fisiografi bak berikut.

  1. Pegunungan Selatan, merupakan zona gamping berbaur residu aktivitas vulkanis dari kala Miosen nan mengalami beberapa pengangkatan sebatas perian Kuarter.
  2. Zona vulkanis
    dari musim Kuarter, dengan jabal-gunung api janjang, berkali-kali dengan puncak di atas 2000 m berusul latar laut, membentang dari barat setakat ujung timur.
  3. Depresi Tengah, membuat poros cekungan ibarat poros utama pulau, dengan dua depresi osean: depresi Bandung dan depresi Solo
  4. Zona antiklinal Perdua, terdiri dari endapan-endapan kala Miosen sampai Pleistosen, dimulai dari Gunung Karang terus ke timur melangkahi Bogor, leger Serayu, sangat Rangkaian gunung Kendeng, terus sampai ke pantai utara Besuki.
  5. Depresi Randublatung, yaitu depresi katai memulur di utara Pegunungan Kendeng, terasuh berpangkal sedimen laut dan daratan.
  6. Antiklinorium Rembang-Madura, merupakan formasi perbukitan gamping di pantai lor Jawa Timur dan membentuk intim semua bagian Pulau Madura
  7. Dataran aluvial
    pesisir utara (Kolek Pantura) nan terbentuk bermula muara sungai dan sedimen lumpur, adalah daratan paling cukup umur.

Demografi

Pemerintahan

Secara administratif pulau Jawa terdiri atas heksa- provinsi:

  • Wilayah Banten, dengan ibu kota kawasan Ii kabupaten Serang
  • Kewedanan Negeri Unik Ibukota Jakarta, dengan ibu kota provinsi Kota Jakarta Pusat
  • Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota daerah Kota Bandung
  • Kewedanan Jawa Paruh, dengan ibu daerah tingkat provinsi Ii kabupaten Semarang
  • Area Kawasan Istimewa Yogyakarta, dengan ibu kota area Kota Yogyakarta
  • Area Jawa Timur, dengan ibu kota provinsi Kota Surabaya

Penduduk

Dengan populasi sebesar 150 miliun jiwa[38]
Jawa adalah pulau yang menjadi tempat sangat makin dari 50% atau sanding 60% populasi Indonesia.[38]
Dengan kerapatan 1.317 jiwa/km²,[38]
pulau ini juga menjadi riuk suatu pulau di marcapada yang minimum dipadati penduduk. Sekitar 42% pemukim Indonesia berasal berasal kedaerahan Jawa.[39]
Meskipun demikian sepertiga bagian barat pulau ini (Jawa Barat, Banten, dan Jakarta) memiliki kepadatan pemukim kian terbit 1.500 nyawa/km2.[38]

Sejak tahun 1970-an sebatas kejatuhan Presiden Soeharto pada masa 1998, pemerintah Indonesia mengerjakan program transmigrasi untuk memindahkan sebagian penduduk Jawa ke pulau-pulau bukan di Indonesia yang lebih luas. Program ini terkadang berdampak. Cuma sesekali menghasilkan konflik antara transmigran musafir berusul Jawa dengan populasi penghuni setempat. Di Jawa Timur banyak pula terletak penduduk dari etnis Madura dan Bali, karena kedekatan lokasi dan sangkutan bersejarah antara Jawa dan pulau-pulau tersebut. Jakarta dan wilayah sekelilingnya sebagai negeri metropolitan yang dominan serta ibu kota negara, telah menjadi tempat berkumpulnya beraneka ragam suku bangsa di Indonesia.

Penduduk Pulau Jawa perlahan-lahan semakin berciri urban, dan kota-metropolitan serta distrik industri menjadi anak kunci-taktik kepadatan termulia. Berikut ialah 10 kota osean di Jawa berdasarkan total populasi tahun 2005.[40]

Jaringan Transportasi Jawa

Urutan Ii kabupaten, Daerah Populasi
1 Jakarta, DKI Jakarta 8.839.247
2 Surabaya, Jawa Timur 2.611.506
3 Bandung, Jawa Barat 2.288.570
4 Bekasi, Jawa Barat 1.940.308
5 Tangerang, Banten 1.451.595
6 Semarang, Jawa Tengah 1.352.869
7 Depok, Jawa Barat 1.339.263
8 Bogor, Jawa Barat 891.467
9 Malang, Jawa Timur 773.174
10 Surakarta, Jawa Tengah 506.397

Etnis dan budaya

Saga asal usul Pulau Jawa serta rangkaian gunung berapinya diceritakan privat sebuah kakawin, bernama
Tangtu Panggelaran. Komposisi etnis di Pulau Jawa secara relatif dapat dianggap homogen, walaupun memiliki populasi yang besar dibandingkan dengan pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. Terwalak dua kelompok rasial besar pulau ini, merupakan kedaerahan Jawa dan rasial Sunda. Kedaerahan Madura dapat pula dianggap sebagai kelompok ketiga; mereka berasal mulai sejak Pulau Madura nan kaya di utara pantai timur Jawa, dan sudah bermigrasi secara raksasa-besaran ke Jawa Timur sejak abad ke-18.[41]
Jumlah manusia Jawa merupakan sekeliling dua-pertiga penduduk pulau ini, sedangkan anak adam Sunda mencapai 25% dan orang Madura mencecah 4% lebih atau dempang 5%.[41]

Empat wilayah budaya utama terdapat di pulau ini, kunci budaya Jawa (kejawen) di putaran tengah dan budaya Jawa rantau (pasisiran) di pesisir utara, budaya Sunda (pasundan) di bagian barat, dan budaya Osing (blambangan) di ujung timur. Budaya Madura terkadang dianggap sebagai yang kelima, terutama di kawasan rantau utara Tapal Aswa, mengingat pernah eratnya dengan budaya pesisir Jawa.[41]
Kejawen dianggap sebagai budaya Jawa yang paling kecil dominan. Keningratan Jawa nan tersisa berlokasi di provinsi ini, yang juga ialah etnis dengan populasi dominan di Indonesia. Bahasa, seni, dan kesopansantunan yang berlaku di wilayah ini dianggap yang paling halus dan merupakan panutan mahajana Jawa.[41]
Lahan persawahan tersubur dan terpadat penduduknya di Indonesia membentang sejak dari Banyumas di jihat barat setakat ke Blitar di sebelah timur.[41]

Jawa yaitu ajang berdirinya banyak kerajaan yang berwibawa di kawasan Asia Tenggara,[42]
dan jadinya terdapat beraneka macam karya sastra berusul para pengarang Jawa. Salah satunya yaitu kisah
Ken Arok dan Ken Luak, yang merupakan narasi anak yatim yang berdampak menjadi raja dan menikahi kaisar dari kerajaan Jawa historis; dan selain itu juga terdapat plural terjemahan dari
Ramayana
dan
Mahabharata. Pramoedya Ananta Toer adalah seorang dabir mutakhir ternama Indonesia, yang banyak batik berlandaskan pengalaman pribadinya ketika tumbuh dewasa di Jawa, dan anda banyak mencekit unsur-elemen narasi rakyat dan legenda sejarah Jawa ke internal karangannya.

Bahasa

Bahasa-bahasa yang dipertuturkan di Jawa (bahasa Jawa corak putih).

Tiga bahasa utama yang dipertuturkan di Jawa adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Madura. Bahasa-bahasa lain yang dipertuturkan meliputi bahasa Betawi (satu dialek lokal dari rumpun bahasa Melayu di wilayah Jakarta), Bahasa Bawean (akrab hubungannya dengan bahasa Madura), dan bahasa Bali.[43]
Sebagian besar besar pemukim mampu berbicara dalam bahasa Indonesia, nan umumnya ialah bahasa kedua mereka.

Agama dan ajudan

Jawa adalah palagan pertemuan terbit bermacam-macam agama dan budaya. Pengaruh budaya India adalah nan datang pertama mungkin dengan agama Hindu-Siwa dan Buddha, yang menembus secara sungguh-sungguh dan menyatu dengan adat istiadat adat dan budaya masyarakat Jawa.[44]
Para brahmana imperium dan pujangga puri mengesahkan kekuasaan kaisar-raja Jawa, serta mengaitkan kosmologi Hindu dengan ikatan kebijakan mereka.[44]
Walaupun kemudian agama Islam menjadi agama mayoritas, kantong-dompet boncel pemeluk Hindu tersebar di seluruh pulau. Terdapat populasi Hindu yang signifikan di selama pesisir timur damping Pulau Bali, terutama di sekitar kota Banyuwangi. Sedangkan komunitas Buddha umumnya saat ini terletak di kota-daerah tingkat raksasa, terutama dari kalangan Tionghoa-Indonesia.

Sekumpulan bencana nisan Muslim yang berukiran subtil dengan tulisan kerumahtanggaan bahasa Jawa Kuno dan bukan bahasa Arab ditemukan dengan penanggalan hari sejak 1369 di Jawa Timur. Damais menyimpulkan itu adalah kuba bani adam-orang Jawa yang sangat terhormat, malar-malar mungkin para bangsawan.[45]
M.C. Ricklefs berpendapat bahwa para penyebar agama Islam yang beraliran sufi-mistis, yang mana tahu dianggap berdaya gaib, adalah perwakilan-agen nan menyebabkan perpindahan agama para elit istana Jawa, yang telah lama dempet dengan aspek mistis agama Hindu dan Buddha.[46]
Sebuah batu nisan seorang Muslim bernama Maulana Malik Ibrahim nan bertahun 1419 (822 Hijriah) ditemukan di Gresik, sebuah persinggahan di tepi laut Jawa Timur. Adat istiadat Jawa menyebutnya sebagai orang asing non-Jawa, dan dianggap salah satu dari sembilan dai agama Islam pertama di Jawa (Walisongo), meskipun enggak suka-suka bukti tertulis nan kontributif tradisi lisan ini.

Sajadah di Pati, Jawa Tengah, pada hari kolonial. Masjid ini menggabungkan kecondongan tradisional Jawa (atap bertumpuk) dengan arsitektur Eropa.

Ketika ini sanding 100% suku Madura, Betawi, Bawean, & Sunda, serta sekeliling 95 persen suku Jawa menganut agama Islam. Agama Islam sangat kental memberi yuridiksi sreg suku Betawi, Banten, Cirebon dan Sunda. Orang islam suku Jawa dapat dibagi menjadi
abangan
(lebih sinkretis) dan
santri
(lebih agamais). Intern sebuah pondok pesantren di Jawa, para kyai sebagai pemimpin agama melanjutkan peranan para resi pada periode Hindu. Para santri dan awam di sekitar pondok umumnya ikut membantu menyisihkan kebutuhan-kebutuhannya.[44]
Pagar adat pra-Islam di Jawa juga telah membuat kesadaran Islam sebagian hamba allah cenderung ke arah mistis. Terdapat umum Jawa nan pasuk dengan bukan terlalu teratur di asal kepemimpinan biang keladi keimanan, yang menggabungkan wara-wara dan praktik-praktik pra-Selam dengan ajaran Islam.[44]

Agama Katolik Roma menginjak di Indonesia pron bila kesanggupan Portugis dengan bursa rempah-rempah.[47]
Agama Katolik berangkat menyerak di Jawa Tengah ketika Frans van Lith, seorang pater dari Belanda, datang ke Muntilan, Jawa Tengah pada tahun 1896. Kristen Protestan tiba di Indonesia saat dimulainya kolonialisasi Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) puas abad ke-16. Kebijakan VOC yang melarang penyebaran agama Katolik secara bermanfaat meningkatkan persentase jumlah penganut Protestan di Indonesia.[48]
Kekerabatan Kristen terutama terdapat di kota-ii kabupaten besar, walaupun di beberapa daerah di Jawa tengah bagian selatan terletak pedesaan yang penduduknya memeluk Katolik. Terletak kasus-kasus intoleransi bernuansa agama yang menimpa umat Katolik dan kelompok Serani lainnya.[49]

Tahun 1956, Jawatan Departemen Agama di Yogyakarta melaporkan bahwa terdapat 63 sekte diseminasi kepercayaan di Jawa yang tidak tertulis dalam agama-agama legal di Indonesia. Pecah jumlah tersebut, 35 berada di Jawa Tengah, 22 di Jawa Barat dan 6 di Jawa Timur.[44]
Berbagai rotasi kepercayaan (juga disebut
kejawen
atau
suluk) tersebut, di antaranya nan tersohor adalah Subud, memiliki besaran anggota yang sulit diperkirakan karena banyak pengikutnya mengidentifikasi diri dengan salah satu agama normal pun.[50]

Perekonomian

Awalnya, perekonomian Jawa sangat tergantung plong sektor perkebunan dan perkebunan, khususnya dari berladang di areal persawahan. Imperium-kerajaan kuno di Jawa, sebagai halnya Tarumanagara, Mataram, dan Majapahit, sangat bergantung pada panen padi dan pajaknya. Jawa tersohor sebagai lumbung padi dan menjadi pengekspor beras sejak zaman dahulu. Secara tidak langsung lahan jawa yang subur menjadi kontribusi terhadap pertumbuhan penduduk pulau ini. Perkulakan dengan negara-negara di Asia lainnya seperti India dan Tiongkok sudah terjadi sreg tadinya abad ke-4, terbukti dengan ditemukannya beberapa warisan ki kenangan berupa lantai Tiongkok berasal periode tersebut. Selain itu Jawa juga terlibat aktif kerumahtanggaan bazar domestik misalnya perdagangan rempah-rempah Maluku yang sudah dirintis mulai sejak era Majapahit hingga era Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC). Firma komersial tersebut mendirikan kiat administrasinya di Batavia lega abad ke-17, nan kemudian terus dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda sejak abad ke-18.

Sejauh masa kolonialisme, Belanda membudayakan budidaya berbagai rupa tumbuhan komersial seperti tebu, kopi, perca, teh, kina, dan lain-lain. Di beberapa wilayah Jawa dibuka lahan pertanaman dalam rasio besar dengan pamrih bagi memenuhi kebutuhan ekspor. Bilang dagangan berhasil dikembangkan di Jawa salah satunya adalah Kopi. Salinan Jawa malar-malar mendapatkan popularitas global di awal ke-19 dan abad ke-20, sehingga logo
Java
telah menjadi sinonim untuk tindasan.

Jawa telah menjadi pulau minimal berkembang di Indonesia sejak era Hindia Belanda hingga saat ini. Jaringan transportasi perkembangan nan telah suka-suka sejak zaman kuno dipertautkan dan disempurnakan dengan dibangunnya Urut-urutan Raya Pos Jawa oleh Daendels di tadinya abad ke-19. Kebutuhan transportasi produk-dagangan menggalas dari perkebunan di pedalaman berorientasi pangkalan di pantai, telah memacu pembangunan jaringan kereta api di Jawa. Saat ini, pabrik, jual beli dan perbelanjaan, juga jasa berkembang di ii kabupaten-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung, sedangkan kota-kota kesultanan tradisional begitu juga Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon menjaga warisan budaya puri dan menjadi muslihat seni, budaya dan pelancongan. Kawasan industri sekali lagi berkembang di kota-kota sepanjang pantai utara Jawa, terutama di sekeliling Cilegon, Tangerang, Bekasi, Karawang, Gresik, dan Sidoarjo.

Jaringan urut-urutan tol dibangun dan diperluas sejak musim rezim Soeharto hingga sekarang, yang menghubungkan pusat-anak kunci daerah tingkat dengan daerah sekitarnya, di berbagai kota-ii kabupaten raksasa seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Selain jalan tol tersebut, di pulau ini juga terdapat 16 jalan raya nasional.

Lihat sekali lagi

  • Kepulauan Nusantara
  • Daftar pulau di Indonesia

Referensi

  1. ^


    a




    b



    Raffles, Thomas E.: “The History of Java”. Oxford University Press, 1965 . Page 3

  2. ^


    “Malay Words of Sanskrit Origin – वेद Veda”.
    veda.wikidot.com.





  3. ^

    Raffles, Thomas E.: ” The History of Java”. Oxford University Press, 1965. Page 2

  4. ^


    “History Of Ancient India (portraits Of A Nation), 1/e”. Sterling Publishers Pvt. Ltd. 18 Apr 2022 – via Google Books.




  5. ^

    Hatley, R., Schiller, J., Lucas, A., Martin-Schiller, B., (1984). “Mapping cultural regions of Java” in: Other Javas away from the kraton. pp. 1–32.

  6. ^


    J. Oliver Thomson (2013).
    History of Ancient Geography. Cambridge University Press. hlm. 316–317. ISBN 9781107689923.





  7. ^

    Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Bacaan Utama.

  8. ^

    Mills, J.V.G. (1970).
    Ying-yai Sheng-lan: The Overall Survey of the Ocean Shores [1433]. Cambridge: Cambridge University Press.

  9. ^


    Nugroho, Irawan Djoko (2011).
    Majapahit Peradaban Maritim. Obor Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008.





  10. ^

    Yule, Sir Henry (1913).
    Cathay and the way thither: being a collection of medieval notices of China vol. III. London: The Hakluyt Society.

  11. ^

    Braginsky, Vladimir. 1998. Two Eastern Christian sources on medieval Nusantara.
    Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 154(3): 367–396.

  12. ^


    Zenkovsky, Serge A. (1974).
    Medieval Russia’s epics, chronicles, and tales. New York: Dutton. hlm. 345–347. ISBN 0525473637.





  13. ^


    Maharsi.
    Kamus Jawa Kawi Indonesia. Pura Pustaka.





  14. ^


    Basya, Fahmi (2014).
    Indonesia Provinsi Saba. Jakarta: Zahira. ISBN 978-602-1139-48-6.





  15. ^


    Pope, G G (1988). “Recent advances in far eastern paleoanthropology”.
    Annual Review of Anthropology.
    17: 43–77. doi:10.1146/annurev.an.17.100188.000355.




    cited in
    Whitten, Ufuk (1996).
    The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 309–312.




    ;
    Pope, G (August 15, 1983). “Evidence on the Age of the Asian Hominidae”.
    Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America.
    80
    (16): 4,988–4992. doi:10.1073/pnas.80.16.4988. PMC384173alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 6410399.




    cited in
    Whitten, T (1996).
    The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 309.




    ;
    de Vos, J.P. (9 December 1994). “Dating hominid sites in Indonesia”
    (PDF).
    Science Magazine.
    266
    (16): 4,988–4992. doi:10.1126/science.7992059.




    cited in
    Whitten, N (1996).
    The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 309.





  16. ^

    [1]|Cipari archaeological park discloses prehistoric life in West Java.

  17. ^

    Ricklefs (1991), pp. 16–17

  18. ^

    Ricklefs (1991), p. 15.

  19. ^


    Sastropajitno, Warsito (1958).
    Rekonstruksi Sedjarah Indonesia. Zaman Hindu, Yavadvipa, Srivijaya, Sailendra. Yogyakarta: PT. Pertjetakan Republik Indonesia.





  20. ^

    Groeneveldt, Willem Pieter (1876). “Notes on the Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Sources”. Batavia: W. Bruining.

  21. ^


    Nugroho, Irawan Djoko (2011).
    Majapahit Peradaban Bahari. Obor Nuswantara Bakti. ISBN 978-602-9346-00-8.





  22. ^


    Ames, Glenn J. (2008).
    The Bola dunia Encompassed: The Age of European Discovery, 1500-1700. hlm. 99.





  23. ^


    St. John, Horace Stebbing Roscoe (1853).
    The Indian Archipelago: its history and present state, Volume 1. Longman, Brown, Green, and Longmans. hlm. 137.





  24. ^


    Atkins, James (1889).
    The Coins And Tokens Of The Possessions And Colonies Of The British Empire. London: Quaritch, Bernard. hlm. 213.





  25. ^

    Java (island, Indonesia). Encyclopædia Britannica.

  26. ^

    Taylor (2003), hlm. 253.

  27. ^

    Taylor (2003), hlm. 253-254.

  28. ^


    Byrne, Joseph Patrick (2008).
    Encyclopedia of Pestilence, Pandemics, and Plagues: A-M. Lambang bunyi-CLIO. hlm. 99. ISBN 0313341028.




  29. ^


    a




    b



    Taylor (2003), hlm. 254.

  30. ^


    “Ethnic Chinese tell of mass rapes”.
    BBC News. 23 June 1998. Diakses rontok
    28 April
    2022
    .





  31. ^


    Monk,, K.A. (1996).
    The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 7. ISBN 962-593-076-0.





  32. ^

    Management of Bengawan Solo River Distrik Diarsipkan 2007-10-11 di Wayback Machine. Jasa Tirta I Corporation 2004. Diakses 26 Juli 2006.

  33. ^


    Ricklefs, M.C. (1991).
    A History of Berbudaya Indonesia since c.1300 (2nd edition). London: MacMillan. hlm. 15. ISBN 0-333-57690-X.





  34. ^


    “Curah Hujan Ketenger”.
    banyumaskab.bps.go.id
    . Diakses tanggal
    2022-10-18
    .





  35. ^


    Maulud, Mochamad Iqbal (20 Juli 2022). “Programa Hutan Sosial Harus Terus Dikawal”.
    Pikiran Rakyat. hlm. 1.





  36. ^


    Maulud, Mochamad Iqbal (20 Juli 2022). “Acara Pangan Sosial Harus Terus Dikawal”.
    Pikiran Rakyat. hlm. 10.





  37. ^

    Bemmelen, R.W van. 1949.
    The Geology of Indonesia. The Hague. Government Printing Office.
  38. ^


    a




    b




    c




    d




    “Salinan arsip”. Diarsipkan bersumber versi kudus tanggal 2022-08-24. Diakses tanggal
    2011-03-16
    .





  39. ^


    “East Asia/Southeast Asia :: Indonesia—The World Factbook – Central Intelligence Agency”.
    www.cia.gov. Diarsipkan dari varian safi rontok 2008-12-10. Diakses tanggal
    2011-03-16
    .





  40. ^


    “Indonesia: Provinces, Cities & Municipalities”.
    City Population
    . Diakses tanggal
    2010-04-28
    .




  41. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    Hefner, Robert (1997).
    Java. Singapore: Periplus Editions. hlm. 58. ISBN 962-593-244-5.





  42. ^

    Lihat puisi Wallace Stevens” Tea” yang membentangkan suatu kiasan dalam menghargai budaya Jawa.

  43. ^

    Languages of Java and Bali–Ethnologue. Terdapat perigi-sumber lain nan menyatakan beberapa dari bahasa-bahasa ini sebagai dialek.
  44. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    van der Kroef, Justus M. (1961). “New Religious Sects in Java”.
    Far Eastern Survey.
    30
    (2): 18–15. doi:10.1525/as.1961.30.2.01p1432u. JSTOR 3024260.





  45. ^

    Damais, Louis-Charles, ‘Études javanaises, I: Les tombes musulmanes datées de Trålåjå.’
    BEFEO, vol. 54 (1968), hlm. 567-604.

  46. ^

    Ricklefs, M.C. (1991).
    A History of Modern Indonesia since c.1300, 2nd Edition. London: MacMillan. ISBN 0-333-57689-6.

  47. ^

    cf. Bunge (1983), chapter Christianity.

  48. ^

    Goh, Robbie B.H..
    Christianity in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies. Hlm. 80. ISBN 981-230-297-2. OCLC 61478898.

  49. ^


    Epa, Konradus. “Christians refuse to cancel Christmas”.
    UCA News.





  50. ^

    Beatty, Andrew,
    Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account, Cambridge University Press 1999, ISBN 0-521-62473-8

Pranala asing

  • (Inggris)
    Segala peristiwa mengenai pulau Jawa
  • (Indonesia)
    Bahan tamasya di Pulau Jawa
  • (Inggris) Project Gutenberg Library: Monumental Java Monumental Java dan mesin pencarian untuk introduksi ‘Java’ Books: Java (sorted by popularity)



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa

Posted by: caribes.net