Pengertian Aqiqah Menurut Bahasa Adalah

Apa yang kamu ketahui akan halnya aqiqah? yang mungkin sering engkau temui pelaksanaannya di sekeliling tempat tinggalmu, nan dilakukan detik suka-suka seorang bayi yang mentah lahir di dunia. Maka di dalam artikel ini akan membahas segala pengertian aqiqah, hukum pelaksanaannya, dalil, dan ketentuan fauna aqiqah serta hikmah barang apa yang dapat kita ambil mulai sejak ibadah aqiqah tersebut.

Aqiqah merupakan suatu bentuk ibadah untuk menunjukan rasa syukur berpunca seorang hamba kepada Allah SWT, karena telah menganugerahi seorang anak kepada hamba allah berida.

Di intern islam, anjuran ibadah aqiqah ini juga pernah dibahas melintasi hadits Rasulullah dan juga para ulama yang lainnya. Tentu aqiqah ini sangat terdahulu untuk seorang muslim, untuk mempelajarinya betapa banyak hikmah yang bisa kita petik dari aqiqah itu sendiri.

Pengertian Aqiqah

Kata aqiqah berpangkal dari kata
aqiq
yang diartikan secara bahasa merupakan rambut bayi yang baru lahir, karena aqiqah selalu diartikan kegiatan yang mengadakan selamatan saat lahirnya koteng bayi dengan adanya penyembelihan hewan, dan sekurang-kurangnya hewan yang digunakan untuk aqiqah yaitu kambing, karena seandainya sapi lebih selalu digunakan untuk qurban sreg idul adha.

pengertian aqiqah
signifikasi aqiqah

Selain itu ada makna lain akan halnya signifikasi aqiqah, secara bahasa yang dikemukakan oleh Al-Imam Ahmad bin Hambal bahwa pembukaan aqiqah berpangkal dari
‘aqqa
yang artinya menyela atau membelah.

Menurut istilah
syara’
aqiqah diartikan adalah membantai ternak pada waktu ketujuh setelah lahirnya sendiri anak. Yang dilakukan bersamaan dengan pemberian nama dan pemotongan surai. Adapun dalam syari’ah yang dikemukakan maka itu Ibnu Arafah seperti yang disebut oleh Al-Kharasyi yang mendefinisikan aqiqah secara paradigma adalah:

“Hewan yang digunakan bakal mendekatkan diri kepada Almalik dengan mandu menyembelihnya, baik berupa kambing ataupun lainnya, beberapa dua ekor nan selamat berasal aib yang disyaratkan, plong siang hari puas waktu ketujuh kelahiran manusia yang hidup.”

Dalam definisi yang diungkapkan oleh Anak laki-laki Arafah sangatlah lengkap, karena di dalamnya sudah terletak gambaran terkait persyaratan dan jenis hewan, maksud, waktu penyembelihan dan tolok orang nan disembelihkan hewan aqiqah.

Secara istilah aqiqah dapat diartikan hewan yang disembelih atas nama jabang bayi nan plonco lahir selepas periode ketujuh, adanya aqiqah tersebut yaitu bak ungkapan rasa syukur kepada Tuhan SWT yang telah menganugerahkan kelahiran seorang anak, baik anak pemudi alias lelaki.

Hukum Melaksanakan Aqiqah

Dalam status hukum untuk berbuat aqiqah menurut para cerdik pandai berbeda-beda, yaitu sesuai dengan kesadaran mereka yang sesuai dengan hadits sebagai dasarnya.

Para cerdik pandai yang menganut paham Zhahiriyah yang sudah dipelopori oleh Dawud kedelai Ali Al-Aslami serta Serdak Zinad yang bersumber dari kalangan sahabat, berpendapat bahwa syariat aqiqah adalah wajib.

Adapun pendapat berpunca Al-Hasan Al-Basri bahwa hukum aqiqah ialah wajib, akan tetapi dengan tulisan bahwa bagasi itu cuma untuk anak lanang, sonder anak putri. Cak semau juga pendapat dari beberapa mazhab fiqih nan menjelaskan adapun hukum aqiqah, yaitu sebagai berikut:

  1. Menurut Mazhab Hanafi bahwa hukum aqiqah ini adalah mubah, dan lain sunah. Artinya siapa saja yang ingin melakukan aqiqah maka diperbolehkan, dan saat tidak mengerjakan aqiqah maka lain ada tuntutan buat melakukannya.
  2. Menurut Mazhab Maliki berpendapat bahwa hukumnya adalah sunah yang sangat disenangi, dan bukan wajib. Oleh sebab itu apabila cak semau insan tua yang dianugrahi anak asuh dan privat peristiwa ekonomi yang mampu, maka berbuat aqiqah yakni hal yang bagus.
  3. Menurut Mazhab Syafi’i dijelaskan bahwa hukum berbunga aqiqah adalah sunnah dan mustahab yang artinya sangat disukai.
  4. Menurut Mazhab Hambali dijelaskan bahwa hukum dari aqiqah adalah sunnah muakkadah, merupakan sunnah yang dianjurkan.

Dalil Aqiqah

Internal sebuah hadits mengklarifikasi bahwa:

Dari Samurah radiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah SAW, bersabda:
“Tiap-tiap anak asuh
tergadaikan aqiqahnya. Disembelihkan baginya pada hari ketujuh dari kelahirannya, bayi
dicukur dan diberi stempel.”
Riwayat Ahmad dan Empat Pater. Hadis shahih ini menurut Tarmidzi.

Semenjak Aisyah ia berkata, bahwa Rasulullah berucap :



Bayi junjungan-laki diaqiqahi dengan dua kambing nan setara dan bayi perempuan satu kambing.


(HR. Ahmad (2/31,
158,
251), HR. Tirmidzi (1513), HR. Anak lelaki Majah (3163), dengan sanad hasan)

Waktu Aqiqah

Internal melakukan penyembelihan aqiqah ini diadakan merupakan, pada hari ketujuh setelah kelahiran berpunca seorang anak, apabila tujuh hari pertama kelahiran anak tak dapat melakukan aqiqah maka dapat dilakukan hari keempat belas, dan apabila waktu empat belas bermula kelahiran mutakadim berpulang, maka hendaklah penyembelihan aqiqah dilakukan pada tahun kedua puluh satu.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadit yang sudah lalu diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, yang menyatakan bahwa:

“Aqiqah disembelih pada hari ketujuh, keempat belas, dan kedua puluh satu.”

Intern pelaksanaan aiqah, para ulama juga suka-suka perbedaan adapun pendapat, jumhur ulama menyatakan bahwa sepakat apabila aqiqah dilakukan pada musim ketujuh setelah kelahiran koteng anak.

Tetapi berbeda pada Imam Malik yang tidak memasukan hari ketujuh tersebut, akan tetapi beliau mengemukakan bahwa syarat periode penyembelihan aqiqah yaitu: waktunya sebagaimana waktu berkurban, yaitu saat waktu pagi ataupun dhuha, dikatakan sekali lagi setelah berbunga fajar, dan aqiqah dapat dilaksanakan sreg hari keempat belas dan hari kedua puluh satu.

Doa Aqiqah

بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان


Bismillahi wallahu akbar, Allahumma laka wa ilaika hadzihi


aqiiqotu fulaan.

(HR. Baihaqi)

Artinya:
“Dengan label Allah dan Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan bagi-Mu. Ini adalah Aqiqah si Fulan (disebut cap bayi).”

Takbir meniup ubun-ubun bayi setelah dicukur:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon penjagaan untuk dia dan keluarganya dari setan yang terkutuk.”

Ratib walimah al-‘Aqiqah

اللهم احْفَظْهُ مِنْ شَرِّالْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُوْدَةِ
وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ أَلنَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِهَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتَنَا مِنْ حُقُوْقِ رُبُوْبِيَّتِكَ الْكَرِيْمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللهم اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ الظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ

Nan artinya:
“Ya Allah, jagalah kamu (bayi) dari kejelekan jin, makhluk ummi shibyan, serta apa kejelekan dan maksiat. Jagalah ia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu nan terpuji, dengan perawatan dan perlindunganmu nan kuat. Dengan hal tersebut aku berharta melaksanakan barang apa nan Kau bebankan padaku, dari hak-hoki ketuhanan nan mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada diantara kami dan makhluk-Mu, merupakan akhlak mulia dan anugerah yang paling mulia. Ya Allah, jadikan kami dan mereka umpama ahli guna-guna, pakar kemujaraban, dan ahli Al-Qur’an. Jangan kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercacat.”

Ketentuan Hewan Aqiqah

Ketentuan Hewan Aqiqah
Ketentuan Fauna Aqiqah

Intern melakukan aqiqah pasti suka-suka ketentuan-ketentuan yang menyangkut dabat aqiqah, berikut ketentuannya:

Jenis hewah aqiqah sama halnya dengan sato yang dijadikan cak bagi berkurban, para ulama berbunga berbagi mazhab menyatakan bahwa fauna yang dijadikan bakal aqiqah adalah unta, sapi(termasuk kerbau sekali lagi), dan kambing (termasuk juga domba).

Namun terdapat perbedaan antara hewan qurban dan satwa aqiqah dalam hal kemampuan hewan buat mengcover total khalayak.

Rasulullah menyatakan apabila kurban, satu cucu adam laki-junjungan atau perempuan cukup dengan satu ekor embek atau domba saja, sedangkan satu ekor sapi alias unta dapat lakukan mencukupi tujuh individu di dalamnya, baik suami-laki maupun perempuan.

Namun pabila buat aqiqah apabila berharta, buat anak asuh laki-laki dengan dua ekor embek atau domba.

Total hewan bagi aqiqah, semua mazhab sepakat bahwa aqiqah anak laki-suami dengan dua ekor wedus, dan perempuan sahaja satu ekor saja.

Mereka juga sekata apabila keadaan orang sepuh terkendala pada biaya buat aqiqah dua ekor kambing untuk anak adam, maka cukup dengan satu ekor doang.

Cak semau pula ketentuan usia sato berupa kambing cak bagi dijadikan aqiqah yakni: sempurna dua tahun menurut ahli bahasa, ideal satu musim menurut para ahli fiqih, dan kamil satu tahun ikut dua musim pendapat dari Mazhab Hanafi.

Hikmah Aqiqah

Dilakukannya sebuah aqiqah merupakan bentuk terima kasih seorang muslim atas kehadirat Yang mahakuasa SWT, yang mutakadim menganugerahkan anak yang telah dilahirkan dari sepasang manusia di privat marcapada ini. Aqiqah ini adalah amalan yang disunnahkan dan melaksanakannya yaitu sebuah amalan nan penting buat mendekatkan diri pada Allah SWT.

Penyembelihan dari fauna aqiqah ini merupakan bentuk pelindungan diri dari godaan setan sesudah kelahiran anak.

Dan teristiadat diingat bahwa pelaksanaan dari penyembelihan dabat aqiqah merupakan suatu rahasia yang terkandung internal hukum yaitu kian agung.

Selain itu, adanya pelaksanaan penyembelihan hewan aqiqah ataupun diadakannya aqiqah sebagai rencana untuk memperkuat silaturahim antara masyarakat.

Di mana mereka berkumpul di satu tempat untuk menjabat kelahiran seorang anak. Dan Allah menjadikan perumpamaan hari ketujuh untuk melaksanakan aqiqah untuk mereka menunjukan rasa syukurnya kepada Allah SWT.

Source: https://www.onoini.com/pengertian-aqiqah/