Pengertian Puisi Dalam Bahasa Sunda



Sapanjang néangan kidul,


kalér deui kalér deui,


sapanjang néangan wétan,


kulon deui kulon deui,


sapanjang néangan aya,


euweuh deui euweuh deui.

Sepanjang mencari kidul,

hanya paksina yang kujumpa,

selama mencari timur,

hanya barat yang kujumpa,

sepanjang mengejar ada,

hanya tiada yang kujumpa.

(Haji Hasan Mustapa)


Tembang


adalah istilah baru yang digunakan lakukan menandai rancangan-bentuk sastra nan sudah terlebih dahulu suka-suka. Istilah
tembang
baru dikenal dalam khasanah karangmengarang Sunda sekitar tadinya abad ke-20, yakni saat ilmuwan-sarjana Belanda mulai meneliti kesusastraan Sunda. Dalam penelitian tersebut, tentu saja, mereka memahami sastra Sunda dengan terminologi sastra Barat. Terminologi sastra Barat itu, di antaranya, membedakan karya sastra beralaskan puisi, drama dan cerita. Menurut Luxemburg (19), misalnya, puisi plong hakikatnya yaitu monolog, ketoprak yaitu dialog, dan cerita adalah campuran di antara keduanya.

Penjelasan lain yang makin distingtif, dalam
Kamus Istilah Sastra

(1992) nan disusun oleh Iskandarwassid, dikatakan bahwa tembang adalah bagan karangan nan berirama serta terikat privat bentuk dan diksinya. Menurut Iskandarwassid tembang rata-rata dibedakan dengan kalimat intern bahasa sehari-perian dan dengan prosa. Dalam kamus tersebut dijelaskan pula bahwa syair memperalat bahasa yang khas, yang mencakup pilihan kata, frase, dan proporsi yang seringkali tidak ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Selanjutnya dijelaskan bahwa puisi mengutamakan konotasi, menciptakan frase baru, ekonomis kata, dan saja deskripsi, sehingga seringkali problematis.

Berdasarkan pengertian tembang tersebut saya berusaha menjawab catur soal, yaitu (1)  bentuk-rajah karya sastra Sunda apa sajakah nan biasa dikelompokkan ke intern puisi? (2) sejak pada saat sajak dikenal kerumahtanggaan kesusastraan Sunda? (3) bagaimana pertautan antara puisi Sunda dengan syair-puisi Nusantara dan mayapada? Dan, (4) bagaimana jalan puisi Sunda kini?


Bentuk Syair Sunda

Bentuk puisi Sunda , menurut Iskandarwassid (1992), boleh dibedakan berlandaskan waktu dan narasinya. Beralaskan waktunya sajak Sunda dibedakan antara puisi lama ataupun tradisional dengan sajak yunior atau beradab. Syair tradisional Sunda kemudian terbagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu (1) puisi berbentuk cerita dan (2) sajak yang tidak berbentuk cerita. Termasuk ke privat puisi berbentuk cerita yaitu
puisi lama
dan
wawacan. Teragendakan ke n domestik puisi yang bukan berbentuk narasi ialah
mantra
(jangjawokan,
singlar,
jampé,
asihan),
sisindiran
(rarakitan,
paparikan,
wawangsalan),
kakawihan
(barudak), dan
sa’ir
(pupujian,
sawér, dst),
pupuh
(dangding,
guguritan). Dan, yang termasuk sajak mentah adalah
sajak.

Sejalan dengan Iskandarwassid merupakan pendapat Maryati Sastrawijaya. Kedua ahli ini membagi tembang Sunda ke dalam dua kelompok yakni puisi tradisional dan puisi modern. Saja, internal hasil penelitiannya Maryati Sastrawijaya (1995: 45) menemukan bahwa tembang Sunda itu memiliki 18 varietas, yang terdiri atas 12 puisi tradisional dan 6 spesies tembang berbudaya. Termasuk ke dalam macam puisi tradisional itu ialah
hobatan, kakawihan barudak, sisindiran, sawér, pantun, gondang, sa’ir, pupujian, wawacan, babad, guguritan,
dan
wawangsalan
. Dan, yang tertulis ke dalam jenis puisi modern yaitu
puisi, drama sajak, gending karesmén, jemblungan, rumpaka kawih,
dan
rumpaka tembang cinjuran.

Selain Iskandarwassid dan Maryati Sastrawijaya yang membahas puisi Sunda adalah Ajip Rosidi. Termasuk ke dalam puisi Sunda ini, menurut Ajip Rosidi (2007: 5) adalah tulang beragangan-susuk karya sastra yang terletak dalam
naskah
kuno, jangjawokan, pantun, sisindiran, pupujian, sawér, guguritan, wawacan, gending karesmén, tembang, kawih, syair, dan
drama berbentuk sajak.

Menurut hemat saya pengelompokkan bentuk-rencana tembang yang dilakukan Iskandarwassid bertambah mendasar dibandingkan dengan pengelompokkan oleh Maryati Sastrawijaya dan Ajip Rosidi. Akan doang, pendistribusian dari Maryati Sastrawijaya dan Ajip Rosidi juga berjasa cak bagi melihat pengembangan kreativitas mulai sejak susuk radiks tembang Sunda. Dibandingan dengan pengelompokkan Iskandarwassid dan Ajip Rosidi, internal pengelompokkan Maryati Sastrawijaya unjuk keberagaman tembanggondang, babad, jemblungan. Adapun yang menjajarkan dalam pengelompokkan Ajip Rosidi merupakan munculnya puisi yang tercantum n domestik
naskah
Sunda kuno.

Dengan demikian tembang Sunda boleh dilihat berpunca rajah dasarnya yaitu
tulisan tangan, pantun,hobatan,
sisindiran,
kakawihan,
sa’ir, pupuh,
dan
sajak. Yang dimaksud dengan naskah ialah puisi Sunda sama dengan yang terdapat di dalam naskah-skenario Sunda kuno. Tembang-sajak tersebut berisi kisah yang ditulis dalam bentuk syair
anusbuth, puisi dengan okta- suku prolog plong setiap lariknya. Bentuk syair privat naskah Sunda historis ini bisa dibandingkan dengan tulangtulangan puisi lisan
kelong. Baik syair internal naskah Sunda kuno alias puisi lama disusun dalam pola banjar okta- suku kata.

Contoh nan dikutip berpangkal naskah “Para Putera Rama dan Rawana”:


Ongkarana sangtabéan.


Pukulun sembah rahayu.


Aing dék nyaksi ka beurang,


Aing dék nyaksi ka peuting,


candra bulan aditia,


deungeun sanghiang akasa,


kalawan hiang pretiwi,


ka batara Nagaraja,


ka nusia Badan Larang,


ka luhur ka sang Rumuhun,


nusia Larang di manggung.





Mantra


yakni puisi tradisional yang berisi “doa” kiranya keinginan terlaksana atau terhindar dari marabahaya. Menurut Iskandarwassid (1992) puisi mantra biasanya dibentuk dalam jajar-larik yang memerlukan irama privat melisankannya. Ciri-ciri sajak n domestik mantra ini, di antaranya, yaitu rima nan kuat dan tautologi. Teragendakan ke internal syair
hobatan
ini yaitu
jajampéan, jangwawokan, parancah, singular,
dan
asihan.

Contoh:



Asihan Si Taruk Gadung








Sasoéh nu matak léwéh


Salambar nu matak édan


Saciwit nu matak ceurik


Nyeungceurikan aing kakasih


Ya hu ya hu ya Yang mahakuasa.


(R. Kartawinata, Golat, Panjalu, 1973)



Sisindiran


seimbang dengan puisi lama internal kesusastraan Melayu, yakni bentuk puisi nan dibangun dengan
cangkang
(sampiran) dan
eusi
(isi). Takdirnya pertautan antara
cangkang
dan
eusi
doang ditautkan oleh kemiripan rima maka sisindiran tersebut disebut
paparikan. Tetapi, jika kata awal pada baris mula-mula
sampul
diulang pada deret pertama
eusi
dan jejer kedua dan seterusnya pada
bungkusan
diulang puas baris kedua dan lebih lanjut
eusi, sisindiran tersebut dinamakan
rarakitan. Selain
rarakitan
dan
paparikan
dikenal pula
wawangsalan
nan pertautan antara
cangkang
dan
eusi-nya ditentukan oleh sebuah kata yang mesti ditebak.

Contoh sisindiran:


Saninten buah saninten,


saninten di parapatan.


Hapunten abdi hapunten,


bilih aya kalepatan.

Contoh
wawangsalan:


Teu beunang di hurang sawah,


teu beunang dipikameumeut. (simeut)


Sa’ir


maupun puisi internal bahasa Indonesia adalah susuk tembang nan berpokok berpunca kesusastraan Arab. Rata-rata terdiri atas empat jejer dan pada setiap lariknya dibangun dalam delapan suku perkenalan awal, dan bersajak akhir a-a-a-a.

Contoh sa’ir:


Regepkeun ieu pépéling,


seruput kudu loba éling,


sabab mangkat pasti menclok,


urang moal dapat mungpang.


Sing inget kana papastén,


hadé goréng udang rebon yakin,


éta kabéh paparinan,


Allah anu hakkul berpengharapan.




Pupuh


adalah kreasi puisi (Iskandarwassid, 1992: 115-116) yang terpincut dalam rasam-aturan, baik bentuk alias isinya. Bentuknya terikat pada besaran larik pada setiap bait dan pada banyaknya suku kata bunyi vokal akhir pada setiap lariknya. Isinya silau pada karakter
pupuh
begitu juga sedih, gembira dsb. Jumlah
pupuh
nan dikenal dalam sastra Sunda suka-suka 17 yakni
asmarandana, balakbak, dangdanggula, jurudemung, durma, gambuh, gurisa, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, semawang, sinom,
dan
wirangrong. Adat-adat pada pupuh berkaitan erat dengan lagunya. Setiap
pupuh
mempunyai lagu yang berbeda dengan
pupuh
yang lain. Berdasarkan frekuensi pemakaiannya ada yang disebut
pupuh/ sekar ageung
(raksasa) dan
pupuh/sekar
alit
(kecil). Disebut
pupuh
ageung
karena belalah digunakan, sebaliknya disebut
pupuh
alit
karena sukar digunakan. Empat pupuh yang termasuk
sekar
ageung
yaitu
asmarandana,
dangdanggula,
kinanti
dan
sinom, sedangkan 13 pupuh sisanya dikategorikan sebagai
sekar
alit.

Contoh pupuh
kinanti:


Sapanjang néangan daksina,


kalér  deui kalér deui,


sapanjang néangan wétan,


kulon deui kulon deui,


sapanjang néangan aya,


euweuh deui euweuh deui.


Syair


yakni kerangka puisi yang tidak terlalu terpincut (Iskandarwassid, 1992: 130). Oleh karena itu pada saat kemunculannya pada mulanya tahun 1950-an
syair
halal disebut
sajak bebas. Tentu saja, dikatakan tidak terikat atau objektif di sini jika dibadingkan dengan
pupuh
yang tingkat keterikatannya lebih kuat. Ketika
tembang
muncul tembang
pupuh
habis dominan. Sebenarnya, menurut Iskandarwassid,
sajak
pun masih terikat dengan konvensi syair, misalnya diksi dan reka cipta kata-katanya.

Hipotetis
sajak
karya Ganjar Manfaat:


 Sora bedil lodong nu ngabeledag


neumbag jajantung


muncratkeun


daki-daki kalaipan


ngabudalkeun cimata mendet


ngabanjiran diri


tilelep – laput


ka tungtung buuk


aleu-aleu sora walilat


kawas ngaléléwé


unggal ldulfitri


cimata deui


cimata deui


ti lebaran ka lebaran


nyolédat deui


nyolédat deui


daluang kapitrahan


nu diilo dibulak-mengsol salila ied


belewuk pinuh kokotor


lapar puasa


ditambah ibadah (nu belang betong)


teu ngabual


hutang dosa sataun jeput


sataun deui


jeprut!

Berpangkal gambar dasar sajak kemudian tercipta bentuk-bentuk puisi yang lebih lautan. Misalnya dari
pupuh
dapat menjadi
guguritan
ataupun
wawacan.
Jika sejumlah
pupuh
menyatu dan membuat sebuah cerita maka puisi tersebut disebut
wawacan. Seandainya ceritanya adalah narasi historis maka
wawacan
tersebut disebut
babad. Doang, seandainya semata-mata satu bagan
pupuh
yang digunakan untuk menceritakan sesuatu atau keadaan maka biasanya puisi tersebut disebut
guguritan. Puisi
pupuh
nan indah dalam bentuk
guguritan
di antaranya ditulis oleh Haji Hasan Mustapa. Puisi
pupuh
dalam rang
wawacan
di antaranya ditulis makanya R. Suriadiredja dengan judul
Wawacan Purnama Alam.


Pupuh


dapat pula bergabung dengan
sisindiran,
drama, maupun seni suara. Oleh karena itu, intern substansi sastra Sunda dikenal
sisindiran pupuh,
gending karesmén
atau
tembang. Bentuk yang bukan juga sekelas.
Sajak
dapat bergabung dengan
sandiwara radio
menjadi drama bersajak.
Sa’ir
dapat menjadi
nadoman
alias
sawér, dst.


Awal Puisi Sunda

Menurut perkiraan puisi Sunda berawal dari syair tradisional maupun bertambah tepatnya sajak oral sebagai halnya
sisindiran,
kakawihan, alias
mantra. Perkiraan ini muncul karena di dalam makrifat sastra oral mendahului sastra tulisnya, sebagaimana bahasa lisan menganjuri bahasa tulisnya. Akan namun, seperti wasilah dijelaskan oleh Ajip Rosidi, puisi-sajak lisan tersebut plonco dicatat maka itu para sarjana Belanda pada awal abad ke-20. Oleh karena itu, Ajip Rosidi menentukan awal puisi Sunda dari eksistensinya di privat naskah Sunda bersejarah.

Berkaitan dengan hal ini terserah satu ki akal yang pas dicatat, yaitu buku
Tiga Pesona Sunda Kuna
(2009) yang ditulis maka itu  J. Noorduyn dan A. Teeuw. Buku tersebut membahas secara filologis tiga puisi privat skenario sunda kuno yang ditulis plong abad ke-16, yaitu
Para Putra Rama dan Rawana, Pemanjatan Sri Ajnyana,
dan
Kisah Bujangga Manik: Jejak Langkah Petandang.


Selain itu, Undang Ahmad Darsa privat disertasinya yang berjudul “Sewaka Dagelan kerumahtanggaan Tradisi Sunda Kuno Abad 15-17” (2012) juga membahas salah satu puisi Sunda bersejarah yang paling kecil berpengaruh yaitu
Séwaka Darma.


Dengan melihat kemunculan mulanya puisi Sunda dalam tulisan tangan-naskah Sunda kuno ini, paling kecil bukan roh puisi Sunda itu hingga waktu ini sudah makin dari lima abad.


Pertautan

Takdirnya kita cermati syair Sunda seperti yang tersurat di dalam naskah-skenario Sunda kuno maka kita akan mematamatai pertautan puisi tersebut dengan bentuk sastra yang semenjak dari India. Bukan hanya ceritanya yang merupakan terjemahan bermula khazanah sastra India, namun rajah nya lagi menggunakan konseptual okta- silabel puas setiap lariknya. Bentuk puisi efik ini ini bisa kita bandingkan dengan  syair
puisi lama. Undang Ahmad Darsa pernah mengatakan bahwa sangkutan
pantun
dengan
naskah
ini bisa diibaratkan dengan karya sejarahwan dan sineas.


Sisindiran


saling memalang dengan bentuk-bentuk syair pantun dalam sastra Nusantara.
Sa’ir
berpotongan dengan sastra Arab.
Pupuh
bersilang dengan sastra Jawa.
Tembang
bertaut dengan tembang Indonesia dan dunia pada umumnya.

Dilihat dari kacamata pandang ini sastra Sunda bukanlah sastra nan melesit sekadar merupakan babak dari sastra Nusantara terlebih mayapada.


Tembang Sunda Sekarang

Dalam sastra Sunda, bentuk puisi yang satu tidak mengalahkan bentuk syair nan lain. Bentuk puisi yang suatu berjalin berkelindan dengan bentuk puisi yang tidak. Akan tetapi, pasti saja, selalu ada bentuk tembang yang menonjol dari rangka syair lainnya.

Puisi-puisi intern naskah Sunda kuno suatu saban suatu telah dialihaksarakan ke dalam huruf Latin dan dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Hal itu menjadikan naskah sunda kuno mulai dapat dipahami isinya. Menurut cacatan Undang Ahmad Darsa (2011: ) ada 14 tulisan tangan Sunda bersejarah berbentuk puisi yang sudah tergarap oleh para sarjana, di antaranya, ialah
Séwaka Darma, Carita Ratu Pakuan, Carita Purnawijaya, Kawih Paningkes, Jatiraga, Darmajati,
dan
Sang Hyang Raga Dewata.

Syair-puisi
aji-aji
dan
puisi lama
masih diamalkan intern kehidupan, terutama di desa atau di kampung adat. Di desa Kanekes maupun nan lebih popular disebut Baduy, puisi
mantra
dan
kelong
masih menjadi adegan pecah kehidupan sehari-musim. Semacam itu pun di kampung adat bukan seperti Ciptagelar, Sirnarasa, Kampung Dukuh atau Kampung Naga. Masyarakat di desa dan kampung-kampung tersebut masih terlampau erat berhubungan dengan spirit alamnya. Pari yang ialah kas dapur siasat dihormati sebagai reinkarnasi dari Dewi Sri.

Puisi
sa’ir
masih terdengar dilantunkan terbit corong pengeras suara mesjid di desa-desa. Puisi ini merupakan bgaian berpunca tradisi pesantren. Musim 2022 Ajip Rosidi meluncurkan buku kompilasi Puisi
Pupujian. Hasil penelitian Tini Kartini dkk. berjudul
Tembang Pupujian dalam Bahasa Sunda
terbit waktu 1986. Dengan diberi judul
nadoman
R. Hidayat Suryalaga batik ribuan
sa’ir
yang menjadi lampiran saritilawah Al-Qur’an dalam bentuk
pupuh
yang telah bersumber terlebih dahulu. Sa’ir-sa’ir karya R. Hidayat Suryalaga yang telah terbit di antaranya
Nadoman Nurul Hikmah Daras 1
(2003),
Nadoman Nurul Hikmah Daras 1, 2,3
(2003),
Nadoman Nurul Hikmah Daras 30
(2004), dan
Nadoman Nurul Hikmah Daras 4, 5
(2006).

Puisi
pupuh
juga masih atma. Ajip Rosidi menerbitkan antologi
Guguritan
dan
Wawacan
(2011) sebagai babak mulai sejak Puisi Sunda. Dyah Padmini menulis koleksi puisi
Jaladri Tingtrim: Koleksi Dangding
(2000) dan mendapat hadiah Rancage. R. Hidayat Suryalaga menerbitkan buku Nur
Belas kasih: Saritilawah Basa Sunda Al-Qur’an winangun Pupuh
(2000).
Sisindiran
atau dalam sastra Jawi juga masih ditulis. Setidaknya suka-suka dua kancing yang bermula pada perian 2022 yaitu
Sisindiran jeung Wawangsalan Anyar
(2011) karya Dedy Windyagiri dan
Sisindiran
(2011) karya Adang S.

Puisi
tembang
dan
kawih
kembali masih jiwa dan terus diciptakan. Tembang Sunda Cianjuran dan lagu-lagu pop Sunda masih diminati. Selalu cak semau penerus intern kedua puisi tersebut.


Gending karesmén


yang agak sukar. Karena rajah puisi ini terpesona dengan pementasannya. Pementasan
gending karesmén
ini sangat pelik karena membutuhkan kemampuan seni celaan, irama, dan seni peran. Namun bukannya tidak ada.

Yang paling banyak ditulis dan dipublikasikan pasti saja adalah sajak. Sejak kemunculannya di musim 50-an sajak Sunda sudah lebih dari 40 buku nan terbit dan Ajip Rosidi dalam rahasia
Sajak Sunda
(200) mengingat-ingat tidak sedikit bersumber 130 penyair. Tentu tidak semua penyair terdaftar privat buku tersebut. Galibnya sajak-syair yang dimuat intern koleksi tersebut, lebih lagi dahulu dimuat di media konglomerasi cetak beradat Sunda baik jurnal atau majalah. Ki alat yang kini masih memuat puisi-tembang Sunda tersebut di antaranya
Manglé, Galura. Cupumanik, Ujung Galuh,
dan
Sunda Midang
.

Sejak kemunculan para pionir sajak Sunda selanjutnya pelalah diikuti dengan kemunculan penyair berikutnya. Setelah generasi KTS dan Kis Ws, Sayudi dan Ajip Rosidi, unjuk generasi Rachmat M. Sas Karana, Abdullah Mustappa, Godi Suwarna, Etti R.S, Acep Zamzam Noor, Hadi AKS, Chye Retty Isnendes, Nunu Nazaruddin Azhar, Deni Ahmad Fajar, Dian Hendrayana, Dede Syafrudin, Eris Risnandar, setakat penyair Ari Andriansah.

Selain adanya media tempat pemuatan, yang memungkinkan tembang Sunda berkembang yaitu karena adanya bagan baik negeri ataupun swasta dan perseorangan yang memberi dukungan kepada pertumbuhan puisi Sunda.

Untuk penyair sastra Sunda nan asian bisa semata-mata engkau memperoleh anugerah berkali-bisa jadi. Misalnya sira mendapatkan pemberian untuk sajaknya yang diikutkan kerumahtanggaan perlombaan. Saat sajak itu dimuat dalam majalah
Manglé
dapat saja sajaknya membujur belas kasih bulanan. Dan bisa saja puisi tersebut mendapat kembali anugerah dari LBSS yang dibetikan setiap tahun. Jika sajak-sajak ibukukan, mungkin saja ia mendapat Hadian Sastra Rancagé.


Pamungkas

N domestik sastra Sunda, yang dimaksud dengan puisi tidaklah partikular, tetapi jamak. Puisi Sunda mencengam bentuk-buram syair
tulisan tangan, jangjawokan, pantun, sisindiran, pupujian, sawér, guguritan, wawacan, gending karesmén, tembang, kawih, sajak
, dan
drama berbentuk sajak.

Menurut perkiraan puisi Sunda tertua adalah tembang oral, dengan asumsi bahwa eksistensi bahasa dan sastra lisan memimpin bahasa dan sastra tulis. Akan tetapi, data yang ada menunjukkan bahwa sajak lisan tersebut pada rata-rata bau kencur ditulis pada awal abad ke-20. Maka dari itu karena itu, rambu awal puisi Sunda dirujuk pada naskah nan terbit pada abad 15.

Mengaram bentuk-rencana puisi Sunda kita menyibuk pertautannya dengan yuridiksi sastra yang lain. Syair-sajak yang ditulis dalam skrip menunjuk-nunjukkan kuatnya pengaruh Hindu-Budha dan peradaban India, yaitu bentuk puisi anusbut alias delapan tungkai kata. Pupujian dan sawer memperlihatkan kuatnya pengaruh sastra Arab terutama. Kerumahtanggaan
guguruitan,
wawacan,
syair
yuridiksi Jawa memadai kuat. Dan privat puisi
puisi
kekuasaan sastra Indonesia dan Barat lagi abadi. Dengan demikian membaca puisi Sunda juga sekaligus mendaras jejak puisi dunia.

Bentuk-bentuk puisi Sunda itu masih hidup dan terus dihidupkan. Tembang-puisi intern
naskah
kuno masih terus dibaca oleh para jauhari sastra Sunda,
pupujian
masih terdengar bermula corong pengeras celaan mesjid,
kawih
dan
tembang
masih didendangkan,
sajak
Sunda masih ditulis, dibacakan, dilombakan dan diterbitkan. Semua itu bukan terlepas dari eksistensi lembaga pendidikan, studi, bengkel seni, dan publik sastra yang n kepunyaan kecintaan dan amal yang panjang terhadap jalan puisi Sunda.

Masih banyak yang belum dibicarakan dalam coretan ini, doang bak pengantar diskusi saya cukupkan sekian.


Daftar  Pustaka

Darsa, Undang Ahmad. 2022.
Kodekologi Sunda: Sebuah Dinamika Identifikasi dan Inventerisasi Tradisi Pernaskahan. Bandung.

—————————-. 2022. “Séwaka Darma
n domestik Skenario Tali peranti Sunda Kuno Abad XV-XVII Masehi”. Disertasi. Bandung: Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Budaya, Perserikatan Padjadjaran.

Iskandarwassid. 1992.
Kamus Istilah Sastra: Pangdeudeul Pangajaran Sastra Sunda. Bandung: Geger Sunten.

Noorduyn, J. dan A. Teeuw. 2009.
Tiga Pesona Sunda Kuna. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan, Tien Wartini dan Undang Ahmad Darsa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Rosidi, Ajip. 2007.
Syair Sunda: Puisi Sunda Jilid III. Bandung: Kiblat Buku Terdahulu.

Sastrawijaya, Maryati. 1995. “Aneka Puisi Sunda” privat Edi S. Ekadjati, Ade Kosmaya dan Wilson Nadeak.
Nusa, Nasion dan Bahasa.
Bandung: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran dan Yayasan Pustaka Wina. Hlm. 45-55.

Disampaikan kerumahtanggaan Seminar Internasional dan Persuaan Penyair Nusantara (PPN)-VI Jambi 2022 dan dimuat


dalam buku
Menyanggang
Batang
Tenggelam
(Dewan Kesenian Jambi, 2022).



Source: http://najmulmuhtadin.blogspot.com/2013/04/puisi-sunda.html