Peran Nu Dalam Kemerdekaan Indonesia

Pecihitam.org
– Nahdlatul Ulama (NU) sejak kelahirannya merupakan kancah perjuangan bikin menentang segala rajah penjajahan dan merebut kebebasan negara Republik Indonesia berpokok penjajah Belanda dan Jepang, sekaligus aktif mengamalkan dakwah-dakwahnya lakukan senantiasa menjaga kesatuan negara Republik Indonesia dalam bekas NKRI.


Pecihitam.org, bisa Istiqomah melahirkan artikel-kata sandang keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Anda dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan masuk menyebarkan kata sandang ini ke kanal-susukan sosial media kamu ataupun terlebih ia dapat ikut Berdonasi.



DONASI Masa ini

Belanda laksana bangsa nan paling lama memintasi nasion Indonesia mutakadim melakukan banyak kebijakan-kebijakan nan dulu merugikan rakyat Indonesia. Sikap kolonial Belanda telah mengintensifkan jauhar-jauhar ketidak puasan bangsa Indonesia sehingga para pemuka agama menghimpun kepentingan melampaui dunia pesantren diantaranya adalah Nahdlatul Ulama (NU).

Ditambah adanya beberapa program kristenisasi yang digalakkan maka itu penjajah Belanda di bumi nusantara ini menjadikan Nahdlatul Ulama kambuh menghimpun tentara-laskar kemustajaban (ḥizbullāh) buat membalas penjahan Belanda yang dianggap kafir dan
dhalim.

NU dengan segala kemujaraban yang ada plong tingkat peguyuban masyarakatnya secara universal memberikan kontrol yang mengakibatkan munculnya kelompok baru yang disebut ulama dan santri, nan kemudian karena fungsi NU ini semakin lama semakin kuat, maka maka dari itu penjajah Belanda kepingin dijauhkan dari kontrol politiknya.

Bagaimana NU kerumahtanggaan peranannya yang sejenis itu besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, mempertahankan kesempurnaan NKRI dapat dilihat atas satah bokong lahirnya ormas terbesar di dunia Nahdlatul Ulama (NU).

Paling tidak ada tiga alasan besar yang melatarbelakangi lahirnya Nahdlatul Ulama 31 Januari 1926, yaitu Pertama, motif agama. Kedua, motif mempertahankan perseptif
Ahlu al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah, dan ketiga, motif nasionalisme.

Pertama
ialah Agama. Agama menjadi salah satu peran bermanfaat intern membuat misi dakwah Islam.  Yaitu mengembangkan Islam dengan pemahaman
Ahlu al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah. Tidak cuma itu, selain kerumahtanggaan matra pemahan Aswaja.

Rona pemahan agama Islam nan di kembangan oleh Nahdlatul Cerdik pandai adalah corak agama yang kultural yang tidak meningkalkan aspek budaya dan tardisi yang terserah di masyarakat. Dalam hal ini, bisa kita ucap dengan membumisasikan agama dengan radiks budaya.

KH. Said Aqil Sirodj
lagi pernah mengatakan bahwa Islam adalah berbunga dari kata
salam
( Selamat, Keselamatan ). Artinya Islam adalah agama yang memberikan kenyamanan dan keselamatan. Tidak terserah keselamatan dan pelindungan selain Almalik. Sehingga n domestik motif Agama Islam dalam hal ini adalah agama yang memberikan keselamatan, ketenangan, kenyamanan dan ketentraman.

Kedua,motif perseptif
Ahlu al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah
maupun Aswaja. Aswaja menjadi identitas teologis yang diperebutkan oleh berbagai arus maupun organisasi Selam. Tidak abnormal sirkuit maupun organisasi yang mengklaim dirinya bagaikan Aswaja. Justru karena menjadi gelanggang perebutan klaim inilah maka rekonstruksi menjadi berfaedah dilakukan.

Persoalannya tak barangkali yang minimal benar dan paling berwenang disebut sebagai penyanjung Aswaja, tetapi mana yang dapat menjadikan ponten-ponten Aswaja sebagai basis lakukan menjalankan aktivitas sehari-musim dalam berbagai macam bidang kehidupan termasuk dalam berjuangan dalam kebebasan Indonesia.

Ketiga, motif chauvinisme. Motif nasionalisme ketimbul karena NU lahir dengan niatan abadi bagi memusatkan para ulama dan tokoh-biang keladi agama dalam melawan penjajahan. Semangat nasionalisme itu pun terlihat juga dari nama Nahdlatul Jamhur itu sendiri yakni “Kebangkitan Para Ulama”. NU pimpinan Hadhratus Syaikh
KH. Hasyim Asy’ari
sangat nasionalis.

Sebelum RI merdeka, para perjaka di heterogen provinsi mendirikan organisasi bersifat kesukuan, seperti Jong Cilebes, Pemuda Betawi, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, dan sebagainya, akan tetapi kiai-bapak NU justru mendirikan organisasi pemuda bersifat nasionalis. Pada tahun 1924 para teruna pesantren mendirikan
Shubban al-Waṭān
(Bujang Petak Air).

Jika kita melihat tiga motif NU dalam mempertahankan Islam maka konsep usaha Islam atau Ormas Islam Nahdlatul Cerdik pandai (NU) yang mencintai bangsa Indonesia. Dalam wujud memerangi kolonialis Belanda dengan mendirikan
Shubban al-Waṭān
(Pemuda Tanah Air). Hingga sekarang, kehidupan perbangkangan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi tola ukur penting kerumahtanggaan meluaskan Indonesia yang berkebangsaan.

  • Author
  • Recent Posts

M. Dani Habibi, M. Ag

Source: https://www.pecihitam.org/peran-penting-nahdlatul-ulama-dalam-memperjuangkan-kemerdekaan-indonesia/

Posted by: caribes.net