Perbedaan 4 Madzhab Dalam Shalat

Ilustrasi gerakan sholat ; Ilustrasi sholat : tahmid , ruku’, sujud, ; Fahmi sholat ; sembahyang, tahiyat

Oleh:Ilda Hayati,Lc., MA

I. Pengertian Sholat

Secara etimologi shalat berfaedah do’a

sedangkan menurut istilah Shalat adalah ibadah kepada Almalik yang terdiri dari perkataan dengan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam .

II. Dalil yang Mewajibkan Shalat

Dalil yang mewajibkan shalat banyak sekali, baik dalam Al Qur’an maupun dalam Hadits nabi Muhammad SAW.

a) Dalil wajbnya sholat berdasarkan firman Allah SWT

Dalam al Qur’an terdapat perintah buat mengerjakan sholat , antara enggak berbunyi;

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa namun yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu ia akan bernasib baik pahala nya pada jihat Allah. Sesungguhnya Alah Maha Menyibuk apa-apa nan kamu kerjakan.(Piagam Al Baqarah Ayat 110)

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Dan dirikanlah Shalat, dan keluarkanlah Zakat, dan ruku’lah bersama-separas cucu adam nan ruku”
(QS.Al Baqarah;43)

وَاَقِمِ الصَّلَوةَ صلى اِنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ

Kerjakanlah shalat, sepatutnya ada shalat mencegah kelakuan nan ki busuk dan mungkar”(QS. Al-Ankabut;45)

Masih banyak lagi ayat lainnya yang menguraikan akan halnya kewajiban melaksanakan sholat ini

b) Perintah shalat juga terdapat privat sabda nabi Muhammad SAW, diantaranya :

1] Dari Jabir kacang ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pewatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran yaitu meninggalkan shalat.”
(HR. Muslim no. 257).

2] Hadits Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu, ia berbicara, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهُ فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang pergi shalat bermanfaat sira dahriah.”
(HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu internal Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 574 dan lagi dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib hal. 299) [Lihat Tharhut Tatsrib, 1/323]

3] Hadits ‘Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ، كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدًا يُدْخِلُهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شاَءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ

Shalat lima waktu Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya. Bisa jadi yang mengerjakannya tanpa menyia-nyiakan di antara kelima shalat tersebut karena meremehkan keberadaannya maka ia mendapatkan janji berbunga jihat Allah bikin Allah masukkan ke suwargaloka. Namun siapa yang tidak mengerjakannya maka tidak suka-suka baginya janji dari sisi Yang mahakuasa, jika Allah menuntut Allah akan mengadzabnya, dan jika Allah menghendaki maka Allah akan mengampuninya.”
(HR. Abu Dawud no. 1420 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)

4] Perintah untuk menyuruh anak mengerjakan sholat sejak berusia 7 tahun

عَنْ عَمْرو بْنِ شُعَيْبِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

( مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَ هُمْ أَبْنَاءُ سَبْعَ سِنِيْنَ، وَ اضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَ هُمْ أَبْنَاءُ عَشْرَ سِنِيْنَ، وَ فَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ )

Artinya:
“Dari ‘Amr Bin Syu’aib dari bapaknya berpangkal kakeknya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersuara,: “Perintahkanlah anak-anak asuh kalian bakal shalat momen mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka lain mengerjakan shalat puas vitalitas deka- tahun, dan (pada usia tersebut) pisahkanlah gelanggang tidur mereka.”
(Hadits shahih; Shahih Ibnu Majah (5868), Kaisar Bubuk Daud (2/162/419) lafazh hadits ini adalah riwayat Serdak Daud, Ahmad (2/237/84), Hakim (1/197))

Sholat mempunyai beberapa berdamai, syarat syah, sunat sholat dan yang membatalkan sholat

1. Akur Sholat Menurut Catur Mazhab

Rukun shalat adalah setiap perkataan ataupun kelakuan nan akan membentuk hakikat shalat. Jika salah satu damai ini tidak ada, maka shalat lain jamak, tidak teranggap secara syar’i, dan juga tidak bisa diganti dengan sungkem sahwi.

1) Damai Shalat menurut Mazhab Hanafi:

Menurut Mazhab Hanafi berdamai Sholat ada 6, yakni :

1. Takbiratul Ihram

2. Ngeri

3. Mendaras Al-Fatihah

4. Ruku’ (Sunnah mengaji Tasbih)

5. Sungkem

6. Duduk Tasyahud Pengunci

2) Rukun Shalat menurut Mazhab Maliki:

Menurut Mazhab Maliki berdamai Sholat ada 13, yakni:

1. Karsa

2. Takbiratul Ihram

3. Berdiri

4. Membaca Al-Fatihah

5. Ruku’ (Sunnah membaca Tasbih)

6. I’tidal/Bangun berpokok Ruku’

7. Sujud

8. Duduk antara 2 sujud

9. Duduk Tasyahud Akhir

10. Membaca Tasyahud Intiha

11. Membaca Shalawat Nabi

12. Salam

13. Tertib

3) Rukun Shalat menurut Mazhab Syafi’i:

Menurut Mazhab Syafi’i Rukun Sholat ada 13, yakni:

1. Niat

2. Takbiratul Ihram

3. Mengirik

4. Membaca Al-Fatihah

5. Ruku’ (Sunnah membaca Tasbih)

6. I’tidal/Bangun semenjak Ruku’

7. Sujud

8. Duduk antara 2 sujud

9. Duduk Tasyahud Intiha

10. Membaca Tasyahud Akhir

11. Membaca Shalawat Nabi

12. Salam

13. Tertib

4) Rukun Shalat menurut Mazhab Hambali:

Menurut Mazhab Hambali Rukun Sholat ada 13, yakni

1. Takbiratul Ihram

2. Berdiri

3. Mendaras Al-Fatihah

4. Ruku’ (Teristiadat mendaras Rosario)

5. I’tidal/Sadar berbunga Ruku’

6. Sujud

7. Duduk antara 2 sujud

8. Duduk Tasyahud Akhir

9. Membaca Tasyahud Akhir

10. Membaca Shalawat Nabi

11. Salam

12. Tertib

13. Tuma’ninah

Disini boleh kita lihat,dimana mazhab Hanafi termasuk yang paling sedikit dalam menjadwalkan kuantitas akur shalat, namun 6 saja. Sementara cerdik pandai bukan berpendapat rukun sholat ada 13, walaupun juga terdapat sekali lagi perbedaan dal hal yang 13 tersebut.

Penyebab Perbedaan

a. Kerumahtanggaan Hal Karsa

Ulama berbeda pendapat dalam keadaan apakah karsa ini termasuk berdamai maupun enggak sebagaimana nan sudah dijelaskan diatas, sekadar ulama berbeda pendapat mengenai hukum melafalkan niat shalat kapan menjelang takbiratul ihram

Menurut kesepakatan para penganut mazhab Pater Syafi’iy (Syafi’iyah) dan pemuja mazhab Pendeta Ahmad bin Hambal (Hanabilah) yaitu sunnah, karena melafalkan niat sebelum takbir boleh kondusif untuk mengingatkan hati sehingga membuat seseorang kian khusyu’ dalam melaksanakan shalatnya.

Jika seseorang salah dalam melafalkan niat sehingga enggak sesuai dengan niatnya, begitu juga melafalkan niat shalat ‘Ashar tetapi niatnya shalat Dzuhur, maka yang dianggap yaitu niatnya tidak lafal niatnya. Sebab barang apa yang diucapkan oleh mulut itu (shalat ‘Ashar) bukanlah niat, ia hanya membantu mengingatkan hati. Salah tutur lain mempengaruhi niat dalam hati sepanjang niatnya itu masih bermoral.

Menurut pengikut mazhab Padri Malik (Malikiyah) dan pengikut Imam Abu Hanifah (Hanafiyah) bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbiratul ihram tidak disyari’atkan (bid’ah), kecuali cak bagi orang yang terkena penyakit was-was (peragu terhadap niatnya seorang). Menurut penjelasan Malikiyah, bahwa melafalkan kehendak shalat sebelum takbir menyalahi keutamaan (khilaful aula), tetapi bagi insan yang terkena penyakit was-was syariat melafalkan niat sebelum shalat merupakan sunnah. Sedangkan penjelasan al Hanafiyah bahwa melafalkan karsa shalat sebelum puji-pujian adalah bid’ah, namun dianggap baik (istihsan) melafalkan karsa bagi orang nan terjangkit kelainan was-was.

Bawah kebolehan melafalkan kehendak dalam satu ibadah wajib berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw bilamana melaksanakan ibadah haji.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً

“Berasal Anas r.a. bercakap:
Saya mendengar Rasullah saw menitahkan, “Labbaika, aku sengaja mengamalkan umrah dan haji”.”
(HR. Muslim).

Memang ketika Rasul Muhammad SAW melafalkan niat itu dalam menjalankan ibadah haji, bukan shalat, wudlu’ atau ibadah puasa, semata-mata tidak berarti selain haji tidak bisa diqiyaskan atau dianalogikan sepadan sekali atau ditutup sewaktu-waktu bikin melafalkan kehendak, ini menurt pendapat yang mengatakan hukum menitahkan niat itu sunnah.

Menurut cerdik pandai fiqh, niat diwajibkan internal dua keadaan. Pertama, untuk menyingkirkan antara ibadah dengan rasam (kebiasaan), sebagaimana membedakan orang yang beri’tikaf di sajadah dengan cucu adam yang mengadem di surau. Kedua, untuk membebaskan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, seperti membedakan antara shalat Dzuhur dan shalat ‘Ashar.

Karena melafalkan karsa sebelum shalat tidak termasuk kerumahtanggaan dua kategori tersebut hanya pernah dilakukan Nabi Muhammad kerumahtanggaan ibadah hajinya, maka hukum melafalkan niat adalah sunnah. Imam Ramli mengatakan:

وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ

“Disunnahkan melafalkan niat menjelang tahlil (shalat) mudahmudahan mulut boleh membantu (kekhusyu’-an) hati, moga terhindar dari gangguan hati dank tempat menghindar dari perbedaan pendapat yang memerintahkan melafalkan karsa”.
(Nihayatul Muhtaj, juz I,: 437)

Makara, kelebihan melafalkan karsa ialah untuk mengingatkan hati hendaknya makin siap dalam melaksanakan shalat sehingga dapat menunda pada kekhusyu’an. Karena melafalkan niat sebelum shalat hukumnya sunnah, maka seandainya tergarap dapat pahala dan jikalau ditinggalkan enggak berdosa.

Semua ulama mazhab sepakat bahwa membuka niat dengan alas kata-kata tidak harus,malar-malar manurut mazhab ada perbedaan pendapat kerumahtanggaan hal menitahkan niat ini, dimana menurut. Ibnu Qayyim berpendapat dalam bukunya Zadul Ma’ad, begitu juga dijelaskan dalam jilid pertama internal buku Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, bagaikan berikut : Nabi Muhammad saw bila menegakkan shalat, anda langsung mengucapkan “Allahu akbar” dan anda tidak menitahkan apa-apa sebelumnya, dan tidak melafalkan niat kadang kala.

Inilah dasar bagi cerdik pandai yang mengatakan bahwa mengucapkan niat sholat tersebut adalah bid’ah, sementara hadis nan menguraikan tentang niat sebelum sholat beralaskan perkataan nabi diatas adalah tidak tepat, karena andaikan sholat lagi diperintahkan mengucapkan niat, tentulah Rasulullah akan mewajibkan pun sama dengan diperintahkan serempak akan melakukan ibadah haji dan umrah tersebut, namun tak satupun hadis yang menjelaskan masalah tersebut. Sehingga mengqiaskan mengucapkan niat sholat kepada niat haji adalah mengqiaskan dua hal yang berbeda…

2. Takbiratul Ihram

Jamhur sepakat mengatakan bahwa takbiratul ihram termasuk rukun sholat“Sentral shalat adalah bersuci, dan yang mengharamkannya (dari perbuatan sesuatu selain ragam-perbuatan shalat) adalah wirid, dan penghalalnya adalah salam.”

  • Maliki dan Hambali : kalimat takbiratul ihram merupakan “Allah Akbar” (Allah Maha Ki akbar) bukan dapat menggunakan kata-introduksi lainnya.
  • Syafi’i : boleh mengganti “Allahu Akbar” dengan ”Allahu Al-Akbar”, ditambah dengan alif dan lam pada prolog “Akbar”.
  • Hanafi : boleh dengan pengenalan-kata enggak yang sesuai atau selaras artinya dengan kata-kata tersebut, seperti “Allah Al-A’dzam” dan “Allahu AlAjall” (Allah Yang Maha Agung dan Allah Yang Maha Mulia).
  • Khilaf Ulama
  • Syafi’i, Maliki dan Hambali cocok bahwa mengucapkannya privat bahasa Arab adalah perlu, biarpun basyar yang shalat itu yaitu khalayak ajam (tak orang Arab).
  • Hanafi : Halal mengucapkannya dengan bahasa apa saja, walau yang bersangkutan bisa bahasa Arab.
  • Semua ulama mazhab sepakat : syarat takbiratul ihram adalah semua yang disyaratkan kerumahtanggaan shalat. Kalau bisa melakukannya dengan berdiri; dan privat menitahkan kata “Allahu Akbar” itu harus didengar koteng, baik terdengar secara persisten oleh dirinya, atau dengan taksiran jika ia tuli.

3. Meleleh

Semua jamhur mazhab sepakat bahwa berdiri dalam shalat fardhu itu wajib sejak start berpokok takbiratul ihram sampai ruku’, harus tegap, bila bukan berharta beliau boleh shalat dengan duduk. Bila tidak mampu duduk, kamu dapat shalat dengan genyot pada bagian kanan, seperti letak orang yang meninggal di liang lahat, menghadapi kakbah di hadapan badannya, menurut kesepakatan semua ulama mazhab selain Hanafi. Hanafi berpendapat : siapa yang lain bisa duduk, dia boleh shalat terlentang dan menghadap kiblat dengan dua kakinya sehingga isyaratnya dalam ruku’ dan sungkem patuh menghadap kiblat.

• Apabila tidak kreatif serong ke kanan, maka menurut Syafi’i dan Hambali kamu dapat shalat terlentang dan kepalanya menghadap ke kiblat. Bila tidak makmur sekali lagi, ia harus mengisyaratkan dengan kepalanya atau dengan pelupuk matanya.

• Hanafi : bila sampai puas tingkat ini tetapi tidak berkecukupan, maka gugurlah perintah shalat baginya, namun anda harus melaksanakannya (meng-qadha’-nya) bila mutakadim sembuh dan hilang sesuatu nan menghalanginya.

• Maliki : bila sampai seperti ini, maka gugur perintah shalat terhadapnya dan tidak diwajibkan meng-qadha’-nya.

• Syafi’i dan Hambali : shalat itu tidaklah ranggas dalam keadaan apa lagi. Maka bila tak mampu menyemboyankan dengan pelupuk matanya (kedipan mata), maka engkau harus shalat dengan hatinya dan memotori lisannya dengan dzikir dan membacanya. Bila kembali tak mampu untuk memprakarsai lisannya, maka ia harus memvisualkan tentang melakukan shalat di dalam hatinya selama akalnya masih berfungsi.

2. Takbiratul Ihram

  • Ulama sekata mengatakan bahwa takbiratul ihram termasuk rukun sholat“Rahasia shalat adalah bersuci, dan nan mengharamkannya (dari perbuatan sesuatu selain perbuatan-ragam shalat) adalah ratib, dan penghalalnya yakni salam.”
  • Maliki dan Hambali : kalimat takbiratul ihram yaitu “Allah Akbar” (Tuhan Maha Besar) tidak dapat menggunakan kata-kata lainnya.
  • Syafi’i : boleh mengganti “Allahu Akbar” dengan ”Allahu Al-Akbar”, ditambah dengan alif dan lam pada perkenalan awal “Akbar”.
  • Hanafi : bisa dengan pengenalan-kata lain yang sesuai alias sekelas artinya dengan kata-alas kata tersebut, sebagaimana “Allah Al-A’dzam” dan “Allahu AlAjall” (Allah Yang Maha Agung dan Allah Yang Maha Mulia).
  • Khilaf Ulama
  • Syafi’i, Maliki dan Hambali sepakat bahwa mengucapkannya dalam bahasa Arab adalah teristiadat, walaupun orang yang shalat itu merupakan insan ajam (enggak orang Arab).
  • Hanafi : Sahih mengucapkannya dengan bahasa segala doang, walau nan bersangkutan bisa bahasa Arab.
  • Semua jamhur mazhab sepakat : syarat takbiratul ihram adalah semua yang disyaratkan dalam shalat. Jikalau boleh melakukannya dengan mengirik; dan dalam mengucapkan introduksi “Allahu Akbar” itu harus didengar sendiri, baik terdengar secara keras oleh dirinya, atau dengan perkiraan jikalau ia tuli.

3. Berdiri

Semua ulama mazhab sepakat bahwa berdiri kerumahtanggaan shalat fardhu itu wajib sejak mulai berpokok takbiratul ihram sampai ruku’, harus tegap, bila tak mampu ia boleh shalat dengan duduk. Bila bukan mampu duduk, anda boleh shalat dengan miring lega fragmen kanan, begitu juga letak orang nan meninggal di gorong-gorong lahat, menghadapi kiblat di hadapan badannya, menurut kesepakatan semua cerdik pandai mazhab selain Hanafi. Hanafi berpendapat : siapa nan tidak dapat duduk, ia boleh shalat terlentang dan menentang kiblat dengan dua kakinya sehingga isyaratnya privat ruku’ dan sujud loyal menjurus kakbah.

Apabila tak mampu mengsol ke kanan, maka menurut Syafi’i dan Hambali ia bisa shalat terlentang dan kepalanya cenderung ke kakbah. Bila tidak mampu kembali, dia harus mengisyaratkan dengan kepalanya atau dengan kelopak matanya.

Hanafi : bila sampai pada tingkat ini semata-mata enggak kreatif, maka gugurlah perintah shalat baginya, hanya sira harus melaksanakannya (meng-qadha’-nya) bila mutakadim sembuh dan hilang sesuatu nan menghalanginya.

Maliki : bila sebatas seperti ini, maka luruh perintah shalat terhadapnya dan tidak diwajibkan meng-qadha’-nya. •

Syafi’i dan Hambali : shalat itu tidaklah gugur dalam keadaan apa pun. Maka bila tidak mampu mengisyaratkan dengan kelopak matanya (kerlipan mata), maka ia harus shalat dengan hatinya dan menggerakkan lisannya dengan dzikir dan membacanya. Bila pula tidak mampu cak bagi menggagas lisannya, maka engkau harus menyantirkan akan halnya melakukan shalat di dalam hatinya sejauh akalnya masih berfungsi.

4. Membaca al-Fatihah yakni rukun sholat,– Kendatipun terserah perbedaan pendapat dalam hal keharusan mengaji al-fatihah ini (akan dibahas puas pembahasan hukum membaca al-Fatihah dan Bismillah diawal al-Fatihah internal sholat

5. Rukuk. Semua ulama mazhab sepakat bahwa ruku’ adalah wajib di kerumahtanggaan shalat.

Hanya mereka berbeda pendapat mengenai wajib atau tidaknya ber-thuma’ninah di privat ruku’, merupakan momen ruku’ semua anggota fisik harus diam, bukan bergerak.

 Hanafi : nan diwajibkan sahaja semata-indra penglihatan membungkukkan badan dengan literal, dan tak wajib thuma’ninah, membaca tasbih sreg waktu rukuk cuma sunnah saja. Juga Syafi’i dan Maliki : tidak wajib berdzikir ketika shalat, saja disunnahkan saja mengucapkan tasbih .

 Mazhab lainnya : Hambali : membaca tasbih ketika ruku’ ialah wajib , teristiadat membungkuk sampai dua punggung tangan orang nan shalat itu berpunya puas dua lututnya dan juga diwajibkan ber-thuma’ninah dan diam (tak bergerak) ketika ruku’.

6. I’tidal

Hanafi : tidak wajib mengangkat kepala semenjak ruku’ yakni i’tidal (internal keadaan merembah). Dibolehkan bikin simultan sungkem, belaka hal itu makruh.

Mazhab-mazhab nan lain : perlu mengangkat kepalanya dan ber-i’tidal, serta disunnahkan membaca tasmi’, yaitu menitahkan : • Sami’allahuliman hamidah • ”Almalik mendengar basyar nan memuji-Nya”

7. Sujud :

semua cerdik pandai mazhab setuju bahwa sujud itu wajib dilakukan dua kelihatannya plong setiap rakaat. Perbedaan juga terjadi pada tasbih dan thuma’ninah di n domestik sujud, sebagaimana dalam ruku’. Maka mazhab yang mewajibkannya di dalam ruku’ pula mewajibkannya di dalam sungkem.

8. Duduk diantara dua sujud,

mazhab Hanafi : tidak diwajibkan duduk di antara dua sujud itu. Mazhab-mazhab yang lain : terbiasa duduk di antara dua sungkem

9. Tahiyyat (Tasyahud): tahiyyat/tasyahud di dalam shalat dibagi menjadi dua adegan : pertama yaitu tahiyyat yang terjadi sesudah dua rakaat mula-mula dari shalat maghrib, isya’, dzuhur, dan ashar dan bukan diakhiri dengan salam. Yang kedua adalah tahiyyat yang diakhiri dengan salam, baik pada shalat nan dua rakaat, tiga, alias empat rakaat

• Maliki, Syafi’i dan Hambali : tasyahud bontot merupakan wajib. dan Hanafi : hanya sunnah, bukan wajib.

Lafadz Tahiyat

Hanafi • Kalimat (lafadz) tahiyyat menurut Hanafi :
Attahiyatu lillahi washolawaatu waththoyyibaatu wassalaamu ’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuhAssalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin Asyhadu anlaa ilaaha illallah Wa asyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh

Maliki •
Attahiyyatu lillaahi azzaakiyaatu lillaahi aththoyyibaatu ashsholawaatu lillah Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin Asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah Wa asyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh

Syafi’i •
Attahiyyatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh

Hambali •
Attahiyyatu lillahi washsholawaatu waththoyyibaatu Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin Asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah Waasyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh Allahumma sholli ’alaa muhammad

10. Duduk Tasyahud akhir.

Semua mazhab sepakat bahwa duduk tasyahud akhir adalah bagian dari damai sholat.

11. Mengaji shalawat plong tasyahud akhir.

Hanafi , mengaji shalawat pada tasyahud akhir enggak teragendakan rukun sholat, mazhab lainnya cocok bahwa mengaji shalawat pada tasyahud penghabisan adalah bagian dari berdamai shalat.

12. Salam • Syafi’i, Maliki, dan Hambali : menyabdakan salam adalah teradat. Hanafi : tidak wajib.

13. Tertib. Syafi’i, Maliki, dan Hambali : Tertib merupakan rukun sholat. Hanafi : enggak termuat rukun sholat.

14. Tumakninah merupakan berbaik shalat menurut mazhab Hambali

*( Dosen Syariah STAIN Curup)

6,316 jumlah views,  4 views today

Source: https://mathlaulanwar.or.id/2018/06/27/tata-cara-shalat-menurut-4-mazhab/

Posted by: caribes.net