Pertunjukan Wayang Pada Mulanya Merupakan

Istilah Wayang mulai sejak berasal kata

ma hyang, wewayangan atau wayangan

yang berarti berorientasi kepada usia spritual, dewa alias Allah Nan Maha Esa. Di n domestik buku jawa kuno memuat perkenalan awal n komedi didong adalah ayang-ayang yang artinya gambaran fantasi adapun bayangan individu. Wayang patung dalam bahasa melayu berarti bayang-bayang. Dalam bahasa Bikol dikenal kata baying, artinya dagangan yang dapat dilihat secara nyata. Privat bahasa Aceh bayeng, bahasa Bugis wayang atau bayang (Lisbijanto, 2022).

Sejarah, Jenis-jenis dan Peralatan Kesenian Wayang

Kisah wayang kerucil diambil semenjak buku Mahabharata dan Ramayana. Kesenian wayang sudah lalu ada di Indonesia sejak zaman Imperium Hindu. Pergelaran wayang kulit yang bisa kita lihat momen ini sudah lalu melangkaui beberapa perkembangan semenjak bentuk dan ceritanya. Awalnya wayang digunakan sebagai upacara keyakinan oleh orang Jawa, hingga pada kesannya Selam oleh para Walisanga menggubahnya dengan maksud digunakan sebagai media dakwah Islam.

Sebelum Agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Cerita wayang yang tenar di masyarakat mutakhir yakni adaptasi dari karya sastra India, yakni Ramayana dan Mahabarata. Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut lega rukyah filosofis masyarakat Jawa terhadap singgasana para dewa dalam pewayangan. Ratu-raja Jawa pada saat itu mengedrop wayang ibarat kesenian yang n kepunyaan nilai nan panjang. Dalam beberapa hal, para Kanjeng sultan mengambil bagian-bagian mulai sejak wayang kelitik bikin dipakai perumpamaan lambang ketinggian.

Menurut Amir (1997) dan Mulyana (1989), bersendikan dari beberapa teori, radiks usul wayang golek dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Kerumunan Jawa

Beralaskan teori dari kelompok Jawa menganggap wayang-wayang patung berbunga dari Jawa. Teori ini dikemukakan oleh bilang tukang diantaranya Hazeu, Brandes, Rentse, Kats, dan Kruyt. Menurut Hazeu nan mengupas secara ilmiah tentang pertunjukan wayang kulit dan mengusut istilah-istilah alat angkut pertunjukan n komedi didong alat peraba, yaitu: Wayang golek, kelir, penggagas, blencong, kepyak, kotak dan cempala.

Menurut Hazeu, wayang berasal berpangkal jawa, alasannya adalah:

  1. Struktur wayang diubah menurut model yang amat tua.
  2. Mandu berbicara burik dalang (tingi invalid suaranya, bahasanya, dan ekspresi-ekspresinya) juga mengajuk leluri yang amat tua bangka.
  3. Desain teknis, gaya dan susunan lakon-lakon ini juga bersifat khas Jawa.

Brandes juga berpendapat bahwa wayang asli berasal dari Jawa. Alasannya wayang dekat sekali hubungannya dengan usia sosial, kultural dan religius masyarakat Jawa. Bahwa dalam wayang terletak cerita-narasi melayu Indonesia historis dan beberapa pentolan dalam wayang golek sama dengan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong mulai sejak dari Jawa. Di samping itu, bangsa Hindu mempunyai susuk wayang yang berbeda sekali dengan wayang Jawa. Akhirnya, Brandes menyatakan, semua istilah-istilah teknis dalam wayang merupakan istilah-istilah Jawa dan tidak Sanskrit. Demikian pula Kats dan Kruyt berpendapat bahwa wayang kerucil berasal berpunca Jawa, disertai dengan argumentasinya masing-masing kerjakan menguatkan pendapatnya.

b. Kelompok India

Teori nan menganggap bahwa wayang berpangkal dari India dikemukakan oleh teori berasal Pischel, Kram, Poensen, dan Ras. Pischel menyedang membuktikan asal usul wayang patung yang menurutnya dari India melangkaui frase alas kata Rupparupakam yang terdapat dari Mahabarata dan pembukaan Ruppapanjipane yang terwalak dalam Therigata, nan keduanya yang berarti teater gambaran.

Menurut Kram, wayang kerucil adalah satu penciptaan Hindu Jawa, akan halnya alasan argumentasinya adalah:

  1. Wayang ada di Jawa dan di Bali saja, merupakan dua daerah yang mengalami dominasi kebudayaan Hindu nan paling banyak.
  2. India lama mengenal teater gambaran.
  3. Wayang menggunakan bahan-bahan cerita berusul India.

Berpunca jabaran tentang teori-teori itu berharga belum bisa ditarik konklusi bahwa wayang kelitik berasal dari Jawa atau India. Bukti-bukti yang menyertai itu amat lenyai dan hanya berpatokan perkiraan-perkiraan doang.

Jenis-jenis Wayang kerucil

Menurut Ali (2010), Ismunandar (1994) dan Sunarto (1989), terdapat beberapa jenis wayang kerucil yang terserah di Indonesia, antara lain adalah sebagai berikut:

a. Wayang Purwa

Kata purwa dipakai bikin membedakan wayang spesies ini dengan wayang alat peraba lainya. N komedi didong purwa atau n komedi didong kulit purwa berarti semula (permulaan). Wayang pertama diperkirakan memiliki umur yang paling gaek diantara wayang patung alat peraba lainya. Wayang golek kulit purwa terbuat berasal bahan kulit kerbau nan ditatah, diberi warna sesuai dengan kaidah pulasa n komedi didong pedalangan, diberi tangkai semenjak bahan sungu kerbau bule, yang diselesaikan sedemikian rupa dengan nama cempurit, yang terdiri dari tuding dan gapit.

Sreg kebanyakan lakon (cerita) yang dibawakan kerumahtanggaan wayang mula-mula diambil berusul Ramayana dan Mahabarata. Kerangka wayang ini sangat berbeda dengan jasad manusia sreg rata-rata dan diukir dengan sistem tertentu sehingga perimbangan (neraca) antara fragmen satu dengan lainnya seimbang. Plong mulanya susuk wayang pertama didasarkan pada buram cukilan candi, lambat laun bentuk itu mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pribadi masyarakat Indonesia (Jawa).

beralaskan ukurannya, wayang purwa terdiri dari beberapa macam, yakni:

  1. N komedi didong Pedalangan. Diversifikasi wayang pedalangan ini ialah wayang selerang yang ukuran besarnya awam dipergunakan dalam masyarakat.
  2. N komedi didong Kaper. Wayang kaper adalah ukuran n komedi didong jangat nan terkecil. Pada umumnya wayang kerucil kaper diperuntukkan untuk anak-anak yang mempunyai bakat internal bidang pewayangan (pedalangan).
  3. Wayang Kidang Kencanan. Wayang kelitik kidang kencanan adalah pelecok satu tipe ukuran n komedi didong alat peraba yang bertambah lautan berbunga jenis wayang kerucil kaper. Varietas wayang ini juga selalu disebut kencana nan berharga menengah. Maksud dari pembuatan wayang jenis ini supaya bila digunakan dalam pentas bukan bersisa jarang.
  4. Wayang golek Ageng. Wayang ageng merupakan jenis ukuran wayang jangat yang terbesar terbit jenis nan enggak. N komedi didong ageng cak bagi keperluan pertunjukan pergelaran wayang tidak menyempurnakan syarat-syarat kepraktisan. Hal ini dikarenakan, wayang patung ini tak sesuai dengan kekuatan dalang cak bagi memainkannya dengan baik selama pertunjukan semalaman.

b. Wayang Gedog

Wayang gedog atau wayang kerucil panji atau wayang yang memakai cerita terbit serat panji yang adalah cerita raja-yang dipertuan Jenggala, yakni mulai dari Sinuhun Sri Ghataya (Subrata) sampai dengan Panji Kudalaleyan. Wayang ini mungkin mutakadim ada sejak zaman Majapahit, wayang gedog yang kita kenal masa ini, konon diciptakan oleh Sunan Giri plong tahun 1485 bilamana mewakili Sultan Demak yang medium melakukan penyerangan ke Jawa Timur. Sebutan wayang gedog berpunca berbunga pertunjukan n komedi didong gedog yang pertama tanpa iringan kecrek (besi), sehingga bunyi suara minor keprak, dog, dahulu dominan. Rancangan wayang gedog ini mirip dengan bentuk wayang purwa, tetapi tak menggunakan kili-kili supit urang pada gembong-tokoh rajanya. Pada n komedi didong jenis ini tidak diketemukan wayang-wayang kerucil raksasa dan wayang-wayang kerucil kera. Semua memakai kain kepala yang disebut hudeng gilig.

c. Wayang patung Madya

Wayang patung Madya adalah wayang kulit yang diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita wayang purwa dengan wayang gedog. Cerita wayang kerucil medium merupakan peralihan cerita purwa ke cerita panji. Salah satu narasi wayang kelitik madya yang terkenal adalah cerita Anglingdarma. Wayang madya lain sempat berkembang di luar mileu Pura Mangkunegaran. Puas umumnya wayang Madya gembong-motor raja tak memakai praba (sinar atau nimbus), suatu perhiasan nan dipakai puas jejak kaki setiap sri paduka, bagaikan lambang kedudukannya. Cara memakai kainnya yakni dengan apa nan dinamakan banyakan (laksana tabiat dendang laut).

d. Wayang golek Calonarang

Wayang patung calonarang juga sering disebut bak n komedi didong leyak, yakni keseleo suatu keberagaman wayang indra peraba Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-skor magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang kelitik ini pada dasarnya adalah atraksi wayang kelitik yang mengkhususkan lakon-lakon dari kisahan calonarang. Kekhasan pertunjukan wayang calonarang ini terletak pada ajojing sisiya-nya, yaitu dengan teknik permainan ngalinting dan episode ngundang-ngundang, dimana sang dalang membeberkan atau menyapa merek-stempel mereka yang mempraktekkan pangiwa.

e. Wayang kelitik Krucil

Wayang krucil pertama kali di ciptakan makanya pangeran Pekik dari Surabaya. Wayang ini terbuat dari bahan kulit dan bertakaran kecil sehingga lebih camar disebut dengan wayang Krucil. Dalam perkembangannya, wayang patung ini menggunakan alamat kayu gentat (dua dimensi) yang kemudian dikenal bagaikan wayang klithik. Di daerah Jawa Tengah, wayang krucil memiliki buram nan mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris, dan menggunakan tutup penasihat tekes (kipas). Sedangkan di Jawa Timur, penggagas-tokohnya banyak yang menyerupai wayang kelitik kulit purwa, kaisar-rajanya bermahkota dan mengaryakan praba. di Jawa Tengah, induk bala-pencetus rajanya bergulung keling ataupun garuda mungkur cuma.

f. Wayang kelitik Kulit Betawi

Dipastikan bahwa adat istiadat bentuk pertunjukan wayang alat peraba betawi memang semenjak berpangkal Jawa. Ada ahli nan menyatakan bahwa wayang kulit timbrung ke Betawi pada zaman penyerbuan Aji Agung Hantjokrokusumo ke Mataram tahun 1682-1629. Lamun kemungkinan besar wayang kelitik indra peraba betawi berasal dar Mataram, tetapi perkembangannya kemudian internal kurun waktu puluhan tahun secara eksistensilah sekali-kali enggak adanya keterikatan dengan kawasan asal adat istiadat bentuk kesenian tersebut. Bahkan juga tidak terpengaruh tradisi bentuk pertunjukan wayang golek Sunda di Jawa Barat yang secara faktual memang banyak kesamaannya.

g. Wayang kerucil Klitik

Anak-anakan wayang ini wujudnya pipih, lamun tidak setipis kulit dan dibuat dari kayu. Lengan atau tangannya dibuat dari alat peraba sapi atau mahesa. Jenis wayang ini untuk membualkan kapling Jawa, khususnya kerajaan Majapahit dan Pajajaran.

h. Wayang Golek

Boneka ini kebanyakan berpakaian jubah (baju panjang), tanpa berkain panjang, memakai serban (ikat kepala ala Arab), memakai sepatu, jenawi, dan peranti yang lainnya, digerakkan secara bebas dan terbuat bermula kayu nan bentuknya bulat seperti lazimnya boneka. Narasi wayang kerucil spesies ini bersumber pada kawul Menak, nan berisikan cerita Arab. Semata-mata ada sejumlah daerah yang menggunakan kisahan yang biasa digunakan dengan tipe wayang golek Purwa, yaitu: Ramayana dan Mahabarata.

Organ-alat Kesenian Wayang kerucil

Alat-organ yang digunakan dalam seni wayang patut banyak sekali. Keadaan ini bisa dilihat terbit wayang kelitik serta seperangkat gamelan nan digunakan, dengan semacam itu menciptakan menjadikan n komedi didong sangat berbeda dengan hiburan-hiburan lainnya seperti orgen spesifik, seni tari dan seni yang tak.

Menurut Pendi (1999), perabot-alat nan digunakan dalam kesenian wayang yakni sebagai berikut:

  1. Wayang. Wayang menurut susunannya terbagi menjadi dua yaitu: 1) Wayang kelitik sampingan yakni wayang yang selama pertunjukan di samping kidal dan kanan. Pengelompokan wayang sambilan untuk fragmen kiri dan kanan sesuai dari watak dan tabiat masing-masing kerubungan kanan nan berwatak baik dan kiri bertabiat jahat. 2) Wayang Dhudahan adalah tokoh yang madya dimainkan ditengah-paruh kelir.
  2. Kelir. Kelir adalah tabir dari kain putih dengan atas bawah dan di samping kiri kanan dihias warna hitam masif dengan fragmen atas bawah di samping kiri kanan dihias warna hitam atau merah yang disebut pelangitan dan bagian bawah disebut pelemahan.
  3. Blonceng. Blonceng merupakan alat iradiasi untuk pengelaran wayang golek riil lampu minyak. Pada umumnya menggunakan minyak kelapa karena petro kelapa lebih resistan lama dibandingkan patra biasa.
  4. Kotak. kotak ini digunakan laksana ajang penyimpanan wayang patung puas pagelaran berlanjut. Kotak dipergunakan sebagai penyimpanan wayang dhudahan yang berada pada sebelah kiri dalang.
  5. Idig/Eblek ialah Penyikat wayang yang disusun di dalam kotak wayang.
  6. Cemiala yakni alat khusus yang digunakan oleh dalang untuk menampung boks.
  7. Kepyak/kecrek, dibuat dari lembaran metal yang dibuat berusul besi, gangsa, tin dan lain sebagainya.
  8. Gedebong adalah jenazah mauz untuk menusukkan wayang kulit pron bila dimainkan.
  9. Beleganjur ialah seperangkat instrumen musik yang menonjolkan gendang dan gong setiap pertunjukan wayang cangap diiringi gamelan nan mengalunkan nada nan dimanis sesuai suasana episode.

Selanjutnya dalam tontonan tonil diperlukan kancah yang berfungsi sebagai panggung para pemain memainkan cerita wayang kerucil. Dalam tempat pertunjukan tersebut terwalak beberapa layar yang dipakai sebagai latar belakang setiap penggalan/adegan. Cucur yang menayangkan suasana kerajaan untuk babak cenderung Tuanku, layar nan melukiskan nan melukiskan suasana hutan bikin adegan penjelajahan di dalam pangan, cucur yang menyantirkan suasana taman bikin fragmen leha-leha di ujana, dan lain sebagainya. Ada juga layar kerjakan menyelimuti arena dari penonton agar pergantian penggalan tidak terlihat oleh penonton.

Bekas pertunjukan dilengkapi bohlam sorot corak-warni yang dipakai yang dipakai ibarat suporter suasana setiap adegan, memberi efek cahaya bagi setiap bagian. Selain wayang kelitik lagi diperlukan kancah untuk menancapkan wayang. Dalam pertunjukan wayang kerucil khalayak karuan ada basyar nan memerankan tokoh pewayangan. Pemain wayang kerucil basyar haruslah seorang yang mempunyai ketrampilan menari dan nembang kerumahtanggaan hal ini sang pentolan harus tukang mengecoh seni wayang tersebut.

Daftar Referensi

  • Lisbijanto, Herry. 2022.

    Wayang
    . Yogyakarta: Graha Hobatan.
  • Amir, Hazim. 1994.

    Nilai-ponten Bermartabat Dalam Wayang
    . Jakarta: Pustaka Kurat Jaya.
  • Mulyana, Sri. 1989.

    Alegori dan Mistikisme Wayang; Sebuah Tinjauan Filosofis
    . Jakarta: Gunung Agung.
  • Ali, Rif’an. 2022.

    Buku Pintar Wayang
    . Yogyakarta: Gara Guna-guna.
  • Ismunandar. 1994.

    Wayang, Asal Usul dan Jenisya
    . Semarang: Dahara Prize.
  • Sunarto. 1989.

    Wayang Jangat Mula-mula Kecenderungan Yogyakarta
    . Jakarta: Balai Pustaka.
  • Pendi, Hasan. 1999.

    Wayang Wong Sriwedari
    . Yogyakarta: Yayasan Adi Karya.

Source: https://www.kajianpustaka.com/2020/11/sejarah-jenis-dan-peralatan-kesenian-wayang.html

Posted by: caribes.net