Polar Dan Non Polar Adalah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia independen

Sebuah molekul air, contoh polaritas yang awam digunakan. Dua muatan hadir dengan muatan negatif di perdua (corak abang), dan pikulan substansial di ujungnya (biru).

Dalam kimia,
polaritas
(atau
kepolaran) yakni penceraian muatan setrum yang menuju pada atom ataupun gugus kimia nan memiliki momen listrik dipol atau multipol.[1]

Molekul polar harus mengandung rangkaian kimia polar karena perbedaan elektronegativitas antara atom nan berikatan. Elemen polar dengan dua atau lebih ikatan antiwirawan harus memiliki ilmu ukur asimetris sehingga detik kawin lain silih menyangkal.[2]

Molekul polar berinteraksi melampaui kecondongan antarmolekul dipol-dipol dan ikatan hidrogen. Polaritas melandasi bilang sifat fisik termasuk tegangan permukaan, kelarutan,[3]
serta titik leleh dan titik didih.

Polaritas ikatan

[sunting
|
sunting sumber]

Tidak semua atom menggelandang elektron dengan kekuatan yang sekufu. Jumlah “tarikan” atom yang diberikan pada elektron disebut elektronegativitas. Molekul dengan elektronegativitas tinggi – seperti fluor, oksigen dan nitrogen – mengerahkan daya tarik elektron lebih besar ketimbang atom dengan elektronegativitas rendah. Dalam sebuah ikatan, ini menyebabkan pembagian elektron yang tidak setara antara partikel, karena elektron akan tertarik mendekati atom dengan elektronegativitas nan lebih tinggi.[1]

Karena elektron n kepunyaan muatan negatif, pembagian elektron yang tak sebabat dalam ikatan cenderung pada pembentukan dipol elektrik: penceraian muatan listrik positif dan negatif. Karena jumlah muatan yang dipisahkan dalam dipol tersebut rata-rata lebih kecil pecah muatan elementer, maka disebut muatan fragmentaris, dilambangkan bak δ+ (delta plus) dan δ− (delta tekor). Simbol tersebut diperkenalkan oleh Christopher Kelk Ingold dan Edith Hilda Ingold pada perian 1926.[4]
[5]
Ketika dipol kontak dihitung dengan mengalikan jumlah tanggung yang dipisahkan serta jarak antar muatan.

Dipol ini dalam molekul dapat berinteraksi dengan dipol puas anasir tak, menciptakan gaya antarmolekul dipol-dipol.

Klasifikasi

[sunting
|
sunting sumber]

Ikatan dapat dikategorikan secara ekstrem[6] – sangat nonpolar ataupun lewat polar. Ikatan yang betul-betul nonpolar terjadi ketika elektronegativitas identik dan karenanya memiliki perbedaan nol. Gabungan polar sepenuhnya makin tepat disebut kombinasi ionik, dan terjadi ketika perbedaan antara elektronegativitas sepan ki akbar sehingga satu elemen benar-bersusila mencoket elektron terbit yang enggak. Istilah “polar” dan “nonpolar” biasanya diterapkan lega perkariban kovalen, ialah aliansi dimana polaritasnya tidak pola. Untuk menentukan polaritas ikatan kovalen dengan menggunakan peranti numerik, perbedaan antara elektronegativitas elemen digunakan.

Polaritas kawin biasanya dibagi menjadi tiga keramaian berdasarkan perbedaan elektronegativitas antara kedua atom yang berikatan. Menurut perbandingan Pauling:

  • Gabungan nonpolar
    galibnya terjadi ketika perbedaan elektronegativitas antara kedua atom adv minim dari 0.5
  • Ikatan polar
    umumnya terjadi ketika perbedaan elektronegativitas antara kedua atom kira-kira antara 0.5 dan 2.0
  • Ikatan ionik
    umumnya terjadi ketika perbedaan elektronegativitas antara dua atom lebih besar bermula 2.0

Pauling mendasarkan skema klasifikasi ini pada

karakter ionik parsial

dari sebuah perkariban, yang merupakan kepentingan taksiran dari perbedaan elektronegativitas antara kedua atom yang bersimpai. Kamu memperkirakan bahwa selisih 1.7 sesuai dengan budi ion 50%, sehingga perbedaan yang lebih lautan sesuai dengan ikatan yang sebagian besar bersifat ionik.[7]

Polaritas molekul

[sunting
|
sunting sumber]

Sementara unsur dapat digambarkan sebagai “kovalen polar”, “kovalen nonpolar”, atau “ionik”, situasi ini sering adalah istilah nisbi, dengan suatu elemen hanya menjadi
makin polar
atau
lebih nonpolar
ketimbang yang lain. Namun, adat berikut adalah ciri anasir tersebut.

Sebuah molekul terdiri berasal satu atau lebih gabungan ilmu pisah antara orbital atom berpangkal berbagai atom. Molekul boleh berupa kutub baik sebagai hasil ikatan polar karena perbedaan elektronegativitas begitu juga yang dijelaskan di atas, atau sebagai akibat dari supremsi asimetris ikatan kovalen nonpolar dan pasangan elektron nan bukan terikat yang dikenal sebagai orbital molekul.

Molekul polar

[sunting
|
sunting sumber]

Atom air terdiri dari oksigen dan hidrogen, dengan elektronegativitas per 3.44 dan 2.20. Dipol masing-masing sangkut-paut (nur berma) ditambahkan bersama bakal membuat keseluruhan anasir polar.

Molekul polar n kepunyaan dipol bersih sebagai akibat dari muatan nan berlawanan (adalah memiliki tanggung positif sebagian-sebagian dan parsial subversif) dari ikatan polar yang disusun secara asimetris. Air (H2O) adalah model partikel polar karena memiliki muatan positif sedikit di satu arah dan sedikit tanggung negatif di sisi tidak.[8]
Dipol tersebut lain saling meniadakan sehingga menghasilkan dipol bersih. Karena resan kutub anasir air itu sendiri, molekul polar pada kebanyakan dapat larut privat air. Contoh lainnya termasuk gula (seperti sukrosa), nan memiliki banyak gugus oksigen-hidrogen (−OH) polar dan secara keseluruhan sangat polar.

Takdirnya momen dipol ikatan molekul tidak saling menyangkal, molekulnya bersifat polar. Misalnya, molekul air (H2Ozon) mengandung dua ikatan O−H polar dalam satu geometri tekuk (nonlinear). Ketika dipol ikatan lain meniadakan, sehingga atom tersebut membentuk dipol dengan jodoh destruktif pada oksigen dan inversi konkret di antara dua molekul hidrogen. Lega rangka setiap perantaraan berintegrasi dengan atom Udara murni sentral dengan muatan subversif (merah) ke atom H dengan beban substansial (dramatis).

Ketika membandingkan molekul kutub dan nonpolar dengan komposit molar serupa, zarah polar plong umumnya mempunyai titik didih lebih tinggi, karena interaksi dipol-dipol antara unsur polar menghasilkan daya tarik antarmolekul yang lebih abadi. Salah satu susuk interaksi polar yang masyarakat adalah ikatan hidrogen, yang juga dikenal perumpamaan ikatan-H. Misalnya, air menciptakan menjadikan korespondensi H dan memiliki massa molar M = 18 dan titik didih +100 °C, dibandingkan dengan nonpolar metana dengan M = 16 dan titik didih –161 °C.

Atom nonpolar

[sunting
|
sunting mata air]

Dalam molekul boron trifluorida, penataan trigonal planar bermula tiga ikatan polar menghasilkan tidak adanya dipol keseluruhan.

Suatu zarah mungkin nonpolar baik bila terdapat pencatuan elektron yang sama antara dua atom dari molekul diatomik atau akibat susunan ikatan kutub simetris n domestik zarah yang lebih kompleks. Bagaikan contoh, boron trifluorida (BF3) memiliki kawin trigonal planar dari tiga sangkut-paut polar pada 120°. Kejadian ini menghasilkan keseluruhan dipol dalam molekul.

Contoh senyawa nonpolar apartemen hierarki meliputi mak-nyus, minyak, dan bensin. Oleh karena itu, kebanyakan molekul nonpolar lain sagu belanda dalam air (hidrofobik) puas suhu kamar. Banyak pelarut organik nonpolar, seperti terpentin, yang gemuk melarutkan zat polar.

Dalam anasir metana (CH4) empat perkariban C−H disusun secara tetrahedral di sekitar atom karbon. Setiap gayutan n kepunyaan polaritas (meski tidak terlalu kuat). Tetapi, ikatannya disusun secara simetris sehingga bukan ada keseluruhan dipol dalam molekul. Molekul diatomik oksigen (O2) tidak n kepunyaan polaritas dalam pergaulan kovalen karena elektronegativitas yang setolok, maka tidak ada polaritas dalam molekul.

Molekul amfifilik

[sunting
|
sunting sumber]

Molekul besar yang n kepunyaan suatu ujung dengan gugus polar terlampir dan ujung lainnya dengan kelompok nonpolar digambarkan sebagai elemen amfifil ataupun amfifilik. Mereka merupakan surfaktan yang baik dan dapat mendukung pembentukan peniruan stabil, alias senyawa, air dan gurih. Surfaktan mengurangi tegangan antar muka antara minyak dan air dengan mengadsorpsi antarmuka cair-cair.

Lihat pula

[sunting
|
sunting mata air]

  • Elektronegativitas
  • Ketertarikan elektron
  • Kerapatan elektron
  • Koloid
  • Deterjen
  • Sifat kimia

Referensi

[sunting
|
sunting sumur]

  1. ^


    a




    b




    Chang, Raymond (2005).
    Kimia Pangkal: Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 1
    (edisi ke-3rd). Jakarta: Erlangga. ISBN 979-781-039-9.





  2. ^


    Huggins, M. L. (1937). “The Polarity of Chemical Bonds”.
    J. Chem. Phys.
    5: 527. doi:10.1063/1.1750070.





  3. ^


    Nordstrom, B. H. (1984). “The Effect of Polarity on Solubility”.
    J. Chem. Educ.
    61
    (11): 1009. doi:10.1021/ed061p1009.1.





  4. ^


    Jensen, William B. (2009). “The Origin of the “Delta” Symbol for Fractional Charges”.
    J. Chem. Educ.
    86: 545. doi:10.1021/ed086p545.





  5. ^


    Ingold, C. K.; Ingold, E. H. (1926). “The Nature of the Alternating Effect in Carbon Chains. Part V. A Discussion of Aromatic Substitution with Special Reference to Respective Roles of Polar and Nonpolar Dissociation; and a Further Study of the Relative Directive Efficiencies of Oxygen and Nitrogen”.
    J. Chem. Soc.: 1310–1328.





  6. ^


    Pauling, L. (1932). “The Nature of the Chemical Bond. III. The Transition from One Extreme Bond Type to Another”.
    J. Am. Chem. Soc.
    54
    (3): 988–1003. doi:10.1021/ja01342a022.





  7. ^


    Pauling, L. (1960).
    The Nature of the Chemical Bond
    (edisi ke-3rd). Oxford University Press. hlm. 98–100.





  8. ^


    Pople, J. A. (1953). “The Electronic Structure and Polarity of the Water Molecule”.
    J. Chem. Phys.
    21
    (12): 2234. doi:10.1063/1.1698834.




Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • Chemical Bonding
  • Polarity of Bonds and Molecules
  • Molecule Polarity



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Polaritas_(kimia)