Proses Penyaluran Dan Distribusi Listrik

Pengetahuan Umum

Perkenalan awal Sistem Transmisi dan Aliran Listrik

Generator listrik kebanyakan berlokasi di tempat yang bererak cukup jauh berpokok pemukiman, pabrik ataupun daerah komersial. Untuk itu, diperlukan satu sistem penyaluran listrik untuk mengusahakan setrum dari pengungkit ke pengguna penghabisan. Sistem penyaluran elektrik terbagi menjadi dua, yaitu sistem transmisi dan sistem distribusi listrik, seperti yang ditunjukan puas Gambar 1. Kedua sistem tersebut terintegrasi menjadi suatu keekaan sistem penyaluran elektrik. Perbedaan keduanya terwalak pada besar tegangan listrik nan melalui kedua sistem tersebut.

Screenshot-2021-02-08-105539

Gambar 1. Skema Proses pembangkitan, gigi dan sirkuit listrik

Sistem transmisi elektrik ialah sistem nan berfungsi untuk mengalirkan listrik dari pengungkit ke balai madat listrik utama (main substation). Galibnya, generator setrum dan substation terpisah dengan jarak yang cukup jauh, berkisar antara 300 km sebatas 3000 km. Akibatnya, panjangnya jarak tersebut bisa berdampak sreg besarnya rugi-rugi listrik, keseleo satunya yaitu disipasi panas. Salah satu cara bakal meminimalisir besarnya rugi-rugi listrik saat proses penyaluran yaitu dengan memperbesar tegangan listrik. Pada sistem transmisi listrik, tegangan listrik mencapai 550 kV.

Setrum yang dihasilkan maka dari itu generator biasanya memiliki tegangan sebesar 15 kV sebatas 25 kV. Tekanan listrik ini terbilang rendah kerjakan boleh ditransmisikan dalam jarak yang sangat jauh. Dua penanda nan menentukan daya elektrik merupakan tegangan dan perputaran seperti mana pada kemiripan: Daya = Tegangan x Peredaran. Dengan demikian, dengan nilai daya tertentu, apabila tarikan sedikit, maka sirkulasi setrum tinggi. Tingginya arus listrik akan berakibat pada besarnya kegeruhan listrik saat melalui sistem transmisi, karena kuadrat persebaran proporsional dengan energi yang terdisipasi dalam bentuk menggiurkan. Dengan demikian, listrik nan keluar bersumber generator akan ditingkatkan tegangannya dengan memperalat transformator. Saat tegangan listrik

sudah lalu memadai strata, kemudian elektrik ditransmisikan melalui overhead lines maupun yang dikenal dengan sebutan SUTET (Terusan Udara Tegangan Ekstra Tinggi) seperti yang ditunjukan pada gambar berikut.

awf

Gambar 2. Overhead lines alias SUTET
sumber: https://www.powerandcables.com/wp-content/uploads/2017/07/Overhead-Lines-Conductors.jpg

Overhead lines terdiri dari tiga onderdil utama yaitu konduktor, insulator dan tower. Konduktor merupakan satu kabel yang memiliki peran sebagai media penyaluran listrik. Material yang digunakan untuk konduktor biasanya merupakan paduan aluminium yang n kepunyaan konduktifitas listrik yang tahapan. Konduktor ini kemudian dibalut maka dari itu insulator listrik dan termal bakal mengurangi elektrik yang tersepak ke mileu dalam bentuk rugi-rugi setrum seperti panas, dan pun untuk meminimalisir bahaya pada lingkungan sekitar.

Ujung-ujung konduktor tersambung ke tower. Tower dilengkapi dengan penolak petir untuk menghindari kebinasaan sistem akibat petir yang dapat berdampak pada terhentinya penyaluran listrik. Jarak antara kedua tower tidak boleh bersisa jauh karena dapat berhasil pada melengkungnya konduktor sebatas batas yang dianggap tidak pun aman bagi lingkungan sekitar. Jarak vertikal antara konduktor dengan permukaan kapling (ground clearance) harus dibatasi, galibnya antara 5 m setakat 7 m bergantung pada besarnya tekanan listrik listrik nan melalui sistem transmisi tersebut. Pembatasan
ground clearance
menjadi sangat esensial karena sistem transmisi listrik dapat bertelur serius pada kesehatan individu. Keseleo satu contoh imbasnya pada makhluk adalah bisa menimbulkan rasa pusing, insomnia, atau malar-malar problem mendalam pada kesehatan seperti mana leukemia dan puru ajal.

Tegangan setrum yang sampai ke konsumen rata-rata sebesar 120 V atau 230 V. Tentunya skor ini habis jauh lebih kecil dibanding besar tegangan saat awal transmisi (550 kV). Lega proses gigi listrik, listrik yang disalurkan mengalami tiga tahap proses penurunan voltase (step down voltage) menggunakan trafo yang terdapat pada gardu setrum. Tahap purwa yaitu ketika listrik bertegangan 550 kV mengalir melaluioverhead lines kemudian setakat ke gardu elektrik purwa. Di gardu listrik tersebut, tegangan diturunkan dari 550 kV menjadi 230 kV. Kemudian elektrik dialirkan juga mencapai gardu kedua yang memungkinkan tegangan listrik diturunkan berpangkal 230 kV ke 69 kV nan lebih jauh dialirkan kembali melalui overhead line ke rumah jaga ketiga. Momen keluar berpangkal pos penjagaan ini, tegangan listrik menjadi sebesar 12 kV. Proses transmisi listrik berakhir pada tahap ini. Proses penyaluran listrik lebih lanjut diteruskan maka itu sistem distribusi listrik.

Fungsi sistem aliran listrik adalah untuk menyalurkan listrik ke konsumen akhir. Pada sistem distribusi setrum, kendaraan transportasi listrik bisa lagi melalui overhead lines, dengan ukuran telegram yang tidak sebesar pada sistem transmisi listrik, dan melalui
underground cable. Listrik bertegangan 12 kV berputar melalui kabel sampai ke gardu listrik bikin menjalani proses penurunan tegangan menjadi 120 V atau 230 V nan siap digunakan maka dari itu konsumen. Dengan demikian, sistem kelistrikan plong prinsipnya terdiri berusul tiga proses utama berpunca hulu ke hilir, yaitu proses pembangkitan listrik (power generation), proses transmisi listrik (power transmission) dan proses distribusi elektrik (power distribution).

Source: https://indonesiare.co.id/id/article/pengenalan-sistem-transmisi-dan-distribusi-listrik

Posted by: caribes.net