Puisi Chairil Anwar Tentang Perjuangan

Puisi Chairil Anwar – Selamat menclok kembali di web ekspektasia. Boleh jadi sih yang tidak kenal Chairil Anwar? Koteng penyair besar yang dimiliki Indonesia. Banyak sekali karyanya nan hingga kini masih tinggal terniat.

Karya yang minimum terkenal nan pernah dibuat oleh Chairil Anwar yaitu sebuah syair yang berjudul “AKU”. Bahkan dari puisi ini dia dijuluki dengan logo “Si Binatang Jalang”.

Chairil Anwar sendiri membuat puisi dengan beraneka macam alamat, seperti
tembang cinta, tembang sahabat,
syair ibu, puisi sindiran kepada pejabat, dan lain sebagainya.

Agar kita bisa mengenal dan mengenang semua karyanya, maka berikut ini kami sajikan kompilasi tembang karya Chairil Anwar.


Riwayat hidup Chairil Anwar

puisi chairil anwar
hot.saat.com

Chairil Anwar adalah keseleo koteng penyair Indonesia yang berasa dari Arena. Tulisannya yang dimuat di Majalah Batu kubur pada musim 1942 mewujudkan dirinya menginjak populer di internal manjapada sastra. Kemudian asian karyanya yang berjudul “AKU”, Chairil Anwar ini dikenal misal “Si Hewan Jalang”.

Karya nan nikah Anda tulis yaitu sebanyak 94 karya yang dimana 70 di antaranya merupakan puisi. Kemudian oleh H.B Jassin, Chairil Anwar bersama dengan Asrul Sani dan Rivai Apin dinobatkan ibarat biang kerok Angkatan ’45 berbarengan syair maju Indonesia.

Berikut ini detail biodata Chairil Anwar yang terbit bersumber Wikipedia,

Nama Konseptual: Chairil Anwar
Sungkap Lahir: 26 Juli 1922
Palagan Lahir: Wadah, Indonesia
Jalan hidup: Penyair
Kebangsaan: Indonesia
Ibu bapak: Ayah – Toeloes dan Ibu – Saleha

Chairil Anwar adalah sendiri anak asuh individual terbit ayah Toeloes dan Ibu Saleha yang gegares dimanjakan makanya kedua orang tuanya tersebut. Ia lahir dan dibesarkan di Medan, antagonis akrabnya waktu mungil nan sekali lagi sangat mengesankan dalam hidupnya yaitu neneknya koteng.

Sekolah yang merupakan tempat Ia belajar merupakan di sekolah dasar dengan nama Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Setelah lulus, kemudian melanjutkan sekolahnya ke sekolah sedang pertama di Meer uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), namun Engkau keluar sebelum lulus.

Pasca keluar dari sekolah MULO, Dia memanfaatkan waktunya untuk membaca karya-karya pengarang Dunia semesta. Lega momen usia mulai dewasa, barulah Ia mulai menulis puisi, namun tidak ada satupun syair yang sesuai dengan keinginannya.

Pada masa 1940 dimana usianya pada saat itu yaitu 19 masa, ia bermigrasi ke Jakarta bersama ibunya, dan dari sinilah dia mulai serius berkecimpung di dunia sastra, sehingga puas masa 1942 terbitlah syair pertamanya.

Kemudian keunggulan Chairil Anwar lagi tersohor berasal karya yang dia tulis di muat di “Majalah Jirat” pada tahun 1942. Salah satu puisinya nan kita kenal dan cangap dideklarasikan yaitu puisi Chairil Anwar berjudul “AKU” (Aku mau atma seribu musim pun).

Selain menulis syair, ia juga menjadi penerjemah karya sastra asing ke n domestik bahasa Indonesia.

Chairil Anwar telah terkenal secara internasional, berikut iini adalah karya-karya yang membahasa tentang Chairil Anwar:

  1. Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan makanya Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953).
  2. Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
  3. Abdul Kadir Bakar, “Separuh pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar” (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Ekspansi Ilmu-Mantra Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974).
  4. U.S. Nababan, “A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar” (New York, 1976).
  5. Arief Budiman, “Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan” (Jakarta: Teks Jaya, 1976).
  6. Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976.
  7. B. Jassin, “Chairil Anwar, pengambil inisiatif Angkatan ’45, disertai kumpulan hasil tulisannya”, (Jakarta: Giri Agung, 1983).
  8. Husain Junus, “Kecondongan bahasa Chairil Anwar” (Manado: Institut Sam Ratulangi, 1984).
  9. Rachmat Djoko Pradopo, “Bahasa tembang penyair terdahulu sastra Indonesia maju” (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985).
  10. Sjumandjaya, “Aku: berdasarkan pengembaraan usia dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987).
  11. Pamusuk Eneste, “Mengenal Chairil Anwar” (Jakarta: Suluh, 1995).
  12. Zaenal Penengah, “Edisi kritis puisi Chairil Anwar” (Jakarta: Dian Rakyat, 1996).
  13. Drama Mahkamah Sastra Chairil Anwar karya Eko Tunas, sutradara Joshua Igho, di Konstruksi Kesenian Ii kabupaten Tipar (2006).


Puisi Chairil Anwar Aku


puisi chairil anwar

AKU

Jika sebatas waktuku
‘Ku cak hendak tak sendiri ‘teko merayu
Tidak lagi kau
Tak teristiadat isak sedu itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang dupak
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih mulas
Dan akan lebih tak peduli
Aku kepingin spirit seribu musim lagi


Puisi Chairil Anwar Karawang Bekasi


puisi chairil anwar

KARAWANG BEKASI

Kami yang sekarang terbaring antara Krawang-Bekasi
bukan bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang lain lagi mendengar deru kami,
terbayang kami berbudaya dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam lengang
Jika dada rasa nihil dan jam dinding yang berdenyut
Kami nyenyat mulai dewasa. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa nan kami dapat
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan kurnia 4-5 mili umur

Kami cuma sumsum-tulang porak-poranda
Tapi yaitu kepunyaanmu
Kaulah lagi nan tentukan nilai sumsum-tulang berserakan

Maupun kehidupan kami melayang cak bagi kemerdekaan kemenangan dan tujuan
atau tidak lakukan barang apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang nan berkata

Kami wicara padamu privat hening di lilin lebah mati
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan usia kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami waktu ini mayat
Berikan kami fungsi
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Bermami kami terbaring antara Krawang-Bekasi

1957


Sajak Chairil Anwar Tentang Cinta – Cintaku Jauh Di Pulau


puisi chairil anwar

Cintaku jauh di pulau

Cintaku jauh di pulau
Perempuan manis, sekarang iseng sendiri
Berlepas melaju, bulan memancar
di gala kukalungkan ole-ole buat si inai
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang ranah, di angin mendayu
di manah penghabisan apa melaju
Berpulang bertakhta, bertepatan bersuara:
“Tujukan lambu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘ketel merapuh
Mengapa Ajal menjuluki suntuk
Sebelum tahu berpagut dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku antap, dia mati iseng koteng.


Syair Chairil Anwar Diponegoro


puisi chairil anwar

Diponegoro

Di waktu pembangunan ini
pemilik nasib kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Tampin banyaknya seratus kelihatannya.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang atma yang tak bisa ranah.


Sajak Chairil Anwar Tahlil


puisi chairil anwar

Tahmid

Kepada pemeluk konstan
Rabi
Dalam termangu
Aku masih menyapa namamuBiar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Nur Mu sensual suci
Tinggal kerdip parafin di kelam nyenyat

Illah
Aku hilang bentuk remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di bab Mu aku bisa mengetuk
Aku tak bisa berpaling


Syair Chairil Anwar Tentang Persahabatan – Kepada Kawan


puisi chairil anwar

Kepada Maskapai

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak mematamatai,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum terserah,
tak tengung-tenging tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang n domestik kelam,
perseroan, mari kita putuskan kini di sini:
Berlalu yang menjajarkan kita, juga mencekik diri sendiri!Bintang sartan
Isi gelas selengkapnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan seandainya merayu,
Pilih jaran nan paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan lilin lebah
Dan
Hancurkan sekali lagi apa nan kau perbuat,
Hilang minus pusaka, minus kerabat.
Tak minta ampun atas segala dosa,
Lain memberi mohon diri lega boleh jadi saja!
Makara
yuk kita putuskan sekali kembali:
Ajal yang menarik kita, ‘morong merasa angkasa sepi,
Sekali lagi perkongsian, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Sreg siapa yang merendam kemurnian madu!!!


Puisi Chairil Anwar Tentang Perkawanan – Kawanku Dan Aku


puisi chairil anwar

Kawanku dan Aku

Kami selevel pejalan sagu belanda
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Boleh jadi berkata-kata?
Kawanku hanya gambar saja
Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali
Hilang terbenam segala makna
Dan gerak tak punya manfaat


Syair Chairil Anwar – 1943


puisi chairil anwar

1943

Racun berada di tenggak pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam talenta dalam nanah
Malam kelam-membelam
Jalan dogmatis-lurus. Terpotong
Madat.
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Mengadat.
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Kecam
Asfar
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpatok.

1943


Syair Chairil Anwar – Invitasi


puisi chairil anwar

Invitasi

Ida
Menembus telah caya
Udara tebal kabut
Gelas hitam kulat
Pecah pencar sekarang
Di urat kayu lengang lapang
Mari ria juga
Tujuh belas tahun kembali
Mengayuh setara gandengan
Kita jalani ini jalanRia bahgia
Tidak acuh segala-apa
Gembira-girang
Kendati hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sekelebat kering pun.

Februari 1943


Syair Chairil Anwar – Aku Subur Pula


puisi chairil anwar

Aku Ki berjebah Pula

Aku berharta kembali. Banyak nan asing:
air mengalir tukar warna, kapal-kapal, nasar-elang
Serta mega nan tersandar sreg khatulistiwa lain;
rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari
lain.
Doang
Kelengangan tinggal patuh cuma.
Lebih nyenyat aku di lusa-liuk perkembangan;
lebih sirep juga ketika mewah antara
yang mengharap dan nan melepas.

Alat pendengar kiri masih terpaling
ditarik mangut yang sebentar-sebentar seterang
guruh.

1949


Tembang Chairil Anwar – Aku Berkisar Antara Mereka

Aku Berkisar Antara Mereka

Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa
Menoleh rupa di pinggir urut-urutan, aku pakai mata
mereka
pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:
maklumat-kenyataan yang didapatnya.
(bioskop Capitol putar film Amerika,
lagu-lagu baru irama mereka berdansa)
Kami pulang tidak kena apa-apa
Sungguhpun Mangkat varietas rupa jadi setangga
Terkonsentrasi di terminal, kami tunggu trem bermula ii kabupaten
Yang bergerak di lilin lebah periode sebagai gigi masa.
Kami, timpang dan incang-incut, negatip dalam janji
lagi
Sendarkan tulang bawak pada lampu busur jalan saja,
Semenjana waktu gaduh terus berkata.
Hujan menimpa. Kami tunggu trem berpangkal kota.
Ah hati sirep dalam malam ada doa
Bakal nan baca coretan tanganku intern gegares
mereka
Seyogiannya segala sypilis dan segala kusta
(Sedikit lagi bertambah narasi bom atom pula)
Ini buktikan tera kedaulatan kami bersama
Ambillah duniaku antara yang menyaksikan bisa
Kualami suram malam dan mereka dalam diriku
pula.

1949


Sajak Chairil Anwar – “Betina”-NYA AFFANDI

Betina-nya Affandi

Betina, jika di barat nanti
menjadi gelap
turut tenggelam setolok sekali
juga yang mengendap,
di mukamu dulu bertindak Usia dan Antap.
Matamu menuju – sebentar dulu! –
Kau tidak gamang, semangat kau sintuh, kau cumbu,
saat ini senja gosong, tinggal abuk…
Dalam tubuhmu saring masih sambar-menyambar
Dara dan Junjungan

1946


Puisi Chairil Anwar – Buat Album D.S,

Bakal Album D.S,

Sendiri gadis juga menyanyi
Lagu derita di pantai yang jauh,
Panjarwala bertafakur di laut biru, bermula
Mereka yang sudah lalai bersuka.
Suaranya meninggalkan terus menggunung,
Kami yang mendengar mengaram senja
Mencium usap si gadis berpangkal pipi
Dan busana putihnya sebagian berbunga mimpi.
Kami rasa bahagia ‘kan mulai.
Awak kapal mendapat habuan pautan di pelabuhan
Dan di negeri kelabu yang berhiba
Penduduknya bersinar lagi, bisa pamrih.

Lagu merdu! apa mengertikah adikku kerdil
yang menangis merincis hati
Bahwa pelarian akan terus tinggal terpencil,
Juga di negeri jauh itu surya tidak pula?

1946


Tembang Chairil Anwar – Buat Cewek Rasid


puisi chairil anwar

Bagi Dara Rasid

Antara
daun-daun bau kencur
padang lapang dan terang
momongan-anak kecil lain bersalah, bau kencur dapat lari-larian
burung-kalam merdu
hujan segak dan memencar
bangsa remaja menjadi, baru bisa bilang “aku”
Dan
angin tajam kering, tanah satu-satunya gersang
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita tertindih, cintaku
– mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
Marilah kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
– the only possible non-stop flight
Tidak berkat.

1948


Puisi Chairil Anwar – Buat Nyonya Tepi langit.

Buat Nyonya N.

Sudah lampau puncak pada tahun yang lalu,
dan masa ini dia drop ke rendahan datar.
Start di puncak dan engkau sungguh enggak senggang,
Burung-burung luar bermain keliling kepalanya
dan biji kemaluan-buah rimba gasal mencap warna lega
pakaian.Sepanjang urut-urutan sira terkenang akan jadi satu
Atas puncak tinggi sendiri
berjubah angin, dunia di bawah dan lebih dekat
kematian
Tapi hawa silam hampa, mulai di puncak sira
betapa tiada tahuJalan yang suntuk enggak akan dia ganti rugi lagi,
Seterusnya tidak ada burung-burung luar, buah-
buah pandan ganjil

Ambruk terus. Sepi.
Melelapkan-rata gigi-tidak berbatas

1949


Puisi Chairil Anwar – Catetan Th. 1946

Catetan Th. 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara minor yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan seorang dan kupagut.
Kita -beruk diburu- sekadar melihat sebagian mulai sejak
sandiwara sekarang
Tidak tahu Romeo & Juliet berdekap di kubur ataupun
di pembaringan
Lahir seorang samudra dan tergenang beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya boleh arena.
Dan kita nanti tiada pitam babi juga diburu
Jika bedil sudah lalu disimpan, cuma kenangan berabuk;
Kita memburu kelebihan atau disertakan kepada anak
lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu
kilir,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering
sedikit kepingin basah!

1946


Sajak Chairil Anwar – Kisah

Narasi

kepada Darmawidjaja
Di pasar baru mereka
Lewat mengada-menggaya.
Mengeluh sudah kesal
Tak senggang apa dibuat

Semangat satu bandingan lucu
Dalam hidup, dalam tuju.

Botak diselimuti baplang
Sama segala berbuat-cak bagi.

Tapi kadang pula dapat
Ini renggang terus terapat.

9 Juni 1943


Puisi Chairil Anwar – Narasi Buat Dien Tamaela


puisi chairil anwar

Berita Bikin Dien Tamaela

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Saja suatu.Beta Pattiradjawane
Kikisan laut
Berdarah laut.Beta Pattiradjawane
Detik lahir dibawakan
Datu dayung sampan.

Beta pattiradjawane, menjaga rimba pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam jari-jari ibing
Menurut beta punya tifa,
Pokok kayu pala, raga perawan jadi
Hidup sampai pagi menginjak.

Marilah menandak!
mari beria!
marilah berlupa!

Awas jangan bikin beta berang
Beta bakal pala antap, cewek dogmatis
beta kurim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan jago merah menggiatkan pulau…

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

1946


Syair Chairil Anwar Tentang Ibu


puisi chairil anwar

IBU

Pernah aku ditegur
Katanya untuk kemujaraban
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Relasi aku diminta membantu
Katanya cak agar aku juru
Ibu…..
Perantaraan aku merajuk
Katanya aku manja
Kawin aku melawan
Katanya aku degil
Asosiasi aku menangis
Katanya aku lemah

Ibu…..

Setiap barangkali aku tersilap
Dia syariat aku dengan nasihat
Setiap mungkin aku kecut hati
Dia bangun di malam antap terlampau bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan hidup
Dan Bila aku mencecah kemenangan
Ia pembukaan bersyukurlah pada Tuhan

Namun…..
Tak interelasi aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu….

Ibu….

Aku sayang padamu…..
Tuhanku….
Aku bermohon padaMu
Sejahterakanlah anda
Selamanya…..


Puisi Chairil Anwar Deru Campur Tepung – TAK Selevel


puisi chairil anwar

Tidak Sepadan

Aku kira:Beginilah nanti alhasil

Kau kawin, berputra dan bernasib baik

Semenjana aku merapah serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga portal ternganga
Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tak ‘kan segala apa-segala apa

Aku terpanggang tinggal rencana

Februari 1943


Syair Chairil Anwar Deru Campur Debu – Senja di Persinggahan Mungil


puisi chairil anwar

Senja di Bom Kecil



Buat Sri Ayati

Ini kelihatannya tidak ada yang berburu cinta

di antara gudang, kondominium renta, pada narasi

gawang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri kerumahtanggaan mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, dersik perian lari berenang

menemu bujuk bawah akanan. Tak berputar

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Melanglang

menyerempet jazirah, masih pengap mohon

sekali start di ujung dan refleks selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan dapat terkancah.


Puisi Chairil Anwar Deru Rampai Debu – Cintaku Jauh di Pulau


puisi chairil anwar

Cintaku Jauh di Pulau



Cintaku jauh di pulau


Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Sampan melancar, rembulan memancar

di leher kukalungkan ole-ole buat si tabo

angin membantu, laut terang, tapi terasa

aku tidak ‘morong sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu

di perasaan penghabisan segala apa luncur

Berlalu bertakhta, sambil berucap:

“Tujukan lambu ke pangkuanku sekadar.

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!

Perahu nan bersama ‘kan merapuh

Mengapa Berpulang menyebut lalu

Sebelum sempat berdekap dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,

kalau ‘ku mati, dia mati iseng seorang.


Sajak Chairil Anwar Deru Campur Debu – Sebuah Kamar


puisi chairil anwar

Sebuah Kamar



Sebuah jendela menyerahkan kamar ini


pada manjapada. Bulan nan menyinar ke dalam

kepingin lebih banyak sempat.

“Sudah panca anak bernyawa di sini,

Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,

Keramaian penjara sepi buruk perut,

Bapakku koteng tergolek jemu

Matanya menatap orang tersalib di gangguan!

Sekeliling dunia bunuh diri!

Aku harap adik lagi pada

Ibu dan bapakku, karena mereka berbenda

d luar hitungan: Kamar serupa ini

3 x 4, sesak sempit buat meniup atma!


Syair Chairil Anwar Gemuruh Campur Debu – Hampa


puisi chairil anwar

Hampa

Kepada Sri
Nyenyat di luar. Antap menindihkan-mendesak

Lurus normatif pohonan. Enggak bergerak

Setakat di puncak. Sepi mencatuk,

Lain satu kuasa melepas-ambil

Segala menanti. Menanti. Menanti

Sepi

Tambah ini menanti makara mencekik

Memberat-mencengkung punda

Sampai binasa barang apa. Belum segala apa-barang apa

Awan bertuba. Setan melolong

Ini ranah terus suka-suka. Dan menanti.


Puisi Chairil Anwar Deru Rancam Abuk – Prajurit Jaga Malam


puisi chairil anwar


Tamtama Jaga Malam



Periode jalan. Aku lain luang segala semangat hari?


Pemuda-jejaka yang lincah nan tua-jompo persisten,

bermata tajam



Mimpinya kemerdekaan tanda jasa-bintangnya

kepastian ada di sisiku selama menjaga provinsi mati ini

Aku gemar puas mereka yang berani hidup

Aku senang pada mereka nan masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu

Musim urut-urutan. Aku tidak tahu segala atma waktu!


Puisi Chairil Anwar Deru Campur Debu – Yang Terampas dan Yang Putus

Yang Terampas dan Yang Terpotong



Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,


Menggigir juga ruang di mana sira yang kuingin,



Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai pun gelegar dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku dapat lagi lepaskan kisah bau kencur padamu;
Tapi masa ini sahaja tangan nan bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan hal berlalu beku.


Puisi Chairil Anwar Deru Campur Bubuk – Rumahku



puisi chairil anwar

Rumahku

Rumahku berpokok unggun-timbun syairKaca jernih dari luar apa nampak
Kulari dari gedong lebar halaman


Aku tersesat lain dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala


Di pagi mangut entah ke mana
Rumahku bermula unggun-timbun sajak


Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama kembali, tapi datangnya hinggap


Aku enggak lagi meraih petang

Biar menyimpang kata manis sembayan


Jika menagih yang satu
27 april 1943



Puisi Chairil Anwar Gemuruh Campur Debu – Persetujuan Dengan Bung Karno


puisi chairil anwar


Persetujuan dengan Bung Karno



Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji


Aku telah cukup lama dengan bicaramu

dipanggang diatas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan mewah rapat di sisimu

Aku kini api aku masa ini laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berteduh


Sajak Chairil Anwar Bahana Oplos Debu – Sajak Sejati


puisi chairil anwar


Tembang Suci



Bersandar pada tari corak pelangi


Kau depanku bertudung sutra tunggang

Di hitam matamu kembang ros dan melati

Harum rambutmu beriak bertekun senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba


Meriak muka air empang jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menggandeng menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, bab melenggong

Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah bergerak dari jejas


Antara kita Mati menclok lain membelah…

1944


Syair Chairil Anwar – Kerumahtanggaan Kereta

puisi chairil anwar

Dalam KeretaKerumahtanggaan kereta.
Hujan menguat sirkulasi udara
Semarang, Tersendiri…, kian dekat saja
Menangkup senja.
Menguak purnama.
Caya rajang mulut dan mata.
Menungging kereta.
Menungging jiwa,
Sayatan terus ke dada15 Maret 1944


Puisi Chairil Anwar – Dendam

puisi chairil anwar

Dendam

Mengirik tersentak
Berpunca impi aku bengis dielak
Aku tegak
Bulan menyinar sedikit enggak nampak
Tangan meraba ke dasar bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu
Bulan bersinar kurang tak nampakAku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

Aku mencari
Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar tekor tak tampak

13 Juli 1943


Puisi Chairil Anwar – Derai-derai Eru

puisi chairil anwar

Derai-derai Cemaracemara menderai sampai jauh
terasa hari akan makara malam
ada beberapa dahan di aliran udara merapuh
dipukul kilangangin kincir yang terpendamaku waktu ini orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak pun
tapi sangat memang suka-suka satu bahan
yang tidak dasar perhitungan sekarang
hidup tetapi menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan adv pernah, suka-suka nan konsisten enggak diucapkan
sebelum pada jadinya kita menyerah1949


Puisi Chairil Anwar – Di Mesjid

Di Mesjid

Kuseru doang Dia
Sehingga datang juga
Kami sekali lagi bersisi-muka.
Lebih lanjut Ia bernyala-nyala internal dada.
Segala kancing memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tidak boleh diperkudaIni ruang
Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa
Suatu menista tidak gila.

29 Mei 1943


Puisi Chairil Anwar – Hukum

Syariat

Saban magrib beliau sangat depan rumahku
Dalam baju lebat abu-tepung
Seorang jerih memikul.
Banyak menangkis pukul.
Bungkuk jalannya – Lesu
Pucat kesi mukanya – Lesu
Hamba allah menyebut satu nama jaya
Memahfuzkan kerjanya dan jasaMelecut biar terus ini padanya

Tapi mereka memaling.
Engkau sejenis itu sedikit tenaga

Pekik di angkasa.
Perwira muda
Pagi ini bersinar lain waktu

Jemah, kau dinanti-dimengerti!

Maret 1943


Sajak Chairil Anwar – Isa

Isa

kepada nasrani tulus
Itu Tubuh
menyembur darah
melancut darahrubuh
patahmendampar Pertanyaan: aku riuk?kulihat Jasad mengucur pembawaan
aku berkaca dalam talenta

terbayang terang di netra perian
bertukar rupa ini segara

mengatup luka

aku bersuka

Itu Awak
bersimbur bakat
mengucur talenta

12 November 1943


Puisi Chairil Anwar – Jangan Kita Berhenti Disini

Jangan Kita Berhenti Disini

Jangan kita di sini cak jongkok.
Tuaknya tua lontok, terbatas pula
Menengah kita mau berkendi-kendi
Terus, terus lampau…!!
Ke ruang dimana pot tuak banyak berleret
Pelayannya kita dilayuani gadis-gadis
O, bibir merah, comberan mati pertama
O, hidup, kau masih ketawa??24 Juli 1943


Sajak Chairil Anwar – Kenyataan Dari Laut

Kabar Dari Laut

Aku memang moralistis tolol ketika itu,
mau pula membikin sangkut-paut dengan kau;
lupa anak buah kapal tiba-tiba boleh sendiri di laut pilu,
berujuk kembali dengan maksud spektakuler.
Di tubuhku ada luka sekarang,
bertambah tumpul pisau sekali lagi, mengeluar talenta,
di tamatan dulu kau cium nafsu dan garang;
lagi aku pun dulu letoi serta menyerah.
Kehidupan berlantas antara buritan dan kemudi.
Pembatasan cuma tambah mengesakan kenang.
Dan tawa edan sreg whisky tercermin tenang.
Dan kau? Apakah kerjamu beribadat dan
memuji.
Ataupun di antara mereka juga terdampar,
Kontol tenang pagi hari di sisi sangkar?1946


Sajak Chairil Anwar – Kenangan

Kenangan

untuk Karinah Moordjono
Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi dandan
Benda usang dilupa
Ah! Tercebar rasanya diri
Membumbung tinggi atas waktu ini
Sejenak
Saja. Lumat rapuh ini kekeluargaan kenang
Peroi hilang belum dipegang
Terhentak
Juga di itu-itu saja
Vitalitas bertanya: Berpokok buah
Umur kan banyakan runtuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan kekeluargaan menyia-nyia19 April 1943


Tembang Chairil Anwar – Kepada Pelukis Affandi

Kepada Pelukis Affandi

Seandainya, ‘ku tinggal-lewat kata, tidak juga
berani memasuki rumah seorang, berdiri
di ambang penuh kupak,
ialah karena kesementaran apa
yang mencap tiap benda, lagi pula terasa
nyenyat morong menclok destruktif.
Dan tangan ‘kan kaku, batik berhenti,
kegelisahan derita, kegelisahan damba;
berilah aku kancah di para-para strata,
di mana kau koteng meninggiatas kerumunan mayapada dan tikai,
lagak lahir dan kelancungan cipta,
kau memaling dan memuja
dan gelap-terpejam makara terbuka!1946


Sajak Chairil Anwar – Kepada Penyair Bohang

Kepada Penyair Bohang

Suaramu bertanda me laut senyap…
Sang Nyenyat ini padaku masih merenjeng lidah
Karena dia cinta, dimulutnya membusah
Dan rindu yang cak hendak memerahi segala
Si Sepi ini matanya terus bertanya!
Embara enggak bersejarah
Melanglang kau terus!
Sehingga tidak resah
Begitu berlumuran pembawaan.
Dan duka lagi menengadah
Melihat gayamu melangkah
Mendayu suara teriris:
“Aku saksi!”Bohang,
Jauh di asal jiwamu
bertampuk suatu dunia;
menguyup rintik satu per
Beling mulai sejak dirimu lagi…1945


Puisi Chairil Anwar – Ketenangan

Ketegaran

Aku lain bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding alai-belai
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abuk
Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga kacau
Mutakadim! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia berat tulang disapa, ambil perduli
Keras berpadu air kali
Dan vitalitas tidak hidup pula
Kuulangi yang dulu sekali lagi
Serta merta bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang terbiasa tibaMaret 1943


Puisi Chairil Anwar – Kita Gunyah Teklok

Kita Gunyah Lemah

Kita gunyah lemah
Sekali tikam tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita penmdam intern keseharian
Yuk ngeri merentak
Diri-sekeliling kita bentak
Ini malam purnama akan menembus awan.22 Juli 1943


Sajak Chairil Anwar – Kupu Malam dan Biniku

Kupu Malam dan Biniku

Sambil bertikai lalu
mengebu debu.
Kupercepat langkah.
Tak noleh ke bokong
Ngeri ini luka-terbuka kembali terpandang
Barah melangah
Melayang pikiran ke biniku
Lautan nan belum terduga
Cak agar lebih kami tujuh musim bersatuBarangkali tak setahuku
Sira menipuku.

Maret 1943


Tembang Chairil Anwar – Lagu Legal

Lagu Biasa

Di teras rumah bersantap kami kini bertatap
Baru berkenalan.
Cuma bertimbang pandang
Walaupun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja saling pandang
N domestik lakon pertama
Orkes meningkah dengan “Carmen” lagi.
Engkau menjuling.
Sira ketawa
Dan rumput kering terus tunu
Ia bercakap.
Suaranya nyaring tahapan
Darahku tertunda berlariKetika orkes memulai “Ave Maria”
Kuseret kamu ke sana….Maret 1943


Puisi Chairil Anwar – Lagu Siul

Pun Siul

Laron pada hening
Hangus di sumbu lampu
Aku sekali lagi menemu
Berputih di cerlang caya matamu
Heran! ini awak nan sepanjang berjaga
Dulu gosong di jago merah matamu
‘Ku kayak enggak senggang doang.II
Aku kira
Beginilah kemudian hari akibatnya:
Kau kawin, bersalin dan berbahagia
Semenjana aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta,
Tak suatu lagi pintu termengung.

Jadi baik kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘ketel barang apa-barang apa,
Aku terpanggang lalu rangka

25 November 1945


Puisi Kemerdekaan Chairil Anwar – Merdeka


puisi chairil anwar

Merdeka

Aku mau independen dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Ikatan
Aku percaya pada tulah dan kerap
Menjadi lemak tulang dan darah
Seharian kukunyah-kumamah
Madya terinfeksi
Apa kurenggut
Ikut bayangTapi kini
Hidupku terlalu hening
Selama tak antara badai
Kalah menangAh! Semangat yang menggapai-ulur
Mengapa jikalau beranjak dari sini
Kucoba dalam sirep.

14 Juli 1943


Puisi Chairil Anwar – Anugerah Senggang

Hadiah Tahu

Bukan maksudku mau berbagi semangat,
atma ialah kesunyian tiap-tiap.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sekilas kita sudah n domestik tenang pula terjaring.
Aku afiliasi ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,
Kita berpeluk sun tidak jemu,
Rasa lain sanggup kau kulepaskan,
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!1946


Syair Chairil Anwar – Penerimaan

Penerimaan

Takdirnya kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau tidak yang dulu kembali
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Akan halnya aku dengan beraniKalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Semenjana dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943


Puisi Chairil Anwar – Rekapitulasi

Perkiraan

Banyak coret belum abtar saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda
cayaLangit kalis-kirana dan purnama raya…
Telah itu tempatku enggak tentu di mana.
Sekilap penglihatan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berjatuhan dengan adv minim heran
Hembus kau aku enggak perduli, ke Bandung, ke
Sukabumi…!?Kini aku meringkih dalam malam mati.

16 Maret 1943


Syair Chairil Anwar – Sajak Buat Basuki Resobowo

Sajak Buat Basuki Resobowo

Adakah jauh avontur ini?
Belaka selenggang! – coba kalau bisa lebih!
Lantas bagaimana?
Pada daun gugur pertanyaan sendiri,
Dan sejajar lagu melembut bintang sartan melodi!
Apa tinggal jadi tanda mata?
Tatap pada betina tidak lagi menengadah
Atau bayu sayu, tanda jasa menghilang!
Pun jalan ini berapa lama?
Boleh sekurun… aduh sekerdip saja!
Pengembaraan karna segala apa?
Cak bertanya rumah bawah nan tunawicara!
Keturunanku yang beku di situ!
Ada nan menggamit?
Ada nan kehilangan?
Ah! Jawab sendiri! –
aku terus gelandangan….28 Februari 1947


Puisi Chairil Anwar – Sepanjang Bulan Menyinari Dadanya

Selama Bulan Menyinari Dadanya

Selama rembulan menyinari dadanya kaprikornus pualam
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggil-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Aku bukan lagi si cilik tidak senggang perkembangan
di hadapan berpuluh lorong dan gang
mengukur:
ini medan terikat pada Ida dan ini rubrik “pas
bebas”
Selama bulan mendamari dadanya jadi pualam
tempat tidur padang putih tiada perenggan
sepilah panggil-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Juga ibuku yang berjanji
enggak memencilkan sekoci.
Lihat cinta sekali lagi luntur:
Dan aku nan memperbedakan
tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur
rumah bersembunyi kerumahtanggaan eru rindang tinggi
pada tingkap kaca tiada bayang datang mengambang
Kelici, gasing, kuda-kuadaan, kapal-berbelulang di
zaman kanak,
Lihatlah cinta jingga luntur:
Kalau cak bertengger nanti topan ajaib
menggulingkan gundu, memutarkan gasing
memacu aswa-kudaan, menghempas kapal-kapalan
aku sudah bertambah dulu kaku.1948


Puisi Chairil Anwar – Selamat Tinggal


puisi chairil anwar

Selamat Tinggal


Perawan…
Aku berkaca
Ini muka penuh jejas
Boleh jadi punya?
Kudengar seru menderu
– privat hatiku? –
Apa saja kilangangin kincir lampau?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah lilin lebah butaAh…!!

Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal

Selamat tinggal…!!!


Puisi Chairil Anwar – Kehidupan

Vitalitas

Kalau sampai waktuku
kutahu lain seorang ‘morong merayu
Tidak juga kau
Bukan perlu sedu sedan itu!
Aku ini hewan jalang
Bermula kompilasi terbuangBiar peluru menembus kulitku
Aku tunak meradang menerjangLuka dan dapat kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih dan dewi.

Dan aku lebih tidak perduli
Aku kepingin hayat seribu hari sekali lagi.

Maret 1943


Puisi Chairil Anwar – Sendiri

Sendiri

Hidupnya tambah antap, tambah hampa
Malam barang apa lagi
Ia memekik agak kelam
Dicekik kebisuan kamarnyaIa membenci.
Dirinya terbit segala
Nan minta dayang untuk kawannya
Bahaya terbit tiap sudut.
Mendekat juga
N domestik ketakutan-menanti ia menyebut suatu nama
Terkejut engkau tertunduk.
Mungkin memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersendu: Ibu! Ibu!Februari 1943


Puisi Chairil Anwar – Batal

Sia-sia

Pengunci kali itu kau datang
Membawaku kembang berkarang
Mawar ahmar dan melati polos
Darah dan Suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu.
Tinggal kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua bukan mencerna
Sehari kita bersama.
Tak hampir-menjalari
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak lengang.Februari 1943


Sajak Chairil Anwar – Siap-Sedia

Siap-Sedia



kepada angkatanku
Tanganmu nanti tegang kaku,
Jantungmu lusa berdebar berhenti,
Tubuhmu nanti mengeras gangguan,
Tapi kami sederap mengganti,
Terus memahat ini Tugu,
Matamu jemah kaca saja,
Mulutmu nanti habis wicara,
Darahmu nanti bersirkulasi nongkrong,
Tapi kami sederap mengganti,
Terus berdaya ke Masyarakat Jaya.
Suaramu nanti diam ditekan,
Namamu tulat hilang akal hilang,
Langkahmu akan datang berat tulang ke depan,
Tapi kami sederap menggilir,
Bersatu maju, ke Kemenangan.Talenta kami menggiurkan selama,
Jasad kami tertempa kawul,
Spirit kami gagah perkasa,
Kami akan mewarna di angkasa,
Kami pemandu Bahgia kasatmata.Konsorsium, perseroan
Menepis segar kilangangin kincir terasa
Lalu menderu menyapu udara
Terus menembus surya kilat
Menyembur pendar ke penjuru segala apa
Riang menggelombang sawah dan hutanSegala menyala-nyala!
Apa tunu-nyala!

Sekutu, perkongsian
Dan kita angot dengan kesedaran
Mencucuk menerawang setakat belulang.
Persekutuan dagang, kawan
Kita mengayun pedang ke Dunia Kirana!

1944


Puisi Chairil Anwar – Sorga

Sorga

buat Basuki Resobowo
Seperti mana ibu + nenekku juga
tambah ketujuh turunan yang adv amat
aku minta pula supaya sampai di sorga
yang introduksi Masyumi + Muhammadiyah bersungai
susu
dan bertabur bidadari beribu
Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut spektakuler,
gamitan berbunga tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di ditu memang memang cak semau bidari
suaranya musykil mencelapaki sebagaimana Nina, mempunyai
kerlingnya Jati?

Malang, 23 Februari 1947


Tembang Chairil Anwar – Sudah Lewat Lagi

Sudah Silam Pun

Mutakadim adv amat lagi terjadi begini
Ujung tangan tidak bakal teranjak dari petikan senapan
Jangan tanya mengapa jari cari tempat di sini
Aku tidak tahu copot serta alasan lagi
Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang
penghabisan
Nan akan terima pusaka: kedamaian antara
runtuhan menara
Mutakadim dulu lagi, sudah dulu sekali lagi
Jemari tidak lakukan teranjak bermula petikan bedil.1948


Puisi Chairil Anwar – Taman

Taman

Yojana punya kita empat mata
lain pepat luas, mungil belaka
satu tak kekeringan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku sudahlah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya bukan berbanding permadani
halus lembut dipijak suku.
Bagi kita tidak halangan.
Karena
internal taman n kepunyaan berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh syamsu taman kita
palagan merenggut dari dunia dan ‘nusiaMaret 1943

***

Demikian kompilasi Puisi Chairil Anwar nan yaitu karya yang luar seremonial. Terimakasih sudah berkunjung, semoga berharga. Jikalau ingin mendengar dan mengawasi seperti barang apa puisi karya Chairil Anwar ini, Engkau bisa menontonnya di Youtube.

Vitalitas dan Mari Berkarya!

Incoming Terms:

  • puisi karya chairil anwar
  • himpunan puisi chairil anwar
  • sajak aku karya chairil anwar
  • puisi cak acap chairil anwar
  • musikalisasi puisi chairil anwar
  • pusparagam sajak pendek chairil anwar
  • sajak kedaulatan chairil anwar
  • puisi diponegoro karya chairil anwar
  • syair sumpah jejaka karya chairil anwar
  • puisi perjuangan chairil anwar
  • tembang pahlawan independensi karya chairil anwar

Source: https://ekspektasia.com/puisi-chairil-anwar/

Posted by: caribes.net