Puisi Guru Karya Taufik Ismail



UMPULAN PUISI KARYA






TAUFIQ ISMAIL




Hums, buat para penggemar sajak karya taufiq ismail, silahkan dia baca sepuasnya puisi-syair dibawah. Saya sudah siapkan Puisi berjumlah 31 an semuanya merupakan karya dari TaufiQ Ismail.

Kmpulan puisi karya TaufiQ ismail ini saya kerjakan atas 2 bagian dimana pada part I terdiri atas 16 biji kemaluan puisi sementara itu Part II terdiri atas 15 biji zakar tembang.





Yang Sira Urai SEKARANG Ialah PART II













(silahkan tatap lega daftar isi lakukan part I)





untuk yang memiliki tugas dari master,dosen maupun apapun itu… smoga ini dapat kondusif anda dalam menyelesaikan tugas kamu.

TERIMAKASIH



KUTAHU KAU KEMBALI JUA ANAKKU



Maka dari itu :
Taufik Ismail

Saudara-kandungku pulang perang, tangannya bangkang
Kedua pundak landai tiada tulang selangka
Anda merembah goyah, pandangnya pada kami satu-satu
Aku tahu kau lagi jua anakku

Tahu-tahu dia roboh di halaman dia kami menyangga
Ibu pula perlahanmengusapi dahinya tegar
Tanganku anyir ibu, tanganku berpembawaan
Aku luang kau kembali jua anakku

Siang itu dia kelempai ibu, lekah perutnya
Aku tak membidiknya, tapi tanganku bersimbah
Menyerah terbungkuk matanya silam kedang
Kami setolok putri malu, kupeluk dia di tanah

Kauketuk sendiri ambang dadamu anakku
Usapkan jemari sudah berdarah
Simpan laras senapan yang memerah
Kutahu kau kembali jua anakku



(http://zhuldyn.wordpress.com)






MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA




I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat dana siswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru heksa- hari terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Kamu mengarang adapun pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo ibarat tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi momongan Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan berbahagia Ph.D. berusul Rice University
Kamu sudah purnakarya perwira hierarki dari U.S. Army
Lampau dadaku tegap bila aku merembas
Mengapa cangap etis aku merunduk kini

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Syariat tidak tegak, doyong berkerotak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Melanglang aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Melanglang aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela cucu adam aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di majikan
Malu aku jadi orang Indonesia.

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol memikul dan birokrasi
berterang-nur curang berat dicari lawan,
Di negeriku anak pria anak dara, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara peroi-hancuran seujung kakas tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat rumit, perangkat-perabot ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
kian separuh turut kantung jas safari,
Di kedutaan raksasa momongan presiden, anak nayaka, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti kepala negara,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen kudus,
sepatutnya orangtua mereka berbunga-bunga,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-dahulu-sangat jelas
penipuan ki akbar-besaran minus seujung rambut pun bersalah ingatan,
Di negeriku khotbah, surat kenyataan, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan lain utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
cak agar berdiri sendi belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah makara martir dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
saat ini belaka temporer mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam alam baka akan diinjak dan dilunyah lembut-lembut,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan lain rahasia boleh ditawar kerumahtanggaan buram jual-beli,
kabarnya dengan segumpal SK
suatu hari akan masuk Bazar Efek Jakarta secara formal,
Di negeriku rasa kesepakatan tak ada karena dua puluh retribusi,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam gertakan,
Di negeriku telepon banyak disadap, netra-alat penglihatan keefektifan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pergelaran teror spektator antarkota
doang karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menyepakati angka pertandingan
yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tidak terbabit Beker Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi lagi Piala Manjapada itu cuma urusan negara-negara mungil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak ikut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton dulu satelit doang,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Semenanjung Priuk, Lampung, Peri Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
nan merupakan kebohongan kilauan-terangan
di sumber akar cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan perumpamaan
saksi cahaya-terangan,
Di negeriku karakter pekerti sani di dalam kitab masih ada,
tapi privat kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami sehabis menuai gabah.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku ropak-rapik
Syariat bukan tegak, doyong berkerotak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di pelana individu aku berlindung di pantat hitam kacamata
Dan kubenamkan topi barut di superior
Malu aku bintang sartan khalayak Indonesia.

1998



(http://zhuldyn.wordpress.com)






MEMANG Buruk perut DEMIKIAN, HADI




Setiap pertampikan selalu berputra
Sejumlah pembelot dan para penjilat
Jangan kau gusar, Hadi

Setiap pertentangan selalu menghadapkan kita
Pada kaum yang khawatir menghadapi gelombang
Jangan kau kecewa, Hadi

Setiap perjuangan yang akan memenangi
Sering mendatangkan pahlawan bintang sartan-jadian
Dan para jawara kesiangan

Memang demikianlah halnya, Hadi

1966
(http://zhuldyn.wordpress.com)



MENCARI SEBUAH MESJID






Oleh :






Taufiq Ismail




Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang tiang-tiangnya pepohonan di alas
fondasinya batu karang dan pualam seleksian
atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
dan kubahnya tembus pandang, mengerlap
digosok badai kutub paksina dan selatan

Aku rindu dan bertualang mencarinya

Aku diberitahu tentang semesta dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
dengan warna platina dan keemasan
berbentuk daun-daunan sangat beraturan
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan recup jalin berkepang
beruris-uris gambar episode kilangangin kincir

Aku ribang dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang palas-palas-menaranya
hingga ke sepuhan udara murni
dan menyeru seruan salat tak habis-habisnya
mewujudkan lingkaran mencantumkan pinggang manjapada
kemudian nadanya yang magfirah-amnesti
disulam malaikat menjadi renda-renda makao emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempatnya singgah

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah zawiat yang letaknya di mana
bila musim azan lohor engkau masuk ke dalamnya
beliau berjalan sampai tahun asar
bukan bisa kau capai baris pertama
sehingga bila engkau bukan mau kekeringan hari
bershalatlah di mana saja
di lantai sajadah ini, yang luas luar lazim

Aku kangen dan bertualang mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan di sebelah mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
dan hamba allah-manusia dengan antap membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
yang menyimpan cahaya syamsu
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berjasa
di sebuah wacana yang bukunya berjuta-miliun
terdapat di sebelah cak lari mihrab musala kita

Aku kangen dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid nan beranda dan urat kayu dalamnya
medan hamba allah-orang bersila bersama
dan tawar-menawar tentang dunia  dengan hati mangap
dan pendapat boleh berlainan namun tanpa percekcokan
dan sekiranya pula terserah percederaan bisalah itu diuraikan
dalam simpul koneksi yang sejati
dalam pesam langgar nan itu juga
terbentang di sebuah masjid nan mana

Tumpas aku intern kangen
Menjajat mencarinya
Di manakah anda gerangan letaknya ?

Pada satu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir ia senggang
habis seperempat kuadran turun ke barat
dan terdengar merdunya azan di pegunungan
dan aku pun ki melarikan penglihatan
mencari surau itu ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tidak kukenal mengapalkan sebuah gulungan
beliau berkata :

“Inilah sira masjid yang dalam pencarian tuan”

dia menunjuk ke tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanaman beliau bentangkan
secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin berputar beraturan
tanpa kata engkau berwudhu duluan
aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
panas kuku air terasa, tak hambar semoga
demikianlah air pancuran
beraduk dengan air mataku
yang bercucuran.

Jeddah, 30 Januari 1988
Taufiq Ismail



(http://zhuldyn.wordpress.com)






NASEHAT-NASEHAT KECIL Sosok Tua bangka




PADA ANAKNYA BERANGKAT DEWASA





Jika adalah yang harus kaulakukan
Yakni menyampaikan kebenaran
Jikalau ialah yang tidak bisa dijual-belikan
Ialah ang bernama keyakinan
Jika adalah nan harus kau tumbangkan
Ialah apa pohon-tumbuhan kezaliman
Jika adalah orang yang harus kauagungkan
Ialah sekadar Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih lengang
Ialah saksi di jalan Ilahi

April, 1965



(http://zhuldyn.wordpress.com)






Ribang Pada Stelan Jas Ceria dan Pantalon Kalis Bung Hatta




(Dibacakan maka itu Taufiq Ismail sreg: Program Takrif Gerakan Nasional
Pemberantasan Korupsi, Sumatera Barat, di Asrama Haji, Tabing, Padang,
tgl. 15 Ramadhan 1424 H/10 Nopember 2003 M)

I.
Di mulanya abad 21, pada suatu Fajar pagi aku berjalan kaki di Bukittinggi,
Hampir tak ada kabut tercatat di leher Singgalang dan Merapi, yang belum
dilangkahi matahari,

Celam-celum ii kabupaten kecil ini bisa dikatakan masih begitu sunyi,

Menurun aku di Tingkatan Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang,
cak jongkok aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta,

Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, di awal abad 20, lahir sendiri
bayi lanang yang kelak akan menuliskan alphabet cita-cita nasion di
langit pemikirannya dan merancang kar Negara di atas angin indra bayu sejarah
manusianya,

Ia tak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada
gergasi-gergasi dunia itu bahkan berteriak, “Masuklah kalian ke neraka
dengan uang yang kalian samarkan dengan etiket uluran tangan, nan pada
hakekatnya hutang itu”.

Celaan lantang 39 periode yang silam itu terapung di Ngarai Sianok, hanyut
di Kali Brantas, menyelam di Laut Banda, melintas di Selat Makassar,
hilang di distribusi Sungai Mahakam, kemudian tersangkut di halkum 200
juta manusia,

Dua ratus juta manusia itu, terbelenggu kalung hutang di tangan dan kaki,
di abad kini. Petinggi negeri di ruang masuk kantor pusat Pegadaian Dunia duduk
antri, mengirimkan tin kosong wadah cat minta sekedarnya diisi. Setiap
mereka pulang, hutang menggelombang, setiap bayi lahir langsung dua puluh
juta rupiah berkalung hutang, plonco akan lunas dua generasi mendatang.

II.
Urut-urutan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, aku merenung di depan rumah beratap
seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini, yang di awal abad 20 lalu tempat
lahir koteng bayi lelaki

Aku mengenang negarawan jenius ini dengan rasa penuh hormat karena
rangkaian panjang mutiara sifat: tepat waktu, tunai janji, ringkas
bicara, verbatim jujur, hemat serta bersahaja,

Angku Hatta, adakah garam sifat-sifat ini timbrung ke dalam sup kehidupanku?
Kucatat dalam puisiku, Angku kian suka garam dan tak gemar pemulas bibir.
Tujuh windu sudah berlalu, aku menyusun sebuah senarai perasaan rindu,

Ribang pada sejumlah sifat dan nilai, yang saat ini kita rasakan hancur
berderai-derai,

Kesatuan sebagai bangsa, rasa bersama bak makhluk Indonesia, koneksi
sejarah dengan pengalaman berpenyakitan dan senang, inilah kemauan yang luput
dari sekitar kita,

Kita rindu pada pengejawantahan dan isi nasib bersahaja, lurs yang tabung,
waktu yang tepat berdentang, janji yang tunai, kalimat yang ringkas
padat, tata hidup yang hemat,

Seketika kita kangen pada Bung Hatta, plong stelan jas putih dan pantaloon
putihnya, symbol perlawanan pada disain hedonisme dunia, tidak sudi
berhutang, kesederhanaan nan berkilau gemilang,

Kesederhanaan. Ternyata aku tidak bisa semangat bersahaja. Terperangkap n domestik
krangkeng serat kebendaan, porah dan jauh dari hemat, agenda serba
bendaku ditentukan maka itu merek 1000 komoditas impor, iklan televise dan tendensi
usia imitasi,

Bicara pendek. Musykil benar aku melisankan fikiran secara padat. Agaknya
genetika Minang dalam rangkaian kromosomku mendiktekan resan bicaraku
nan berpanjang-panjang. Angk Hatta, bagaimana Angku bisa bicara ringkas
dan padat? Teratur dan apik? Aku mengintip Angku plong suatu makan siang
di Jalan Diponegoro, yang sedemikian itu tertib dan resik,

Tepat waktu. Bung Hatta adalah tepat waktu kerjakan sebuah bangsa yang
selalu tersisa. Dari seribu berhimpit, sembilan ratus kebanyakan telat.
Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya merupakan detik berbuka puasa.

Kelurusan dan kejujuran. Pertahanan apa nan mesti dibangun di internal
sebuah pribadi biar orang bisa cerbak jujur? Jujur intern problem
rezeki, mustakim kepada isteri, jujur kepada suami, meyakinkan kepada diri
sendiri, teruji kepada bani adam banyak, yang bernama rakyat? Rakyat yang di
kecoh terus-menerus itu.

Ketika kita ribang bersangatan kepada sekelamin jas kudrati dan pantaloon
safi itu, kita mohonkan kepada Tuhan, kiranya ponten-nilai dan kebiasaan-resan
indah yang mutakadim hancur cerai-berai, kepada kita utuh dikembalikan.

III.

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, di depan flat beratap seng di Aue
Tajungkang nomor 37 ini aku ki beralih ke kanan dan ke kiri, kemudian aku
masuk ke dalamnya, dan di ruang peziarah menatap potret dinding aku takut,

Tampaklah Bung Hatta di antara rakyat banyak n domestik rancangan itu. Start-tiba
Bung Hatta keluar terbit gambar sepia itu.

Kemudian Bung Hatta berkata: “Ceritakan Indonesia kini menurut kamu”

Aku tergagap wicara. ^Angku, mangadu ambo kini. Angku, saya memperlombakan
kini. Krisis berleret-leret bagaikan tidak lalu-habis. Kegentingan ekonomi,
politik, penegakan hokum, pendidikan, pengangguran, kemiskinan, keamanan,
kekerasan, pertumpahan talenta, pemecah-belahan, dan di atas semua itu,
kegentingan tata krama nasion,

“Otoritarianisme panjang menyuburkan perilaku materialistic, tamak,
serakah, kecoh-menyesatkan, konspiratif, mengutamakan keluarga dekat,
memenangkan golongan sendiri, dan tingkah laku feodalistik,

Krisis angka luhur merubah potret wajah bangsa menjadi anarkis,
bringas, ganas, tak bersedia kalah, tidak segan memfitnah, memaksakan
kehendak, pendendam, perusak, pembakar dan pembunuh. Kekerasan, api,
gangguan, peluru, reruntuk mayat, tabun dan bom mencecah seluruh wajah mayapada,

Sekadar tentang bom itu, nanti lewat. Sepuluh dua puluh waktu pula,
lihat, akan terungkap apa sebenarnya sandiwara besar skrip dunia nan
dipaksakan hari ini. Senyampang-mentang.

Aku menarik nafas. Bung Hatta diam. Tak ada senyum di wajahnya
Angku Hatta. Harga barang apa saja di Indonesia naik semua, kecuali satu.
Harga nyawa. Nyawa murah dan luar biasa jatuh nilainya. Di setiap demo
orang mati. Tahanan petugas keamanan gampang mati. Perompak motor dibakar mati.
Momongan-momongan sekolah belasan musim dalam tawuran, tanpa rasa salah dengan
ringan memenggal temannya lain sekolah. Mahasiswa senior nan garang
menggasak, menggampar, menyengsarakan juniornya sampai ranah. Masa depan
pembantaian di kampus lain di ulang kembali. Kekhisitan dipelihara dan
diturunkan”

Berlebih nafasku. Bung Hatta bungkam. Matanya merenung jauh.

Alkohol, nikotin, judi, madat, putau, ganja dan sabu-sabu telah meruyak
dan mencengkeram negeri kita, mudah dibeli di selokan perkembangan, di sekolah, di
mana-mana. Indonesia telah menjadi sorga pornografi paling murah di
dunia. Dengan persen sepuluh ribu anak SLTP dengan mudah dapat membeli VCD
coitus lelaki-pemudi kulit putih 60 menit, 6 posisi dan 6 warna.
Anak-momongan SD membaca komik cabul dari Jepang. Di televisi peselingkuhan
dianjurkan dan diajarkan.”

Gelombang hidup permisif, gaya serba boleh ini melanda penulis-penulis pula.

Penulis-penulis perempuan, taruna usia, berlomba mencabul-cabulkan karya,
asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dan kompetisi Propaganda
Syahwat Merdeka. Betapa tekun mereka berbuat rekonstruksi dan
dekonstruksi daftar instruksi posisi libido kelangkang abad 21 nan
posmo perineum ini.

Berbunga uap alkohol, asap nikotin dan narkoba, mulai sejak bau koitus liar
20 juta keeping VCD dramatis, dari pekarangan-halaman komik dan gerendel cabul
menyebar master sputum yang mirip aroma mayat anak tikus terlantar tiga
musim di selokan pasar desa ke seluruh area.

Aku mematamatai orang-orang menutup cingur dan jijik akibatnya. Jijik. Malu
aku memikirkannya”

Jan aku tenan isin sakpore, sakpore, isin buanget dadi wong Indonesia,
Lek asane dadi nak Indonesia,

Masiripka mancaji to Indonesia,

Jelema Indonesia? Eraeun udang, eraeun,

Sipu ambo, sabana malu bintang sartan benur Indonesia,!(*)

Malu aku jadi turunan Indonesia.
(*) Bahasa Jawa, Bali, Bugis, Sunda dan Minangkabau.

Aku berhenti wicara. Bung Hatta masih ki ajek diam. Matanya merenung lampau
jauh. Tiba-tiba bayangan wajahnya menghilang.

IV
Indonesia tersaruk-saruk.
Terpincang-pincang dan tersendeng-sendeng,
Dicambuki krisis demi krisis seperti tak habis-habis.
Indonesia kini medium menangis.
Dari status Negeri Cobaan,
Sira turun derajat menjadi Area Hukuman,
Dan saat ini sedang bergerak merosot kearah Negeri Kutukan.
Indonesia tak tinggal-habis menangis.

Kusut, masai,
Nestapa, duka,
Pengap dan ilegal.
Dari dalam perigi berlumpur ini,
Bersumber bawah tubir yang menyesakkan nafas ini
Kami menengadah ke atas,
Masih mematamatai sepotong langit
Dan mendambakan cahaya.
Kami tunak berikhtiar,
Terus bekerja gigih
Seraya menggumamkan doa.

Halikuljabbar,
Jangan biarkan negeri kami
Nan kini sudah menjadi Distrik Azab,
Bergerak merosot kea rah Kewedanan Kutukan.

Tuhan,
Minta,
Jangan ditolak

Do’a kami.
2003



(http://zhuldyn.wordpress.com)






SALEMBA




Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak pelahan
Memusat pemakaman
Siang ini

Anakmu yang berani
Sudah lalu tersungkur ke mayapada
Ketika melawan totaliterisme

1966



(http://zhuldyn.wordpress.com)






Sebuah Jaket Berlumur Darah




Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua mutakadim menatapmu
Mutakadim berbagi duka nan agung
Privat kepedihan berahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah berat mentari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang
Cak sambil mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada despotisme
Dan mengenakan busana kebesaran sang pelayan?

Spanduk terperonyok itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Tungkul bendera sekepal tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melangkaui media yang melintas
Ahmar-bangkang beca, kuli-kuli pelabuhan
laung-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi mayat ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN

1966



(http://zhuldyn.wordpress.com)






SERATUS JUTA



Oleh :
Taufik Ismail

Umat miskin dan tunakarya berdiri periode ini
Seratus miliun banyaknya
Di tengah mereka tak senggang akan berbuat barang apa
Kini kutundukkan kepala, karena
Ada sesuatu segara luar halal
Hilang terasa berasal rongga dada
Saudaraku yang pupus rezeki, minus kerja
agak kelam periode ini
Seratus juta banyaknya
Kita mesti mengamalkan sesuatu, betapun sukarnya.

1998

Republika,
16 Agustus 1998
Sajak-sajak Restorasi Indonesia
Taufik Ismail



(http://zhuldyn.wordpress.com)






Tembang Catur KARTU DI TANGAN




Ini bicara berhadap-hadapan cuma, bang
Urai karcis tertentang tampang
Sehingga semua jelas semerawang
Monoloyalitas kami
sebenarnya pada uang
Cukuplah, ka-bukaan saja kita bicara
Sobek tertumbuk pandangan terkubak semua
Sehingga untuk apa basi dan basa
Sila kami
Finansial Yang Maha Esa
Jangan sungkan buat apa yah-payah
Analisa psikis tahi lalat cuma kwasi ilmiah
Tak usahlah sah-susah
Ideologiku serupa itu jelas
ideologi rupiah
Serupa ini sindikat, bila dadaku jalani pembedahan
Setiap jeroan berbaris tertentang
Sehingga jelas sebagai keseluruhan
Asas tunggalku
memang kelobaan.

1998



(http://zhuldyn.wordpress.com)






TENTANG SERSAN NURCHOLIS



Maka itu :
Taufiq Ismail

Seorang Sersan
Kakinya hilang
Dasawarsa yang suntuk

Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel arloji

Sekali datang
Teman-temannya
Sudah manusia lazim

Dengan senyum ditolaknya
Karcis anggota
Keluaran pejuang

Sersan Nurcholis
Kakinya hilang
Di jaman Persebaran

Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel aroloji

(1958)

Budaja Djaja
Thn. VI, No. 61
Juni 1973



(http://zhuldyn.wordpress.com)






TUHAN SEMBILAN SENTI




Indonesia adalah sorga luar biasa palamarta bikin perokok, tapi tempat siksa
tak tertahankan untuk orang yang enggak merokok,

Di sawah petani merokok, di industri pegiat merokok, di jawatan karyawan
merokok, di kabinet nayaka merokok, di reses legislator anggota DPR
merokok, di Perdata Agung nan bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perladangan pemetik biji kemaluan sertifikat
merokok, di lambu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan
empunya modalnya merokok, di pemakaman sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im dulu ramah bagi perokok,
tapi tempat aniaya kubur roh-atma kerjakan anak adam yang tak merokok,

Di kencong gerogol SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala
sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di urat kayu orasi
dosen merokok, di berapatan POMG ibu bapak murid merokok, di bibliotek
kecamatan cak semau pesuluh menyoal apakah ada pokok tuntunan mandu merokok,

Di angkot Menjangan penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang
duduk cucu adam bertanding merokok, di loket penjualan karcis makhluk merokok,
di kereta jago merah penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan
antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai
kabarnya kuda dokar minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana suraloka para dewa-dewa bagi perokok, tapi
tempat cobaan sangat susah bagi orang yang tidak merokok,

Rokok telah menjadi batara, tagut, tuhan mentah, diam-sengap menguasai kita,

Di pasar cucu adam merokok, di warung Kebun pengunjung merokok, di bar di
toko buku individu merokok, di warung kopi di diskotik para pengunjung merokok,

Kembur kita jarak sekacip meter tak tertahankan abab rokok,
bayangkan isteri-isteri nan bertahun-masa menderita di kamar tidur
ketika meladeni para junjungan yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di selokan peraduan ketika dua makhluk bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang nan dengan cueknya mengepulkan gas rokok di
jawatan atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin bertambah buas
penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia yaitu sorga tamadun pengembangbiakan nikotin paling subur di
mayapada, dan kita nan tak serempak mengganjur sekali juga asap tembakau itu,
bisa dihinggapi kena,

Di puskesmas pedesaan basyar kampung merokok, di apotik yang antri obat
merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu
sinse pasien merokok, dan ada kembali dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli cucu adam
merokok, menyandang raket bulu tangkis cucu adam merokok, pemain bola PSSI
umpet-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, kejuaraan
bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium tungkai sponsor
firma rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek basyar bodoh merokok, di
dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh cucu adam pusung merokok, di
ira sidang ber-AC mumbung, dengan cueknya, pakai dasi, manusia-orang goblok
merokok,

Indonesia yakni semacam firdaus-jannatu-na’im dahulu baik hati kerjakan orang
perokok, tapi tempat siksa kubur usia-hidup bakal orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah jamhur terhormat
merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli
hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu horizon, tapi
ahli hisap rokok. Di antara jemari telunjuk dan jari perdua mereka tersisip
berhala-kultus kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke
mana-mana dibawa dengan tetap, satu kantong dengan rantai tasbih 99
butirnya,

Mengintip kita bermula mengot perputaran udara ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan ajudan, cuma minus nan memegang dengan
tangan kiri. Inikah gerangan perlambang nan terbanyak kelompok ashabul
yamiin dan yang kurang golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut
tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan
ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tidak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada n domestik khamr. Khamr diharamkan. 15
kelainan suka-suka internal daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000
zat kimia beracun ada pada pinang sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tidak wajib dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan lengang-nyenyat, karena plong zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, telah cak semau babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketergantungan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak nan
nyuruk membunuh allah-almalik kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu
ujung rokok mereka. Waktu ini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap
rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan terserah yang mulai
terbatuk-batuk,

Pada momen sajak ini dibacakan lilin batik hari ini, sejak tadi pagi mutakadim 120
cucu adam di Indonesia ranah karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok bertambah
dahsyat tinimbang target kecelakaan pulang balik, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, doang setingkat di bawah alamat
narkoba,

Plong ketika sajak ini dibacakan, pujaan-kultus kecil itu sangat berkuasa
di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan
serawal, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan
indah dan cerdasnya,

Lain perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, bukan perlu ruku’ dan
sujud bagi taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena hamba allah akan tekun dan
fana dalam nikmat lewat seremoni kobar jago merah dan sesajen asap
tuhan-allah ini,

Rabbana, beri kami maslahat menghadapi fetis-kultus ini.

****
Taufiq Ismail



(http://zhuldyn.wordpress.com)






YANG Gelojoh TERAPUNG








DI ATAS GELOMBANG


Seseorang dianggap tak bersalah,
hingga kamu dibuktikan hukum bersalah.
Di negeri kami, ungkapan ini terdengar seperti itu luhur.
Kini simaklah sebuah kisah,

Koteng personel panjang,
gajinya sebulan suatu sekeping miliun yen,
Di garasinya ada Honda metalik,Volvo hitam,
BMW abu-debu, Porsche biru dan Mercedes merah.
Anaknya sekolah di Leiden, Montpelier dan Savannah.
Rumahnya bertaburan di Menteng, Kebayoran dan
Macam Macam Luhur,
Setiap semester ganjil,
isteri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura.
Setiap semester genap,
isteri gelap vakansi di Eropa dan Afrika,

Anak-anaknya jabat dua pabrik,
tiga apotik dan empat biro jasa.
Saudara sepupu dan kemenakannya
punya lima toko onderdil,
enam biro iklan dan tujuh pusat belanja,
Detik ringgit roboh terperosok,
kepleset macet dan hancur jadi bubur,
dia ketawa terbahak- merakah
karena depositonya dalam dolar Amerika semua.
Pasca- matahari dua kali tenggelam di langit barat,
jumlah rupiahnya melesat deka- kali lipat,

Krisis kian menjadi-kaprikornus, di mana-mana orang antri,
maka seratus kocek plastik hitam dia bagi-lakukan.
Isinya masing-masing lima genggam beras,
empat cangkir minyak manis dan tiga bungkus laksa cepat-kaprikornus.
Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di boks televisi,
dan masuk berita koran Jakarta halaman panca pagi-pagi sekali,

Gelombang mau nomplok, datanglah gelombang,
setiap air bah pasang sira senantiasa
terapung di atas banjir bandang.
Banyak basyar tenggelam tidak mampu ketimbul lagi,
dulu kamu berkata begini,
“Yah, masing-masing kita rejekinya kan sendiri-seorang,”

Seperti bandul jam tua yang bergoyang kau lihatlah:
kekayaan misterius mau diperiksa,
mal tidak kaprikornus diperiksa,
kekayaan mau diperiksa,
kekayaan tak diperiksa,
kekayaan harus diperiksa,
kekayaan lain jadi diperiksa.
Pendulum jam tua Westminster,
perian empat desimal satu diproduksi,
capek bergoyang begini, setakat dia berhenti sendiri,

Kemudian ide baru nomplok lagi,
isi formulir harta benda sendiri,
harus terus terang tapi,
dikirimkan pagi-pagi tertutup kemas,
karena ini tanya sangat pribadi,
Selepas itu suasana hening sepi lagi,
saja terserah bunyi ceceh ketitir sekali-sekali,
Seseorang dianggap tak bersalah,
sebatas sira dibuktikan hukum bersalah.

Di kewedanan kami, idiom ini terdengar begitu mulia.
Bagaimana membuktikan bersalah,
kalau kulit tak dapat dijamah.
Mencecah enggak dapat dari jauh,
memegang tak dapat dari dekat,

Karena ilmu kiat,
orde datang dan orde menginjak,
kamu akan tegar saja selamat,
Kini tatap,
di patio rumahnya dengan arsitektur Mediterania,
cak sambil menghirup teh
nasgitel

ia duduk menerima telepon
dari isterinya yang sedang tur di Venezia,
sesudah membiji tiga proposal,
dua diskusi panel dan sebuah rencana berapit kerja,

Provisional itu disimaknya lagu primadona


My Way,

senandung lama Frank Sinatra
nan semalam baru meninggal dunia,
ditingkah lagu zakar perkutut deka- juta
berpunca sangkar tersidai di atas sana
dan tak habis-habisnya
di layar kaca jinggel bola Beker Bumi,



Go, go, go, ale ale ale…






1998




Source: https://sastra-inadu.blogspot.com/2012/02/kumpulan-puisi-karya-taufik-ismail.html