Puisi Habis Gelap Terbitlah Terang

 photo where_is_my_mind___by_bernardumaine-d5cyluq_zps5342132c.jpg


 “Where is my mind?” artwork by
bernardumaine






Oleh Umar Fauzi






Membaca sejarah sastra (baca, perpuisian) Indonesia –juga siapa kesusastraan marcapada– dengan pendirian sederhana adalah

membaca pengotakan zaman, sebagai perbendaharaan yang coba dimitoskan ke dalam angkatan-armada alias periodeisasi karangmengarang. Bermula bentukan tentara/waktu itulah, kritikus –secara sadar maupun terpaksakan– menemukan benang merah hingga layaklah disebut ibarat sebuah angkatan bla-bla-bla kesuasatraan Indonesia. Ini menjadi makfum, seperti diungkapkan oleh Dami N Toda, tentang “benang abang”

bahwa hadirnya kesamaan pencerapan diakibatkan “roh tahun” alamiah nan biasanya muncul misal

trend

kecenderungan karena lingkungan kode, bunyi bahasa budaya, transfigurasi dan konsumsi budaya nan setinggi. Secara praktis kembali usaha ini memunyai maslahat besar buat perbendaharaan museum sastra Indonesia di masa mendatang, terutama bagi para pemerhatinya.

Menarik dari apa nan diungkapkan oleh Dami N Toda tersebut, adalah pun pembagian atau pemetaan sastra menurut “area estetika” yang dapat ditelaah melangkahi keberadaan/ tempat terlampau sastrawan. Bintang sartan tidak hanya pendistribusian dalam kebaikan kurun tahun, sastra Indonesia, telah menggoda para kritikusnya bikin meluluk sengkarut proses kreatif dengan keberadaan sang penyair. Terjadi kemudian, wilayah geografis itu, tidak sekadar dibaca sebagai usaha pencapaian estetik individu, tetapi reka cipta corak-dandan keterwakilan yang dibaca secara komunal sebagai ciri karya sastra daerah bla-bla-bla.


Usaha buat ini sudah cukup banyak, misalnya nan diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, berjenjang “Kaki langit Sastra Indonesia” tahun 2004 menciptakan menjadikan koleksi ahli sastra sendirisendiri provinsi, diterbitkan oleh penerbit Logung dan Akar Indonesia. Antologi Jawa Timur n domestik program tersebut adalah
Birahi Hujan angin, memuat puisi Mardi Luhung, W. Haryanto, Hangit Tjahyadi, Tjahjono Widijanto, dan Tjahjono Widarmanto dengan kurator Zawawi Imron.

Majalah
Horison, misalanya kembali korespondensi menerbitkan edisi daerah. Koleksi daerah tingkat misalnya dapat dibaca pada koleksi
Lima Pusaran,
Anakan Rampai Syair Festival Seni Surabaya 2007, penyunting Nirwan Dewanto, memuat puisi-puisi Zen Hae (Jakarta) Iswadi Pratama (Lampung), Gunawan Maryanto (Jogja), S. Yoga (Surabaya), dan Sindu Putra (Bali).



Bersumber serangkaian antologi “konsul” kewedanan geografis itulah, mencuat dan menjadi menyeret yaitu perhatian para kritikus terhadap puisi-puisi Jawa Timur (dibaca juga, Surabaya), yang katanya, keluar “plus jauh” dari
maenstream
perpuisian Indonesia. Inilah puisi gelap.



Resepsi menarik itu dapat dibaca sebagaimana pendapat berikut. Puisi-tembang ilegal sebagai akibat salah baca terhadap surealisme yang coba diusung seumpama “ideologi” introduksi Binhad Nurrohmad (privat


Sastra Perkelaminan,
Pustaka Pujangga

2008); kecenderungan apokaliptik, ceramah Abdul Hadi lega waktu “Cakrawala Sastra Indonesia” dan kata pengantar ArifB. Prasetyo

untuk
Kompilasi Lima Penyair Jatim, Rumah Pasir, Festival Seni Surabaya 2008; Nirwan Dewanto mengatakan “syair (Surabaya) yang menjelma keajaiban atau keganjilan dengan kocokan maut kata-kata.”



Memang nan mengemuka dalam peta penyair Jawa Timur, kebanyakan berpokok mereka yaitu penyair-penyair nan matang berproses di Surabaya, utamanya dari kampus, seperti W. Haryanto, Mashuri, Indra Tjahjadi, S. Yoga, Tjahjono Widarmanto. Terlepas berpunca Surabaya nan menjadi inspirasi kelangsungan hidup mereka, Surabaya adalah delta pertemuan menarik, sebelum akhirnya para penyair itu kembali ke kampung pekarangan, sehingga puisi terlarang bukan hanya dibaca umpama Surabaya, akan hanya ia adalah hak Jawa Timur.


Puisi bawah tangan itu tak hanya dibaca bak capaian estetika individu, engkau sekali lagi dibaca sebagai Surabaya, lebih-lebih pula dibaca sebagai Jawa Timur. Karena itulah kamu pun tak pun dibaca andai pencapaian estetika bani adam, akan sahaja berubah menjadi “ideologi” komunal.


Perilaku ini ditemui pada “proklamasi” antologi
Manifesto Surrealis
oleh W. Haryanto, Mashuri, Indra Tjahjadi, dan Mohamad Aris. Jejak itu juga terasa dalam antologi tunggal mereka. Garda inilah sebenarnya yang cukup memerangahkan publik sastra Indonesia. Dengan membawa roh Andre Breton, pencetus Surealisme, mereka mengira telah sebatas lega taraf surealisme nan dimaksud, yang terjadi adalah sajak-puisi mereka jatuh lega “kesamaran.” Di sinilah rumusan puisi surrealis dan puisi terlarang mesti dikonkretkan kembali.



Secara historis, Surabaya –sebelum puisi madzab “surealis” ini ada– telah cak semau prosa surealis nan dikatakan pun “anti novel” diciptakan oleh pengarang Iwan Simatupang dan Fiil Darma. Kedua nama inilah dikatakan sebagai pembaharu prosa Indonesia lagi andai pengambil inisiatif prosa masa ’70an. Kehadiran dua pengarang penting ini, setidaknya boleh dilihat dari banyaknya perjamuan apresiatif terhadap karya-karya mereka. Meskipun dikatakan gangsal dan menyimpang berusul “struktur” sah prosa, malar-malar estetika inilah nan dibaca laksana kenikmatan prosa makanya pembacanya. Apalagi novel eksistensialisme ini juga dapat dikupas dengan baik oleh murid SLA, Julia Surjakusuma, jago penulisan esai DK Jakarta1973.


Sepikiran dengan suksesnya surealisme internal prosa, propaganda menjengkolet terdapat dalam khazanah puisi “kredo” surealis Surabaya. Situasi ini maklum, karena puisi punya struktur berbeda dengan prosa. Menarik untuk melihat bagaimana lain mudahnya, surealisme puisi diterima makanya bani adam, merupakan kata-kata keladak Hasif Amini (dalam rubrik “Tilas”,
Kompas,
5 Maret 2006 dengan judul “Surealisme”) umpama
sebuah cita-cita nan mulia, tapi alangkah sulitnya. Tapi apa salahnya…
Kembali barang apa yang dikatakan maka dari itu S. Yoga (SINDO, 1 Juli 2007) “puisi surealis nan baik tentu saja teguh membayangkan sesuatu yang berupa intern ketidaknyataan. Kualitas ini harus dicapai jika tidak ingin disebut ibarat puisi gelap.”



Polemik “sajak gelap” Surabaya, pun secara kebangsaan, seperti pernah dialamatkan puas puisi-puisi Afrizal Malna tidak hanya menyangkut pola ekspresi simbolik yang terlampau subjektif sehingga meruwetkan pembaca, akan hanya –intern konteks perpuisian Surabaya– lebih kepada pilihan tema nan terakumulasikan dari diksi nan tersebar. Takdirnya kita membaca secara bersamaan puisi-syair Afrizal Malna, Hangit Tjahjadi, dan Mardi Luhung misalnya, karuan permasalahan puisi bawah tangan tak juga dalam konteks kesulitan dipahaminya sebuah puisi, melainkan lega koneksi keadaan n domestik sajak tersebut juga tema yang diangkat.


Afrizal Malna sebagai “anak”berasal modernitas yang sedang berlangsung, memungut remah-sisa-sisa diksinya berpangkal apa yang dia lihat sebagai representasi teknologi, benda-benda, dan kegelisahan-kebingungan di dalamnya, internal
Kalung Berpunca N antipoda,
(Grasindo,1999). Alias “anak” pesisiran, macam Mardi Luhung nan bebal dan tanpa tahi lalat itu, dalam
Ciuman Bibirmu yang Kelabu,
(Akar tunggang Indonesia, 2007). Menikmati imaji-imaji kedua jenis puisi itu, karuan akan berlainan ketika kita menikmati sarkasme maut-nya Cingur Tjahjadi, sebuah kumpulan puisi dalam
Pengiriman barang Waktu
(2004) nan remah diksi-diksinya tak “memijak” mayapada, melainkan mengawang dan dari bermula marcapada antah berantah, mungkin lebih mirip komidi gambar hantu Indonesia, ketika kita menikmatinya, pula menikmati puisi-puisi aurat-nya Mashuri, maupun kesangaran W. Haryanto.




Angkatan Baru Penyair Surabaya




Estetika haram itu kali akan atau sudah berlalu, dirasakan atau tidak, beberapa penyairnya mulai tekor “jenuh” dan membelot kendati bukan secara terang-terangan dan segan plong pola pengungkapan baru, tengoklah misalnya puisi Mashuri, sesudah
Mempelai Lumpur
–setidaknya yang terbit di media-media nasional dan lokal bilang tahun belakang– seperti dua puisinya yang termuat pusparagam Pen Emas 2008, misalnya.



Meskipun begitu masih cak semau studi cukup menarik dan kontras, pabila menikmati antologi bersama lima penyair Jawa Timur dalam
Rumah Pasir, Festival Seni Surabaya 2008. Dalam puisi itu kita melihat tiga penyair “lawas”: Indra Tjahjadi, Mashuri, dan Denny Tri Ariyanti, serta dua penyair “baru”: A. Muttaqin dan F. Aziz Manna. “Lawas” karena mereka masih menampilkan kegarangan n domestik ketaksaan puisi-puisi mereka. Dan “baru” karena dua penyair tersebut keladak, adalah penyair yang datang dengan segala respon lahir-batin terhadap kesuraman puisi-syair pendahulunya.



Puisi-tembang Festival Seni Surabaya 2008 yang bersusun
Tribute to Surabaya
itu, segala boleh buat, sepatutnya ada bertambah pantas disebut “Panca Penyair Surabaya (kota)”, tidak Jawa Timur. Ini karena kelima penyair tersebut ternyata ialah penyair yang jalinan menikmati delta pendidikan sastra di Surabaya. Arif B. Prasetyo selaku kurator ternyata masih diganduli kenyataan bahwa Surabaya yaitu penghasil syair apokalipstik, maka yang tertulis dan pantas mengaplus
Tribute to Surabaya
adalah sajak-syair seperti mana yang “lawas”. Seolah-olah Surabaya dengan dinamika sosialnya memanglah “segelap” puisi-sajak itu, padahal
Tribute to Surabaya
akan lebih dinamis sekiranya Arif memahami gerakan “penghijauan” di Surabaya. Setidaknya jikalau ini terjadi akan lebih layak menyandang “ panca penyair Jawa Timur”, sama dengan halnya
Pelayaran Anakan, antologi mutakhir penyair Jawa Timur, sortiran Festival Kongkalikong Durasim 2007. Terlepas semenjak kondisi keterbatasan itu, antologi
Rumah Batu halus
akan dibaca andai pancang perlintasan puisi Surabaya, yaitu terbit gelap menjadi panah.



Merupakan A. Muttaqin, penyair fenomenal Jawa Timur waktu ini, kalau mau dikatakan laksana pelopornya. Kecendrungan itu setidaknya dibuktikan maka itu diterimanya puisi-puisi Muttaqin makanya masyarakat sastra Indonesia. Kemunculan penyair ini, sudah lalu mengejutkan awam sastra Jawa Timur. Sebelumnya, Muttaqin tak perantaraan ada dalam kar penyair cukup umur Jatim. Lihatlah misalnya tulisan S. Yoga yang menyebut tanda-nama penyair muda Jatim dalam esainya di
SINDO
1 Juli 2007, tidak suka-suka nama Muttaqin di sana. Penyair lulusan Sastra Indonesia Unesa ini, seolah tanpa permisi kepada pendahulu Jawa Timur, mendadak sinkron melejit di koran kewarganegaraan.



Muttaqin sudah setakat plong pencapain estetik. Membaca Muttaqin dengan segala apa usahanya menarasikan flora dan satwa, begitu juga menikmati usaha “penghijauan” yang sering dikampanyekan Surabaya. Ia tidak batik arang para-jelaga Surabaya sebagiamana penyair pendahulunya. Sajak-puisinya sekali lagi tak perlu dikait-kaitkan dengan falsafah Jawa Timur dalam artian kognitif maupun sosiologis. Sampai-sampai Muttaqin dengan demikian, telah melepaskan diri terbit tema-tema umum nan selama ini digarap oleh pendahulunya, semacam puisi-puisi ilegal.


Sajak-sajaknya mendamaikan diksi dengan rima, sehingga simbolisme nan naratif bersabung dengan pengisahan logis. Inilah siapa nan menciptakan menjadikan sajaknya sorot benderang. minimal, pembaca dapat terbuai maka dari itu ketukan ritmis sajak-sajaknya, seperti orang Belanda yang terbuai menikmati gending Jawa. Lihatlah salah satu petikan sajak ini:



Di gelap ombak, mungkin di taman burung dandang, kuraba-




raba keharuman yang menanjak. Sekelamin daging




membengkak dan segala arwah merebak



(Lukisan Kamboja)


Begitulah Muttaqin mengeksplorasi diksi dengan rima sebagai “diri” kepenyairannya. Bunyi-bunyi puisinya menyimpang secara alamiah. Muttaqin cukup jeli menangkap mangsa dan menyusunnya dalam gambar estetika bahasa. Kita dapat merasakan bagaimana konsonan /k/ menjadi ritmis nan berpadu dengan diksi yang anak-pinak sebagai halnya /ombak/ dan /gagak/ nan mempunyai gayutan ketaksaan. Begitupun dengan frasa /keharuman menanjak/, /sepasang
daging membesar/ dan /jiwa menjalar/. Puisi ini yakni narasi tentang Kamboja. Kamboja menjadi fon imajinya pun untuk menjelaskan tema mortalitas.
Lukisan Kamboja
dapat ditafsirkan –selain beragam kemungkinan kata keterangan– seumpama peristiwa membusuknya sebuah batang: dilalui oleh penanda kematian yang secara awam dimetaforkan dengan dendang, lalu layon itu membusuk –di sini Muttaqin menggunakan diksi ‘keharuman’ sehingga tampak ironis, sahaja inilah ledakan diksinya– lalu membelenting, setakat tidak berbentuk karena arwahnya telah menjangkit ke tempat semestinya.



Bandingkanlah frasa berpokok metafor yang disusun dalam petikan puisi-puisi berikut, “Pikiran
bunga-anakan
terteguk di intern/ kemaluanmu,

(Apartemen Duan-Daun, Indra Tjahjadi) dengan “
hanya karna menanam
bunga-rente


di kepala” (Laut Lalat, A. Muttaqin); atauketika
mayat-mayat


menari –gemulai/ menorehkan talenta pada persil peradaban” (Joget Sebuah Musim, Denny Tri Aryanti) dengan “Seperti
batang


yang tenang, seperti langit nan/ lenggang, jikalau umur adalah semut yang merambat ke/ petang berat.” (Lukisan Kamboja, A. Muttaqin); atau “aku segera
beriman


lega kekosongan” (Juga Ke Neraka, Indra Tjahjadi) dengan “Raut nan/ mengajar aku bersujud dan
meyakini


Yang Tak/ Terjemput” (Tipar Kerang, A. Muttaqin).



Bait-kuplet sajak di atas, telah menggambarkan bagaimana A. Muttaqin merespon geliat diksi yang penuh dengan wewangian nanah dan talenta nan buruk perut menghiasi sajak Surabaya dekade awal 2000-an. “Lukisan Kamboja” nan bertema kematian digambarkan dengan demikian
tenang
oleh Muttaqin dan terasa logika “alur” dan narasinya. Ini karuan berbeda dengan tema mortalitas yang mendominasi puisi-puisi Alat pencium Tjahjadi, dkk, yang berjumpalitan selayaknya penghuni neraka.



 Dari sini dapat terbaca bagaimana sesungguhnya rumusan tembang ilegal, adalah tak permasalahan kesukaran dipahaminya puisi-syair Surabaya, lebih dari itu yaitu gedung suasana itulah yang terlarang. Secara gamblang Indra menyepakati bahwa
sajakku terasing
dan
menemukan rumahnya dikegelapan. Puisi-puisi semacam itu mungkin lebih tepat, disebut puisi gotik, yang bukan namun melemparkan pembaca pada kesunyian merangkam melainkan pada kengerian.



Berpokok sini lagi, surealisme yang menjadi mula segala persoalan estetik nan diangkat wajib ditegaskan. Surealisme adalah kata keterangan terhadap psikoanalisis Sigmund Freud –terutama konsep impi– yang diformulasikan dalam teknik penulisan syair maka itu Andre Brenton, disebut dengan
otomatisme. Secara terlambat teknik ini yakni usaha melukiskan alamat dengan naluri pangkal sadar dan menafikan prinsip-prinsip logika (begitu juga teori strukturalis) dalam proses penciptaan karya seni.



Mengingat segala yang hubungan dikatakan maka dari itu Sigmund Freud bahwa impi adalah jalan tol menentang standard pangkal sadar, maka dalam konteks ini representasi “impi” yang coba dihadirkan penyair Surabaya, bertambah kepada mimpi buruk nan mewujudkan pagi kaprikornus buta dan haram, pecah plong damba indah nan membuat pagi kaprikornus benderang. Jadi sebenarnya inilah letak persoalannya. Senada juga dengan apa yang dikemukakan S. Yoga di depan.


Perbandingan menarik sekali lagi dapat kita baca pada studi puisi-puisinya Mardi Luhung yang pula “dituduh” terlarang. Kalau puisi-tembang Surabaya secara sadar menasbihkan diri andai surealisme –yang pada risikonya memang berkecendrungan gelap– maka puisi Mardi Luhung adalah karnaval –istilah Mikhail Bakhtin– imajisme dengan jauhar-benih diksi yang secara sadar yakni kondisi sosio-psikologis pesisiran Jawa Timur, Gresik. Pencapaian estetik inilah yang harus dibaca, jika kepingin memasuki centang-perenang dan hingar-bingar tembang-puisi Mardi Luhung yang gegap-gempita di tengah “nyanyi sunyi” dominasi perpuisian Indonesia. “Siapkan cintamu kerjakan dagingku, lelaki perahuku/ lekatkan seluruhnya pada rantau dan bakau-bakauan/ yang terengkuh dari bahasaku” (Lelaki Perahuku) demikian kata si penyair Mardi Luhung.


Selayaknya akrab secara bersamaan ketika Surabaya dibaca sebagai penggarap puisi gelap, ada koteng penyair yang berada “di luar pagar” kecendrungan tersebut. Dia yaitu S. Yoga. Ekspresi puisi-puisi S. Yoga ialah sebuah objek yang dia narasikan dengan segala bentuk filosofis nan mengganduli sajaknya. Kamu serupa pemotret ulung, yang dengan itu engkau hendak menampilkan sisi humanis, sebagaimana petikan tembang ini: “di atas penderitaanmu/ memang kepelesiran nan demap kucari/ dengan api nan menerangi keremangan/ sebelum awak lampau dilalapnya” (Lilin).


Sajak S Yoga ini menemui turunannya pada transendental eksposeF. Aziz Manna. Salah seorang penyair angakatan baru penyair Surabaya. Di saat sahabat-sahabatnya masih “memercayai” kitab
Makrifat Surealis
–seperti Dheny Jatmiko dan Ahmad Faishal– F Aziz Manna, tegak berdiri dengan puisinya yang tersisa bahkan mengarah realis, seperti tembang berikut: “ternyata, perian namun hitungan/ sekadar cara meninggikan kenangan/ seperti mesin pembeku dalam almari es” (November). Karakter puisinya memang belum pasca- dan sebebas syair-puisi Muttaqin. Aziz masih mengakui gaya“umum” perpuisian Indonesia, terutama terasa sekali pola S. Yoga.



Copot dari apa yang telah saya uraikan di atas, Surabaya kini tengah memasuki era hijau intern kancah perpuisian Indonesia. Sebuah dinamika yang akan terus bergerak mengisi kekosongan alias mendobrak konvensi yang sudah lalu mengalami kejenuhan dan kepunahan. Muttaqin dan Aziz Manna merupakan generasi nan secara lembut mana tahu akan mengatakan selamat lalu ketaksaan…



*) Umar Fauzi, pengamat sastra keluaran sastra Indonesia Universitas Kawasan Surabaya, lewat di Sampang Madura



Catatan : Esai ini tersurat lega harian
Surabaya Post
sreg hari 2009 lalu.



Source: https://sarbikita.blogspot.com/2013/03/puisi-surabaya-habis-gelap-terbitlah.html

Posted by: caribes.net