Qs An Nur Ayat 4

Pecihitam.org
– Kandungan Surah An-Nur Ayat 4-5 ini, menerangkan bahwa orang-orang yang mengecap perempuan yang baik-baik (muhsanat) berzina, kemudian mereka itu lain bisa membuktikan kesahihan tudingan mereka, dengan mendatangkan catur orang syahid nan objektif nan menyaksikan dan mengaram sendiri dengan netra penasihat mereka perbuatan zina itu, maka hukuman buat mereka ialah didera delapan desimal mungkin, karena mereka itu telah membuat malu dan merusak label baik orang nan dituduh, seperti mana keluarganya.


Pecihitam.org, dapat Istiqomah beranak artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menaburkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.



DONASI Sekarang

Sang pencipta menerangkan bahwa orang-insan nan menuduh itu apabila tobat, yaitu mengganjur kembali pengaduan mereka, menangisi perbuatan mereka, memperbaiki diri dan memulihkan nama baik yang dituduh, maka mereka itu kesaksian mereka bisa diterima pula.

Terjemahan dan Adverbia Al-Qur’an Surah An-Cerah Ayat 4-5

Surah An-Cuaca Ayat 4
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Terjemahan: Dan makhluk-sosok yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (melakukan zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (nan mengaibkan itu) delapan puluh boleh jadi dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka lakukan sepanjang-lamanya. Dan mereka itulah makhluk-orang yang fasik.

Adverbia Jalalain:
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ
(Dan orang-orang yang mencamkan wanita-wanita yang baik-baik) mencerca berzina wanita-wanita yang memelihara dirinya berbunga kelakuan zina
ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ
(dan mereka bukan mendatangkan empat individu syahid) nan menyaksikan perbuatan zina mereka dengan indra penglihatan kepala sendiri,

فَاجْلِدُوهُمْ
(maka deralah mereka) bagi masing-masing berbunga mereka
ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً
(delapan puluh kali dera, dan janganlah kalian terima kesaksian mereka) n domestik suatu perkara juga
أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

(buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang nan fasik) karena mereka mutakadim melakukan dosa besar.

Adverbia Bani Katsir: Ayat nan mulai ini memuat penjelasan hukum cambuk atas al-qadzif –yaitu cucu adam yang menuduh wanita baik-baik, merdeka, baligh dan suci kehormatannya- sudah berzina. Demikian pula yang dituduh itu seorang laki-laki, penuduhnya pun terkena hukum cambuk.

Tak ada friksi pendapat di antara para ulama dalam masalah ini. Apabila sang penuduh menunjukkan bukti-bukti nan menasdikkan tuduhan itu, maka siksa atas dirinya dicabut. Maka dari itu sebab itu Yang mahakuasa berujar:

ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
(“Dan mereka tak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka [nan memperhatikan zina itu] okta- puluh mungkin dera, dan janganlah kamu cak dapat kesaksian mereka sejauh-lamanya. Dan mereka itulah anak adam-orang yang fasik.”

Penuduh yang tidak mengapalkan bukti-bukti nan menyungguhkan tuduhannya itu dihadapkan kepada tiga permintaan hukum:

  1. Dicambuk dengan delapan puluh siapa
  2. Ditolak persaksiannya selama-lamanya
  3. Dihukumi fasik, bukan hamba allah baik di arah Allah dan intern pandangan manusia.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa sosok-orang yang menuduh perempuan nan baik-baik (muhsanat) bermukah, kemudian mereka itu tidak dapat membuktikan kebenaran sangkaan mereka, dengan mendatangkan empat orang saksi yang objektif nan menyaksikan dan mematamatai sendiri dengan mata kepala mereka perbuatan zina itu,

maka siksa buat mereka yaitu didera delapan puluh bisa jadi, karena mereka itu telah membuat malu dan destruktif tera baik orang yang dituduh, seperti mana keluarganya. Yang dimaksud dengan dara muhsanat di sini ialah perempuan-dayang muslimat yang baik sesudah cukup umur dan merdeka.

Penuduh-penuduh itu enggak dapat dipercayai ucapannya dan bukan dapat diterima kesaksiannya internal hal apapun selamanya, karena mereka itu pembohong dan fasik, yaitu sengaja menabrak syariat-hukum Allah.

Disebutkan secara jelas nona di sini tidaklah signifikan bahwa ganjaran itu hanya berlaku kerjakan perempuan. Rencana hukuman seperti mana itu disebut aglabiyah, merupakan bahwa bilangan itu menurut adat mencakup pihak-pihak tak. Dengan demikian pria kembali terjadwal yang dikenai hukum tersebut.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang melontarkan tuduhan zina kepada wanita-wanita yang menjaga kesuciannya tanpa dapat mendatangkan empat orang saksi yang menyungguhkan tuduhannya, hukumannya yakni delapan puluh ki dorongan dan dengan tidak lagi menerima persaksian mereka atas perkara apa juga selamanya.
Sebab, mereka memang pantas disebut sebagai orang-insan yang keluar semenjak batas-batas agama.

Surah An-Kilap Ayat 5
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِن بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan: kecuali insan-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sepantasnya Sang pencipta Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.

Tafsir Jalalain:
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِن بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا
(Kecuali orang-orang yang bertobat pasca- itu dan memperbaiki) darmabakti perbuatan mereka
فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ
(maka sesungguhnya Halikuljabbar Maha Pengampun) terhadap dosa tuduhan mereka itu
رَّحِيمٌ
(pun Maha Penyayang) kepada mereka, adalah dengan memberikan inspirasi bakal bertobat kepada mereka, yang dengan tobat itu terhapuslah julukan fasik semenjak diri mereka, kemudian kesaksian mereka dapat diterima kembali.

Akan namun menurut suatu pendapat bahwa kesaksian mereka tetap tidak dapat diterima. Pendapat ini beranggapan bahwa pengertian Istitsna maupun pengecualian di sini hanya pula kepada kalimat terakhir semenjak ayat sebelumnya tadi, merupakan, “Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”. Maksudnya tetapi status fasik namun nan dihapus berbunga mereka, sementara itu ketiadagunaan kesaksiannya masih patuh.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah:
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِن بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا

(“Kecuali bani adam-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki [dirinya].”) para jamhur berbeda pandangan mengenai pengecualian ini. Apakah yang dikecualikan syariat yang ketiga saja, yaitu taubatnya menggotong hukum fasik atas dirinya temporer persaksiannya kukuh ditolak meskipun ia telah bertaubat, atau yang dikecualikan itu hukum kedua dan ketiga?

Adapun hukum pertama, yaitu lecut, jelas sudah dilaksanakan dan selesai masalahnya, baik sira bertaubat alias tetap bersikeras dengan dosanya. Tidak suka-suka hukum baru atasnya sesudah pelaksanaan hukum senawat ini tanpa terserah perselisihan lagi.

Imam Malik, Ahmad dan asy-Syafi’i berpendapat bahwa apabila ia bertaubat, maka persaksiannya dituruti kembali dan syariat fasik terangkat atas dirinya. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Sa’id bin al-Musayyab, penghulu para tabi’in dan sejumlah ulama salaf lainnya.

Imam Abu Hanifah berpendapat, pengecualian itu hanya buat hukum yang ketiga saja, adalah hukum fasik terangkat atas dirinya apabila mutakadim bertaubat, sementara persaksiannya tetap ditolak selama-lamanya. Para ulama salaf yang berpendapat demikian ini di antaranya al-Qadhi Syuraih, Ibrahim an-Nakha’i, Sa’id kedelai Jubair, Mak-hul dan ‘Abdurrahman bin Zaid kacang Jabir. wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Sang pencipta menerangkan bahwa orang-orang yang menuduh itu apabila tobat, yaitu menarik kembali tuduhan mereka, meratapi polah mereka, memperbaiki diri dan memulihkan merek baik yang dituduh, maka mereka itu kesaksian mereka dapat dipedulikan kembali.

Sebagian mufassirin berpendapat bahwa kesaksian mereka ki ajek tidak dapat diterima selamanya sungguhpun mereka telah bertobat, saja tidak sekali lagi digolongkan andai orang-orang fasik. Yang mahakuasa Maha Pengampun dan Maha Pengasih bagi mereka yang benar-sopan tobat (taubat nasuha), yaitu menyesal dan menyingkir perbuatan jahat mereka selamanya, serta menyunting diri dari kerusakan yang mereka timbulkan.

Adverbia Quraish Shihab: Namun demikian, jika di antara mereka ada yang bertobat dan menyatakan penyesalan terhadap maksiat yang dilakukannya itu, dulu berketetapan hati bagi selalu tegar, dan perilaku kesehariannya pun kemudian menunjukkan kebenaran pertobatannya, maka Tuhan akan mengampuni dan tidak menyiksanya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita mutakadim pelajari bersama kandungan Surah An-Kilat Ayat 4-5 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibni Katsir, Adverbia Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Hendaknya menggunung khazanah aji-aji Al-Qur’an kita.

  • Author
  • Recent Posts

M Resky S

Source: https://pecihitam.org/surah-an-nur-ayat-4-5-terjemahan-dan-tafsir-al-quran/

Posted by: caribes.net