Renungan Lukas 4 16 32

Doa Pembuka

Ya Allah,  Aku menganakemaskan-Mu dan berterima kasih atas semua yang telah Engkau bikin bagiku. Ya Allah, dalam banyak kesempatan aku telah melakukan tawar-menawar dengan diri-Mu dan membuat doa-doaku lebih mengarah pada apa nan aku minta dan kehendaki. Sat ini, ya Allah, aku mau membuka sebaik-baiknya pada kehendak-Mu. Privat doaku siapa ini aku cak hendak membiarkan Engkau yang mengatur hidupku, percaya pada kehendak baik-Mu, serta pada rahmat-Mu. Ya Allah, datang dan siramilah jiwaku. Bantulah aku bikin merelakan Kamu timbrung dan mengatur rumah jiwaku.

Renungan

       Saat kita mempunyai rasa curiga galibnya kita terganggu untuk menerima pesan, nasihat atau akuisisi dari orang itu. Provisional itu, jika pesan, nasihat atau perolehan yang sekelas itu datang berbunga turunan lain yang kita beriktikad maka kita akan dengan mudah menerimanya. Barangkali kita berpose acuh terhadap “kilat Allah” yang disampaikan  oleh seseorang yang tidak masuk dalam hitungan orang tersaring, atau bahkan maka itu seseorang yang sulit kita banyangkan bahwa ia adalah pilihan Tuhan. Hal ini biasa kita jumpai n domestik  atma kita. Kesalahan ini juga bisa kita lihat dalam diri orang Nasareth saat Yesus menyampaikan pewartaan kepada mereka. Pertanyaan untuk kita: Apakah ada hal atau camar duka  yang ingin Yesus tunjukkan kepada kita? Melalui mungkin? Apakah aku siap untuk mendengakannya dan membiarkan Dia mengunakan siapa kembali yang Engkau pilih?
     Pada awalnya, basyar-orang Nasareth mendengarkan dan menerima pewartaan yang disampaikan Yesus dengan pembukaan-kata indah dan  munjung perbawa. Hanya mereka terganggu memufakati apa yang baik yang disampaikan Yesus itu hanya karena mereka berpikir bahwa Yesus merupakan “satu bermula antara mereka,
“Bukankah Ia ini anak Yusuf?”
Ia rupanya masih dituntut banyak hal untuk membuktikan kelihatannya diri-Nya di hadapan mereka. Mereka berpikir dalam-dalam bahwa Ia melupakan arena pangkal-Nya, dan bahwa hanya Kapernaum nan populer itu yang ada di kepala-Nya. Jelaslah bahwa orang Nasareth itu lebih gagal fokus menerima Yesus sebagai pemandu pesan dari Allah daripada pesannya itu sendiri. Itulah sebabnya Yesus menjatah contoh bahwa “Elia diutus lain pada keseleo seorang bersumber mereka, melainkan kepada seorang pemudi janda di Sarfat, di tanah Sidon.” Itulah sebabnya pula Ia memberi contoh bagaimana nabi Elisa mentahirkan Naaman khalayak Siria yang rendah lever, sementara itu banyak orang lepra di Israel dan mereka tidak ditahirkan. Cak bertanya reflektif untuk kita: apakah hatiku pernah dibutakan untuk menerima apa yang cak hendak disampaikan Yesus kepadaku?

     Dalam riuk satu pencekokan pendoktrinan kepada para murid-Nya, Yesus kawin berkata: “Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di kerumahtanggaan Bapa dan Bapa di dalam Aku; ataupun setidak-tidaknya, percayalah karena tiang penghidupan-jalan hidup itu koteng.” (Bdk. Yoh 14: 10-11).  Mengapa Anda tak mengutarakan selang dan kesempatan ini kepada makhluk Nasareth?  Apakah adanya mujijat yang terjadi di Nasareth hanya akan menjadi kesia-siaan saja?  Kita diajak buat memahfuzkan kembali bahwa iman adalah rahmat. Iman itu dianugerahkan dan bukan sesuatu yang bersifat batil-menawar. Di Kalvari kita melihat bagaimana imam-rohaniwan kepala dan ahli Taurat berbuat batil-menawar: “Baiklah Mesias, Raja Israel itu jatuh dari kayu palang itu, supaya kita lihat dan percaya.” (Lih- Markus 15: 32). Tuntutan yang berlebihan dan atau sikap bernegosiasi sebagai rang pembuktian adalah hal yang buruk dan menyakitkan ketika kejadian itu datang berpokok tandingan maupun dari orang yang kita cintai.

Puji-pujian Pengunci:

Allah Yesus Kristus, aku mengakui pelawaan-Mu untuk hinggap ke rumah hidup-ku. Bantulah aku untuk mengaram hal-hal dalam hidupku nan perlu lakukan dibersihkan. Bantulah aku kerjakan melihat bagian berusul hidupku yang menghalangi keikhlasan-Mu, babak yang membentuk aku menutup diri terhadap-Mu. Jadikan aku invalid hati lakukan mengikhlaskan karunia-Mu berkerja di dalam diriku. Ya Yesus aku rindu menghibur Kamu dengan kepercayaan yang jumlah kepada-Mu dan puas rencana_mu di dalam hidupku, barang apa pun yang terjadi.
(MoDjokS)

Source: https://stpaulus.id/2018/09/07/renungan-sabda-luk-4-16-30-senin-pekan-xxii-b/