Sasando Termasuk Alat Musik Jenis

Berusul Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sasandu
(bahasa Rote) atau
Sasando
(bahasa Kupang) yaitu alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik memperalat jari-deriji tangan. Sasando yaitu alat musik tradisional semenjak kebudayaan Rote. Perlengkapan musik Sasando bentuknya tersisa putaran utamanya berbentuk tabung tingkatan dari awi, bagian perdua melingkar dari atas ke bawah diberi penyangga (Bahasa Rote:
senda) dimana dawai-kawat atau senar nan direntangkan ditabung awi dari atas ke bawah bertumpu. Penyangga ini memberikan irama yang farik-cedera pada setiap petikan telegram, sangat torak sasando diberi sebuah wadah yang terbuat mulai sejak anyaman daun melempar(haik). Wadah ini merupakan wadah resonansi sasando. Bentuk sasando mirip dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola dan dandi. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat nan bergetar atau berbunyi. Konon sasando digunakan di galengan awam Rote sejak abad ke-7.

Basel Museum der Kulturen Sasando West Timor 25102013.jpg

Asal mula Sasando

[sunting
|
sunting sumber]

Ada 2 variasi varian cerita rakyat yang pertama, awal mulanya Sasando ditemukan oleh seorang anak asuh muda bernama Sangguana, nan terlempar di Pulau Ndana. Kemudian ia di bawa ke hadapan sri paduka Takalaa nan berdiam di kastil Nusaklain. Kebiasaan di keraton pada malam hari camar diadakan permainan
kebak
(kebalai) merupakan tarian masal muda-mudi dengan prinsip bergandengan tangan membetuk sebuah pematang dengan seorang nan bertindak laksana
manahelo
(bos syair) yang berada di tengah lingkaran. Syair-sajak ini mengobrolkan silsilah pertalian keluarga mereka. N domestik permainan ini Sangguana yang menjadi tumpuan manah karena dia mempunyai pembawaan seni, tanpa disadari putri tuanku drop hati pada Sangguana dan bertemu dengan putri sultan, Sangguana diminta untuk menciptakan gawai irama nan belum korespondensi ada. Apabila berdampak berwajib mempersunting nona emir. Satu lilin batik Sangguana bermimpi sedang memainkan satu alat musik yang indah tulangtulangan dan suaranya. Kemudian Sangguana berhasil menciptakan alat musik ini diberi logo Sandu (artinya nan bahaduri bergetar). Sekar kedaton menamai alat ini sesuai dengan bahasanya sya, yaitu hitu (tujuh), karena alat tersebut terdapat tujuh benang kuningan dan lagu yang dimainkan dinamai depo hitu yang artinya sekali dimainkan ketujuh benang kuningan bergetar. Kawat ini terbuat berpokok akar tanaman beringin kemudian diganti dengan perut muda binatang nan mutakadim dikeringkan.

COLLECTIE TROPENMUSEUM Buisciter van bamboe met klankkast van lontarblad met achttien snaren TMnr A-1318.jpg

Cerita rakyat varian kedua berawal mulai sejak kisah dua orang sahabat yaitu Lunggi Lain dan Balok Ama Sina. Kedua sahabat ini sehari-harinya bekerja bagaikan gembala domba dan penyadap tuak. Ide membuat perangkat musik sasando ketika mereka madya menciptakan menjadikan
haik
(wadah penadah air tuak) yang terbuat dari daun lontar  diantara jeruji bersumber daun lontar terdapat semacam benang (bahasa rote
fifik) minus disengaja fifik alias benang itu dikencangkan kemudian dipetik menimbulkan obstulen yang berbeda, namun benang atau fifik ini mudah putus. Awal kejadian ini mendorong Lunggi Lain dan Balok Ama Sina untuk mengembangkannya, mereka ingin adanya perabot irama nan dapat menirukan nada-nada yang ada pada kemung. Kesudahannya berdampak menciptakan obstulen-bunyian atau nada-musik nan cak semau pada gong yakni dengan mencungkil tulang-sumsum dari kepingan daun lontar yang kemudian diganjal dengan batang kayu. Karena irama-nada yang dihasilkan cerbak berubah-ubah dan suaranya dahulu boncel kemudian lempengan patera lontar diganti dengan bambu yaitu dengan cara mencungkil alat peraba bambu sebanyak nada yang suka-suka pada gong yang kemudian diganjal dengan batangan kayu. Ide ini berlantas terus kemudian telegram-dawainya diganti dari berbunga serat pelepa daun melempar dan pangsa resonansinya berpokok haik.

Rang Peranti Musik Sasando

[sunting
|
sunting sumber]

Bentuk sasando sangat istimewa dan farik dengan alat musik berdawai lainnya. Bagian utamanya berbentuk tabung bambu sejauh 7 sampai 80 cm. Lega babak bawah dan atas bambu terwalak tempat untuk meletuskan dan mengatur kencangnya kabel.

Plong adegan tengahnya melingkar dari atas ke asal dan terwalak ganjalan-ganjalan atau senda. Di mana kabel senar yang direntangkan di silinder, bersusun dari atas ke bawah. Senda ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan dawai.

Bumbung sasando ini berkecukupan dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman patera lontar berbentuk sebagaimana kipas atau
haik
dan menjadi tempat resonansi sasando. Sekilas wadah ini mirip seperti penampung air berlekuk-lekuk.

Cara Memainkan Sasando

[sunting
|
sunting sumber]

Untuk memainkan alat irama tradisional NTT ini menggunakan kedua tangan berpunca arah berlawanan, kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas, sedangkan ajun bertugas memainkan accord.

Perpautan notasinya lain beraturan seperti mana alat irama lega umumnya, melainkan sebaliknya. Peranti irama ini mempunyai notasi bukan beraturan, tetapi tetap menghasilkan alunan nada merdu karena adanya resonator haik tadi.

Tak tetapi asal petik, perlu penyerasian perasaan dan teknik untuk menaklukkan sasando sepatutnya senandung melodinya produktif memanjakan telinga pendengarnya. Ketangkasan jari dalam memetik dawai-dawai sasando sangat terdepan.

Sanding begitu juga perabot musik kecapi dan harpa, petikan jari pada benang tembaga perlengkapan musik ini akan sangat mempengaruhi hasil suaranya. Kian cepat tempo nada, maka akan semakin lentur tangan menari gelambir telegram-dawainya.

Keberagaman-spesies Sasando

[sunting
|
sunting sumber]

Ada bilang jenis sasando merupakan
Sasando Kemung,
Sasando Biola
dan
Sasando Elektrik:

Sasando Kenung

[sunting
|
sunting sumber]

Sasando gong biasanya dimainkan dengan irama gelegah dan dinyanyikan internal rangka syair untuk mengiring tari, menyabarkan tanggungan yang berduka dan yang sedang mengadakan pesta.  Bunyi sasando mungmungan nadanya pentatonik. Sasando gong berdawai tujuh  kemudian berkembang menjadi sebelas dawai. Sasando gong kian berkembang  di Pulau Rote sejak abad ke 7.

Sasando Biola

[sunting
|
sunting mata air]

Sasando ini memakai putaran dawai (senar) atau sekrup telegram nan terbuat bersumber tiang yang dibentuk sebagaimana biola. Sasando diperkirakan mengalami perkembangan akhir abad ke-18 yang kemudian berkembangnya Sasando Biola. Sasando biola makin berkembang di Ketepeng. Sasando biola nadanya diatonis dan bentuknya mirip dengan sasando gong tetapi susuk bambu diameternya lebih besar berpunca sasando gong dan total dawai  pada  sasando  biola  bertambah banyak berjumlah 30, 32, dan 36 dawai. Sasando biola suka-suka 2 gambar merupakan sasando dengan bentuk ruang resonansinya terbuat dari daun melempar dan sasando biola dengan bentuk pangsa resonansinnya terbuat pecah (peti atau boks dari papan). Sasando biola nan terbuat dari peti cacat mengalami perkembangan karena dianggap cacat praktis. Pada saat pengeteman  irama mengalami kesukaran, sekrup gawang harus diputar dan diketok kerjakan bisa mendapatkan nada-nada nan pas.

Terjadi perkembangan dengan masuknya sekrup logam maka fragmen benang besi di ganti dengan sekerup besi yang kian mudah di serong dengan memakai kunci sasando pron bila pengeteman nada. Sasando biola memakai patera lontar lebih  berkembang berbunga pada sasando biola memakai kotak / boks kayu.  Karena sasando biola dengan memakai daun lontar tercantol makin idiosinkratis dan natural. Sehingga orang mengenal dengan nama sasando tradisional. Sasando biola yang terbuat dari daun lontar  mempunyai ciri khas diatas pengarah sasando ada hiasan mahkota daun lontar ada 7 mahkota, yang berpunca berpunca sasando gong yang mempunyai 7 dawai. Sasando biola ini bertambah berkembang di Kupang.


Sasando Elektrik (Electric Sasando)

[sunting
|
sunting sumber]

Sasando Elektrik 1980

Arnoldus Edon

Sasando biola mengalami perkembangan mulai sejak sasando tradisional menjadi sasando beradab atau yang dikenal sasando listrik atau sasando elektrik. Sasando elektrik ini diciptakan makanya Arnoldus Edon, sasando elektrik  tersurat dalam salah suatu keberagaman Sasando biola nan mengalami perkembangan teknologi. Sasando tradisional mempunyai beberapa kekurangan dan kelemahan antara lain, patera lontar  mudah berpunca dan lega ketika musim hujan angin sering timbul jamur di atas rataan daun, dan daunnya lagi mengalami kelembaban dan lembap sehingga dapat mempengaruhi perubahan suara dan ketika dipetik suaranya terlampau kecil.

Sasando elektrik yang diciptakan ini tak menggunakan wadah berbunga patera lontar  peti papan/kotak/dari papan/box, karena tidak membutuhkan ira resonansi nan berfungsi ibarat wadah penghimpun suara.  Bunyi  langsung dapat di perbesar habis alat pengeras suara (sound system/speaker aktif).

Ide pembuatan sasando listrik, berawal dari kejadian  kerusakan sasando biola yang terbuat dari peti papan/kotak milik ibu mertua dari Arnoldus Edon pada musim 1958, sasando yang rusak itu di perbaikinya dan menjadi baik. Bermula situlah tadinya mulanya Arnoldus Edon mendapatkan ide dan mulai bereksperimen membuat sasando elektrik. Engkau berpikir kalau memetik sasando yang posisi sasandonya tertutup dengan patera melempar yang bogok dan bunyinya sahaja bisa di dengar oleh segelintir cucu adam saja yang cak semau disekitarnya dan  petikan serta  kelentikan jari-jemari enggak bisa dinikmati atau dilihat oleh orang tidak karena terpejam daun lontar. Alangkah indahnya apabila sasando itu dipetik dan  di dengar dengan suara minor yang besar, dinikmati makanya banyak orang terbit kejauhan dan petikan jari-jemari nan lemah gemulai dapat dilihat keindahannya, karena sasando dipetik dengan menggunakan 7 setakat 8  jari.

Pada tahun 1958 diciptakanlah Sasando elektrik/setrum, eksperimen demi eksperimen dilakukannya untuk mendapatkan bunyi nan sempurna yang selaras dengan bunyi salih dari sasando. Tahun 1959 Arnoldus Edon hijrah ke Nusa Tenggara Barat (Mataram) ibarat seorang Kepala Sekolah di Mataram. Berbekal ilmu pengetahuan ibarat seorang guru IPA/Fisika, maka pada hari 1960 Sasando Elektrik ini berdampak dirampungkan dan mendapatkan bunyi yang pola begitu juga suara aslinya. Rencana sasando elektrik ini dibuat sebanyak 30 dawai.  Inilah awalnya Arnoldus Edon menciptakan menjadikan sasando listrik yang balasannya pertamanya kontan di bawah ke Jakarta.  Jadi Sasando elektrik di buat pertama boleh jadi plong waktu Arnoldus Edon masih berada di Mataram.[1]
Pembuatan Sasando Elektrik dibuat lebih modern dari Sasando tradisional ada perbedaan dalam cara pembuatannya. Suku cadang sasando elektrik lebih ruwet, sebab banyak unsur yang menentukan kualitas celaan yang dihasilkan pada alat musik tersebut. Selain badan sasando dan dawai. Perkakas yang paling penting plong sasando listrik merupakan spul yang merupakan sebuah transducer yang akan menidakkan getar dawai menjadi energi listrik, habis diteruskan melalui kabel dan ikut kedalam amplifier.

Perkembangan Sasando Listrik

Perian
1972
Arnoldus Edon bersama keluarga kembali ke Kupang dan di Daerah tingkat Kupang Sasando listrik  mulai dikenal dan berkembang, dari berita ke berita tentang pembuatan sasando elektrik ini tersiar sehingga banyak teman terutama pemain sasando mulai berdatangan lakukan menanyakan dibuatkan sasando elektrik bagi mereka, antara tidak : Eduard Pah dengan ciri idiosinkratis petikan sasando irama pop dan daerah, Ely Koamesah irama pop rohani dan pop, Pdt. Sam Koli dengan irama pop dan dangdutnya, Buang Bunda dengan irama keroncongnya, Keang Ndun dengan musik popnya, mereka inilah orang-insan yang silam mahir intern memainkan sasando yang sampai saat ini ini belum ada satu anak adam anak komidi yang  mahir seperti mereka karena setiap anak komidi  punya ciri spesifik tertentu. Berikut cap-etiket pemain sasando pada waktu itu,  antara bukan :  Ibu Nale, Ibu Thedens-Likadja (seorang guru sasando), Ir. Ekres Saudale, Chirst Ndaumanu, Iyam Pelokila, Fred E. Lango, Sam Mandala, Eben Hermanus.Sasando listrik puas musim itu dimainkan lakukan mengiring penyanyi, tukang tari dan menyenangkan tamu Gubernur. Eduard Pah adalah pelecok suatu pemain sasando yang asian virginitas berusul Gubernur NTT (dr. Ben Mboi) bagi menghibur pengunjung gubernur nan cak bertengger mengunjungi NTT.

Suatu demi satu pembeli mulai berdatangan dari Indonesia justru sampai ke luar negeri (Belanda, Australia, Amerika, Kanada dan Jepang). Sasando listrik mulai  mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kawasan NTT, khususnya di masa kepemimpinan Gubernur NTT (dr. Ben Mboi) pada tahun
1978-1988. Setiap pelawat atau pembesar nan datang ke Kupang – NTT, besar perut membawa pulang oleh-oleh konkret cindera  mata  Sasando listrik. Ada sekali lagi peminta yang dari dari limbung musisi dan penyanyi ditanah air koteng, antara enggak Koes Plus, Obi Messakh dan Ingrid Fernandez.[2]

Galeri

[sunting
|
sunting sumber]

Referensi

[sunting
|
sunting mata air]


  1. ^

    https://edonsasando.wordpress.com/category/sejarah-sasando

  2. ^

    https://edonsasando.wordpress.com/category/sejarah-sasando/

Pranala luar

[sunting
|
sunting sendang]

  • Indonesia’s Got Talent – Djitron Pah – Sasando
  • Sasando, Organ Musik Berdawai berasal Pulau Rote yang Hasilkan Nada Merdu



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Sasando

Posted by: caribes.net