Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Kata sandang

Sastrajendra, Merawat Peradaban Lahan Air Tercinta

Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yakni wedaran, atau visiun-ajaran yang menurut kisah pewayangan Jawa diajarkan ataupun diwedarkan oleh Tanda terima Wisrawa kepada Haur Sukesi.

Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu memiliki kekuatan, yaitu sastra berarti visiun, jendra berasal dari kata harja yang memiliki arti keselamatan dan endra yang berarti raja atau penguasa, hayuningrat signifikan keindahan semesta, serta pangruwating diyu berarti ruwat atau peluruh watak angkara murka.

Maka, jika Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu disatukan, dapat dimaknai sebagai puncak keselamatan untuk memperindah semesta dan merontokkan sifat angkara murka.

Dari kisahnya, Tanda terima Wisrawa yang saat itu mengemban ilmu sastrajendra harus mewedarkan atau mengajarkan ilmu sastrajendra pada Dewi Sukesi karena merupakan individu nan tepat untuk mengajarkan ilmu sastrajendra tersebut. Berpunca situ lah, Resi Wisrawa mengajarkan pada Haur Sukesi adapun aji-aji-ilmu keperawanan Jiwa, pamrih setiap manusia di dunia, mengenal diri selengkapnya, kebahagiaan diri, hingga berbakti kepada watan.

Selain itu, semua ajaran Sastrajendra sekali lagi mengajarkan tentang Jagat besar (Makrokosmos) serta Sejagat kecil (Mikrokosmos), yang mana jagat besar mengenai ajaran mengenai hubungan manusia dengan lainnya yang ada di luar tubuh manusia itu sendiri, dan jagat kecil adalah manusia dengan sistem-sistem dirinya sendiri yang saling bergerak minus adanya kognisi atau perintah pecah kita sendiri.

Dari rahasia yang ditulis oleh Setyo Hajar Dewantoro berjudul “Sastrajendra Mantra Kesempurnaan Jiwa”, yang membincangkan pentingnya ilmu Sastrajendra pada abad 21. Dituliskan bahwa pembahasan mantra Sastrajendra harus diungkap kembali sebagai adegan berbunga jati diri nusantara, dan bukan semata-mata Jawa.

Sudah lalu menjadi kesadaran bahwa puas abad ini, banyak individu yang melakukan tindakan destruktif atas asal angkara berang, atau romantis. Sastrajendra nan sejatinya mutakadim hidup melembaga ke dalam tradisi nan dijalankan sejak musim purba diberbagai tempat nusantara berangkat terkikis puas abad ini.

Sedangkan, Sastrajendra yang telah merasuk pada tradisi nusantara menguraikan pola relasi harmonis antara manusia, Tuhan, dan mahkluk yang lain. Uniknya, di kerumahtanggaan resep ini pula dibahas akan halnya hubungan proses spriritual yang terjadi plong bagian-bagian badan manusia, sebagaimana sistem limbik pada dalang, sel manusia, DNA, SA Node pada jantung, serta hormon dan kelenjar-kelenjar manusia.

Jelas sudah lalu mengenai ramalan Sastrajendra yang paling utama. Fungsinya ialah cak bagi merawat kebudayaan yang telah lama dibangun di ibu pertiwi tercinta kita ini.

Jangan sampai terserah juga perpecahan, serta melupakan adat istiadat di mana kita berbunga. Mari buktikan bersama bahwa kebudayaan nusantara belumlah gaib. Nusantara beserta adat istiadatnya yang meskipun berbeda-beda boleh menyelaraskan tungkai bagi maju bersama.

(Icha Kinanti/Radio Edukasi/BPMRPK/Kemendikbud)

Source: https://radioedukasi.kemdikbud.go.id/read/2271/sastrajendra-merawat-peradaban-tanah-air-tercinta.html

Posted by: caribes.net