Chi termasuk yang burung laut kesal. Sampai-sampai di komplek kancah Chi tinggal waktu itu suka ada aja anak di radiks umur mengendarai motor dengan ngebut. Chi perkirakan mereka masih hidup SD kalau lihat berpangkal postur tubuh. Udahlah masih pada kecil, ngebut, dan gak pakai helm pula. Sewaktu-waktu 1 motor boleh bertiga, lho.


Belajar Menjadi Pembalap Motor di 43 Racing School



Perian sedang menunggang mobil di komplek, setelah menjemput Nai, Chi coba samperin anak yang sedang naik kuda dalang. Tetapi, mereka malah kabur. Chi coba kejar, lebih lagi semakin ngebut. Akhirnya Chi berbalik sebelah.








Para bocah yang mengendarai biang keladi itu Chi optimistis biasanya rendah kulimat. Jika mereka semakin ngebut karena dikejar, Chi mamang nanti terjadi sesuatu yang gak diinginkan. Mana di komplek Chi itu masih banyak anak kecil yang bermain di luar rumah.








Sebetulnya anak asuh-anak asuh yang naik kuda otak seperti ini kebanyakan bukan pemukim komplek. Mereka datang dari perkampungan sekitar komplek. Galibnya bikin memotong urut-urutan maupun memang sengaja buat kebut-kebutan. Mungkin karena dianggap jalan komplek lebih sepi ketimbang jalan masyarakat.








Gak taunya Keke lebih lagi diajarin mengendarai motor sama ayahnya sejak SMP … 😓








[Silakan baca: Bakat Muda]





Alasan Sparing Mengendarai Biang kerok



latihan di sentul karting



Reaksi permulaan Chi tentu aja ngomel. Chi aja suka kesel lihat anak kecil udah mengendarai pelopor.  Nah ini sampai-sampai anak sendiri diajarin menunggang motor setimpal ayahnya. Keke memang senang dengan dunia otomotif sejak kecil. Tapi, gak mengira aja kalau belum remaja udah diajarin menunggang motor.








Belaka, K’Aie beberapa mengizinkan karena sekadar belajar. Jadi masih dalam pengawasan orang tua. Keke pun gak dibebaskan mengendarai penggagas seenaknya. Ia masih pergi dan pulang sekolah mendaki ojek online. Seandainya diminta bantu belanja ke minimarket, dia tetap harus menanjak sepeda.








Sekitar bulan September 2022, saat kami menengah cak semau di acara RRREC Fest in The Valley, K’Aie bilang jika suka-suka temannya yang seorang pembalap motor datang. Keke diajak setara ayahnya buat kenalan. Padahal, Chi dan Nai memilih istirahat di tenda.








Sehabis itu, Chi soal ke Keke dan K’Aie ngobrolin apa aja. Udah diduga kalau obrolannya seputar biang kerok. Temen K’Aie banyak nanya ke Keke. Intinya sih menurut teman K’Aie, Keke sudah lalu cukup banyak mengerti tentang motor. Tetapi, memang pembawaan mudanya bagi ia jadi masih demen pengen ngebut melulu. *Hmmm …. barang apa karena seorang pembalap, ya? Dari sekadar ngobrol aja udah boleh rebut kesimpulan. 😄








K’Aie kembali cerita sekiranya Keke pengen menjadi pembalap pelopor. Temannya menyarankan cak bagi belajar di sekolah balap. Meski langsung memahami bagaimana teknik balapan yang benar. Menjadi pembalap memang boleh swadidik. Tetapi, menurut temen K’Aie, ketika nanti turun di arena balap akan terpandang skill-nya mana yang perpautan sekolah balap dan tak.








Chi: “Ayah seriusan mau rahmat izin Keke buat sekolah balap?”



K’Aie: “Ya kalau anaknya mau.”



Chi: “Keke mah tentu mau. Tapi, kita juga udah siap, belum? Sekolah balap kan banyak persiapannya. Berpangkal menginjak biaya setakat mental. Jangan sebatas udah menjanjikan ke momongan, tapi gak boleh ditepatin.”



K’Aie: “Siap, lah.”




Awalan Sparing di 43 Racing School





Singkat cerita, sekitar mulanya Desember, Keke bilang kalau ada 2 sekolah balap yang kembali buka pendaftaran. Salah satunya ialah 43 Racing School. Chi pangling yang satunya lagi segala apa. Tetapi, kami gak memintal nan satunya karena keseleo suatu syaratnya adalah harus punya Kawasaki Klx.








Kami punya motor Kawasaki Klx. Biasanya dipakai K’Aie ke dinas. Keke pun belajar mengendarai pencetus menggunakan Klx. Tetapi, jikalau harus dipakai buat latihan balap, kami juga mikir-mikir terlampau.








Membiasakan di 43 Racing School, tidak terbiasa mengapalkan pencetus. Ada 3 tokoh yang disediakan yaitu Honda Blade, CBR 250, dan GP Mono Moriwaki. Semua peserta dapat menggunakan ketiganya sesuai dengan level latihan.








Karena baru tau infonya di tadinya wulan Desember, kami hanya punya waktu adv minim untuk persiapan. K’Aie segera mengontak temannya. Alhamdulillah dibantuin banget mencari info berjenis-jenis perlengkapan untuk latihan. Gak semua perlengkapannya barang yunior. Wearpack dan helm beli barang second. Buat 2 komoditas second aja udah rapat persaudaraan 10 juta biayanya. Gimana seandainya beli hijau? 😄







Foto milik 43 Racing School




Walaupun barang second, tetapi dicariin kualitas nan bagus setara temen K’Aie. Seandainya tatap wearpack Keke ada coretan Honda, itu karena wearpacknya memang lepasan pembalap Honda. Kami gak sempat copotin merknya, semata-mata copotin nama pembalapnya aja. Waktunya udah menempel banget.








Saat beli wearpack juga gak dapat langsung dipake. Adegan pahanya kesempitan! Jadi harus terbatas dirombak dan dikasih suplemen kain. Begitupun ketika membeli sepatu. Nyana sukar mendapatkan dimensi nan sepan. Terpangkal last minute banget, deh! Sehari sebelum masuk sekolah aja cari berjenis-jenis perlengkapan. Huff!








Sehari sebelum masuk sekolah balap, Keke dan ayahnya diajakin buat ngumpul di salah satu tempat. Chi lupa nama tempatnya. Ya pokoknya saat itu pula ada beberapa pembalap tokoh yang ikut. Walaupun mereka berdua pulang ke rumah nyaris tengah lilin batik, sekurang-kurangnya dari hasil ngumpul ada berbagai info yang boleh Keke dapat.








[Silakan baca: Ketika Keke Bercita-cita Menjadi Pembalap Motor Profesional]





2 Minggu Sparing di Sekolah Balap





43 Racing School n kepunyaan 2 kemasan di setiap batch yaitu buntelan A (10 hari) dan paket B (5 hari). Awalnya Keke ditawarin ambil paket B sama ayahnya. Ya siapa tau Keke gak betah. Apalagi ini juga akan jadi pengalaman pertamanya menginap lumayan lama sonder orang tua. Jikalau betah kan terlampau naikin paket.








Tetapi, Keke gak cak hendak. Pengennya langsung ambil paket A. Dia juga janji bakal betah. Nah, giliran bundanya yang terka mewek karena buat jauhan ma Keke sejauh beberapa waktu hehehe. Para siswa yang sparing di 43 Racing School memang harus tinggal di mess. Lokasi messnya dekat dengan rumah M. Fadli Imammudin, owner 43 Racing School



Selain sebagai empunya 43 Racing School, M. Fadli Imammudin juga dikenal sebagai atlet Para-cycling Indonesia. Prestasi dari olahraga ini telah banyak terjadwal bilamana Asian Para Games 2022. Dulu, Fadli adalah seorang pembalap pencetus yang berprestasi di tingkat Asia. Tetapi, arena suatu insiden, sekarang menjadi ahli olahraga para-cycling.



Keke membiasakan sejauh 10 periode berasal musim Senin s/d Jum’at.  Akhir ahad sekolah liburan. Para siswa dibolehkan pulang ataupun tegar menginap di mess. Karena Sentul gak terlalu jauh dari rumah, kami memilih menjemput Keke setiap penghabisan pekan.








Setiap batch dibuka maksimum untuk 7 siswa. Tetapi, waktu itu ada 8 siswa karena mungkin berbarengan dengan masa cuti sekolah (Desember 2022). Usia minimal belajar di sini adalah 10 musim. Pasti aja di hidup segitu sudah harus dapat mengendarai biang keladi.








Alat angkut memang disediakan oleh 43 Racing school. Sahaja, cak bagi semua perangkat harus menyempatkan seorang. Tidak ada sewa perlengkapan di sana. Total biaya yang kami habiskan untuk sekolah sepanjang 10 hari itu sekeliling Rp28 juta. Sudah termasuk biaya sekolah adalah Rp12,5 juta. Belaka, belum termasuk biaya bersantap Keke selama di sana, ongkos jalan, serta jajan kami bertiga saat mengunjungi Keke, ya.



Tips: Takdirnya cak hendak turutan sekolah balap memang hendaknya persiapannya paling kecil enggak 3 bulanan. Jangan bersampingan kayak kami. Untungnya ada teman-teman K’Aie nan bantuin cari perlengkapan dengan kualitas bagus.

delivery rumah makan padang sederhana



Pembalap nan paling dirindukan saat makan siang 😂




Biaya makan pagi dan malam memang sendiri. Tetapi makan siang namun yang ditanggung makanya sekolah. Saban hari makan siangnya disupport oleh RM Tersisa. Memang enak menu dari rumah makan ini. Semata-mata, momen selama 2 minggu berjejer-jejer makan tembolok padang melulu, jadi lakukan Keke berhenti darurat waktu dari menu ini. Katanya bosaaaan 😂








Bakal sarapan, kami sediakan tetek, roti, dan mauz. Suka-suka lemari es juga di mess bakal menyimpan tetek. Sedangkan untuk bersantap lilin batik, di sekitar mess ada yang jual makanan. Gak pelik berburu makan di sana.

sepatu balap



Marilah mana sepatu Keke? 😄



Jadi adv minim makin perlengkapan nan harus dibawa sepanjang lampau di mess yaitu sebagai berikut:



  1. Wearpack








  2. Helm








  3. Sarung tangan balap








  4. Inner suit









  5. Sepatu balap








  6. Sepatu olahraga








  7. Sepatu gerak badan








  8. Sandal









  9. Kaos Kaki








  10. Baju olah tubuh








  11. Pakaian sehari-hari








  12. Pakaian dalam









  13. Perlengkapan mandi








  14. Peranti sholat








  15. Rahasia dan peralatan menulis









  16. Makanan cak bagi sarapan







Inner suit harus dipakai sebelum menggunakan wearpack. Pastinya radu les, inner suit akan basah oleh peluh. Sebaiknya bawa beberapa pasang. 2-3 pasang juga cukup. Semua pakaian pelajar juga ada yang cuciin. Jadi panggul seadanya aja




Para Pelatih di 43 Racing School



mengobrol dengan ahmad marta



M. Fadli tidak mengajar sorangan. Cak semau Ahmad Marta yang juga mengajarkan balap pelopor dan Gandung Darmoko perumpamaan pelatih fisik. Cak semau juga beberapa crew di tim ahli mesin. Bahkan fotografer pun disediakan. Setelah selesai sekolah, para siswa juga akan mendapatkan foto-foto sejauh latihan.








“Om Marta gak segalak om Fadli, Bun. Kalau om Fadli suka marah kalau sampai jebluk. Pokoknya gak bisa salah. Tapi, kalau om Marta malah gak apa-apa. Katanya meski membiasakan.”








Chi ketawa kecil ketika Keke narasi seperti itu. Berbunga sebelum menginjak latihan juga kami sudah lalu berdiskusi takdirnya yang namanya pelatih boleh berbagai jenis karakternya. Tetapi, asalkan tujuannya memang baik, songsong tetapi meskipun cara melatihnya gentur.








Contohnya seperti Fadli yang kata Keke paling kecil galak. Tetapi, Keke juga reseptif pamrih mulai sejak pelatihnya. Kapan balapan yang sebenarnya karuan jatuh sangat tak diinginkan. Kesusul pembalap lain aja dapat sukar mengejarnya, apalagi kalau sampai jatuh.








Lalu kenapa Marta membolehkan jatuh pron bila les? Karena risiko sejenis itu akan terserah. Seorang pembalap juga harus merasakan bagaimana rasanya jatuh. Keke aliansi bilang barangkali jatuh momen latihan. Teman senagkatannya malah ada yang sampai mencelat. Itulah kenapa terdepan banget memiliki perangkat balap yang aman.




Tahapan Pelajaran Balap Motor





Setiap siswa yang membiasakan di sini tentunya mutakadim harus memiliki basic mengendarai motor. Kalau usia minimum nan diterima yakni 10 tahun, berharga sudah membiasakan motor sejak semangat di pangkal itu. Ada 3 jenjang momen latihan di sini yaitu basic (Honda Blade 125), intermediate (Honda CBR250R), dan expert (GP Mono).








Gak hanya teknik mengendarai induk bala aja. Menurut Chi, sebaiknya juga mulai tau tentang mesin, khususnya gembong, sedikit demi tekor. Ya, memang suka-suka ahli mesin yang menangani. Saja, morong, pembalap pula nan akan pakai motornya. Bilamana balapan harus tau apakah motornya nyaman alias tak. Gak sekadar bisa pakai.








Keke sudah beberapa kali melakukannya. Ketika madya memintasi putaran di diseminasi, dia memilih cak jongkok karena merasa ada nan salah dengan motornya. Memang sebaiknya begitu. Mau sekali lagi seru kayak apapun saat balapan, harus melipir kalau motor mulai dirasa bersoal. Hubungannya kan dengan keamanan pula.



Level basic menggunakan Honda Blade



foto milik 43 Racing School



Keke belum pernah latihan balap sebelumnya. Makara, mulai berpokok level basic. Buat yang sudah perhubungan ikut balap, level basic ini bisa dilewatkan dan refleks naik ke level selanjutnya. Selepas beberapa hari, Keke naik ke level intermediate. Di 1-2 hari terakhir, Keke sempat ditawarin coba latihan pakai GP Mono. Tetapi, Keke menolak ajuan tersebut.



Level intermediate mengendarai CBR250R



Wearpack yang Keke pakai saat itu duga ngepas ke badannya. Wearpack masih cukup nyaman saat naik kuda Honda Blade. Sekadar, ketika mengendarai CBR 250R, seringkali Keke merasa kesakitan. Posisi raga momen mengendarai CBR katanya makin menunduk daripada Blade. Kalau pakai wearpack yang ngepas ke badan, lama-lama buat sakit.

gp mono 43 racing school



Waktu itu, Keke belum berani naik kuda motor ini



Saat latihan menggunakan CBR 250R, Keke beberapa kali gak menyelesaikan putarannya karena badannya kesakitan. Oleh, sira mendorong belajar mengendarai GP Mono. Mengendarai GP Mono akan bikin badannya semakin linu kalau wearpacknya gak pas. Selain itu, Keke pun merasa baru banget belajar balap. Katanya, GP Mono kenceng banget larinya. Jadi nanti aja jikalau udah lancar sama inisiator lain.

wearpack pembalap motor



Momen para peserta latihan bodi, wearpack digantung dulu.

helm dan sarung tangan untuk balap motor


Kancah helm dan sarung tangan



Setiap pagi, para siswa dijemput menggunakan otomobil condong Peredaran Karting Sentul. Segala apa perlengkapan dibawa oleh team menggunakan truk. Kemudian maka itu team perlengkapan tersebut ditata di tempatnya saban.


olahraga pembalap motor



Latihan fisik dulu sebelum balapan. Salah satunya keliling revolusi sebanyak sejumlah penggalan.




Selama tutorial, petatar gak terus-terusan menunggang induk bala. Pagi-pagi sekitar pengetuk 7, pelajar mutakadim berkumpul di Sirkuit Karting Sentul untuk pelajaran fisik. Setelah pemanasan, para siswa berlari mengelilingi sirkuit bikin beberapa babak.

pelatihan materi, diskusi, evaluasi 43 racing school



Sesi belas kasih materi, diskusi, dan evaluasi




Pasti ada juga pelatihan materi. Maka dari itu juga harus bopong sosi dan peralatan menulis. Setiap pelajaran lagi para petatar dikasih tau segala apa nan harus diperbaiki dan bagaimana progressnya. Di tadinya kursus, Keke sering dikritik karena cacat menunduk saat mengendarai biang keladi. Basic Keke latihan di rumah centung pakai Klx, jadi beliau wajib tegak saat mengendarai motor. Namun, lama-lama dia kembali tiba berlatih. Progress Keke sepanjang cak bimbingan lagi cukup baik. Menurut pelatihnya, Keke termasuk anak yang aktif menyoal.




Apakah Keke akan Menjadi Seorang Pembalap?





Sekiranya menanya ke Keke, pasti dia akan menjawab mau banget. Belaka, sejujurnya Chi masih lopak-lapik. Bukan penting gak kontributif minatnya ini, lho.








Menjadi seorang pembalap profesional, tentu butuh totalitas. Bahkan kawin terserah seseorang yang mengatakan kalau menjadi ahli olahraga, sekali-kali harus bisa mengorbankan kejadian lain. Urusan pendidikan juga mungkin bisa ikut dikorbankan.








Nah, di bagian ini masih berat buat Chi. Memang beberapa kali terjadi bertentangan. Keke lagi gak bisa bosor makan latihan, kecuali ketika perlop. Itupun harus dilihat dulu apakah ada PR atau ulangan. Keke jalinan bilang cak hendak ikut bilang kejuaran termasuk di luar daerah tingkat. Belaka, Chi masih melarang kalau di asing daerah tingkat. Pastinya akan banyak belas kasihan. Mana dia sekarang udah kelas 9. Jadi boleh dibilang belum sebaik-baiknya Chi mengasingkan Keke beraktivitas pacuan. Sedangkan Chi pengen banget kasih ia dukungan mumbung. Dilema banget, uy!



Pertama siapa masuk pertandingan, masih menggunakan wearpack pinjaman. Wearpack punya dia belum jadi



Sekiranya di internal ii kabupaten, Keke gabungan ikutan. Memang belum perantaraan menang, belaka setidaknya dia berburu pengalaman. Sira masa ini menyatu dengan pelecok suatu bengkel khusus racing gitu. Detil kerjasama dan bayar-bayarannya sebetulnya K’Aie nan kian reaktif.








Tapi, setidaknya dengan ikat di bengkel ada bilang keuntungan nan didapat Keke. Kalau sebelumnya ia hanya latihan empat mata dengan ayahnya, sejak gabung di bengkel jadi memiliki tim mulai dari teknikus hingga pelatih. Gabung di sini juga direkomendasikan ekuivalen kebalikan K’Aie yang pembalap itu. Ada sejumlah pembalap juga yang gabung. Kalau demikian ini, keuntungan lainnya ialah afiliasi Keke dengan orang-orang yang memiliki passion yang setimpal juga semakin luas.








Ketika Chi ingatkan kalau beliau udah inferior 9, malah dijawab, “Bun, mumpung terserah yang bantuin. Motor ada, wearpack ada. Kesempatan, Bun!” Chi pun akhirnya cuma pasrah hehehe. Ya setia diwanti-wanti jangan sampai ketinggalan urusan sekolah. Sekurang-kurangnya semua tugas sekolah beres.



Selama masuk pertandingan balap, Keke dikasih pinjam wearpack. Punya Keke tiba sempit karena dia bertambah tingginya. Lagipula wearpack beliau yang lama morong ada brandnya seperti yang Chi ceritain di atas. Masa ini ini, Keke pun cak bagi wearpack yunior. Bukan pakai second pun dan disesuaikan dengan format tubuhnya. Butuh waktu sekitar 2-3 minggu kerjakan proses pembuatan wearpack.



Untuk urusan dukung-membantu, kakek dan nenek (orang tua Chi) agak keberatan sekiranya Keke menjadi pembalap. Mereka gak ikatan mau diajak nonton Keke cak bimbingan. Alasannya mengalir perlahan-lahan, samar muka Keke kenapa-napa.








Tetapi, orang tua Chi gak melarang. Lagipula Chi patut memaklumi. Papah dan mamah kayaknya memang sangkil merembas sama motor. Kalau sama anak perempuannya lebih-lebih dilarang banget belajar mengendarai dalang.








Dulu, waktu SMA, Chi gayutan beberapa kali merengek minta dibeliin motor. Gak pernah dikabulkan permintaannya. Menurut mengampu dan mamah kian baik mengendarai mobil. Eh, bener aja. Begitu Chi harap mobil malah sederum dibeliin 😂








Chi pula beberapa kali ditanya, apa gak agak kelam sekiranya Keke sampai jatuh? Ngeri lah pasti. Ketika anak-momongan bertanding taekwondo aja Chi senang ngeri sendiri melihat pada silih tendang sedemikian itu. Kadang-kadang demen merasa jadi ayah bunda yang tega.








Tetapi, Chi belum ikatan lihat sendiri takdirnya Keke jatuh dari gembong. Beberapa kali dia jatuh saat tutorial, Chi sekali lagi gak terserah di lokasi. Hanya mendengar ceritanya dan melihat sepatu serta wearpacknya yang tercoret. Ragil siapa turun momen latihan di Persebaran Sentul Besar. Hingga cak semau putaran di helm yang copot dan goret, perlengkapan lain juga rusak, malar-malar motornya pun sampai gak bisa dikendarai. Harus dibenerin lalu, deh. Takdirnya gak riuk engkau cak jongkok cak bimbingan hingga dempang 2 rembulan karena penggagas busuk. Itulah kenapa penting banget memakai gawai nan tidak tetapi nyaman, cuma lagi harus kesatuan hati.




Perangkat Balapan dan Diet




harga perlengkapan balap motor



“Bun, Keke butuh sepatu balap baru, tuh.” Chi cuma diam detik K’Aie ngomong gitu. Beberapa hari lalu, Keke bilang sliding padnya udah terlampau. Sarung tangan juga udah harus tukar plonco. Saat ini ngomongin sepatu balap. Usianya belum plong genap setahun 😅









Terserah juga yang bertanya, bagaimana balapan motor kalau pakai sudut? Boleh, kok. Asalkan pakai kacamata yang pas aja. Sekiranya kata Keke, sudut yang enak buat balapan itu yang gagang di bagian telinganya bengkok. Jika yang bentuknya lurus, gak nyaman karena mudah bergerak.








Gak harus mahal juga, cuma yang penting nyaman. Kacamata nan biasa Keke pakai saat pacuan dalang lain kacamata nan sehari-hari dipakai. Harganya kembali jauh lebih murah daripada yang konvensional dia pakai. Doang, memang nyaman kalau buat balapan.








Sekiranya kacamata memang masih bisa pakai yang murah. Doang, kerjakan perlengkapan balap harganya terdaftar lumayan. Memang di pasaran harganya beraneka ragam, sekadar sebaiknya jangan yang murah besar-besaran kembali harganya. Bukannya barang apa-barang apa , balap motor kan termasuk olah tubuh dengan risiko tangga. Cari perlengkapan yang bener-bener aman untuk meminimalkan risiko.








Cari dagangan second lagi gak masalah. Asalkan masih bagus kualitasnya. Kayak wearpack dan helm pertama Keke semuanya second. Doang, semuanya masih bagus kualitasnya. Wearpack mula-mula Keke itu kan alumnus pembalap Honda. Jadi meskipun second, kualitasnya bagus. Buat wearpack second waktu itu harganya Rp5,5 juta. Sedangkan helm Arai second harganya Rp4 miliun.

berat badan pembalap motor



Di sini, Keke masih dianggap berharta. Harus mengedrop berat badan 12-15 kg




Saat mulai fokus pelajaran balap, berat bodi Keke turun setakat 12 kg. Lain karena kepayahan, tetapi memang diharuskan. Berat bodi Keke sebetulnya teladan, tetapi menurut pelatihnya itu berat tubuh koteng pembalap mudah-mudahan ceking. Keke disarankan menurunkan rumit badan 12-15 kg. Di ketika yang hampir berdekatan, Keke juga sedang persiapan untuk kompetisi Taekwondo. Ternyata, sebanding sabeum pun dinasihatkan untuk menempatkan berat badan antara 12-15 kg








[Ayo baca: Taekwondo Tournament]








Keke semakin rutin gerak badan lari. Bersepeda dan lari memang paling dianjurkan. Masih juga ditambah dengan latihan taekwondo. Pola makannya lagi semakin dikontrol. Tidak semata-mata makan sehat, tetapi porsinya juga diperhatikan. Nasinya diganti dengan nasi merah. Sahaja, sejak pindah apartemen aja belum bersantap nasi bangkang sekali lagi. 😄

batch 10 43 racing school



Btw, akhir-pengunci ini Keke minta didaftarin lagi ke 43 Racing School. Apalagi sekarang sekolah ini mempunyai materi hijau yang belum terserah saat Keke membiasakan di sana. Tetapi, belakang hari dulu, ya. Sekarang bener-bener fokus lakukan UNBK aja adv amat. Lagipula ikut sejumlah lomba aja dulu untuk memperbanyak pengalaman 😁








Di bawah ini video pasukan Keke (batch 10). Dokumentasi peruntungan 43 Racing School. Setiap batch kayaknya bakal dibikinin video pun. Bila rival-teman kasmaran lakukan berlatih balap di sini maupun ingin mencari info selanjutnya, mari follow akun Instagram
@43racingschool