Semua Ciptaan Allah Itu Disebut

Yang mahakuasa
(bahasa Arab:
اللّٰه,

translit.



Allāh

‎,
IPA:
[ʔaɫ.ɫaːh]
 (
simak)
) adalah alas kata bahasa Arab yang awam buat Halikuljabbar.[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
Saat ini, pembukaan Halikuljabbar terutama digunakan oleh umat Muslim untuk menyebut Tuhan dalam Selam,[6]
sedangkan “Allah” n domestik bahasa Arab itu sendiri disebut “Rabb” atau “Ilah“.

Kata
Halikuljabbar
sudah digunakan oleh nasion Arab berpangkal berbagai rupa agama sejak hari pra-Islam,[7]
dan puas masa dahulu, kata tersebut digunakan bersamaan dengan kata
al-lah.[8]
Nabi Muhammad menegur kata Yang mahakuasa lakukan laksana merek dan citra Tuhan dalam Islam,[9]
dan menjadi pedoman untuk umat Muslim di seluruh dunia hingga saat ini. Umat Kristen Arab juga mempekerjakan introduksi
Allah
kerjakan menyebutnya sebagai nama suatu sosok ilahi.[10]
Detik ini, kata
Yang mahakuasa
juga digunakan dalam signifikasi yang mirip, meskipun enggak secara khusus, oleh pemuja Babisme, pengikut Baháʼí, penyanjung Mandean, umat Masehi Indonesia dan Malta, umat Yahudi Sefardi dan Yahudi Mizrahi.[11]
[12]
[13]
[14]
Umat Sikh dan umat Kristen Malaysia lagi menggunakannya, walaupun hal tersebut menyebabkan persoalan politik dan hukum.[15]
[16]
[17]
[18]
[19]

Etimologi

[sunting
|
sunting perigi]

Etimologi berpunca kata
Allāh
telah dibahas secara luas oleh para filolog Arab klasik.[20]
Ahli pengelolaan bahasa dari aliran Basra menganggapnya sebagai salah suatu yang dibentuk secara sedarun (murtajal) maupun bak bentuk
lāh
(berusul akar kata bahasa
lyh
dengan makna mulia atau tersembunyi).[20]
Yang tak berpendapat bahwa itu dipinjam dari bahasa Syria maupun Ibrani, tetapi sebagian osean menganggapnya mulai sejak dari penegangan alas kata Arab itu sendiri nan menggabungkan introduksi
al-
(sang) dan
ilāh
(sesembahan) menjadi
al-lah
yang berarti Si Sesembahan ataupun Allah.[20]
[21]
Mayoritas sarjana berbudaya dengan skeptis memercayai teori yang bontot, dan melihat kemungkinan kata ini merupakan pinjaman.[22]

Akademisi bukan ada nan menyatakan nama
Allāh
ini ada dalam bahasa-bahasa Semit lainnya, termasuk bahasa Ibrani dan Aram yang beasal dari batara Kanaan, El.[23]
Bentuk bahasa Aram nan sesuai merupakan
Elah
(אלה), cuma rang empatiknya merupakan
Elaha
(אלהא). Introduksi tersebut ditulis sebagai ܐܠܗܐ (ʼĔlāhā) intern bahasa Aram Bibel dan ܐܲܠܵܗܵܐ (ʼAlâhâ) dalam bahasa Suryani sebagaimana digunakan makanya Dom Suriah Timur, keduanya berarti
Tuhan.[24]

Eksploitasi sebagai kata khusus

[sunting
|
sunting mata air]

Pra Islam-Arab

[sunting
|
sunting sumber]

Variasi dari kata
Yang mahakuasa
ditemukan di batu bertulis pra-Islam pagan dan Kristen.[25]
[26]
Beberapa teori yang berbeda muncul tentang peran
Halikuljabbar
dalam fetis politeisme pra-Islam. Sejumlah penulis menyebut bahwa orang-orang Arab politeistik menggunakan nama ini sebagai bacaan kepada batara pencipta atau dewa tertinggi dari jajaran mereka.[27]
[28]
Istilah ini mungkin terletak dalam Agama ceria Mekkah.[27]
[29]
Menurut satu hipotesis, bermula pengkaji Julius Wellhausen, Yang mahakuasa (batara tertinggi federasi suku di sekitar Quraysh) yakni sebutan yang menahbiskan superioritas Hubal (Dewa Bulan, dewa termulia Quraisy) atas betara-batara lainnya.[25]
Namun, terserah juga bukti bahwa Allah dan Hubal yaitu dua dewa nan farik.[25]
Menurut hipotesis itu, Ka’bah pertama kali ditahbiskan kepada dewa tertinggi bernama Allah dan kemudian menjadi empunya flat berpunca jajaran suku Quraisy setelah aneksasi mereka atas Mekkah, sekitar satu abad sebelum era Muhammad.[25]
Bilang prasasti tampaknya menunjukkan pengusahaan Yang mahakuasa sebagai nama dewa berabad-abad sebelumnya, tetapi belum diketahui banyak adapun bagaimana penggunaan dan pengkultusannya ketika itu.[25]
Beberapa ahli berpendapat bahwa Almalik boleh jadi sudah mewakili dewa kreator jarak jauh yang secara bertahap melebihi kedudukan batara-batara tempatan yang lebih khusus.[30]
[31]
Ada ketidaksepakatan mengenai apakah Allah memainkan peran terdepan dalam praktik pengultusan agama di Mekkah.[30]
[32]
Nama ayah Muhammad sendiri adalah ʿAbd-Allāh yang berarti “pelayan Allāh”.[29]
Ini menunjukkan bahwa penyembahan terhadap Halikuljabbar itu memang ada sebelum Islam muncul atau Muhammad lahir.

Kristen

[sunting
|
sunting sumber]

Pendongeng bahasa Arab dari semua agama Abraham, tercatat Kristen dan Yahudi, menggunakan kata “Allah” buat berarti “Yang mahakuasa”.[11]
Bani adam-orang Arab Kristen saat ini tak mempunyai alas kata lain untuk “Halikuljabbar” selain berasal perkenalan awal “Allah”.[33]
Kata Tuhan intern tradisi Kristen Asyria (Church of the east) di Mesopotamia (sekarang Iraq) juga digunakan daalam liturgi berbahasa Arab. Demikian pula Gereja Syria dan Koptik Mesir nan sama-sama telah menyebar sejak abad 1, berpangkal Yesus mengutus para murid-Nya ke bermacam-macam distrik. Bahkan keturunan bahasa Arab yang berajar Malta,[34]
[35]
menggunakan kata Allah untuk “Tuhan” meskipun erat seluruh populasi Malta adalah pemeluk agama Katolik Roma.

Orang Kristen Arab, menunggangi istilah Allāh al-ab (الله الأب) lakukan Halikuljabbar Bapa, Allāh al-ibn (الله الابن) untuk Allah Anak, dan Allāh al-rūḥ al-quds (الله الروح القدس) kerjakan Yang mahakuasa Roh kudus di dalam banyak seremoni Tradisi Dom. Cermin tali peranti Tanda Kayu silang berdoa, memasuki ira ibadah, dan juga pembaptisan.[36]
mereka lagi menciptakan
bismillāh
mereka seorang di awal abad ke-8 di mana Islam mengadopsi
bismillāh
[37]
berbunyi: “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah.” Sedangkan
Bismillāh
Trinitias berbunyi: “Intern nama Bapa dan Momongan dan Roh Bersih, Satu Tuhan.” Doa Syria, Latin, dan Yunani enggak memiliki alas kata “Satu Tuhan” di penutup. Penyisipan ini dibuat untuk menekankan aspek monoteistik berbunga keimanan Trinitarian dan juga cak bagi membuatnya lebih familiar di kalangan Muslim.[37]

Beberapa temuan ilmu purbakala telah mendatangi pada penemuan epigraf pra-Islam kuno dan kuburan nan dibuat maka dari itu orang Kristen Arab di reruntuhan katedral di Umm el-Jimal di Yordania Paksina, yang kebal referensi kata-pengenalan Yang mahakuasa. Sejumlah kuburan berisi nama-nama seperti “Abd Allah” yang berarti “hamba/pelayan Allah”.[38]
[39]
Segel Allah boleh ditemukan berkali-kali kerumahtanggaan kabar dan daftar nama-segel para martir Kristen di Arab Selatan, begitu juga yang dilaporkan makanya kopi-sertifikat Syriac antik tentang jenama-nama para martir berpangkal era kekaisaran Himyarite dan Aksumite.[40]
Koteng majikan Kristen bernama Abd Allah ibn Abu Bakar bin Muhammad menjadi syahid di Najran pada hari 523, karena sira mengenakan cincin yang mengatakan “Allah adalah Pemilikku”.[41]
Kerumahtanggaan sebuah prasasti martyrion Kristen pada tahun 512 M, wacana untuk Allah dapat ditemukan dalam bahasa Arab dan Aram, yang memanggilnya “Sang pencipta” dan “Alaha“, dan tulisan dimulai dengan pernyataan “Dengan Sambung tangan Allah”.[42]
[43]

Internal Bibel pra-Islam, tanda yang digunakan bikin Yang mahakuasa yaitu “Tuhan”, sebagaimana dibuktikan maka itu sejumlah versi bahasa Arab Perjanjian Mentah yang ditemukan maka dari itu insan-orang Kristen Arab selama era pra-Islam di Arabia Utara dan Selatan.[44]
Hanya demikian dalam penelitian terbaru di area Study Islam ini, contohnya oleh Sydney Griffith (2013), David D. Grafton (2014), Clair Wilde (2014) & ML Hjälm dan lainnya (2016 & 2022) menyatakan bahwa: “yang bisa dikatakan mengenai prospek Injil Serani internal bahasa Arab yakni bahwa belum ada tanda-tanda keberadaannya atau sememangnya kata ini belum muncul”.[45]
[46]
[47]
[48]
[49]

Orang-orang Masehi Arab pra-Selam dilaporkan sudah melantamkan pekikan “Ya La Ibad Allah” (Duhai hamba-turunan) untuk saling mengundang sesama dalam sebuah tentangan.[50]
“Allah” juga disebutkan dalam puisi Kristen pra-Selam maka dari itu beberapa penyair Ghassanid dan Tanukhid di Suriah dan Arabia Utara.[51]
[52]
[53]
Selain itu ML Hjälm n domestik penyelidikan terbarunya (2017) menyatakan bahwa “manuskrip yang berisi parafrase Injil ditemukan secepat tahun 873”[54]

Irfan Shahid mengutip pusparagam ensiklopedia abad ke-10 Kitab al-Aghani menyadari bahwa basyar-orang Kristen Arab pra-Selam diketahui telah mengangkat seruan perang “Ya La Ibad Allah“, artinya Wahai hamba Allah mari kita ki angkat berperang.[55]
Menurut Shahid, bagi akademikus Mukmin abad ke-10 Al-Marzubani, “Allah” sekali lagi disebutkan kerumahtanggaan puisi Serani pra-Islam oleh beberapa penyair seperti Ghassanid dan Tanukhid di Suriah dan Arab Utara.[56]
[57]
[58]

Selam

[sunting
|
sunting sumber]

Internal konsep Islam,
Tuhan
(bahasa Arab: الله‎) adalah nama Sang pencipta,dan diyakini bagaikan Zat Maha Strata Yang Nyata dan Esa, Penggarap Nan Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Wasit lakukan semesta alam.[59]

Selam menegaskan konseptualisasi Sang pencipta misal Yang Tunggal dan Maha Kuasa (tauhid).[60]
Dia itu
wahid
dan Esa (pekan), Maha Pengasih dan Maha Kuasa.[12]
.“Sepantasnya aku Allah, tiada Almalik yang mesti disembah kecuali aku. Maka sembahlah aku dan dirikan shalat buat mengingatku”. (Q.S Thoha 14). Menurut Al-Quran terdapat 99 Nama Allah (asma’ul husna
artinya: “tera-tanda nan paling baik”) yang mengingatkan setiap adat-sifat Sang pencipta yang berlainan.[13]
[61]
Semua nama tersebut mengacu plong Yang mahakuasa, tanda Tuhan Maha Tinggi dan Maha Luas.[62]
Di antara 99 keunggulan Allah tersebut, yang paling kecil tenar dan paling gelojoh digunakan adalah “Maha Pengasih” (ar-rahman) dan “Maha Penyayang” (ar-rahim).[13]
[61]

Penemuan dan perebutan alam sepenuh dideskripsikan ibarat suatu tindakan kemurahhatian yang paling terdepan bagi semua ciptaan yang memuji ketinggian-Nya dan menjadi syahid atas keesan-Nya dan kuasa-Nya. Menurut tanzil Islam, Tuhan unjuk di mana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apa kembali.[63]
Al-Quran menjelaskan, “Sira tak dapat dicapai oleh rukyah mata, sedang Kamu dapat melihat segala yang terbantah; dan Dialah Yang Maha Kecil-kecil pun Maha Mengarifi.” (Al-‘An’am 6:103).[64]

Allah dalam Selam enggak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, sekadar sekali lagi Tuhan yang personal: Menurut Al-Alquran, Dia lebih karib pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab lakukan yang membutuhkan dan memohon sambung tangan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia mendahului manusia sreg jalan nan harfiah, “jalan yang diridhai-Nya.”[64]
Islam mengajarkan bahwa Tuhan dalam konsep Islam merupakan Tuhan setara nan disembah oleh kelompok agama Abrahamik lainnya seperti Kristen dan Yahudi.[65]
[66]
Namun, keadaan ini tidak masin lidah secara menyeluruh maka itu limbung kedua agama tersebut.

Pemanfaatan misal kata serapan

[sunting
|
sunting sendang]

Arab

[sunting
|
sunting sumber]

Pengenalan “Halikuljabbar” sudah digunakan bangsa Arab semenjak zaman pra-Islam.[25]
Umat berbagai agama samawi yang menuturkan bahasa Arab setara-sama menggunakan kata “Allah” misal sebutan bagi Si Sembahan menurut keyakinan masing-masing.[11]
Umat Kristen Arab sekarang ini juga memakai kata “Allah” untuk Allah,[33]
sama seperti mana umat Kristen Asyur yang sahaja mengenal kata “Alaha” (ܐܠܗܐ) bagi menyebut Sang Sembahan. Sebagai contoh, umat Serani Arab mempekerjakan istilah
Allahul Ab
(الله الأب) bakal Allah Bapa,
Allahul Ibin
(الله الابن) untuk Yang mahakuasa Anak asuh/Putra, dan
Allahur Ruhul Quds
(الله الروح القدس) bakal Allah Rohulkudus.

Indonesia dan Malaysia

[sunting
|
sunting sumber]

Kamus Belanda-Jawi pertama yang disusun A.C. Ruyl, Justus Heurnius, dan Caspar Wiltens (berpunca musim 1650) mencantumkan introduksi “Yang mahakuasa” sebagai inversi kata Belanda “Godt

Umat Serani di Indonesia dan Malaysia menggunakan prolog “Allah” sebagai interpretasi kata bahasa Yahudi
Elohim
(אֱלֹהִים,
elohím) dan kata-kata serupa di Perjanjian Lama serta pengenalan bahasa Yunani
Theos
(θεός,
theós) dan kata-kata serupa di Perjanjian Baru pada Injil-Alkitab terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia (keduanya merupakan bentuk baku dari bahasa Jawi dan bahasa resmi di negara tersapu), terutama dalam Alkitab Tafsiran Baru nan dipakai maka itu Gereja-Dom denominasi Masehi peredaran utama (termasuk Gereja Katolik) di Indonesia. Pelafalannya juga menggunakan pelafalan
[ˈal.lah]
alih-alih pengucapan
[ʔaɫ.ɫaːh].

Perlu dicatat bahwa prolog “Tuhan” sendiri digunakan sebagai terjemahan bakal perkenalan awal Ibrani
Adonai
(אֲדֹנָי,
ăḏônāy) dan kata-kata serupa di Perjanjian Lama serta kata Yunani
Kirios
(κῡ́ρῐος,
kū́rios) dan kata-kata serupa di Perjanjian Baru; sedangkan perkenalan awal “TUHAN
” cak bagi menerjemahkan merek Yahweh (יהוה‎, YHWH, Tetragrammaton) dan logo-logo serupa di Perjanjian Lama.

Ki kenangan penggunaan kata “Sang pencipta” boleh ditelusuri jauh pada masa masuknya Kekristenan di Nusantara, terutama lega penggunaan kata tersebut oleh Fransiskus Xaverius saat menerjemahkan nas-nas Alkitab ke dalam bahasa Melayu pada abad ke-16.[67]
[68]
Di kerumahtanggaan kamus bahasa Belanda–Melayu pertama yang disusun Albert Cornelius Ruyl, Justus Heurnius, dan Caspar Wiltens puas masa 1650, kata “Halikuljabbar” dicantumkan sebagai pasangan kata Belanda
Godt.[69]

Albert Cornelius Ruyl, seorang pengembara Belanda yang juga ikut menyusun kamus bahasa Belanda–Melayu tersebut, menerjemahkan Injil ke Bahasa Melayu pada tahun 1962.[70]
Di privat terjemahannya ini sudah memuat nama Yang mahakuasa.[71]
Momen itu, bahasa yang dipakai adalah Bahasa Melayu, ibarat bahasa perantara (lingua franca) lain namun di Kepulauan Nusantara, melainkan pun hampir di seluruh Asia Tenggara. Bahasa Jawi tiba dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7.[72]
Pembukaan “Tuhan” belumlah digunakan. Kiat pertama yang memberi embaran adapun pertalian perkenalan awal tuan dan Tuhan ialah
Ensiklopedi Populer Gereja
oleh Adolf Heuken SJ pada perian 1976. Menurut buku tersebut, kemustajaban kata Almalik ada hubungannya dengan introduksi Melayu
tuan
yang berarti atasan/penguasa/pemilik.[73]
Kaprikornus yang terjadi plong umat Serani di Nusantara dulu seperti yang terjadi pada umat Kristen di Arab, mereka sekadar mengenal kata Halikuljabbar perumpamaan pengganti kata Yunani “Theos“.

Kontroversi di Indonesia

[sunting
|
sunting mata air]

Proses penerjemahan Injil yang dimulai sejak abad ke-17 maka itu pihak Hindia Belanda diambil alih oleh Kerangka Alkitab Indonesia (LAI) yang mulai berdiri secara baku lega 9 Februari 1954.[74]
Varian tafsiran LAI yang dipakai ketika ini adalah Terjemahan Baru nan sudah diselesaikan sejak 1974. Dalam pelawatan waktu, pemerintah sendi menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) nan menjadi pedoman definisi alas kata atau istilah yang mulai terbit plong tahun 1988. Di privat KBBI, makna pembukaan “Halikuljabbar” dicatatkan menjadi sebuah nama bukan jabatan. Halikuljabbar adalah cap Tuhan dalam Bahasa Arab ataupun merujuk kepada ibadat umat Muslim.[75]
Hal inilah menjadi titik mula perdebatan pemakaian Tuhan bagi pematang umat Serani Indonesia.

Walaupun KBBI edisi I sudah lalu menginjak memuat makna introduksi Allah yang berbeda dengan kata Tuhan pada tahun 1988, Alkitab-Bibel bahasa Indonesia teguh memakai kata Sang pencipta bakal menerjemahkan pengenalan
El/Eloah/Elohim
(Ibrani) dan kata
Theos
(Yunani) setakat momen ini. TB LAI juga membordir pembukaan-prolog ALLAH
(semua huruf samudra) dan sang pencipta (semua abjad kecil) selain kata Sang pencipta. Sarjana sastra banyak menyoroti LAI karena terjemahannya lain sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia.

Di bukan pihak, kontroversi di galengan Kristen di Indonesia terkait perkenalan awal Allah diperparah oleh adanya Persuasi Tanda Suci (nan dibentuk di dalam
Church of God (Seventh-Day)
di Amerika Serikat sekitar tahun 1930-an) di Indonesia. Gerakan tersebut masuk ke Indonesia secara bergelombang, dimulai selingkung 1970-an oleh dua turunan pater di Yogyakarta. Kemudian hari 1980-an dipelopori maka itu rohaniwan Kristen nan murtad berpokok Islam, mereka mendirikan Yayasan Nehemia pada perian 1987. Mereka banyak menginjili umat Orang islam dengan mengajarkan bahwa Tuhan adalah tanda Dewa Arab bukan nama Tuhan sejati dalam pusat
Siapakah yang Bernama Allah itu?
[76]
[77]
[78]
Pengikut Gerakan Nama Tahir terus menggaungkan bahwa pengucapan kata Allah dapat berujung pada penyembahan ibadat. Maka kontroversi nama Allah di Indonesia ini semakin ramai terjadi.

Ada banyak pihak menuntut LAI mudah-mudahan menyunting interpretasi mereka. Bukan cuma kalangan Kristen, pihak Muslim lagi menjumut inisiatif bakal menamai LAI serta Bimas Kristen di bawah Kementerian Agama. Isi kedua surat tersebut pada intinya adalah:[79]

  1. Yang mahakuasa merupakan tera sesembahan Umat Muslim;
  2. Menanyakan menarik Alkitab yang mencatat nama Yang mahakuasa dari peredaran;
  3. Meminta menegur keras katedral-gereja yang masih memakai merek Allah;
  4. Meminta menegur para rohaniawan Serani yang masih menggunakan nama Allah juga.

Pihak LAI luang dituntut ke pidana,[80]
semata-mata tuntutannya dibatalkan makanya wasit. Banyak gereja nan mengambil posisi bikin membela LAI. Perdebatan cap Allah ini, meskipun telah surut, masih terjadi baik di forum terbabang maupun melalui jaringan online setakat detik ini. Pengikut Kampanye Nama Tahir pada tahun 2007 menerbitkan Alkitab “Indonesian Literal Translation” dan sampai sekarang sudah tersebar di banyak galangan Kristen yang lain lagi menyebut tanda Sang pencipta intern pencekokan pendoktrinan dan peribadatan mereka.[81]

Kontroversi di Malaysia

[sunting
|
sunting sumur]

Lega tahun 2007, Pemerintah Malaysia melarang pengusahaan kata “Allah” di luar konteks Islam. Larangan ini dibatalkan Perdata Hierarki Malaysia puas tahun 2009 karena dinilai inkonstitusional. Meskipun mutakadim lebih dari catur abad umat Masehi Malaysia memperalat kata “Tuhan” bagi menyebut Sang Sembahan dalam bahasa Melayu, kontroversi baru muncul sesudah introduksi “Allah” dipakai di privat
The Herald, koran Katolik Malaysia. Pemerintah mengajukan banding, dan Meja hijau Agung menunggak implementasi pembatalan tahun 2009 sampai sidang gelar perkara dilaksanakan. Pada bulan Oktober 2022, Majelis hukum Tinggi mengesahkan larangan pemerintah masa 2007.[82]
Pada sediakala tahun 2022, Pemerintah Malaysia menyita lebih dari 300 Injil nan memperalat kata “Tuhan” sebagai sebutan untuk Sembahan Serani di Semenanjung Malaka.[83]
Kebijakan ini bukan berlaku di Negara Bagian Sabah dan Negara Bagian Sarawak,[84]
[85]
baik karena kata “Almalik” sudah lama dipakai umat Kristen di kedua negara bagian tersebut, maupun karena Injil nan menunggangi kata “Yang mahakuasa” sudah bertahun-tahun beredar bebas sonder pembatasan di Malaysia Timur.[84]
Menanggapi kritik-kritik nan disuarakan sejumlah ki alat massa, Pemerintah Malaysia mengeluarkan “10 granula solusi” demi mencegah timbulnya maklumat yang simpang-siur dan menyesatkan.[86]
[87]
Sepuluh granula solusi tersebut sejalan dengan jiwa Perjanjian 18 Perkara Sarawak dan Perjanjian 20 Perkara Sabah.[88]

Referensi

[sunting
|
sunting sendang]


  1. ^


    “God”.
    Islam: Empire of Faith. PBS. Diarsipkan berusul versi asli tanggal 2022-03-27. Diakses tanggal
    18 December
    2022
    .





  2. ^

    “Selam and Christianity”,
    Encyclopedia of Christianity
    (2001): Anak adam Kristen di indonesia dan Yahudi di Indonesia pula memanggil Halikuljabbar dengan segel
    Allāh.

  3. ^


    Gardet, L. “Yang mahakuasa”. Internal Bearman, P.; Bianquis, Th.; Bosworth, C.E.; van Donzel, E.; Heinrichs, W.P.
    Encyclopaedia of Selam Online. Brill Online. Diakses terlepas
    2 May
    2007
    .





  4. ^

    “Kamus Besar Bahasa Indonesia” https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Halikuljabbar

  5. ^

    Spencer C. Tucker,
    The Encyclopedia of Middle East Wars: The United States in the Persian Gulf, Hal 87 “kata Allah adalah nama Tuhan dan suatu-satunya Tuhan yang disembah baik oleh orang Kristen di Indonesia dan Ibrani, Memang, nama Arab Halikuljabbar pun digunakan oleh anak adam Kristen arab untuk Allah”.

  6. ^


    Merriam-Webster. “Allah”. Merriam-Webster. Diarsipkan dari versi salih copot 2022-04-20. Diakses tanggal
    25 February
    2012
    .





  7. ^

    Christian Julien Robin (2012).
    Arabia and Ethiopia. In The Oxford Handbook of Late Antiquity. OUP USA. pp. 304–305. ISBN 9780195336931

  8. ^


    Anthony S. Mercatante & James R. Dow (2004). “Sang pencipta”.
    The Facts on File Encyclopedia of World Mythology and Legend. Facts on File. hlm. 53. ISBN 978-1-4381-2685-2.





  9. ^


    Merriam-Webster. “Allah”.
    Merriam-Webster. Diarsipkan dari varian tahir tanggal 20 April 2022. Diakses tanggal
    25 February
    2012
    .





  10. ^


    Al-Yassu’i, Fr. Luis Ma’aluf; Al-Yassu’i, Fr. Bernard Totelini.
    Kamus Al-Munjid Fiilogghol Waal’standard. hlm. 16.
    Nama suatu zdat yang Maha Suka-suka yang menjadikan segalanya terserah.




  11. ^


    a




    b




    c



    Columbia Encyclopedia,
    Allah
  12. ^


    a




    b



    “Halikuljabbar.” Encyclopædia Britannica. 2007. Encyclopædia Britannica
  13. ^


    a




    b




    c



    Encyclopedia of the Maju Middle East and North Africa,
    Allah

  14. ^

    Willis Barnstone, Marvin Meyer
    The Gnostic Bible: Revised and Expanded Edition
    Shambhala Publications 2009 ISBN 978-0-8348-2414-0 page 531

  15. ^

    Sikhs target of ‘Allah’ attack, Julia Zappei, 14 January 2022,
    The New Zealand Herald. Accessed on line 15 January 2022.

  16. ^

    Malaysia court rules non-Muslims can’horizon use ‘Allah’, 14 October 2022,
    The New Zealand Herald. Accessed on line 15 January 2022.

  17. ^

    Malaysia’s Islamic authorities seize Bibles as Allah row deepens, Niluksi Koswanage, 2 January 2022, Reuters. Accessed on line 15 January 2022. [1]

  18. ^


    “Bahasa Malaysia Bibles: The Cabinet’s 10-point solution”. 25 January 2022.




  19. ^


    “Najib: 10-point resolution on Allah issue subject to Federal, state laws”.
    The Star. 24 January 2022. Diakses tanggal
    25 June
    2022
    .




  20. ^


    a




    b




    c



    D.B. Macdonald.
    Encyclopedia of Islam, Edisi ke-2, Brill. “Ilah”, Vol. 3, Hal. 1093.

  21. ^


    “Allah”.
    Online Etymology Dictionary. Arabic name for the Supreme Being, 1702, Alha, from Arabic Allah, contraction of al-Ilah, literally “the God,” from al “the” + Ilah “God,” which is cognate with Aramaic elah, Hebrew eloah. Diakses rontok 5/24/2020.





  22. ^

    Gerhard Böwering.
    Encyclopedia of the Quran, Brill, 2002. Vol. 2, Peristiwa. 318

  23. ^


    Columbia Encyclopedia: “Derived from an old Semitic root referring to the Divine and used in the Canaanite
    El, the Mesopotamian
    ilu, and the biblical
    Elohim
    and
    Eloah, the word Almalik is used by all Arabic-speaking Muslims, Christians, Jews, and other monotheists”.

  24. ^


    The Comprehensive Aramaic Lexicon
    – Alas kata Kunci
    ʼlh,
    Diarsipkan puas 18 Oktober 2022 di
    the Wayback Machine
  25. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    Christian Julien Robin (2012).
    Arabia and Ethiopia. In The Oxford Handbook of Late Antiquity. OUP USA. hlm. 304–305. ISBN 9780195336931.





  26. ^


    Hitti, Philip Khouri (1970).
    History of the Arabs. Palgrave Macmillan. hlm. 100–101.




  27. ^


    a




    b



    Encyclopaedia of Islam,
    Allah

  28. ^

    Zeki Saritopak,
    Allah, The Qu’ran: An Encyclopedia, ed. by Oliver Leaman, p. 34
  29. ^


    a




    b



    Gerhard Böwering,
    God and his Attributes, Encyclopedia of the Qur’an, ed. by Jane Dammen McAuliffe
  30. ^


    a




    b




    Jonathan Porter Berkey (2003).
    The Formation of Islam: Religion and Society in the Near East, 600-1800. Cambridge University Press. hlm. 42. ISBN 978-0-521-58813-3.





  31. ^


    Daniel C. Peterson (26 February 2007).
    Muhammad, Prophet of God. Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm. 21. ISBN 978-0-8028-0754-0.





  32. ^


    Francis E. Peters (1994).
    Muhammad and the Origins of Selam. SUNY Press. hlm. 107. ISBN 978-0-7914-1875-8.




  33. ^


    a




    b




    Lewis, Bernard; Holt, P. M.; Holt, Peter R.; Lambton, Ann Katherine Swynford (1977).
    The Cambridge history of Islam. Cambridge, Eng: University Press. hlm. 32. ISBN 978-0-521-29135-4.





  34. ^


    Borg and Azzopardi-Alexander, 1997 (1997).
    Maltese. Routledge. hlm. xiii. ISBN 978-0-415-02243-9.
    In fact, Maltese displays some areal traits typical of Maghrebine Arabic, although oper the past 800 years of independent evolution it has drifted apart from Tunisian Arabic





  35. ^


    Brincat, 2005.
    Maltese – an unusual formula. Diarsipkan semenjak varian suci terlepas 2022-12-08.
    Originally Maltese was an Arabic dialect but it was immediately exposed to Latinisation because the Normans conquered the islands in 1090, while Christianisation, which was complete by 1250, cut off the dialect from contact with Classical Arabic. Consequently Maltese developed on its own, slowly but steadily absorbing new words from Sicilian and Italian according to the needs of the developing community.





  36. ^

    Matius 28:19 TB LAI “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka kerumahtanggaan nama Bapa, dan Anak, dan Roh kudus”
  37. ^


    a




    b



    Thomas E. Burman,
    Religious Polemic and the Intellectual History of the Mozarabs, Brill, 1994, p. 103

  38. ^

    James Bellamy, “Two Pre-Islamic Arabic Inscriptions Revised: Jabal Ramm and Umm al-Jimal”,
    Journal of the American Oriental Society, 108/3 (1988)

  39. ^

    Enno Littmann, Arabic Inscriptions (Leiden, 1949)

  40. ^

    Ignatius Ya`qub III, The Arab Himyarite Martyrs in the Syriac Documents (1966), Pages: 9-65-66-89

  41. ^

    Alfred Guillaume& Muhammad Ibn Ishaq, (2002 [1955]). The Life of Muhammad: A Translation of Isḥāq’s Sīrat Rasūl Allāh with Introduction and Bloknot. Karachi and New York: Oxford University Press, page 18.

  42. ^

    Adolf Grohmann, Arabische Paläographie II: Das Schriftwesen und die Lapidarschrift (1971), Wien: Hermann Böhlaus Nochfolger, Page: 6-8

  43. ^

    Beatrice Gruendler, The Development of the Arabic Scripts: From the Nabatean Era to the First Islamic Century according to Dated Texts (1993), Atlanta: Scholars Press, Page:

  44. ^

    Frederick Winnett V, Allah before Islam-The Moslem World (1938), Pages: 239–248

  45. ^


    Sidney H Griffith, “The Gospel In Arabic: An Enquiry Into Its Appearance In The First Abbasid Century”, Oriens Christianus, Volume 69, Kejadian. 166. “All one can say about the possibility of a pre-Islamic, Christian version of the Gospel in Arabic is that no sure sign of its actual existence has yet emerged.

  46. ^

    Grafton, David D (2014).
    The identity and witness of Arab pre-Islamic Arab Christianity: The Arabic language and the Bible.
    Christianity […] did not penetrate into the lives of the Arabs primarily because the monks did titinada translate the Bible into the vernacular and inculcate Arab culture with biblical values and tradition. Trimingham’s argument serves as an example of the Western Protestant assumptions outlined in the introduction of this article. It is clear that the earliest Arabic biblical texts can only be dated to the 9th

  47. ^


    Sidney H. Griffith, The Bible in Arabic: The Scriptures of the ‘People of the Book’ in the Language of Islam. Jews, Christians and Muslims from the Ancient to the Bertamadun World, Princeton University Press,
    2022, Hal
    242- 247

  48. ^


    The Arabic Bible before Selam – Clare Wilde on Sidney H. Griffith’s The Bible in Arabic. June 2022.

  49. ^

    Hjälm, ML (2017).
    Senses of Scripture, Treasures of Tradition: The Bible in Arabic Among Jews, Christians and Muslims. Brill. ISBN
    9789004347168.

  50. ^

    Irfan Shahîd, Byzantium and the Arabs in the Fourth Century, Dumbarton Oaks Trustees for Harvard University-Washington DC, page 418.

  51. ^

    Irfan Shahîd, Byzantium and the Arabs in the Fourth Century, Dumbarton Oaks Trustees for Harvard University-Washington DC, Page: 452

  52. ^

    A. Amin and A. Harun, Sharh Diwan Al-Hamasa (Cairo, 1951), Vol. 1, Pages: 478-480

  53. ^

    Al-Marzubani, Mu’jam Ash-Shu’araa, Page: 302

  54. ^

    Hjälm, ML (2017).
    Senses of Scripture, Treasures of Tradition, The Bible in Arabic among Jews, Christians and Muslims (Biblia Arabica) (English and Arabic Edition). Brill. ISBN
    900434716X.
    By contrast, manuscripts containing translations of the gospels are encountered no earlier then the year 873 (Ms. Sinai. N.F. parch. 14 & 16)

  55. ^

    Irfan Shahîd,
    Byzantium and the Arabs in the Fourth Century, Dumbarton Oaks Trustees for Harvard University-Washington DC, Hal 418.

  56. ^

    Irfan Shahîd,
    Byzantium and the Arabs in the Fourth Century, Dumbarton Oaks Trustees for Harvard University-Washington DC, Hal. 452

  57. ^

    A. Amin and A. Harun, Sharh Diwan Al-Hamasa (Cairo, 1951), Vol. 1, Kejadian: 478-480

  58. ^

    Al-Marzubani, Mu’jam Ash-Shu’araa, Hal. 302

  59. ^

    John L. Esposito,
    Islam: The Straight Path, Oxford University Press, 1998, Peristiwa.22

  60. ^

    John L. Esposito,
    Selam: The Straight Path, Oxford University Press, 1998, Keadaan.88
  61. ^


    a




    b



    Bentley, David (1999).
    The 99 Beautiful Names for God for All the People of the Book. William Carey Library. ISBN 0-87808-299-9.

  62. ^

    Annemarie Schimmel,The Tao of Selam: A Sourcebook on Gender Relationships in Islamic, SUNY Press, Situasi.206

  63. ^

    Britannica Encyclopedia,
    Selam, Kejadian. 3
  64. ^


    a




    b



    John L. Esposito,
    Islam: The Straight Path, Oxford University Press, 1998, Keadaan.22.

  65. ^

    “…dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang minimal baik, kecuali dengan orang-individu zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu yaitu satu; dan kami saja kepada-Nya berserah diri.” (Surah Al-‘Ankabut 29:46)

  66. ^

    F.E. Peters,
    Selam, p.4, Princeton University Press, 2003.

  67. ^

    The Indonesian Language: Its History and Role in Berbudaya Society Sneddon, James M.; University of New South Wales Press; 2004

  68. ^

    The History of Christianity in India from the Commencement of the Christian Era: Hough, James; Adamant Kendaraan Corporation; 2001

  69. ^


    Wiltens, Caspar; Heurnius, Justus (1650).
    Justus Heurnius, Albert Ruyl, Caspar Wiltens. “Vocabularium ofte Woordenboeck nae ordre van den alphabeth, in ‘n Duytsch en Maleys”. 1650:65. Diarsipkan semenjak varian kalis rontok 22 Oktober 2022. Diakses tanggal
    14 Januari
    2022
    .





  70. ^


    “Matius Interpretasi Ruyl”.
    Memori Alkitab Indonesia
    . Diakses terlepas
    25 Mei
    2022
    .





  71. ^


    Herlianto (2001).
    Siapakah yang bernama Allah itu?. BPK Gunung Mulia. hlm. 101.





  72. ^


    “Selincam Tentang Rekaman Bahasa Indonesia”.
    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Budaya. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-05-23. Diakses tanggal
    25 Mei
    2022
    .





  73. ^

    Heuken, Adolf (1976),
    Ensiklopedi Populer Gereja

  74. ^


    “Sejarah Kerangka Injil Indonesia”.
    Lembaga Alkitab Indonesia
    . Diakses tanggal
    25 Mei
    2022
    .





  75. ^


    “Allah”.
    Kamus Besar Bahasa Indonesia. Allah falak nama Allah dalam bahasa Arab. Diakses tanggal
    25 Mei
    2022
    .





  76. ^


    Herlianto.
    Gerakan Segel Suci Nama Allah yang Dipermasalahkan. BPK Gunung Mulia. hlm. 17.





  77. ^


    Makugoru, Paul (16 Mei 2007). “Pekabaran Injil di Perdua Tuduhan Kristenisasi”.
    Tabloti Reformata
    . Diakses terlepas
    25 Mei
    2022
    .





  78. ^


    Aritonang, Jan S. (2004).
    Sejarah persuaan Kristen dan Islam di Indonesia. BPK gunung Mulia. hlm. 485.





  79. ^


    Herlianto.
    Operasi Tanda Suci: keunggulan Allah yang dipermasalahkan. BPK Giri Mulia. hlm. 19.





  80. ^


    “Tabloid Reformata Edisi 81 April Pekan II 2008”. 16 April 2008. Diakses tanggal
    25 Mei
    2022
    .





  81. ^


    “Indonesian Literal Translation”.
    Ki kenangan Alkitab Indonesia
    . Diakses tanggal
    25 Mei
    2022
    .





  82. ^


    Roughneen, Simon (14 Oktober 2022). “No more ‘Sang pencipta’ for Christians, Malaysian court says”.
    The Christian Science Monitor
    . Diakses tanggal
    14 Oktober
    2022
    .





  83. ^


    “BBC News – More than 300 Bibles are confiscated in Malaysia”. BBC. 2 Januari 2022. Diarsipkan dari versi lugu tanggal 25 Januari 2022. Diakses sungkap
    14 Januari
    2022
    .




  84. ^


    a




    b




    “Catholic priest should respect court: Mahathir”.
    Daily Express. 9 Januari 2022. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Januari 2022. Diakses tanggal
    10 Januari
    2022
    .





  85. ^


    Jane Moh; Peter Sibon (29 Maret 2022). “Worship without hindrance”.
    The Borneo Post. Diarsipkan berpokok versi asli copot 29 Maret 2022. Diakses rontok
    29 Maret
    2022
    .





  86. ^


    “Bahasa Malaysia Bibles: The Cabinet’s 10-point solution”. 25 Januari 2022.




  87. ^


    “Najib: 10-point resolution on Yang mahakuasa issue subject to Federal, state laws”.
    The Star. 24 Januari 2022. Diakses tanggal
    25 Juni
    2022
    .





  88. ^


    Idris Jala (24 Februari 2022). “The ‘Allah’/Bible issue, 10-point solution is key to managing the polarity”.
    The Star
    . Diakses rontok
    25 Juni
    2022
    .




Wacana lanjutan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Pickover, Cliff,
    The Paradox of God and the Science of Omniscience, Palgrave/St Martin’s Press, 2001. ISBN 1-4039-6457-2
  • Collins, Francis,
    The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief, Free Press, 2006. ISBN 0-7432-8639-1
  • Miles, Jack,
    God: A Biography
    , Vintage, 1996. ISBN 0-679-74368-5
  • Armstrong, Karen,
    A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam, Ballantine Books, 1994. ISBN 0-434-02456-2
  • Paul Tillich,
    Systematic Theology, Vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1951). ISBN 0-226-80337-6
  • Hastings, James Rodney (2nd edition 1925–1940, reprint 1955, 2003) [1908–26].
    Encyclopedia of Religion and Ethics. John A Selbie (edisi ke-Volume 4 of 24 (Behistun (continued) to Bunyan.)). Edinburgh: Kessinger Publishing, LLC. hlm. 476. ISBN 0-7661-3673-6.





Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Allah

Posted by: caribes.net