Siapa Nama Ibu Nabi Ismail


Isma’il


إسماعيل



יִשְׁמָעֵאל



Ισμαήλ

Prophet Ismail Name.svg

Kaligrafi
Hadhrat
Isma’il
dzabihullah
‘alaihis-salam

Lahir Palestina
Tempat tinggal
  • Syam
  • Hijaz
Karya tenar Ka’bah
Gelar
  • Nabi dan Rasul
  • ‘alaihis-salam
    (keselamatan atasnya)
  • Dzabihullah
    (dikurbankan bikin Sang pencipta)
Pendahulu Ibrahim
Pengalih Muhammad
Anak
  • Nebayot
  • Kedar
  • Adbeel
  • Mibsam
  • Misyma
  • Mahalat/Basmat
  • Duma
  • Masa
  • haddad
  • Tema
  • Yetur
  • Nafish
  • Kedma
Ayah bunda
  • Ibrahim (bapak)
  • Hajar (ibu)
Kerabat
  • Sarah (ibu tiri)
  • Ishaq (saudara)
  • Lut (sepupu)

Isma’il
ataupun
Ismail
(bahasa Arab:
إسماعيل,

translit.



Ismā‘īl

‎; bahasa Ibrani:

יִשְׁמָעֵאל,

Berbudaya

Yishma’el


Tiberias

Yišmāʻēl

) yaitu otak dalam Al-Qur’an, Alkitab, dan Tanakh. Dalam Islam, dia dipandang bak nabi dan nabi.[1]
Isma’il pun dikaitkan dengan Makkah dan pembangunan Ka’bah. Isma’il adalah anak pertama Ibrahim dan moyang Muhammad. Keturunannya disebut
`Arab al-Musta`ribah
(“Arab yang di-Arab-kan”), karena mereka enggak bersih Arab dan mempelajari bahasa Arab berusul penduduk nirmala setempat. Kerumahtanggaan agama Yahudi dan Kristen, tokoh ini disebut
Ismael.

Ayat

[sunting
|
sunting sumur]

“Dan ceritakanlah (Muhammad) narasi Isma’il di dalam Kitab. Ia benar-moralistis sendiri nan benar janjinya, seorang rasul dan utusan tuhan. Dan dia menyuruh keluarganya bakal (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.”

Maryam (19): 54–55

“Mengenai Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu. Sira akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan tinggal banyak, ia akan memperanakkan dua belas sinuhun, dan Aku akan membuatnya menjadi nasion yang lautan.”

Nama

[sunting
|
sunting sumur]

Isma’il berpunca dari dua kata “dengarkan” (isma’
استمع) dan “Tuhan” (al/il
ايل), yang artinya “Dengarkan (doa kami duhai) Tuhan.”[2]

Narasi

[sunting
|
sunting mata air]

Jenama Isma’il disebutkan dua belas kali[a]
dalam Al-Qur’an (kitab bersih Selam) dan proklamasi mengenainya disebutkan lega surah Al-Baqarah (02): 127, 136, 140; An-Nisa’ (04): 163; Maryam (19): 54-55; dan Al-Anbiya’ (21): 85-86; pun dalam Ash-Shaffat (37): 101-107 menurut pendapat sebagian cerdik pandai. Dalam Tanakh (kitab safi Ibrani) dan Bibel (kitab suci Serani), keterangan tentang Isma’il terdapat dalam Kitab Keadaan pasal 16, 17, 21, dan 25.

Perpindahan ke Mesir

[sunting
|
sunting sumber]

Alkitab menamakan bahwa Ibrahim dan kafilah pengikutnya hijrah dari Iraq ke Syam. Namun Syam mengalami paceklik hebat sehingga mereka menyingkir ke Mesir. Dalam sebuah riwayat[3]
[4]
disebutkan bahwa raja memerintahkan untuk mengangkut Sarah, istri Ibrahim, ke istananya saat mendengar permakluman dari para punggawanya mengenai kecantikan Sarah. Saat utusan raja tiba dan menginvestigasi mengenai Sarah, Ibrahim menjawab bahwa dia adalah saudarinya. Ibrahim juga berpesan kepada Sarah mudah-mudahan mengaku sebagai saudarinya, hendaknya raja tersebut tak membunuh Ibrahim.

Setelah Sarah dibawa ke istana, raja berusaha menyentuh Sarah, belaka tangannya menjadi lumpuh tiba-tiba. Yamtuan memohon agar Sarah berdoa pada Almalik bakal menyembuhkannya dan Sarah melakukannya. Setelah tangannya pulih, sultan kembali mengulangi perbuatannya, saja beliau mengalami stagnasi nan lebih pelik dari sebelumnya. Prabu juga meminta Sarah mendoakannya dan berjanji tidak akan mengganggunya lagi. Setelahnya, raja memerintahkan agar Sarah dipulangkan kepada Ibrahim. Sarah pun diberi budak perempuan bernama Hajar sebagai hadiah.[5]

Sumber Bibel juga menceritakan kejadian serupa. Ibrahim diberi banyak budak dan satwa ternak karena raja ingin menjadikan Sarah misal istrinya. Saja kanjeng sultan dan seisi istananya kemudian dihinggapi tulah. Raja kemudian menyalahkan Ibrahim karena mengaku bahwa Sarah adalah saudarinya. Kemudian Sarah dikembalikan kepada Ibrahim.[6]
Peristiwa Ibrahim dan Sarah di Mesir lain tercantum dalam Al-Qur’an.


Hajar dan kelahiran Isma’il

[sunting
|
sunting sumber]

Ibrahim dan Sarah pun ke Syam. Sehabis sekian tahun habis di sana, mereka tidak juga memiliki keturunan. Bani Katsir intern karyanya, mengutip Alkitab, menuliskan bahwa Sarah kemudian memberikan Hajar sebagai selir atau menjadi istri Ibrahim lantaran sira sudah yakin lain akan punya anak. Saja setelah mengandung, Hajar menjadi merasa kian indah dari Sarah dan itu membuat marah Sarah sehingga dia membagi hukuman yang pelik kepada Hajar. Hajar kemudian melarikan diri, tetapi engkau didatangi malaikat yang menyuruhnya bagi kembali sembari menenangkannya bahwa Allah akan memperbanyak keturunannya hingga enggak bisa dihitung, kembali menyuruhnya buat menyerahkan anaknya dengan jenama Isma’il karena Allah mendengar penindasan atas Hajar. Disebutkan bahwa Isma’il lahir plong saat Ibrahim berusia 86 perian.[7]
[8]

Hijrah

[sunting
|
sunting mata air]

Sumber Muslim dan Bibel berbeda pandangan akan halnya waktu saat Hajar dan Isma’il diungsikan ke Arab. Kendati Al-Qur’an koteng tidak mengisahkan peristiwa ini, hadits dan tafsiran para ulama sepakat bahwa Hajar dan Isma’il diungsikan saat Isma’il masih katai dan menyusu. Privat sebuah riwayat hadits diterangkan bahwa Ibrahim mujur perintah bakal mengungsikan Hajar dan Isma’il dari Syam dan memangkalkan mereka di tengah padang kersik halus tak berpenghuni. Ketika Ibrahim beranjak menghindari, Hajar membuntutinya dan bertanya, “Wahai Ibrahim, engkau hendak ke mana? Apakah kamu akan meninggalkan kami di lembah nan tidak ada seorang anak adam dan bukan ada suatu tanamanpun ini?” Namun Ibrahim ki ajek tidak menjawab meski Hajar menyoal sering kali. Setelahnya, Hajar mengganti pertanyaannya, “Apakah Halikuljabbar yang memerintahkanmu melakukan semuanya ini?” Barulah Ibrahim menjatah jawaban, “Iya.” Hajar kemudian menimbangi, “Jika demikian, Allah tidak akan mencuaikan kami.”[9]
[10]

Sumber Alkitab menjelaskan bahwa Isma’il diungsikan puas sekitar nasib enam belas tahun. Disebutkan bahwa Isma’il lahir saat Ibrahim berusia 86 hari[11]
dan Ishaq lahir ketika Ibrahim berusia 100 hari[12]
sehingga keduanya terbujuk sekitar empat belas tahun. Ketika makan besar penyapihan Ishaq, Sarah mematamatai Isma’il dolan bersama Ishaq dan dia lain menyukai hal tersebut. Sarah mengatakan plong Ibrahim, “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak asuh hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishaq.”[13]
Meski Ibrahim kesal dengan perkataan Sarah, Allah memerintahkan Ibrahim mendengar congor Sarah.[14]
Ibrahim kemudian lamar mereka menghindari dan Hajar kemudian menggendong perbekalan berikut Isma’il di bahunya sampai padang gurun.[15]
Sumber Alkitab menggambarkan bahwa Ibrahim enggak ikut serta mengantar Hajar dan Isma’il.

Ain air Zam-zam

[sunting
|
sunting sumber]

Disebutkan dalam sebuah riwayat[9]
bahwa di tengah gurun tersebut, Hajar meneteki Isma’il dan Hajar sendiri makan dan minum dari perbekalan yang anda dukung. Namun sesudah bekalnya suntuk, Hajar merasa kerinduan dan begitu pula Isma’il sehingga dia menangis. Di tengah kebingungan, Hajar kemudian berlari ke puncak bukit Shafa, berharap mengaram manusia nan dapat memberikan bantuan. Tidak melihat seorangpun, Hajar menuruni bukit Shafa dan, cak sambil berlari-lari kecil, menanjak jabal Marwah, sahaja sekali lagi bukan mengintai manusia. Hajar menuruni Marwah dan pun ke Shafa dan bolak-kencong ke kedua dolok tersebut sampai tujuh kali. Saat Hajar fertil di puncak Marwah untuk yang ketujuh kalinya, dia mendengar sebuah suara. Hajar bergumam plong dirinya koteng, “Diamlah,” kemudian meneruskan, “Ia telah memperdengarkan suaramu. (Tampakkanlah wujudmu) seandainya kamu bermaksud memberikan uluran tangan.”

Ternyata suara tersebut adalah dari koteng malaikat yang mengais lahan menunggangi tumitnya, maupun ada nan mengatakan sayapnya, hingga air memancar berusul gelanggang tersebut. Hajar kemudian membuat tampungan air menggunakan tangannya, kemudian menciduknya dan memasukkannya ke dalam wadah. Perigi inilah yang kemudian disebut Zamzam.[16]
Upaya Hajar momen bolak-balik antara Shafa dan Marwah diabadikan privat ibadah haji yang disebut sa’i.

Dalam Bibel disebutkan bahwa setelah perbekalan suntuk, Hajar lontar Isma’il ke semak-semak dan duduk agak menjarang darinya sederum menangis karena tidak tahan melihat putranya yang kehausan tersebut mati. Silam malaikat berkata, “Apakah yang engkau susahkan, Hagar (Hajar)? Janganlah agak kelam, sebab Allah telah mendengar suara miring anak itu dari arena ia tergolek. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah sira, sebab Aku akan takhlik dia menjadi bangsa nan besar.” Tuhan kemudian membukakan ain Hajar sehingga dia melihat sebuah sendang. Hajar kemudian bergegas menyempurnakan wadahnya dengan air dan memberi minum Isma’il.[17]
Disebutkan bahwa mereka lampau di sahara Paran (“Faran” dalam ejaan Arab).[18]

Hajar dan Isma’il tunak hidup berdua di sana hingga sekawanan suku Arab Jurhum melewati daerah tersebut. Saat meluluk burung berputar-putar di satu kancah dekat posisi mereka, salah seorang mereka berkata, “Burung ini bergulunggulung di wadah itu, pasti karena cak semau genangan air. Sedangkan kita memahami secara pasti bahwa di lembah ini tidak ada air kadang-kadang.” Hasilnya mereka mengutus bani adam kerjakan melihat tempat burung-zakar tersebut, nan ternyata adalah tempat Hajar dan Isma’il berdiam di dekat mata air zamzam. Utusan tersebut kemudian mengabarkan hal tersebut lega anggota sukunya nan lain dan mereka semua bermigrasi ke tempat tersebut bersama Hajar dan Isma’il. Mereka juga menugasi utusan kepada keluarga mereka semoga tinggal bersama-sama di wadah tersebut. Pasca- beranjak belia, Isma’il membiasakan bahasa Arab dari orang-turunan tersebut.[19]
Panggung tersebut di kemudian waktu menjadi Makkah. Disebutkan bahwa Ibrahim bilang siapa mengunjungi Isma’il yang lampau di Makkah. Sebagian pendapat bahwa Ibrahim menunggang buraq saat hendak mengunjungi putranya tersebut.[20]

Khitan

[sunting
|
sunting sumber]

Injil menyebutkan bahwa Sang pencipta mengasihkan perintah plong Ibrahim dan pengikutnya yang laki-laki untuk bersunat/khitan pada saat Ibrahim berumur 99 tahun. Isma’il yang momen itu berusia tiga belas tahun pun disunat bersama semua lelaki dalam rumah tangga Ibrahim. Pelaksanaan potong kulup ini dilangsungkan sebelum Isma’il diungsikan berusul Palestina. Ibarat catatan, Alkitab menyebutkan bahwa Isma’il diungsikan pada saat usia sekitar enam belas tahun, berbeda dengan mata air-sumur Muslim yang berpendapat bahwa Isma’il dibawa ke gurun saat masih menyusu.[21]
Al-Qur’an tidak memasrahkan mualamat mengenai waktu dan ajang saat Isma’il bersunat.

Pengorbanan

[sunting
|
sunting sumber]

Ibrahim mengorbankan Isma’il

Salah satu koleksi iluminasi dari Kisah Para Nabi.

Internal surah Ash-Shaffat disebutkan bahwa n domestik mimpi, Ibrahim melihat dirinya mendabih putranya dan hal ini ditafsirkan laksana wahyu. Ibrahim menanya pada anaknya, “Wahai anakku, sebenarnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah pendapatmu.” Anaknya menjawab, “Wahai bapakku, kerjakanlah yang diperintahkan kepadamu, insya Almalik engkau mendapatiku tersurat orang-orang nan sabar.” Maka keduanya kemudian melaksanakan mimpi tersebut. Saat Ibrahim membaringkan putranya tersebut dan siap menyembelihnya, terserah sebuah kritik menyeru, “Hai Ibrahim, sepatutnya ada kamu mutakadim menasdikkan mimpi itu.” Kemudian putranya tersebut diganti dengan hewan sembelihan yang besar.[22]

Al-Qur’an tidak mengistilahkan adapun nama anak asuh yang disembelih dan para ulama farik pendapat terkait masalah tersebut. Sebagian ulama berpendapat bahwa anak tersebut yakni Isma’il dan ini juga menjadi keimanan umat Muslim pada umumnya, sedangkan sebagian ulama lain berpendapat bahwa Ishaq adalah anak asuh yang dimaksud dalam Al-Qur’an.

Ibni Katsir berpendapat bahwa anak asuh tersebut yakni Isma’il beralaskan redaksi Al-Qur’an bahwa setelah mengisahkan mengenai penyembelihan, yunior disebutkan bahwa Allah kemudian memberi pesiaran gembira dengan kelahiran Ishaq. Pendapat ini sebagai halnya nan dikatakan oleh Mujahid, Said, Asy-Sya’bi, Yusuf bin Mihran, Atha’, dan ulama lain yang meriwayatkan berusul Anak laki-laki ‘Abbas.

Padahal ulama yang berpandangan bahwa anak asuh yang dimaksud adalah Ishaq di antaranya adalah As-Suhaili, Anak laki-laki Qutaibah, dan Ath-Thabari. As-Suhaili berpendapat bahwa dalam Al-Qur’an disebutkan “maka tatkala anak itu sampai (pada atma) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim,” padahal Isma’il sudah diungsikan ke sahara sejak katai bersama Hajar sehingga tidak mana tahu dia kehidupan berdampingan dan berusaha sewaktu Ibrahim.[23]
[24]

Sumber Ibrani dan Serani pada umumnya setuju bahwa Ishaq adalah putra yang hendak disembelih Ibrahim. Disebutkan n domestik Bibel bahwa Sang pencipta berkata kepada Ibrahim, “Nah anakmu yang khas itu, yang engkau kasihi, merupakan Ishaq, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana perumpamaan target bakaran sreg keseleo satu gunung nan akan Kukatakan kepadamu.” Tetapi saat hendak disembelih, malaikat menyerunya dan Allah berfirman, “Jangan punahkan momongan itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui kini, bahwa engkau takut akan Sang pencipta dan engkau lain segan-segan untuk menyerahkan anakmu nan singularis kepada-Ku.” Lalu Allah menerimakan seekor domba kesatria umpama kurban.[25]

Akan tetapi, para juru ulas modern memandang identitas putra Ibrahim yang hendak disembelih ini enggak begitu utama bila dibandingkan pelajaran moral yang terdaftar privat kisahan tersebut.[26]
Narasi Al-Qur’an terkait penyembelihan ini menjadikan putra Ibrahim yang berkepentingan perumpamaan percontohan untuk tindakan keberadaan dan kepatuhan, karena si anak sepenuhnya ingat akan upaya Ibrahim kerjakan mengorbankannya dan teguh menyetujuinya. Persetujuannya menjadi keteladanan terkait penyerahan diri pada kehendak Allah yang merupakan karakteristik penting intern Islam.[27]


Pembangunan Ka’bah

[sunting
|
sunting sumber]

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa bersama Isma’il, Ibrahim meninggikan pondasi Ka’bah.[28]
As-Suddiy menyatakan bahwa tatkala diperintahkan Tuhan lakukan membangun Ka’bah, Ibrahim dan Isma’il tidak mencerna kancah yang seia buat arena pembangunan tersebut, Allah mengutus kilangangin kincir yang menyapu barang apa situasi yang ada di selingkung tempat yang akan dibangun Ka’bah. Saat Ka’bah sudah mulai tinggi, Ibrahim menggunakan bujukan tumpuan agar dapat menggapai bagian atas Ka’bah. Provokasi pijakan tersebut kemudian disebut “Maqam Ibrahim” dan di sana terwalak alumnus pijakan suku Ibrahim. Pada tahun ‘Umar bin Khaththab, maqam Ibrahim yang awalnya berpasangan ke dinding Ka’bah kemudian digeser menjarang dari dinding agar tidak menahan orang yang medium thawaf. Tatkala pondasinya telah transendental, Ibrahim memerintahkan Isma’il bikin mencari batu untuk diletakkan di sudut Ka’bah. Namun sebelum Isma’il tiba, Malaikat Jibril mendendangkan batu tersebut. Batu tersebut yaitu “hajar aswad.”[29]

Setelah usai, Ibrahim kemudian diperintahkan menyeru manusia untuk melaksanakan ibadah haji[30]
dan mengajarkan tata caranya.[31]
[32]
Haji taat terus dijalankan pasca- Ibrahim dan Isma’il wafat. Menurut sejarawan Marshall Hodgson (1922–1968), umat Kristen Arab juga melaksanakan haji pada masa pra-Islam.[33]

Saat bangsa Arab perlahan start ambruk dalam kemusyrikan, ibadah haji masih bertahan,[34]
tetapi tercampuri formalitas pengagungan plong berhala-berhala dan di sekitar Ka’bah didirikan banyak kultus. Pada masa Nabi Muhammad, ibadah haji kemudian dikembalikan untuk pendewaan Allah satu-satunya begitu juga sreg waktu Ibrahim dan berhala-tagut di sekeliling Ka’bah dihancurkan.[35]

Dua istri

[sunting
|
sunting perigi]

Disebutkan bahwa Isma’il kemudian menikah. Suatu hari Ibrahim berorientasi rumahnya, tetapi Isma’il sedang tidak cak semau di rumah. Ibrahim kemudian menanya lega istri Isma’il perihal suaminya dan istrinya, lain mengerti bahwa itu adalah Ibrahim, berkata puas suaminya madya bekerja. Saat Ibrahim menanyakan keadaannya, ayutayutan Isma’il mengeluh, “Kami banyak mengalami kebobrokan dan sukma kami munjung kesempatan ekonomi, serta munjung dengan penderitaan yang langka.” Setelah mendengar hal tersebut, Ibrahim mengamanahkan salam dan wanti-wanti pada ayutayutan Isma’il agar suaminya mengganti gawang pintunya. Saat istri Isma’il menampilkan pesan tersebut pada suaminya, Isma’il menjelaskan bahwa dia tadi ialah ayahnya dan maksud pesannya tadi adalah moga Isma’il menyapih istrinya.

Beberapa musim kemudian, Isma’il menikah dengan perawan tidak. Ibrahim pun berkunjung momen Isma’il sedang enggak berada di flat. Saat Ibrahim mempersunting mengenai keadaan istri Isma’il yang detik itu ada di apartemen, gendak Isma’il menjawab, “Kami senantiasa dalam kebaikan dan cukup,” sembari memuji berbagai nikmat Tuhan yang dikaruniakan sreg mereka. Kemudian Ibrahim memercayakan pesan pada Isma’il melintasi istrinya bakal memperkokoh gawang pintunya. Momen kemudian istri Isma’il menyorongkan pesan tersebut plong suaminya, Isma’il menjelaskan bahwa dia tadi adalah ayahnya dan maksud pesannya tadi adalah hendaknya Isma’il mempertahankan istrinya.[36]

Terserah beberapa pendapat terkait identitas istri-istri Isma’il. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa istri mula-mula Isma’il semenjak dari Bani Amaliq dan bernama Ammarah binti Sa’ad kacang Usamah polong Akil, sedangkan ulam-ulam kedua Isma’il adalah As-Sayyidah binti Mudhadh bin Amru Al-Jurhumi. Ada yang berpendapat bahwa As-Sayyidah ialah ampean ketiga Isma’il.[37]

Alkitab enggak menamakan kisahan tentang dua gendak Isma’il dan hanya mengistilahkan bahwa Hajar mengawinkan Isma’il dengan seorang dayang berasal Mesir.[38]
Saga Bangsa Yahudi
menyebutkan bahwa Isma’il menikah dengan dara Mesir dan mereka mempunyai empat putra dan satu pemudi. Saat Isma’il pergi, Ibrahim mengunjungi tenda kediamannya. Momen Ibrahim mempersunting air pada gendak Isma’il yang cak semau di kemah, istri Isma’il mengatakan bahwa dia bukan memiliki air atau roti. Dia loyal duduk di tenda dan tak menyandang Ibrahim, kembali tidak menanyakan identitas tamunya tersebut. Ulam-ulam Isma’il juga sibuk memukul anaknya, pun memaki anaknya dan Isma’il. Ibrahim tidak senang dengan pemandangan tersebut dan mempertanggungjawabkan pesan untuk candik Isma’il agar suaminya menggilir pasak tendanya. Momen pesan tersebut disampaikan pada Isma’il, Isma’il menjelaskan pada istrinya bahwa itu adalah ayahnya dan dia mempersunting Isma’il menyarak istrinya.

Setelahnya, Isma’il menikah dengan perempuan dari Syam. Detik Isma’il menyingkir, Ibrahim kembali mengunjungi tenda kediaman putranya. Ulam-ulam Isma’il keluar ceteri dan menyambutnya, kembali mempersilakannya masuk. Ibrahim menunda karena akan melanjutkan perjalanan, tapi beliau meminta air. Istrinya kemudian bergegas memasrahkan air dan roti pada Ibrahim. Kemudian Ibrahim menitipkan pesan lega Isma’il melangkahi istrinya bahwa pasak tendanya bagus sehingga jangan membuangnya. Momen kemudian gula-gula Isma’il memajukan pesan tersebut pada suaminya, Isma’il menjelaskan bahwa sira tadi adalah ayahnya dan maksud pesannya tadi adalah agar Isma’il mempertahankan istrinya. Kemudian Isma’il bersama keluarganya berkunjung ke kediaman Ibrahim di Palestina selama sejumlah periode.[39]
Suka-suka yang berpendapat bahwa nama gendak purwa Isma’il adalah Meriba, sementara itu yang kedua bernama Malchut.

Wafat

[sunting
|
sunting sumber]

Alkitab menyebutkan bahwa Isma’il turut menyelamatkan Ibrahim di Gua Makhpela bersama Ishaq.[40]
Isma’il sendiri disebutkan wafat pada semangat 137 masa.[41]

Ibni Katsir dan beberapa tradisi Islam menyebutkan bahwa Isma’il dimakamkan di Al-Hijr Isma’il di samping makam Hajar.[37]
Sahaja sebagian pendapat menolak keimanan tersebut karena enggak ada pemberitaan pasti mulai sejak Nabi Muhammad.[42]
Pendapat lain menyatakan bahwa Hijr Isma’il sebenarnya adalah bekas kamar Isma’il dan Hajar.[43]

Sudut pandang

[sunting
|
sunting sumber]

Selam

[sunting
|
sunting sumber]

Isma’il dipandang sebagai nabi dan rasul.[44]
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Isma’il diutus cak bagi berdakwah lega penghuni Makkah dan sekitarnya, seperti kabilah Jurhum, Amaliq, dan penduduk Yaman.[37]

Pelafalan Isma’il dalam Al-Qur’an seringnya tak tersapu kisahnya. Kisah Isma’il yang terwalak dalam Al-Qur’an sendiri adalah sepintas tentang haji dan pembangunan Ka’bah[45]
serta, menurut sebagian ulama, penyembelihannya. Babak kisah Isma’il yang tidak diambil dari mata air non-Qur’an, seperti riwayat hadits, tafsiran ulama, dan sumber-sendang Yahudi dan Kristen. Dalam Al-Quran, nama Isma’il hampir demap dirangkaikan dengan para nabi yang lain. Disebutkan bahwa Isma’il (dan beberapa nabi yang tidak) dilebihkan derajatnya di atas umat nan tidak, sosok pilihan Yang mahakuasa, dan dianugerahi petunjuk ke jalan yang harfiah.[46]
Dia lagi disebut sebagai sosok yang ter-hormat janjinya dan seorang yang diridhai Almalik.[47]
Isma’il juga disifati umpama anak adam nan sabar[48]
dan termasuk turunan-orang yang terbaik.[49]

Isma’il juga erat kaitannya dengan Ka’bah yang menjadi kakbah umat Islam. Supaya beberapa adat istiadat mencatat Ka’bah mutakadim dibangun sebelumnya (sebagian pendapat menyatakan pendirinya yaitu Adam, sebagian menyatakan para malaikat), Ibrahim dan Isma’il berperan sebagai pendiri ulang. Keduanya juga mengajarkan hukum haji dan berdamai Islam kelima ini menjadi ibadah nan sarat kenangan dan keteladanan akan sosok Ibrahim, begitu juga kerumahtanggaan hari raya Idul Adha.[50]

Yahudi dan Masehi

[sunting
|
sunting mata air]

Geta Isma’il ibarat “penemu nasion Arab” pertama kali dinyatakan makanya Flavius Yosefus.[51]
Saat Selam terpelajar, sosoknya dan keturunannya pelahap dikaitkan, lebih lagi disamakan, dengan istilah “Arab” pada literatur Yahudi dan Serani awal.[52]

Isma’il dicitrakan privat sejumlah kaidah intern sumber Ibrani dan Serani. Sahaja setelah masa Muhammad, Isma’il cenderung digambarkan dengan buruk dan menjadi lambang bagi “cucu adam enggak” dalam kedua agama tersebut.[53]

:2–3

Saat umat Islam menjadi lebih awet, midras Yahudi tentang Isma’il diubah sehingga penggambarannya makin buruk bikin menantang tesmak pandang umat Islam terkait Isma’il.[53]

:130

Urut-urutan Selam menciptakan tekanan untuk Muslim untuk berbuat pembedaan dari Yahudi dan Serani, dan karenanya, garis keturunan Isma’il kepada sosok Arab lebih ditekankan.[53]

:117

Kerumahtanggaan sejumlah tafsiran, Isma’il merepresentasi tradisi Ibrani lama yang ditinggalkan, padahal Ishaq menyimbolkan adat istiadat Kristen baru yang harus dianut.[54]
Rasul Paulus tidak mempersoalkan status Isma’il atau Ishaq secara harafiah, melainkan dalam konteks dua jenis kepercayaan n domestik wangsit Kristen, yaitu terus mengikuti ajaran Taurat alias dibebaskan bermula hukum Taurat di dalam hukum kasih Yesus Kristus,[55]
seperti yang ditulisnya intern Tembusan Galatia.[56]

Pada musim modern, sebagian umat Serani berkepastian bahwa Almalik memenuhi janjinya atas Isma’il dengan memberkati negara-negara Arab dengan minyak[57]
dan keistimewaan politik.[58]

Keluarga

[sunting
|
sunting sumber]

Orangtua

[sunting
|
sunting sumber]

Ayah

Ibrahim

Ibu

Hajar

Anak cucu

[sunting
|
sunting sumber]

  • Nebayot/Nabit
  • Kedar/Qaidzar
  • Adbeel
  • Mibsam
  • Misyma
  • Mahalat/Basmat (perempuan)
  • Duma
  • Periode
  • Hadad
  • Tema
  • Yetur
  • Nafish
  • Kedma

Beberapa sumber menyatakan bahwa Nabi Muhammad nasab Nebayot, sebagian lain berpendapat keturunan Kedar. Keturunan Isma’il umumnya disebut
`Arab al-Musta`ribah
(“Arab nan di-Arab-morong”), karena mereka bukan nirmala Arab dan mempelajari bahasa Arab dari penduduk asli setempat.[59]
[60]

Lihat sekali lagi

[sunting
|
sunting perigi]

  • 25 Nabi, di antaranya:
    • Ibrahim
    • Luth
    • Ishaq
  • Ismael
  • Hajar

Catatan

[sunting
|
sunting mata air]


  1. ^

    Dalam Al-Qur’an, nama Isma’il disebutkan dua belas mana tahu, adalah pada surah:

    1. Al-Baqarah (02): 125, 127, 133, 136, 140
    2. Ali ‘Imran (03): 84
    3. An-Nisa’ (04): 163
    4. Al-An’am (06): 86
    5. Ibrahim (14): 39
    6. Maryam (19): 54
    7. Al-Anbiya’ (21): 85
    8. Shad (38): 48

Rujukan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Maryam (19): 54

  2. ^

    “Muhammad Sang Nabi” – Penelusuran Ki kenangan Utusan tuhan Muhammad Secara Detail, karya Omar Hashem, Bab 1. Kondisi Geografis – Kafilah Nabi Ibrahim, hlm. 10.

  3. ^

    HR. Ahmad (2/403-404)

  4. ^

    HR. Bukhari (2217)

  5. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 214-217.

  6. ^


    Hal 12: 10-20

  7. ^


    Kejadian 16: 1-16

  8. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 219-220.
  9. ^


    a




    b



    HR. Al-Bukhari (3364)

  10. ^

    Anak lelaki Katsir 2022, hlm. 222.

  11. ^


    Kejadian 16: 16

  12. ^


    Kejadian 21: 5

  13. ^


    Hal 21: 8-10

  14. ^


    Situasi 21: 12-13

  15. ^


    Kejadian 21: 14

  16. ^

    Anak laki-laki Katsir 2022, hlm. 222-224.

  17. ^


    Situasi 21: 15-18

  18. ^


    Kejadian 21: 21

  19. ^

    Ibni Katsir 2022, hlm. 224-225.

  20. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 235.

  21. ^


    Situasi 17: 1-27

  22. ^

    Ash-Shaffat (37): 101-107

  23. ^

    At-Ta’rif wal I’lam, hlm. 274-275

  24. ^

    Bani Katsir 2022, hlm. 233-236.

  25. ^


    Situasi 22: 1-19

  26. ^

    Glasse, C., “Ishmael”,
    Concise Encyclopedia of Selam

  27. ^


    Akpinar, Snjezana (2007). “I. Hospitality in Islam”.
    Religion East & West.
    7: 23–27.





  28. ^

    Al-Baqarah (02): 127

  29. ^

    Anak lelaki Katsir 2022, hlm. 248.

  30. ^

    Al-Hajj (22): 26-27

  31. ^

    Al-Baqarah (02): 128

  32. ^

    Peters 1994, hlm. 4-7.

  33. ^

    Marshall G. S. Hodgson,
    The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization, University of Chicago Press, hlm. 156

  34. ^

    Haykal 2008, hlm. 35.

  35. ^

    Haykal 2008, hlm. 439-440.

  36. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 225-226.
  37. ^


    a




    b




    c



    Ibnu Katsir 2022, hlm. 320.

  38. ^


    Kejadian 21: 21

  39. ^

    Ginzberg 1909, hlm. 266-269.

  40. ^


    Kejadian 25: 9

  41. ^


    Peristiwa 25: 17

  42. ^


    Baits, Ammi Nur (17 Oktober 2022). “Hijr Isma’il”.
    Temu ramah Syariah.





  43. ^


    Utami, Wahyu Tri (27 November 2022). “Hijr Isma’il”.
    Islami.co.





  44. ^

    Maryam (19): 54

  45. ^

    Al-Baqarah (02): 125, 127

  46. ^

    Al-An’am (06): 86-87

  47. ^

    Maryam (19): 54-55

  48. ^

    Al-Anbiya’ (21): 85

  49. ^

    Shad (38): 48

  50. ^


    Firestone, Reuven (1990).
    Journeys in Holy Lands: The Evolution of the -Ishmael Legends in Islamic Exegesis. SUNY Press. hlm. 98. ISBN 978-0791403310.





  51. ^


    Millar, Fergus, 2006. ‘Hagar, Ishmael, Josephus, and the origins of Islam’. In Fergus Millar, Hannah H. Cotton, and Guy MacLean Rogers, Rome, the Greek World and the East. Vol. 3. The Greek World, the Jews and the East, 351-377. Chapel Hill: University of North Carolina Press.

  52. ^


    Ephʿal, I. (1976). “Ishmael” and “Arab(s)”: A Transformation of Ethnological Terms”.
    Journal of Near Eastern Studies.
    35
    (4): 225–235. doi:10.1086/372504.




  53. ^


    a




    b




    c




    Bakhos, Carol (2006).
    Ishmael on the Border: Rabbinic Portrayals of the First Arab. Albany, NY: State University of NY Press. ISBN 9780791467602.





  54. ^

    Encyclopedia of Religion (2nd). (2005). Ed. Lindsay Jones. MacMillan Reference Books.

  55. ^

    Encyclopedia of Christianity(Ed. John Bowden), Isaac

  56. ^


    Galatia 4:21-31

  57. ^

    An invitation to Ishmael oleh C. George Fry.

  58. ^

    The Ishmael Promise and Contextualization Among Muslims oleh Jonathan Culver

  59. ^

    Chalil 2001, hlm. 18-19.

  60. ^


    Aziz, Abdul (2011).
    Chiefdom Madinah: Keseleo Responsif Negara Islam. Referensi Alvabet. ISBN 978-979-3064-98-7.



    , hlm. 159.

Daftar bacaan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Ginzberg, Louis (1909).
    The Legends of the Jews
    (PDF). Diterjemahkan makanya Henrietta Szold. Philadelphia: Jewish Publication Society.



  • Haykal, Muhammad Husayn (2008).
    The Life of Muhammad. Selangor: Islamic Book Trust. ISBN 978-983-9154-17-7.



  • Ibnu Katsir (2014).
    Kisah-Kisahan Para Nabi. Diterjemahkan oleh Muhammad Zaini. Surakarta: Insan Kamil Solo. ISBN 978-602-6247-11-7.



Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Indonesia)
    Pembangunan Kabah di Almanhaj.co.id
  • (Indonesia)
    Pembangunan Kabah dan Kelahiran Ishaq
    [
    pranala purnajabatan permanen
    ]



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Isma%27il

Posted by: caribes.net