Siapakah Pencipta Lagu Siapa Namamu

A.T. Mahmud

A.T. Mahmud

A.N. Mahmud

Maklumat latar belakang
Nama lahir Masagus Abdullah Mahmud
Lahir (1930-02-03)3 Februari 1930

Belanda

Palembang, Sumatra Kidul, Hindia Belanda
Meninggal 6 Juli 2022(2010-07-06)
(umur 80)
Jakarta, Indonesia
Genre Lagu anak-anak
Pekerjaan Pembentuk lagu anak asuh-momongan
Ahli nujum Dinas Kewedanan Depdikbud DKI Jakarta (Pensiun)
Tahun aktif 1950-2010

Masagus Abdullah Totong Mahmud
atau lebih dikenal dengan nama
A.T. Mahmud
(3 Februari 1930 – 6 Juli 2022) adalah koteng produsen lagu asal Palembang, Sumatra Selatan, Indonesia.[1]
Dia dikenal luas makanya masyarakat melangkahi lagu momongan-anak ciptaannya.

Latar belakang

[sunting
|
sunting sumber]

Anak bini dan tanda

[sunting
|
sunting sumber]

Mahmud adalah anak kelima pecah sepuluh berkerabat. Ibu bernama Masayu Aisyah, ayah bernama Masagus Mahmud. Dia diberi jenama Abdullah dan halal dipanggil “Dola” maka dari itu kedua orang tuanya. Nama hidayah cucu adam tuanya tercatat lega ijazah nan dimilikinya pada sekolah
Sjoeritsoe Mizoeho Gakoe-en
(sekolah Jepang) perian 1945. Plong ijazah itu nama lengkapnya tertulis: “Masagus Abdu’llah Mahmoed“.

Di rumah, kampung, dan antiwirawan sekolah, ia makin dikenal dengan nama panggilan
Totong. Plong surat ijazah Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama (setingkat SLTP) musim 1950, namanya terjadwal “Totong Machmud“. Konon menurut kisah ibunya, momen dirinya masih kanak-kanak anyir ada anak bini Sunda, tetangganya, sering menggendong dan menimangnya sambil berucap, “… jurang! …otong!” Sang Ibu mendengarnya seperti bunyi “totong”. Sejak itu, entah kok, ibunya memanggilnya dengan “Totong”. Segel ini diterima di lingkungan keluarga dan kerabatnya sehingga jenama lengkapnya kemudian menjadi “Abdullah Totong Mahmud“, disingkat “A.T. Mahmud“.

Masa sekolah

[sunting
|
sunting mata air]

Mahmud turut Sekolah Rakyat (SD) ketika tinggal di 9 Ilir. Setahun kemudian, setelah berumur 7 tahun, ia dipindahkan ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) 24 Ilir. Ada kenangan nan tak bisa dilupakannya kepada guru HIS yang mengajarkan musik, khususnya membaca notasi angka. Kaidah master mengajarkannya sangat menyentak. Hawa membudayakan urutan musik do rendah sebatas do tinggi dengan kata-prolog
do-dol-ga-rut-e-nak-ni-an. Kemudian, sekaan nada dinyanyikan kebalikannya, dari nada strata turun ke musik rendah masih dengan pembukaan-alas kata gecul
e-nak-ni-an-do-dol-ga-rut. Setelah murid menguasai tinggi urutan nada dengan baik, naik dan jatuh, melalui tuntunan dengan alas kata-pengenalan, guru menggilir pembukaan-kata dengan notasi.

Setelah itu, diberikan cak bimbingan lanjut membaca notasi angka, seperti menyanyikan berbagai macam jarak irama (interval), bentuk dan nilai titinada. Sesudah itu barulah murid-murid diberi nyanyian bau kencur secara lengkap untuk dipelajari. Mandu mempelajari lantunan demikian betapa menentramkan.

Zaman pencaplokan Jepang dan zaman revolusi

[sunting
|
sunting sumber]

Lega tahun 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah plong angkatan angkatan Jepang. Saat itu sira duduk di kelas V HIS. Dalam keadaan peralihan dominasi pemerintahan itu, kamu bermigrasi ke Muaraenim. Di sana, ia dimasukkan ke sekolah keluaran HIS, yang sudah lalu berganti nama menjadi Kanzen Syogakko. Di sinilah kamu mulai bermain sandiwara dan mengenal musik. Sandiwara yang pernah beliau ikuti adalah ketika sekolah mengadakan atraksi pada akhir periode tajali bertempat di gedung bioskop. Cerita yang ditampilkan legenda berpunca Sumatra Barat, berjudul Sabai Nan Aluih dan beliau berperan bak Mangkutak Bendera.

Di kota ini pula ia berkenalan dengan Ishak Mahmuddin, seorang anggota orkes musik Ming yang populer di ii kabupaten Muaraenim. Ming adalah logo bos orkes. Perabot yang dikuasai Ishak yakni perkakas musik tiup saksofon, selain bilang alat musik tidak. Ishak kemudian mengajarinya bermain gitar. Selain itu, Ishak yang ahli berkisah lagu itu timbrung membimbingnya mengarang lagu. Mengintai kemampuan Mahmud yang terus meningkat, Ishak pun mengajaknya bergabung dengan Orkes Ming umtuk memainkan perabot musik, dan kadang-kadang ukulele serta bas.

Periode revolusi 1945-1949 membuatnya bukan bisa bersekolah dengan baik. Engkau timbrung ikut kancah perjuangan dengan menjadi anggota Tentara Pelajar. Sejauh waktu itu, kehidupannya berubah. Engkau berpindah-pindah dari satu gelanggang ke gelanggang lain, berpokok suatu kota ke kota enggak, tambahan pula keluar masuk hutan. Syukurlah, ia dapat melangkahi masa itu dengan selamat, meskipun cak semau rekan-rekannya nan meninggal.

Pasca- Belanda mengamini kedaulatan R.I., Mahmud pun keluar bersumber kesatuan Tentara Pelajar. Ia kemudian menyinambungkan sekolah dan dinyatakan sirna bermula SMU penggalan Permulaan (SLTP) sehabis mengikuti tentamen penutup pada tanggal 11-16 Agustus 1950. Ketiadaan biaya membuatnya bukan dapat segera melanjutkan pendidikan. Pamannya, Masagus Alwi mengajaknya bekerja di riuk satu bank kepunyaan Belanda yang masih beroperasi. Undangan tersebut dipedulikan. Di tempatnya bekerja, ia dapat mengawasi kontan gerombolan lalu-lintas, habis-lalang wahana, pejalan suku, juga para siswa membawa buku sekolahnya. Ingatan dan perasaannya mulai panik. Beliau ingin kembali ke sekolah.

Kebetulan di Palembang medium dibuka Sekolah Guru adegan A (SGA) nan memberi tunjangan belajar lakukan siswanya selama tiga tahun, dengan syarat setelah tamat bersedia ditempatkan di mana belaka sebagai hawa. Ia pula mengetem bekerja di bank dan lekas mendaftar sebagai petatar mentah di SGA. Selama tiga tahun (1951-1953) ia sparing di SGA. Sejauh pendidikan di SGA, dia jalinan merencana alunan untuk ibu. Introduksi-katanya bila disimpulkan, berbunyi: betapa intern laut, betapa hierarki gunung, tidak bisa melebihi dalam dan tingginya kasih Ibu. Sayang, teks nyanyian ini tidak dimilikinya lagi, hilang.

Musim pascasekolah

[sunting
|
sunting perigi]

Setelah lulus SGA, ia ditempatkan di Tanjungpinang, Riau, menjadi guru SGB di daerah tingkat itu. Ia berangkat ke Tanjungpinang dengan pesawat pusing Catalina yang berharta mendarat di permukaan laut. Di dermaga, Kepala SGB menyambut kedatangannya. Ia dibawa ke sebuah hotel tempat tinggalnya selama bertugas di Tanjungpinang. Di luar dugaannya, gaji pegawai di Tanjungpinang dibayar dengan mata komisi dolar, bukan rial. Dengan gaji dolar, hidup guru dan personel Pegawai Negeri Swasta (PNS) pada umumnya lebih dari pas.

Di kota inilah ia berkenalan dengan Mulyani Sumarman, linguis Inggris SMP Negeri. Hubungan lagi makin lama makin erat. Menjelang tahun ketiga berada di Tanjungpinang, ia merasa sudah waktunya pindah. Dia mau ke Jakarta. Anda ingin menyinambungkan pendidikan di B.I. Jurusan Bahasa Inggris dan membangun apartemen tangga dengan Mulyani. Dia mengajukan permohonan pindah, dan dipedulikan. Mulyani akan menyusul.

Pada tahun 1956, beliau pindah ke Jakarta diangkat menjadi master di SGB V Kebayoran Baru. Kemudian, mendaftarkan diri sreg B.I. Jurusan Bahasa Inggris. Tanggal 2 Februari 1958 ia menikah dengan Mulyani. Kemudian Mulyani diboyong ke Jakarta pasca- mengajukan permohonan pindah mengajar.

Mulyani ditempatkan di SMP 11 Kebayoran Baru yang tepat berhadapan dengan sekolahnya mengajar. Mulyani pun mendaftar diri kembali pada B.I. Jurusan Bahasa Inggris. Dengan demikian, mereka dapat pergi dan pulang terbit mengajar, ataupun kuliah di B.I. bersama-sama dengan naik kuda kereta angin biang keladi. Dari perkawinan ini mereka dikarunia tiga orang anak, seorang pria, dua orang perempuan, yaitu Ruri Mahmud, Rika Vitrina, dan Revina Ayu.

Setelah menyelesaikan B.I. Jurusan Bahasa Inggris hari 1959, Mahmud dipindahkan mengajar pada SGA Perkembangan Setiabudi, Jakarta Selatan. SGA mendididik calon guru Sekolah Asal. Di sini beliau berkenalan dengan Bu Fat dan Bu Meinar, master Seni Suara.

Karier mencipta lagu

[sunting
|
sunting sumber]

Awal tahun 1962, dengan biaya Colombo Plan, dia ditugaskan kuliah di University of Sydney, Australia, guna memperoleh manuskrip ain pidato
The Teaching Of English As A Foreign Language
selama satu tahun. Januari 1963 ia mendaftarkan diri sreg Fakultas Keguruan Ilmu keguruan (FKIP) Jakarta kerjakan meneruskan pendidikan sampai sarjana. Puas waktu yang selaras beliau dipindahtugaskan ke Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di Urut-urutan Halimun, Jakarta Daksina.

Di SGTK seolah kamu menemukan lahan subur bikin mengembangkan bakat musiknya, khususnya mencipta lagu anak-anak. Dia pun meninggalkan lektur bahasa Inggris, keluar dari FKIP, dan menekuni musik.

SGTK memiliki suasana yang mendorongnya kerjakan menekuni dunia musik. Pimpinan sekolah koteng senang akan musik. Guru Seni Musik pakar bertindak piano dan . Peserta SGTK turut memberikan dorongan baginya untuk mengarang lagu momongan-anak. Tiap mungkin siswa SGTK melakukan tuntunan praktik mengajar, ada yang memerlukan lagu dengan tema tertentu menurut tugasnya. Lega perian itu, mencari lagu anak-anak yang sesuai dengan anak-anak agak sulit. Petatar yang memerlukan lagu baru datang kepadanya meminta dibuatkan lagu. Ia kembali mencoba. Lagu nan telah dibuat, diajarkan sreg anak-momongan TK saat praktik mengajar. Ternyata, lagu itu disukai. Hal ini menggembungkan hatinya dan membuatnya makin tekun berkisah lagu anak-anak asuh.

Di rumah pada hari senggang, ia menyedang berkisah lagu momongan-momongan berbarengan memetik gitar miliknya. Lagu anak-momongan tentu berbeda dengan lagu lakukan individu dewasa. Di mana bedanya? Pada pikiran, perasaan, dan perilaku anak itu sendiri. Engkau kembali mempelajari lagu momongan-anak yang telah ada, seperti lagu-lagu Ibu Sud, Kelongsong Dal, dan pelaksana lagu momongan-anak nan lain.

Saat tinggal di Kebayoran Baru, Mahmud cinta mengajak anaknya berperan ke Taman Puring. Di sana ada lenggang, jungkat-jungkit, dan lapangan yang patut luas sehingga anak-momongan dapat mengerjakan permainan lain, seperti main lempar bola atau kejar-kejaran. Roike yang saat itu baru berumur 5 tahun senang sekali bertindak ayunan. Sira begitu menikmati permainan itu dan menjaga seharusnya anaknya tidak sampai mengalami kecelakaan. Ingatan Roike dan pesan seyogiannya hati-hati sehingga tidak mengalami itu kamu tuangkan ke dalam lagu
Main Ayunan.

Inspirasi lagu
Pelangi
hadir ketika ia mengantar anaknya, Rika, yang masih berusia panca tahun sekolah di TK. Di perdua penjelajahan, Rika berteriak, “Pelangi!” sambil menunjuk ke arah langit. Dia mulai menyanyikan pelangi, mencari pembukaan-alas kata yang tepat nan menjadi manah anak katai, lebih lanjut ketika tiba di rumah, ia iringi dengan gitar dan jadilah sebuah lagu.

Lahirnya lagu
Ambilkan Bulan
terjadi saat anaknya Roike tengah bertindak di beranda rumah. Saat itulah anda meluluk ke langit dan melihat bulan. Taajul beliau berlari dan menggandeng lengan ayahnya diajak ke luar. Seketika si anak berkata, “Pa, ambilkan bulan.” Jelas saja A.T. Mahmud pening. Awalnya kejadian itu berlalu serupa itu saja. Namun, permohonan si anak terus terngiang di telinganya. Mohon rembulan, buat apa? Dengan menyedang menerawang dunia dan bahasa anak asuh, A.T. Mahmud kembali menuliskan permintaan itu privat stanza-bait lagu. Tadinya “ambilkan rembulan pa” diubah menjadi “ambilkan bulan bu” sehingga ki gandrung lebih kecil-kecil.

Lain lagi dengan lagu
Amelia. Amelia yaitu label seorang anak asuh kecil nan riang, caruk bertanya, tidak boleh diam, variola, dan mau tahu banyak hal. Amelia (logo arketipe: Amelia Farina Salim) adalah momongan berasal Emil Salim, Nayaka Mileu Spirit pada tahun Orde Baru. Emil Salim tak lain adalah sahabat waktu kecil Mahmud ketika sejajar-sama sekolah di Sekolah Menengah Umum Bagian Purwa (SMU, setingkat SLTP), di Palembang. A.T. Mahmud melukiskan adat Amelia intern lagunya sebagai gadis cilik cacar nian, tak pernah sedih, riang besar perut sepanjang hari.

Dorongan untuk membuat lagu datang juga semenjak hawa-guru. Salah satunya ialah Ibu Rosna Nahar. Para siswa pun suka dengan lagu-lagu ciptaannya. Ia kemudian membentuk keramaian senyawa suara pelajar SPG. Lagu ciptaannya terus bertambah, dan menginjak tersebar di Ujana Kanak-Kanak dan Sekolah Radiks terhampir, kemudian melebar di sekolah-sekolah tak. Radio Repulik Indonesia (RRI) memintanya membantu mengisi program anak-anak pada senja hari, dengan memopulerkan lagu lama maupun bau kencur. Kesempatan ini beliau pergunakan kerjakan memperkenalkan lagu ciptaannya sendiri.

Pelan tapi mantap, lagu-lagunya berangkat dikenal di kalangan anak-anak, hawa sekolah, dan ayah bunda. Tahun 1968, Televisi Republik Indonesia (TVRI) mengundangnya. Salah seorang pejabat di sana mengklarifikasi bahwa TVRI ingin menyelenggarakan sebuah acara mentah, adalah musik anak-anak asuh tingkat SD. Ia diminta bikin mengoordinasi program ini. Akhirnya jadilah sebuah acara bertajuk
Ayo Menyanyi
yang tiba mengudara tanggal 3 Juni 1968.

Perigi lagu lazimnya diambil dari lagu-lagu ciptaan, antara bukan: Ibu Sud, Pak Dal, Kelongsong Tono, S.M. Moechtar, Kasim St. M. Paduka tuan, A.E. Wairata, S. Anjar Sumyana, C. Tuwuh, Martono, Andana Kusuma, Angkama Setiadipradja, Selongsong Sut, Pak Rat, Kusbini, Daeng Soetigna, Hs. Mutahar, L. Manik, M.P. Siagian, Alfred Simanjuntak, R.C. Hardjosubrata, Sancaya HR, dan Mus K. Wirya.

Terbit lagu-lagu yang dikirimkan, dan masih dikenal, antara tak:
Terima Kasihku
oleh Sri Widodo dari Yogyakarta,
Bunga Nusa Indah
oleh Djoko Sutrisno, dan
Anugerah
makanya Hidung Fiil (putra Bu Meinar). Ayo Menyanyi telah menjadi pelecok satu wadah kerjakan mereka yang berperhatian bagi menciptakan menjadikan lagu anak-anak, pendidikan nada anak-anak khususnya. Bertarikh April 1968, ia mengakui sebuah lagu pecah Mochtar Embut, berjudul
Ibu Guru Kami, nan kemudian disiarkan di TVRI.

Atas usul A.Cakrawala. Mahmud, waktu 1969 TVRI menambah acara lagu anak yaitu
Lagu Pilihanku. Jika Yuk Menyanyi berbentuk pelajaran untuk menyanyikan lagu baru, maka Lagu Pilihanku bersifat adu. Total peserta lima insan yang dipilih melalui validasi. Untuk testing, calon pelajar harus melapor diri pada Penasihat Sub Bagian Pendidikan, yang kemudian akan memperoleh Sahifah Pesuluh Ujian. Testing dilakukan oleh dua turunan yang ditunjuk koordinator program, berlantas di studio TVRI. Acara ini ditayangkan dua kali sebulan, bergantian setiap seminggu sekali dengan Ayo Menyanyi.

Setelah kedua acara di atas berlangsung dan berkesinambungan selama 20 periode, lega tahun 1988, atas suatu kebijaksanaan pimpinan TVRI, seluruh skuat diminta mundur mulai sejak kedua programa tersebut. Bagi beberapa saat program Mari Menyanyi dengan jenama bukan dilanjutkan dengan pembawa acara seorang artis, yang berlangsung tidak lama. Kemudian, pembawa acara digantikan seorang artis lain. Itu pun hanya tarik urat sejurus, kemudian untuk seterusnya menghilang adakalanya berusul tayangan di cucur TVRI.

Eksistensi acara Ayo Menyanyi dan Lagu Pilihanku, ternyata telah menghela minat halangan perusahaan rekaman bagi merekam lagu momongan-anak pada piringan hitam. Tercatat nama firma album, seperti mana: Remaco, Elshinta, Bali, Canary Records, Fornada, J&B Records. Lagu-lagu ciptaan A.Falak. Mahmud pun mendapat perhatian. Di samping lagu-lagu ciptaan pencipta lainnya, cak semau seputar 40-an lagu A.T. Mahmud tersebar lega tujuh plat antara tahun 1969, 1972, dan tahun-musim sesudah itu, yakni:

Waktu terus bepergian. Akhirnya, salah satu rangka pendidikan Islami meminta A.T. Mahmud untuk memberikan penataran sepersaudaraan puas sekolahnya untuk master-guru TK. Ia berpendapat, bukan main baiknya takdirnya model lagu yang ia berikan, juga bernapaskan Islami. Nan Islami itu yang mana? Karena kejadian ini ialah sesuatu yang yunior baginya. Mahmud berburu adv pernah apa yang dimaksudkan dengan lagu islami, seni islami plong kebanyakan. Di satu sisi, tentu ada yang ekuivalen, yaitu sasarannya tetap anak-anak pula. Akan tetapi, di sisi lain, tentu ada bedanya dengan lagu anak-anak yang publik. Bedanya paling tak pada pesan yang akan disampaikan, pada tujuan dan maksud yang ingin dicapai.

Mulailah ia mencari persendian bacaan. Berpangkal sejumlah resep Islami nan dibaca, engkau mulai mempelajari adapun seni Islam, musik Islami, ataupun lagu Islami. Anda menemukan jawaban pada buku yang ditulis M. Quraish Shihab
Wawasan Al-Quran, bagian keempat: “Wawasan Al-Quran tentang Aspek-Aspek Kegiatan Manusia” subbab Seni pekarangan 398.

“… seni Islam yaitu ekspresi tentang alam, hidup, dan manusia nan mengantarkan menjurus pertemuan sempurna antara validitas dan keindahan …memvisualkan hubungan …dengan hakikat mutlak, yaitu Allah SWT. …dengan tujuan memperhalus budi, mengingatkan adapun safi diri manusia, menggambarkan akibat baik dan buruk dari satu pengamalan …”

Signifikasi ini dianggapnya sejalan dengan rumusan nan dikutip dari bacaan lain, berbunyi:
” (musik islami) bermaksud dan berujud bikin meningkatkan sendi pikir dan rasa internal kaitan gagasan dan pendidikan akhlak, dengan cakupan dua aspek, yaitu a) akhlak terhadap Tuhan, dan b) akhlak terhadap sesama manusia.”

Dalam pengertian inilah kemudian sira menciptakan lagu-lagu Islami, dengan cara menerjemahkannya menurut dan sesuai dengan karakteristik anak yang sedang bertaruk dan berkembang condong kedewasaannya.

A.Lengkung langit. Mahmud kembali mempertimbangkan bikin menghimpun semua lagu yang diciptakan dalam buram buku. Ia pernah mencetak koteng, dengan biaya sendiri, dan penyebaran seorang melalui sekolah langsung, yang menghasilkan dua buku himpunan lagu yaitu
Lagu Anak-Momongan Kami Menyanyi
(44 lagu) disusun pada waktu 1969 dan
Lagu Anak asuh-Anak asuh Main Buai
(30 lagu) lega musim 1970.

Penerbit PT Nur Bandung mencetak lagu-lagunya berjudul
Nyanyianku
(30 lagu yang pada umumnya berbeda dengan lagu pada
Main Ayunan, perian penerbitan tidak ada. Tahun 1976, I. Elisa dari Bandung menerbitkan sendiri 8 lagu cipaannya n domestik gubahan bagi iringan piano, dengan judul
Lagu Anak-Anak. Penerbit Yudhistira Jakarta menerbitkan tiga kompilasi lagu berturut-turut, masing-masing dengan kop
Merdu Berlagu
kerumahtanggaan 4 jilid (musim penerbitan tidak tercantum).

Ternyata, penerbit osean pun ikut tertarik menerbitkan rahasia lagu-lagu anak. Di antara penerbit yang menerbitkan buku kumpulan lagu-lagu adalah Auditorium Bacaan, Tiga Serangkai Khusus, Gramedia, Grasindo. Grasindo pun menerbitkan lantunan Islami berjudul
Mustiqa Dzikir Buaian Islami Berdasarkan Perkataan nabi Rasulullah.

Selain mencipta lagu, A.Ufuk. Mahmud pun adv pernah menulis beberapa resep, terutama seumpama anggota tim. Hal itu terjadi momen menjadi anggota tim penulis bikin buku musik SPG pada Order Penyedian Buku Sekolah Master Tahun ke-5 Pembangunan Lima Tahun I 1973/1974. Sejumlah kiat yang ditugaskan pada timnya adalah
Ki akal Musik
1, 2, 3, dan 4 untuk SPG. Lebih jauh, beliau bersama Bu Fat menulis kiat les musik
Musik di Sekolah Kami Belajar Seni Nada Aktif dan Kreatif bagi Sekolah Dasar
yang diterbitkan Balai Pustaka periode 1994.

Tahun 1995 ia menulis buku
Musik dan Momongan
atas permintaan Pesanan Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan 1994/1995 Direktorat Jenderal Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sekitar bulan Oktober 1999, Seli (Seli Theorupun Pontoh) berpokok Sony Music bertamu ke rumahnya. Dia datang bersama Lampion Hadipranowo nan ternyata kontak menjadi guru piano cucunya, Sasti. Seli mengklarifikasi maksud kedatangan mereka, pertama ingin bertahuan dengan A.T. Mahmud, kedua, Sony Music berniat meluncurkan album perdana lagu anak-anak asuh dengan label Sony Wonder.

Detik itu dirasakan bahwa lagu momongan-anak asuh nan ada di kodian pada umumnya lagu-lagu nan agak “lain”, berbeda dengan lagu momongan-anak yang pernah diciptakan seperti oleh A.Lengkung langit. Mahmud, Ibu Sud, atau Cangkang Kasur. Sony Music ingin memunculkan kembali lagu anak-anak asuh yang lalu hampir di alat pendengar anak-anak asuh Indonesia. Mereka berpengharapan, di limbung ibu bapak sreg umumnya ada rasa kerinduan akan lagu-lagu sedemikian itu.

A.T. Mahmud tergemap dengan segala apa yang disampaikan. Ia sangat doyan lagu-lagu karyanya diperhatikan. Lekas engkau serahkan bilang koleksi lagu-lagu yang kebetulan sudah difotokopi berpangkal skrip nirmala. Menjelang bulan Mei 2000, Sony Music mutakadim memilih 15 lagu dengan penyanyi Shafa Tasya Kamila (Tasya), dan penata irama Dian Hadipranowo. Selain itu, lagu ciptaan A.T.Mahmud pun disisipkan ke dalam album Nada Musik yang dinyanyikan Maissy oleh Sony Wonder.

Pada 4 Mei 2000 lagu-lagu yang tersortir dengan label Sony Wonder berjudul
Libur Sudah lalu Tiba
dengan subjudul
Karya Abadi A.Lengkung langit. Mahmud
diedarkan. Atas keberhasilan album ini, belalah kamu katakan pada diri sendiri, kemenangan album itu bukanlah semata karena lagu A.T. Mahmud. Setidaknya terserah tiga unsur yang terbabit, tukar mendukung, ialah, lagu, Tasya sebagai penyanyi momongan, dan tatanan musik Lentera, dalam kesendirian utuh. Bukan kalah penting merupakan “keberanian” Sony Music memunculkan kembali lagu-lagu lama yang mutakadim puluhan perian umurnya dalam satu kaset.

Setahun kemudian tanggal 5 Juni 2001 Sony Wonder mempergilirkan rekaman kedua dengan semua lagu ciptaannya berjudul
Gembira Berkumpul. Kembali penolakan umum akan album ini bukan mengecewakan. Kemudian 18 Oktober 2001, menjelang bulan Ramadhan 1422 H, Sony Wonder meluncurkan memori
Tinju Lebaran
yang memuat 11 lagu Islami. Tiga di antara lagu itu, liriknya ditulis maka dari itu Ni Luh Dewi Chandrawati, yakni
Ketupat Ldulfitri,
Sahur Telah Mulai, dan
Tanganku Ada Dua. Dua lagu diambil dari lagu lama yang bukan dikenal nama penciptanya.

Atas prestasinya di permukaan musik, A.T. Mahmud telah banyak memufakati penghormatan. Empat pujian ragil adalah bulan Oktober 1999, menerima Hadiah Seni dari Pemerintah, yang diserahkan Menteri Pendidikan dan Kultur RI, Juwono Sudarsono. Inilah belas kasih seni pertama yang diterimanya terbit Pemerintah dalam satu upacara resmi.

Februari tahun 2001, puas saat peluncuran film
Visi Anak Nasion
karya Garin Nugroho, bertempat di gedung Teater Indonesia Taman Mini Indonesia Indah, memufakati penghormatan intern bentuk daun melempar yang diserahkan maka dari itu Wakil Kepala negara Megawati Soekarnoputri. Di atas daun lontar tertulis:
“Untuk yang mencipta melintasi keberagaman budaya membagi keindahan dan kemuliaan keberagaman hidup.”

Mei 2001 menetap di Golden Room Hotel Hilton, diprakarsai dan melalui Yayasan Genta Sriwijaya, ia menerima sanjungan berupa piala dari masyarakat Sumatra bagian Selatan, bersama-sama dengan tiga khalayak tokoh nan lain.

Pada Agustus 2003, ia kembali menerima Tanda Kehormatan Medali Budaya Parama Dharma berpunca Pemerintah RI (Keppres No.052 /TK/Tahun 2003 Tanggal 12 Agustus 2003).

Suatu bulan kemudian, Anugerah Musik Indonesia (AMI) mengasihkan penghargaan berupa Lifetime Achievement Award kepadanya atas sumbangsihnya terhadap dunia musik.

Tetapi, di samping penghormatan formal itu, suka-suka bentuk penghargaan lain yang informal, tetapi sangat menyentuh hati, menimbulkan rasa haru yang betul-betul, yakni penghargaan berbunga hawa, berbentuk lagu. Lagu permulaan, pada tahun 1982, momen terlibat pada proyek peningkatan mutu guru SPG tingkat Kewarganegaraan yang diselenggarakan di Puncak. Refleks pada hari ulang tahunnya, copot 3 Februari 1982, Siti Romlah, riuk koteng peserta dari Yogyakarta, menyumbangkan sebuah lagu ciptaannya sendiri, berjudul
Di Hari Ulang Tahunmu, Papa.

Lagu kedua ketika menjadi salah seorang penatar sreg Pendidikan dan Pelatihan Penyuluh Tingkat dasar Master Taman Kanak-Kanak Atraktif, Pusat Pengembangan Penataran Master Keguruan Jakarta nan diselenggarakan di Parung, Bogor, berkampung di gedung PPPG Bahasa tahun 1999, dengan peserta para suhu pendiri Yojana Kanak-Kanak se-Indonesia. Bilamana mohon diri, para peserta memintanya buat mendengarkan sebuah lagu nan telah diciptakan umpama kenang-kenangan. Lagu dibuat oleh Renni Kusnaeni dari TK Pembina Subang, Jawa Barat, dan puisi makanya Munifah dari TK Pembina Lamongan, Jawa Timur. Naskah lagu ini bertanggal 23 Juli 1999. Seluruh peserta yang sudah dilatih lilin batik sebelumnya bernyanyi bersama.

Sebentar-sebentar mendengar lagu ciptaannya dinyanyikan, nan pertama-tama terkenang adalah peristiwa atau cerita bagaimana lagu itu tercipta dalam ulas, masa, dan pelaku nan melatari. Atas pangkal itu pulalah dikatakan bahwa lagu ciptaannya bersumber lega tiga situasi, yang berdiri sendiri alias ganti memengaruhi. Pertama: bersumber sreg perilaku anak itu sendiri. Kedua: pada pengalaman masa kecilnya. Ketiga: pesan pendidikan yang ingin ia sampaikan pada anak-anak.

Nasib pribadi

[sunting
|
sunting sendang]

A.T. Mahmud menikah dengan Mulyani Sumarman (kelahiran Sambu 26 Februari 1934) di Surabaya pada terlepas 2 Februari 1958. Pecah pernikahannya dia punya tiga makhluk momongan, yaitu Ruri Mahmud (lahir di Jakarta 23 Februari 1959), Rika Vitrina (Jakarta 1 Oktober 1960), dan Revina Ayu (lahir di Jakarta 13 April 1974).

Pendidikan

[sunting
|
sunting sumber]

Formal

[sunting
|
sunting sumber]

  • Hollandsch-Inlandsche School / SD (1944)
  • SMU Bagian Mula-mula / SMP (1950)
  • Sekolah Guru bagian A / SGA (1953)
  • Bahasa Inggris FKIP (1959)
  • Sarjana Cukup umur / Diploma (1964)

Informal

[sunting
|
sunting sumber]

  • The Teaching of English As a Foreign Language
    (Australia) – Desember 1961 setakat Desember 1962
  • PATA (Jakarta) – November sampai Desember 1979
  • SPAFA “Further Development for Trainer Teachers of the Arts in Schools” (Loka karya di Filipina) – Mei 1985


Karya tulis / musik

[sunting
|
sunting sumber]

  • Pencipta lagu momongan-anak asuh buat anak semangat Pendidikan Sumber akar.
  • Rahasia Kursus Musik:
    • Anggota skuat penulis Pokok Musik 1,2,3, dan 4 kerjakan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tahun Proyek 1973/1974 dan 1974/1975.
    • Anggota tim penulis Muslihat Seni Musik untuk KPG Proyek Pembinaan KPG/PGSMTP

1982/83.

  • Carik Nada Anak atas petisi Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutiara Tenaga Kependidikan 1994/1995 Direktorat Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Penampilan dan pengakuan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Menerima Inskripsi Anugerah Seni atas Keputusan Kepala negara Republik Indonesia melangkaui Menteri Pendidikan dan Kultur RI – 11 Oktober 1999.
  • Rahmat Pendidikan Seni oleh Rektor Universitas Provinsi Jakarta – 27 Juni 2003 (Hari jadi Sekolah tinggi Negeri Jakarta ke-39).
  • Menerima Tanda Keperawanan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Megawati Soekarnoputri – 14 Agustus 2003.
  • Anugerah Penyebaran Baik hati Momongan 2022 kategori Pencipta Lagu Anak Legendaris (Penghargaan Idiosinkratis) oleh Komisi Penyiaran Indonesia – 30 Juli 2022.

Penghargaan dan nominasi

[sunting
|
sunting sumber]

Tahun Penghargaan Kategori Hasil
2003 Anugerah Musik Indonesia Lifetime Achievement Award Pemeroleh

Daftar rujukan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “Mahmud, AT”.
    encyclopedia.jakarta-tourism.go.id
    . Diakses tanggal
    2020-02-12
    .




Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • Pengambil inisiatif Indonesia (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/A._T._Mahmud

Posted by: caribes.net