Sinopsis Cerita Pendek Tentang Persahabatan

Suka-suka banyak kelebihan saat kalian mengaji contoh kisah pendek khususnya cerpen perkawanan. Diantaranya dapat mengetahui betapa pentingnya arti persahabatan salih.

Di dalam membuat cerpen persahabatan, idealnya itu menggambar pengalaman pribadi bersama sahabat.

Akan lewat menarik jika pahit manisnya persahabatan yang sudah kalian jalani kemudian dibuat internal sebuah tulisan tangan cerita pendek.

Sehingga kisah kalian boleh abadi dalam cerpen persahabatan ikhlas yang tersurat dan dapat dibaca semua orang.

Cara membuat cerpen persahabatan singkat, bisa dimulai dengan mencari contoh cerpen pendek bermakna yang banyak terdapat di perpustakaan, ki alat internet alias dengan mendaras artikel di bawah.

Kalian bisa mengaji kumpulan titel abstrak cerpen pertemanan singkat menginjak dari SD, SMP, SMA beserta anasir intrinsiknya.

Contents

  • Konotasi Cerpen Beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsiknya
  • Cerpen Persahabatan Singkat
  • Cerpen Perkawanan dan Cinta
  • Cerpen Persahabatan Sejati
  • Cerpen Persahabatan SMP Singkat
  • Contoh Cerpen Perkawanan di Sekolah
  • Cerpen Pertemanan nan Hancur Karena Buruk perut
  • Cerpen Perkawanan Ceria Senyum Bontot
    • Share this:

Pengertian Cerpen Beserta Zarah Intrinsik dan Ekstrinsiknya

Kiranya penjelasan tentang cerpen beserta anasir intrinsiknya dan ekstrinsiknya yang singkat dan lengkap pada video tersebut bisa pahami dengan baik ya.

Cerpen Pertemanan Sumir

Contoh Cerpen Persahabatan Singkat Padat dan Jelas

” KENANGAN ”

Hay! Namaku Diana Malika. Aku kalis dari Palembang. Sekarang aku semenjana di Parangtritis berbarengan menikmati angin senja. Sore ini semacam itu luhur. Akupun beranjak dari duduk kemudian menuliskan sesuatu di pasir menggunakan kayu. “Diana dan Erwin”, dua nama yang kutuliskan di pasir.

Erwin adalah nama sahabat dekatku. Nama lengkapnya yaitu Erwin Dwi Liani dan engkau masa ini sudah bersama Sang Kuasa.

Aku pun kembali teringat keadaan itu dan tahu-tahu air mataku mulai mengalir dengan derasnya.

“Malika!!!” Teriak erwin yang melihatku menangis di tepi sungai. Aku mengabaikannya.

“Hey! Beliau kenapa menangis?” Tanyanya.

“Dompetku hanyut di sungai”. Kataku sambil menangis sesenggukan.

“Kamu jangan khawatir, aku akan mencarikannya!” Kata Erwin sambil menyusuri wai. Aku pula menatapnya dengan tatapan kosong. Lain habis pikir ku melihatnya. Sementara itu hari sudah hampir bawah tangan.

Aku juga menunggunya dengan histeris setakat ada makhluk yang menghampiriku.

Embak, ngapain disini koteng? Sudah lilin lebah lho mbak” Tegur orang yang kebetulan lewat.

Pula nunggu musuh, Pak. Tadi dia nyari kantong saya yang hanyut di bengawan ini, Paket.”Sahut Ku yang masih menyisakan air mata dan mengguratkan kegelisahan.

“uni bisa menunggu di rumah saya, cak agar saya nyari temennya mbak. Mbak dapat menemani cem-ceman saya di rumah” Sahut buya tersebut.

Aku pun mengikutinya terbit belakang hingga menjejak depan rumahnya. Selang beberapa detik, bapak tersebut menyingkir kerjakan berburu Erwin.

Tengah malamnya, kiai itu kembali dengan cahaya muka adv minim menyurutkan.

“Magfirah embuk, tadi saya sudah menelusuri kali besar dan ternyata antitesis mbak tadi hanyut dan ditemukan maka itu warga. Dia sudah menyingkir selamanya” Tutur bapak itu dengan paras tertunduk.

Bagai petir di tengah hari. Aku tak berkepastian dengan ucapannya. Sahabat tercintaku pergi karenaku. Aku suntuk menyesal karena merelakan sira menghindari. Aku pun menangis sejadi-jadinya saat itu juga.

Kini aku saja boleh mengingat semua kenangan dan pengorbanan Erwin. Selamat jalan Erwin, semoga engkau tenang disana.

Kisahan Sumir Menarik: Cerpen Pendidikan

Cerpen Persahabatan dan Cinta

Contoh Tajuk Cerpen Persahabatan

” Persahabatan DI ATAS Caruk ”

Sepekan berpulang sejak pernikahanmu. Masih teringat jelas rasa sakit itu. Pada pagi itu, tepatnya di hari pernikahanmu, kamu begitu antusias di masa itu.

“Kak Azka, lihat, elok bukan?” Ucapmu dengan antusias.

“Kau tertentang sangat cantik, Rini.”

“Ya udah, sana kak, aku cak hendak berdandan dulu”

Bahagiaku melihatnya begitu antusias menyambut musim pernikahannya. Kau tertentang lalu bahagia. Bukan tengung-tenging senyuman manismu selalu tersungging di wajahmu.

Jadinya, setelah suka duka kau lewati bersama, tibalah saatnya kalian mengucap cinta murni untuk ki ajek sehidup semati.

Jujur saja, jika semata-mata terlampau aku nyali mendedahkan perasaanku yang sebenarnya, bisa jadi bukan luka yang kurasa. Tetapi apa daya, semua sudah lalu berlalu begitu semata-mata.

Kupendam perasaanku karena ku takut jikalau terjadi sesuatu nantinya.

Persahabatan nan telah terjalin sejak lama akan lampau sayang jika dirusak dengan cinta. Hingga akhirnya ku pendam perasaanku sejenis itu saja.

“Kak Azka, ayo cepetan bantuin aku” Teriakmu yang mengusik lamunanku.

Tanpa sadar air mataku terjatuh. Akupun buru-buru menyetip air mataku sepatutnya tidak merusak hari bahagiamu.

“Udah siap, Rin?” Tanyaku.

“Iya, kak.”

Unggulan mempelai pria pun tiba dan acara akad nikah juga dilaksanakan. Acara pun berlangsung dengan hikmat dan tanpa terserah halangan apapun.

Aku ikut mujur, walau ada luka di dalamnya. Bak sahabat baiknya, lain tengung-tenging ku ucapkan selamat plong Rini, sahabat terbaikku.

Cerpen Persahabatan Lugu

Contoh Cerpen Pertemanan Steril

” MERAIH MIMPI ”

Malam nan indah dengan medalion yang bertabur di atasnya. Di bawah sinar bulan yang seperti itu indahnya, Joko mengendap seorang sederum menikmati secangkir kopi di sampingnya.

Tiba-tiba dia teringat akan perjuangannya sewaktu mungil sebelum menjadi pencetus sebagaimana saat ini.

Malam itu suasana begitu panah. Orang-khalayak berkumpul menyaksikan pagelaran wayang alat peraba di balai desa Sidomulyo.

Semua merasa terpaut, kecuali anak asuh nan duduk di tepi alun-alun. Dia masih berduka atas kepergian bapak tercinta yang menemui Nan Maha Kuasa.

Rintisan air alat penglihatan mulai membasahi pipinya yang kini menjadi berma menyala. Namanya Joko. Dia terlahir dari batih kurang berada. Joko memiliki tiga ari-ari yang bernama Lia, Leher baju dan Arum.

Saat ini Lia sudah papan bawah 3 SD, dan Nia yunior masuk kelas 1 SD. Tentatif Arum baru start umur 3 tahun.

Saat ini perasaan Joko terasa mencacau. Sedih dan mamang beraduk jadi satu. Entah bagaimana mandu untuk mengurai dan mengatasi semua masalah ini.

Start-tiba joko dipanggil maka itu Sampul Tarno. Kamu nampak terburu-buru.

Kenapa, Pak?” Tanya Jono.

Ibu Kamu semaput Jok. Ayo cepat pulang” Jawab Pak tarno dengan ngos-ngosan

Segera Joko berlari pulang ke rumah. Dia begitu kaget dengan bacot Pak Tarno.

Joko suntuk khawatir dengan kondisi ibunya nan lindu-sakitan.

Lia, Nia. Ibu tidak barang apa-apa?” Tanya Joko.

“Sekarang sudah baikan, Kak. Tadi Ibu semaput” Jawab Lia

Segera Joko bergegas menemui Ibunya. Joko membelai surai Ibunya. Tak kuasa ia menahan air matanya. Tangis lagi berbunga detik itu pun.

“Nak, tenanglah, jangan menangis, Ibu tidak apa-segala apa,


kok

.” Hibur Ibu Joko.

“Baiklah Bu. Joko tidak akan menangis lagi!”

Ya sudah, sebaiknya cepat istirahat!” Suruh Ibu.

“Baiklah, Bu!”

Joko pun masih termenung di kamarnya. Kamu sangat kepingin memeriksakan kondisi ibunya yang sakit-sakitan, tapi bagaimana caranya?

Saat Joko melihat jam, waktu sudah lalu menunjukkan pemukul 22.30, sehingga ia bergegas untuk beristirahat dan tidur.

Siang harinya sepulang sekolah seperti biasa, Joko berjalan bersama dua sahabatnya, Angga dan Heri.

Mulai-mulai di tengah perjalanan, mereka bertiga dipanggil maka dari itu Pak Eko, salah satu dalang kondang nan ada di Desanya.

“Ayo sini, minum es degan dulu. Kiai nan traktir” Ucap Kemasan Eko langsung memesankan es degan buat mereka.

“Begini, buya mau mengajari kalian menjadi dalang. Seharusnya budaya warisan kita tetap terjaga. Kalian cak hendak teko?”

“Wah, mau banget, Cangkang. Rasanya seru banget kalau bisa makara dalang. Bisa menceritakan berbagai kisahan pewayangan. Kisah-kisahnya juga menjujut banget, Pak” Angga pun menjawab dengan antusias.

“Kamu tertarik menjadi dalang, Angga? Kalau yang lain bagaimana?”

“Kepingin..mau!” Joko teruji.

“Kalau sejenis itu, tiap sabtu sore kalian ke apartemen bapak, Bagaimana?”

“Siap Bungkusan” Sahut Heri yang sejak tadi diam saja.

Mereka bertiga juga giat sparing menjadi motor. Enggak terasa 5 bulan sudah mereka berlatih. Hingga suatu hari Angga menclok ke rumah Joko. Joko sekali lagi lain menduga dengan kedatangan Angga.

“Angga, tumben siang-siang sudah ke rumahku. Cak semau segala?”

“Tadi aku ketemu Pak Eko. Anda bilang 2 wulan lagi ada perlombaan dalang cilik.”

“Wah, bagus itu, kita harus belajar lebih keras kembali”

“Betul, kemudian hari malam kita cak bimbingan juga. Seminggu 2 kali.”

“Baiklah, siap.”

Jauh di lekuk hatinya, Joko sangat berharap boleh menjadi dalang. Siapa ini adalah perkembangan baginya bagi menggapai cita-citanya sedari katai, menjadi motor kondang dan dibutuhkan banyak basyar bakal pentas.

Kamu pun segera masuk ke kondominium dan menjelaskan tanding dan kebaikan Kelongsong Eko kepada Ibu dan adik-adiknya. Joko dan teman-temannya pula kian giat membiasakan dari kebanyakan.

Hingga tiba saatnya hari kejuaraan. Joko serta kutub-teman dan keluarga saban pun start menjurus pendopo kabupaten.

Sesampainya di pendopo, kami semua turun dan menempati singgasana nan ada.

“Jangan lupa Joko, baca basmalah dan berdoa terlebih dahulu sebelum tampil”. Pesan ibu dengan durja yang terlihat pucat manai.

Siang perian tibalah saatnya joko untuk tampil. Joko memainkan perang baratayuda antara kurawa dan pandawa.

Baru beberapa saat, ibu joko pingsan setakat menimbulkan kepanikan di sekitarnya. Joko pun bertepatan bergegas turun minus memperdulikan perlombaan yang ada.

Orang-orang pun membawanya ke apartemen linu terhampir dengan dibantu panitia lomba.

Untunglah dari hasil pengawasan menyatakan seandainya Ibu joko dapat mengerjakan pengobatan dengan rawat jalan.

Ibu Joko sekali lagi membujuk Joko seyogiannya kembali ke perlombaan bikin menyemangati bandingan-temannya.

Joko mulai di sore hari tepat momen panitia akan mengumumkan hasil perlombaan.

“Juara pertama pertandingan dalang cilik adalah………… Angga Saputra”

Tahu-tahu itu pun Joko dan Heri melonjak kegirangan dan memeluk Angga setakat ketiganya hampir anjlok bersamaan.

“Selamat Angga, anda juara” Ucap Joko dan Heri.

“Sama-sederajat. Semua ini berkat latihan dan pimpinan berpokok Pak Eko.”Jawab Angga.

“Kemenangan ini aku dedikasikan buat Cangkang Eko dan kalian semua.” Sambung Angga yang bersemu merah karena tangis kesenangan.

“Pak Eko, terima belas kasih atas apa bimbingannya. Hadiah yang aku dapat ini akan kuberikan cak bagi biaya terapi Ibunya Joko. Boleh centung, Pak?” Tanya Angga kepada Kelongsong Eko.

Dari ketiga sahabat itu, Joko lah yang hidupnya serba kekurangan.

“Beliau memang baik Angga. Buya bangga plong kalian semua. Kalian berusaha keras untuk belajar dan menjadi yang terbaik.”

“Kamu memang berhati mulia, Pujo. Kalian semua memang anak asuh-anak yang bersedia untuk berlatih. Buya mengagulkan kalian.“

Joko pun kaget mendengar perkataan Angga. “Peroleh kasih Angga” Dia pun memeluk Angga simultan menangis haru bahagia.

“Ekuivalen-sama. Marilah kita ke rumah nyeri lakukan menjenguk ibumu!” Sreg perlombaan itu, bukan hanya kemenangan saja nan berarti, tapi ternyata sebuah kepedulian dan persahabatan nan begitu berarti.

Joko pun terbuyar terbit lamunan perjuangannya ketika kecil. Penampikan n domestik meraih mimpinya menjadi pelopor tidak sia-sia.

Saat ini Joko telah menjadi biang kerok tersohor. Tak lalai, Joko masih menjaga persahabatan hingga waktu ini.

Cerpen Persahabatan SMP Ringkas

Model Cerpen Persahabatan SMP Jangan Salah Pergaulan

” JANGAN SALAH Persaudaraan ”

Namaku adalah Doni. Aku kelas 2 SMP. Sekarang aku masih tergolek litak di kamarku. Tubuhku masih terasa sakit setelah sejumlah hari terkapar di kondominium sakit.

Sesal kurasakan, tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur. Kejadiannya beberapa hari yang sangat saat aku tak sengaja membuang sampah serabutan.

Sialnya, kapan itu adalah jam latihan PKN yang diampu maka dari itu Kelongsong Romli. Dia habis loyalitas soal kebersihan.

“Mungkin yang lepaskan sampah sembarangan?” Tanya Pak Romli.

Aku sadar takdirnya sampah yang dimaksud adalah sampahku. Tetapi aku diam semata-mata karena tegak akan dihukum maka itu Pak Romi.

“Ayo jawab. Siapa yang buang sampah?” Sekali sekali lagi Pak Romi menanya dengan suara yang kian keras.

Wawan, teman sebangku ku sekali lagi menyenggolku sambil berbisik, “ayo ngaku doang. “Aku pun memilih diam menolaknya.

“Ayo kalian ngaku sekadar. Daripada tubin ada yang tertangkap basah, Bapak akan hukum lebih elusif.”

Wawan pun lagi menyenggolku. “Ayolah bersedia dan menerima saja. Tinimbang urusannya kian repot.”

Ayo Jawab” Hardik Bungkusan Romi dengan suara miring degam.”

“Jika masih tidak cak semau yang mau menyanggupi, akan buya hukum kalian semua bagi hormat bendera sampai pulang sekolah.” Ancam Pak Romi.



“Baiklah, Wawan! Bapak tanya, siapa nan lempar sampah sembarangan di kelas?” Tanya Selongsong Romi kepada Wawan dengan suara menggelegar

“D…..D” Jawab Wawan sinkron menyenggolku.

Langsung namun aku menginjak kakinya agar tak menyebut namaku.

“Doni cangkang nan membuang sampah” Jawab Wawan.

“Benar Doni, Engkau yang membuang sampah ini?” Tanya Pak Romi masih dengan celaan lantangnya.

“Bu….Bukan, Pak” Jawabku sambil gemetaran, ketakutan yang bercampur marah kepada Wawan karena membeberkannya.

“Jangan bohong”

“Iya Bungkusan, bukan saya pelakunya” Jawabku dengan bohong.

“Benar Sampul, tak Doni pelakunya. Tadi suka-suka siswa sebelah lewat kemudian melempar sampahnya sembarangan” Jawab Agung yang sekonyongkonyong membelaku.

“Iya Pak. Lain Doni pelakunya” Bela Lukman.

Aku pun kaget dengan mulut mereka berdua. Aku bukan begitu dekat dengan mereka. Mereka berdua terkenal sebagai anak penyelenggara onar di sekolah. Lewat mengapa mereka membelaku?

“Ya sudah takdirnya begitu, asalkan sudah enggak ada sampah, saat ini kita start pelajarannya” Ujar Pak Romi.

Aku pun sudah tak konsen kerumahtanggaan belajar. Rasa marahku pada Wawan masih belum reda. Tega sekali dia mencelakakanku. Padahal beliau teman baikku sejak katai.

Setelah pelajaran selesai aku pun menangkap basah Agung dan Lukman.

“Syukur ya, tadi sudah lalu membelaku.”

“Yaelah, leha-leha saja Don.” Alas kata Lukman.

“Bilangin tuh sama oponen mu, jangan baldi jadi orang. Jangan mencelakai tandingan koteng.” Tambah Agung.

“Tau tuh anak. Songong banget jadi orang. Setimbang temen sendiri tega-teganya mencelakai. Padahal telah bersahabat sejak lama.” Jawabku nan masih kesal dengan Wawan.

“Mangkanya Don, gak usah bersahabat setolok kamu. Temenan selaras kita aja. Kita santai, asik dan menjaga kesetiakawanan antar musuh” Kata Lukman sambil membusungkan dada.

“Iya deh, aku gak kan negor Wawan juga” Jawabku sambil mengangguk.

“Iya-iya,” aku menganggut. “Biarin saja, aku nggak akan negor Tanzil lagi,” lanjutku.

Semenjak periode itu lagi aku sudah tidak bertegur sapaan dengan Wawan. Aku memilih bersahabat dengan Lukman dan Agung.

Akupun sering bersama mereka yang memang terkenal ibarat preman sekolah. bagiku hal itu tidak masalah.

Hingga beberapa hari bersekutu, aku lagi melembarkan cak bagi berhenti malah tinggal bersama mereka.

Start-tiba Agung samar muka dan pergi ke warung untuk membeli rokok. Dia pun menghisapnya bersama teman-jodoh yang lain.

“Don, cobain deh” Kata Lukman sambil menyodorkan rokoknya.

“Makasih Man, aku gak rokok” Tolakku secara halus.

“Leha-leha tetapi Don! Kita kan sudah tidak di sekolah, tapi mutakadim diluar sekolah. Aman kok gak akan cak semau yang marahin kita”, Ucap Lukman kontan menepuk pundakku.

“Udah, cobain dulu. Rasanya enak cak kenapa Don”, Rayu Agung kepadaku.

“Tidak Man” Aku menggelengkan ketua.

“Ah, gak gaul lu. Mana solidaritas lu Don” Ucap Agung dengan nada tataran

“Memang teman nan solid harus ngerokok dulu ya?” Tanyaku

“Harus itu. Kalau lo gak mau ya sudah. Kita gak mau temenan juga sebanding lu Don. Gak nyangka ternyata lo cemen, gak gaul, gak solid selevel kita”, Ucap Lukman dengan nada jenjang tepat di depan wajahku.

Akupun mulai mereguk liur dengan yang mereka lakukan. satu dua mana tahu hisapan akupun terbatuk-batuk alhasil.

“Kalem Don, purwa emang gitu kok. Nanti lama kelamaan pasti enak banget rasanya.” Ucap Lukman.

Mentah aku mau mencoba hisapan ketiga, menginjak-tiba agung mengajakku kabur karena ada Pak Romi.

Aku yang masih terbatuk-batuk pun terpaksa berlari untuk menghindari kejaran Pak Romi. Demikian sekali lagi momongan-anak nan ikutan mengetem kembali ikut redup entah kemana.

Aku yang punya riwayat asma sebenarnya tidak boleh merokok dan berlari mulai-start. Tapi apa daya, aku berusaha memencilkan Selongsong romi membentuk dadaku sesak sekali.

Selepas berhasil lolos dengan mandu celam-celum gang, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Naasnya, kami enggak senggang perkembangan pulang. Sialnya lagi kami lewat di depan anak-anak SMP lain yang madya cak jongkok di situ.

Entah mengapa kemudian mereka mengejar kami bertiga. Kami pun berlari karena kami kalah jumlah. Aku nan sudah tidak kuat sekali lagi terjatuh. Lukman pun membangunkanku.

Sesaat kemudian aku pun berlari dan terduduk sekali lagi. Kumelihat Lukman dan Agung meninggalkanku.

Aku pun serah dengan keadaanku. Momongan-anak yang mengejar kami lagi semakin mendekat. Belaka doa nan boleh kupanjatkan agar aku tidak tenang di tempat ini.

Berangkat-tiba mereka sudah menghajarku. Aku pasrah sekadar dan sesaat kemudian aku pun semaput.

Sampai balasannya saat aku tersadar, aku mutakadim berada di apartemen sakit. Aku kembali kaget karena cak semau Pak Romi

“Tenanglah, jangan banyak bergerak Don”. Ujar Pak Romi. Tidak lama kedua orang tuaku pun datang bersama dengan Wawan.

“Udah Don, gak usah diratapi kejadian yang telah lewat. Semua ini adalah tutorial bagimu kedepannya.” Kata Bapakku dengan nada subtil.

“Carilah teman yang baik. Teman yang belalah berucap benar kepadamu, bukan saingan nan demap membenarkan ucapanmu” Lanjut Bapak sedarun membelai kepalaku.

Aku Pun menganggut dan menyesali perbuatanku. Aku sekali lagi mempersunting maaf kepada Wawan karena telah riuk menilainya.


Acuan Cerpen Perkawanan di Sekolah

Contoh Cerpen Persahabatan di Sekolah

” SAHABAT Kerdil ”

Namaku Afid, sekarang aku SD inferior 6. Aku mempunyai sahabat baik bernama Ranti. Dia masa ini sudah beda kelas denganku. Biasanya kami setiap hari sering berangkat sekolah bersama. Semata-mata saja hari ini lain tau kenapa, Ranti tidak datang menghampiriku.

Akibatnya aku pun berangkat bersama kakakku yang juga guru di sekolahku, Erna.

Setelah hingga disekolah, aku pun bergegas ke kelas Ranti justru dahulu, yakni kelas 6 A.

Aku pun menyapanya “Hai Ran”

“Hai juga” Jawabnya ringkas.

“Anda kenapa? Tiba-tiba namun menjadi cuek gini ya. Tidak begitu juga biasanya” Batinku.

Setelah berbasa-basi, aku pun menjadi silam dengan kecuekan Ranti. Aku pula memutuskan untuk kembali ke kelas sebelum bel stempel masuk dibunyikan.

Waktu kembali berlalu begitu cepat. Tanda istirahat purwa berbunyi. Aku sekali lagi pergi menemui Ranti. Hanya cuma sikapnya tetap cuek, lain seperti kebanyakan. Aku sekali lagi mengemudiankan bakal kembali ke kelas.

Lain terasa mutakadim saatnya pulang. Sesaat setelah keluar bab papan bawah, aku dicegat maka itu Diana, siswa sekelas Ranti.

“Eh Fid, bagi saat ini dan lebih lanjut, mending kamu gak usah deket-deket lagi sederajat Ranti. Dia sekarang sudah menjadi tampin dekatku” Perkenalan awal Diana.

“Memang kenapa? Ya sudah lalu lah kalau memang semacam itu. Lebih baik aku menjarang saja.” Jawabku yang seakan tidak beriktikad.

Diana pun lekas pulang bersama Ranti. Aku hanya bisa menyaksikannya seakan lain percaya melihatnya. Aku hanya bisa menangis melihat keadaanku.

Akhirnya aku pun sudah tidak berteman dekat pun dengan Ranti.

Cerpen Persahabatan yang Hancur Karena Cinta

Arketipe Cerita Sumir Persahabatan

” ANTARA PERSAHABATAN DAN Kerap ”

Sejak pagi tadi, Nadia sudah sangat sibuk di apartemen. Sibuk bukan membantu urusan apartemen tetapi sibuk karena har ini adalah hari pertama dia pacaran.

Beliau pun segera berganti gaun dan bersiap meninggalkan ke sekolah.

Sesampainya di sekolah.

“Hai Nad”

“Hai juga… “ Balas Nadia yang tersentak karena nan memanggil barusan adalah pacarnya, Jaka.

Sampai di sekolah,…

Kelereng merupakan pacar Nadia. Kamu kelas 9 SMP. Selanjutnya Nadia masuk kelas. Sesampainya di kelas, dia berlaga dengan sahabat baiknya, yakni Taufan, Eka, Nurma, Rahma. Tak lama setelah itu, pelajaran kembali dimulai.

Setelah tanda lonceng istirahat berbunyi, Taufan pun menghampiri Nadia.

“Nad, ayo ke kedai kopi sama temen-n antipoda yang lain”

“Sorry ya Fan, tak kali aja, aku kepingin pergi dulu” Kata Nadia.

“Tapi cerek Nad, kita sudah janjian mau ngobrol bareng di kafetaria”. Timpal Nurma.

“Tak kali aja deh. Sorry banget yah”. Jawab Nadia.

Akhirnya Nadia pun berpadan pacarnya di warung depan sekolah. Mereka berdua pun asyik kembur satu setimpal tidak.

“Nad, bisa gak aku ngomong sesuatu?” Tanya Jaka.

“apa?” Tanya Nadia penasaran

“Teman-n partner kamu kenapa sih. Kalau kita ketemuan pasti ngikutin anda terus” alas kata Jaka.

“Terus kenapa?” Tanya Nadia yang kekhawatiran.

“Dia siuman gak? Mereka itu sudah goda kita.” Protes Keneker.

Nadia belaka bisa bungkam.

Di kondominium Nadia

“Nadia…” Panggil Nurma dari ki pagar bersama dengan teman-temannya.

“Kita boleh turut, Nad?” Tanya Rahma.

“Izin banget ya guys.. Nanti sore aku suka-suka taki sama Kelereng kalo aku cak hendak ngedate bareng dia.” kata Nadia.

“Ya udah deh kalo gitu, kita pamit” Kata Taufan.

Baru bilang langkah berjalan, Eka masih curiga dengan kepergian Nadia dan Guli.

“Guys… tunggu selincam..” kata Eka.

“Cak semau apa?” Tanya yang lain.

“Aku menggermang takdirnya terjadi apa-apa sama sahabatku. Bagaimana seandainya kita ikuti Nadia sama Jaka?” Kata Eka.

“Ayo” Sahut teman-teman yang lain.

Mereka lagi mengajuk Nadia. Ternyata mereka berdua pergi ke sebuah kafe.

Besoknya mereka berempat pergok Nadia di rumahnya.

“Nad, kita kepingin ngomong sesuatu” Alas kata Eka.

“Segala apa?” pengenalan Nadia.

“”Sejak kamu pacaran sama Jaka, sikapmu mulai berubah. Kamu waktu ini lebih mentingin pacar daripada kami temanmu.” Kata Taufan.

“Masa di sekolah, kamu gak ingin kumpul kita, tapi lebih milih berduaan sebanding Jaka. Semalam juga kamu ngusir kami demi boleh ngedate dengan Jaka.” Lanjut Taufan.

“Belum sekali lagi persoalan lainnya. Kami sudah tersipu-sipu dengan sikapmu. Sekarang kamu memilah-milah kami sahabat baikmu atau pacarmu Keneker? Kami kasih waktu 3 periode cak bagi berfikir.” Kata Nurma.

“Ya,ya,ya” kata Nadia langsung meninggalkan.

3 hari kemudian Nadia pun telah mantab mengambil keputusan. Dia pun meninggalkan pergok Jaka untuk membelakangkan jalinan pacarannya.

“Maaf Jaka. Aku harus mutusin sira. Aku gak kepingin kehilangan sahabat-sahabatku. Semoga kamu boleh mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Sahabatku lebih signifikan daripada cinta. Aku masih bisa mencari cinta di tidak kesempatan, tetapi sahabat nan seperti mereka sulit buat kudapatkan.”

Nadia pun menyingkir menghindari guli dan menemui sahabatnya di warung kopi, tempat mereka formal kumpul bersama.

THE END

Cerpen Persahabatan Kudus Senyum Terakhir

Teladan Cerpen Perkawanan Senyum Bontot

” SENYUM TERAKHIR”

Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Tiba saatnya bakal Dewi berangkat ke sekolah. Peri adalah peserta kelas 2 SMA di salah satu sekolah negeri di Cirebon. Sira bersahabat dengan Ari.  Mereka berdua bersahabat sejak kecil.

Saat itu Dewi melihat Ari madya menyendiri sambil menulis sesuatu. Dewi pun mendekatinya.

“Ar, lagi bikin segala apa sih, kayaknya sibuk amat” Kata Haur nan start-tiba duduk di samping Ari sambil cengengesan.

“Gapapa cak kenapa Wi, resmi aja” Jawab Ari sambil cepat-cepat menutup bukunya lalu memasukkan ke dalam tas.

Seketika hanya raut wajah Kandang kuda yang tadinya cerah langsung berubah seperti mana orang gelisah. Dewi sempat menduga jika Istal murka karena dia mengganggu aktivitas menulisnya.

“Kamu marah ya Ar? Tanya Bidadari. Istal pun menatap mata Dewi dalam-dalam. “Wi, beliau sayang gak setimbang aku?” Tanya Ari.

“Ya pastinya lah Ar. Aku tuh cerbak banget sekelas dia. Kita itu sudah lalu temenan lama. Kalau aku gak sayang proporsional kau tentu sudah lama kutinggalkan. hahahaha, bercanda Ar.” Jawab Peri berbarengan terbahak-bahak.

“Kamu itu teman terbaik aku Ar. Sebatas kapan pun gak suka-suka yang gantiin engkau” Jelas Dewi.

Kandang kuda pula tersenyum mendengarnya.

Selepas pulang sekolah, Ari mengajak Peri untuk bertumbuk di tempat biasa. Haur juga menyahajakan jika Istal akan memberikan surprise kepadanya.

Sesampainya di lokasi, Dewi juga kebingungan karena menginjak-berangkat Ari menerimakan bingkisan kado kepadanya.

“Dewi, aku beruntung banget dapat kenal sama anda. Ia sahabat terbaikku. Akan tetapi aku mau teruji sebanding dia…” Kata Ari sambil meruntun nafas.

Bidadari pun gagap mendengarnya.

“Sejak awal kita antuk, berusul kecil kita cak acap bersama, baik suka maupun duka. Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai suka dan sayang kepadamu. Rasa pelalah bukan hanya perumpamaan sahabat, tapi sebagai kekasih” Perkenalan awal Ari yang menganjur nafas kembali.

“Hanya sahaja jemah lusa aku dan keluargaku akan pindah ke Gorontalo. Aku pun sebenarnya pun gak kepingin. Tapi takdir berkehendak lain. Mulai waktu ini dan seterusnya, bimbing diri baik-baik De. Jangan cengeng. Sira itu tangguh dan bisa ngadepin semua masalah dengan gembong dingin .. oke Dewi, keep you smile“ Jelas Ari dengan senyum di wajahnya.

Mendengar penjelasan itu, seketika berasal tangis Dewi. Beliau pun langsung memeluk Ari dengan rengekan yang berlinang.
Haur pula bukan kuasa mencurahkan semua isi hatinya kepada Hipodrom.

“Ari sebenarnya aku lagi sayang banget sama anda. Kita selalu refleks. Kamu tega ninggalin aku sendirian Ar? Kenapa gak nunggu tahun depan pas lulus SMA? Setelah itu kita bisa orasi di kampus nan proporsional Ar hix hix …” kata Dewi sewaktu menangis.

Ari pun memeluk Haur dengan damping. Dia enggak bisa bersuara apa-segala kepada Dewi.

“Ar, takdirnya ia menyingkir, aku gak tau gimana nanti jadinya minus ia “

“sst.. Dewi, anda gak bisa begitu. Sungguhpun jarak kita berbeda, saja kita masih bisa berkomunikasi kok.”

“Lagian juga kamu cak semau di hatiku, dan aku terserah dihatimu. Jadi kendatipun terpisah makanya jarak tapi hati kita tak akan pisah. Jaga diri kamu baik-baik. Aku minta sira tetep jadi sahabat aku De. Jangan pernah lupakan aku.” Ujar Ari serempak menyetip air mata Dewi.

“Bisa jadi kodrat memang bukan menyatukan kita kerjakan menjadi sepasang kekasih, karena bisa jadi akan lebih baik namun ada persahabatan kudrati diantara kita. Buktinya, selama kita menjalin persahabatan tidak pernah ada rasa dayuh semacam ini bukan”, Istal meneruskan.

Saat itulah Dewi mengintai senyum keladak dari Ari sebelum kepergiannya.

Nah itu tadi kompilasi
contoh cerpen pertemanan dan sinopsisnya, padat, jelas dan menyeret mulai dari SD, SMP, SMA ang bisa kalian pelajari.

Jika antiwirawan-tara disini punya contoh cerpen perkawanan sejati singkat yang bukan, silahkan ceritakan disini ya. Boleh juga melampaui rubrik komentar. Jangan tengung-tenging untuk dishare ya.

Semoga bermanfaat

Source: https://bosmeal.com/contoh-cerpen-singkat/persahabatan/

Posted by: caribes.net