Substansi Dakwah Nabi Di Madinah

1. Membina Aliansi antara Kaum Anśar dan Kabilah Muhajirin

Kehadiran Rasulullah saw. dan Kaum Muhajirin (sebutan untuk penyembah Rasulullah saw. yang pengungsian dari Mekah ke Madinah) berbahagia sambutan hangat dari penduduk Madinah (Kaum Anśar). Mereka memperlakukan Nabi Muhammad saw. dan para Muhajirin seperti mana tembuni mereka seorang. Mereka menyambut Rasulullah saw. dengan kaum Muhajirin dengan mumbung rasa sembah sepatutnya ada koteng empunya apartemen menyambut tamunya. Malar-malar, mereka mengumandangkan sya’ir yang begitu menyentuh qalbu. Bunyi sya’ir yang mereka kumandangkan yaitu seperti mana berikut.

“Telah muncul bulan purnama berpangkal Șaniyatil Wadai’, kami wajib bersyukur sejauh terserah nan menyeru kepada Sang pencipta, Aduhai yang diutus kepada kami. Engkau mutakadim membawa sesuatu yang harus kami taati.”

Sejak itulah, Kota Ya¡rib diganti namanya makanya Rasulullah saw. dengan sebutan “Madinatul Munawwarah”.

Strategi Nabi mempersaudarakan Muhajirin dan Anśar untuk mengikat setiap penyembah Selam yang terdiri atas berbagai spesies suku dan kabilah ke intern suatu ikatan masyarakat yang kuat, seperjuangan, seperjuangan dengan hayat persaudaraan Islam. Rasulullah saw. mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah Ibnu Zuhair Ja’far, Abi Ţalib dengan Mu’az bin Jabal, Umar bin Khaţţab dengan Bani bin Malik dan Ali bin Abi Ţalib dipilih kerjakan menjadi saudara anda sendiri.

Selanjutnya, setiap suku bangsa Muhajirin dipersaudarakan dengan kabilah Anśar dan ikatan itu dianggap sebagai halnya saudara kandung koteng. Kabilah Muhajirin dalam penghidupan ada yang mencari nafkah dengan berdagang dan ada juga yang bertani melakukan lahan milik kaum Anśar.

Setelah kaum Muhajirin menetap di Madinah, Nabi Muhammad saw. mulai mengeset ketatanegaraan bakal mewujudkan umum Islam yang terbebas dari gaham dan tekanan (intimidasi). Pertautan kontak korespondensi antara penduduk Madinah (kaum Anśar) dan kaum Muhajirin dipererat dengan mengadakan perjanjian bagi ubah membantu antara kaum muslimin dan nonmuslim. Rasul Muhammad saw. kembali mulai menyusun strategi ekonomi, sosial, serta sumber akar-bawah pemerintahan Islam.

Kabilah Muhajirin ialah kaum yang lunak. Meskipun banyak rintangan dan hambatan n domestik hidup yang menyebabkan kesulitan ekonomi, doang mereka besar perut sabar dan tabah dalam menghadapinya dan tak berputus taksir.

Nabi Muhammad saw. dalam menciptakan suasana agar nyaman dan tenteram di Kota Madinah, dibuatlah perjanjian dengan kaum Yahudi. Dalam perjanjiannya ditetapkan dan diakui nasib baik kedaulatan sendirisendiri golongan bikin memeluk dan menjalankan agamanya.

Isi perjanjian nan dibuat Nabi Muhammad saw. dengan kaum Ibrani sebagai berikut.

  1. Suku bangsa Yahudi hidup berbaik bersama-begitu juga kaum Muslimin.
  2. Kedua belah pihak bebas memeluk dan menjalankan agamanya masing- masing.
  3. Kaum muslimin dan kaum Ibrani wajib tolong-menolong dalam melawan siapa saja yang memerangi mereka.
  4. Basyar-khalayak Yahudi memikul muatan jawab belanja mereka sendiri dan sebaliknya kaum muslimin lagi memikul belanja mereka sendiri.
  5. Kaum Yahudi dan kaum muslimin terlazim tukar membenari dan tolong- menolong dalam melakukan kebajikan dan keutamaan.
  6. Kota Madinah merupakan kota zakiah yang wajib dijaga dan dihormati makanya mereka yang terikat dengan perjanjian itu.
  7. Kalau terjadi friksi di antara kaum Yahudi dan kaum muslimin yang dikhawatirkan akan mengakibatkan situasi-keadaan nan lain diinginkan, urusan itu hendaklah diserahkan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.
  8. Siapa cuma nan adv amat di n domestik ataupun di luar Kota Madinah wajib dilindungi keamanan dirinya kecuali anak adam zalim dan bersalah sebab Sang pencipta Swt. menjadi pelindung bagi makhluk-turunan yang baik dan berbakti.

2. Membentuk Masyarakat yang Berlandaskan Ajaran Islam


a. Otonomi Beragama

Tujuan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. adalah menerimakan ketenangan kepada penganutnya dan memberikan jaminan kemandirian kepada kaum Muslimin, Ibrani, dan Nasrani dalam menganut pembantu agama masing-masing. Dengan demikian, Nabi Muhammad saw memberikan uang kancing kebebasan beragama kepada Yahudi dan Nasrani nan meliputi kebebasan berpendapat, kebebasan beribadah sesuai dengan agamanya, dan kebebasan mendakwahkan agamanya. Hanya kebebasan yang memberikan tanda jadi privat mencapai keabsahan dan kemajuan menuju kesatuan yang terstruktur dan terhormat.

Menentang kebebasan berfaedah memperdekat kebatilan dan menebarkan ketaksaan yang pada akibatnya akan mengikis suntuk cahaya validitas yang cak semau dalam hati nurani manusia. Cahaya keabsahan yang menghubungkan individu dengan standard semesta (hingga yaumul), yaitu korespondensi rasa belas kasih sayang dan persatuan, bukan rasa kejijikan dan kerusakan.


b. Ażan, Śalat, Zakat, dan Puasa

Detik Nabi Muhammad saw. menginjak di Madinah, bila perian śalat mulai, manusia-orang berkumpul bersama tanpa dipanggil. Lalu terpikir untuk menggunakan terompet, sebagai halnya Ibrani, tetapi Rasul bukan menyukainya; lalu ada yang mengusulkan menabuh genta, seperti mana Nasrani. Menurut satu sumur atas usul Umar kacang Khaţţab dan kabilah muslimin serta menurut sumber enggak berdasarkan perintah Allah Swt. melalui tajali, panggilan śalat dilakukan dengan ażan. Selanjutnya Nabi Muhammad saw. memerintahkan kepada Abdullah bin Zaid bin Sa’labah lakukan membacakan lapaż ażan kepada Bilal dan menyerukannya manakala

tahun śalat tiba karena Bilal memiliki suara yang merdu.

Bila tahun śalat tiba, Bilal panjat ke atas rumah sendiri perempuan Bani Najjar nan berada di dekat zawiat dan lebih tinggi daripada langgar untuk melantamkan a§an dengan lafal:



Kewajiban śalat yang diterima bilamana bihun’raj, menjelang berakhirnya periode Mekah terus dimantapkan kepada para pengikut Nabi Muhammad saw. Sementara itu, puasa yang telah dilakukan berdasarkan syariat sebelumnya, masa ini telah pula diwajibkan setiap wulan Rama « an. Demikian lagi halnya dengan zakat. Lebih lagi, setelah yuridiksi Selam berkembang ke seluruh ancol Arab, Nabi Muhammad saw. mengutus pasukannya ke provinsi di luar Madinah untuk memungut zakat.


c. Mandu-Mandu Kemanusiaan

Lega masa ke-10 H (631 M) Utusan tuhan Muhammad saw. melaksanakan haji wada’ (haji terakhir). N domestik kesempatan ini, Nabi Muhammad saw. menyodorkan khutbah nan sangat bersejarah. Momen matahari mutakadim tergelincir, dengan menunggang untanya yang bernama al-Qaswa’, Nabi Muhammad saw. berangkat dan tiba di jurang yang mewah di Uranah. Di tempat ini, dari atas untanya Utusan tuhan Muhammad saw.

menyapa orang-khalayak dan diulang-ulang panggilan itu maka itu Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf.

Setelah berucap syukur dan puji kepada Yang mahakuasa Swt., Nabi Muhammad saw. membentangkan pidatonya. Khutbah Nabi saw. itu antara lain ampuh tabu menumpahkan talenta kecuali dengan haq dan larangan

mengambil harta manusia lain dengan baţil karena nyawa dan gana adalah suci; pemali pangku dan larangan menganiaya; perintah kerjakan memperlakukan para istri gelap dengan baik dan ruai lembut dan perintah menyingkir dosa;

semua pertengkaran antara mereka di zaman jahiliyah harus saling dimaafkan; balas dendam dengan tebusan pembawaan begitu juga berlaku dalam zaman jahiliyah bukan sekali lagi dibenarkan; interelasi dan persamaan di antara manusia harus ditegakkan; hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, mereka makan begitu juga apa nan dimakan tuannya dan berpakaian sebagaimana apa yang dipakai tuannya; dan yang terpenting yaitu umat Selam harus cangap berpegang kepada al-Qur’ān dan sunnah.

Badri Yatim, privat bukunya Sejarah Peradaban Selam, Dirasah Islamiyah II, meringkas isi khutbah Rasul tersebut dengan menyatakan bahwa khutbah Nabi Muhammad saw. berisi prinsip- prinsip kemanusiaan, persamaan, kesamarataan sosial, keadilan ekonomi, kebajikan, dan solidaritas.

3. Mengajarkan Pendidikan Politik, Ekonomi, dan Sosial

Dalam bukunya 100 Gembong Minimal Berpengaruh di Dunia Sepanjang Album, Michael H. Hart yang menurunkan Rasulullah saw. Rasul Muhammad saw pada bujuk pertama menyatakan bahwa beliau yakni

satu-satunya orang dalam sejarah yang habis berakibat, baik intern hal religiositas alias materialisme. Dalam urusan politik Rasulullah saw. menjadi pemimpin politik nan amat efektif. Hingga momen ini, empat belas abad pasca wafatnya, pengaruhnya sangat kuat dan merasuk

Source: https://robith.hepidev.com/2021/07/29/substansi-dakwah-nabi-saw-di-madinah/

Posted by: caribes.net