Surat Al Ahzab Ayat 41

41. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanużkurullāha żikrang kaṡīrā

41. Hai orang-orang yang berkepastian, berzdikirlah (dengan memanggil nama) Allah, zikir nan sebanyak-banyaknya.

Kata keterangan :

Pasca- Halikuljabbar ﷻ menamakan tentang pernikahan antara Nabi Muhammad ﷺ dengan Zainab binti Jahsyi radhiyallahu ‘anha. Risikonya, bani adam-sosok kafir dan munafik mencamkan Rasul Muhammad ﷺ. Setelah itu, Allah ﷻ menyuruh individu-orang beriman kerjakan lain mempedulikan mereka dan fokus kepada menghafal Allah ﷻ

Allah ﷻ berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Aduhai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Sang pencipta, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya plong waktu pagi dan sore. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), sepatutnya Sira mengeluarkan kamu berpangkal kegelapan kepada kurat (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-cucu adam yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)

Ayat ini menjelaskan bahwa Halikuljabbar ﷻ memerintahkan orang-orang beriman kerjakan banyak berzikir kepada Sang pencipta ﷻ. Zikir adalah ibadah yang sangat mudah. Allah ﷻ menyebutnya dengan ذِكْرًا كَثِيرًا
‘zikir paling-paling’
bermakna bahwa ibadah ini dapat terjamah di mana saja, baik di laut, darat, rumah ataupun di wahana dan dalam kondisi segala pula, baik duduk, berdiri, berbaring maupun melanglang atau dalam kondisi suci, berhadas maupun junub. Adapun bagi bani adam yang junub tidak diperbolehkan baginya untuk membaca Al-Quran menurut pendapat mayoritas ulama.

Zikir ini bersifat umum, begitu juga tahlil, tahmid, hauqalah, tahmid dan yang semisalnya. ذِكْرًا كَثِيرًا disebutkan dengan rang mutlak, artinya moga seseorang berzikir setinggi-tingginya tanpa harus dibatasi dengan jumlah tertentu, misalnya 100 siapa atau 1000 mana tahu.

Ada zikir-puji-pujian yang muqayad dan terdorong dengan jumlah tertentu,sebagai halnya takbir yang diucapkan pada waktu sehabis salat riil rosario sebanyak 33 boleh jadi, wirid sebanyak 33 mana tahu dan takbir sebanyak 33 kali. Inilah di antara zikir-zikir
muqayad/terikat dengan jumlah-kuantitas tertentu. Namun, umumnya zikir tidak terbawa. ([1])

Seseorang dapat berzikir dengan mengucapkan salawat, bertahlil, bertasbih, bertakbir ataupun bertahmid dan doa-zikir yang lain sebanyak-banyaknya sonder suka-suka batas dan enggak terikat dengan jumlah tertentu, selagi dia berkecukupan dan bisa mengamalkannya dengan terus-menerus.

Inilah -seperti mana Syaikh al-‘Utsaimin- di antara ibadah yang ringan, mudah dikerjakan privat beraneka ragam macam kondisi, memiliki pahala nan besar([2]). Sahaja, banyak ditinggalkan maka dari itu banyak orang-orang beriman, kecuali basyar yang diberikan taufik oleh Allah ﷻ.

Firman Allah ﷻ,

وَسَبِّحُوهُ

“Dan bertasbihlah kepada-Nya.”

Makna Tasbih

Para ulama menafsirkan tasbih dengan 2 makna, yaitu:

Pertama : Tasbih maksudnya adalah menyabdakan

سُبْحَانَ اللَّه
‘Maha suci Allah’.

Takbir ini punya arti mensucikan Almalik ﷻ dari apa kesuntukan. Mayoritas jamhur membawakannya kepada makna ini.([3])   Ayat ini menunjukan keutamaan berdzikir dengan bertasbih karena Sang pencipta mensyariatkan lakukan bertasbih secara partikular sehabis mensyariatkan lakukan berdzikir secara umum. Allah berfirman :

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Maha Kalis Tuhan dan Maha Tinggi dan segala yang mereka mempersekutukan (itu)
(QS Yunus : 18, demikian sekali lagi An-Nahl :1, Ar-Ruum : 40, dan Az-Zumar : 67).

Ayat-ayat sebagai halnya ini banyak dalam al-Qurán, Allah mensucikan dirinya dengan tasbih karena menengkar kesyirikan atau kekurangan yang disandarkan kepadaNya([4]).

Kedua : Tasbih maksudnya yaitu

Salat sunah.

Sebagaimana disebutkan di dalam perkataan nabi Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

وَلاَ يُسَبِّحُ بَيْنَهُمَا بِرَكْعَةٍ

“Beliau



lain salat di antara keduanya (maghrib-isya).”
([5])

Maksudnya Rasulullah ﷺ enggak menunaikan salat sunah ketika menjamak salat.

Firman Allah ﷻ,

بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Lega waktu pagi dan petang.”

Maksudnya ialah berkelanjutan dan terus menerus mengingat Allah. Tuhan ﷻ mengistilahkan hal ini umpama perwakilan dari semua waktu, artinya Allah ﷻ memerintahkan untuk bertasbih setiap waktu. Seperti saat seseorang berkata,
‘Saya selalu berkarya pagi dan senja’, artinya ia bekerja terus menerus tanpa henti.([6])

Sebagian ulama
-di antaranya Syaikh As-Sa’di rahimahullah-
berpendapat bahwa maksudnya adalah berzikir di perian pagi dan petang hari. Dua masa itu yaitu waktu yang spesial, karena setiap individu sreg pagi masa mengawali aktifitas kerjanya. Seperti puas saat petang perian, di mana saat itu banyak turunan telah melepaskan segala tiang penghidupan duniawinya, sehingga pikirannya bisa terkonsentrasi kepada Allah ﷻ dan menjadi saat yang tepat bagi mengingat Allah ﷻ dan berzikir kepada-Nya.([7])

Minimal takdirnya seseorang tak mampu mengingat Allah ﷻ setinggi-tingginya, maka hendaknya dia melakukan zikir yang bersifat rutinitas, seperti ratib pagi-burit, puji-pujian setalah salat atau zikir-tahlil yang sering dia panjatkan kepada Allah ﷻ.

Ibadah puji-pujian kurang nyawa di tanah air kita. Seakan-akan namanya berzikir harus ke surau atau tempat pengajian. Sementara itu di manapun tempatnya atau kapanpun waktunya dan apapun aktifitasnya, seseorang bisa berzikir kepada Allah ﷻ. Sebagaimana di Arab Saudi, banyak khalayak nan berzikir sekaligus bepergian alias ketika naik alat angkut. Pemandangan ini sudah menjadi hal yang biasa.

Banyak cara untuk berzikir kepada Allah ﷻ, baik dengan bertasbih, bertahlil, bertakbir, bertahmid atau mendaras Al-Alquran. Adapun waktu yang spesial adalah kapan pagi dan petang masa, karena pada saat itu pikiran seseorang belum banyak tersibukkan dengan perkara materialisme.

Firman Tuhan ﷻ,

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu.”

Sebagian jamhur
-seperti mana Thahir kacang ‘Asyur rahimahullah
dan juga diisyaratkan oleh Ibnu Katsir di internal Tafsirnya-
bahwa ini merupakan sebab kenapa Allah ﷻ mewajibkan kepada hamba-Nya lakukan banyak berzikir. Barang siapa senantiasa mengingat Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan bersalawat kepadanya. Tujuan Allah ﷻ bersalawat kepada hambanya adalah Allah ﷻ memujinya.([8])

Sejatinya puji-pujian tersebut untuk kepentingan kita sendiri. Yang mahakuasa ﷻ berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

 “Ingatlah Aku, niscaya aku akan menghafaz kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Maka itu balasannya, jika kita ingin diperhatikan oleh Allah ﷻ, maka mudah-mudahan kita senantiasa menghafaz Allah ﷻ, baik dengan mengaji Al-Quran, berzikir, membaca buku agama, menghadiri majelis aji-aji dan lain sebagainya.

Diriwayatkan dari Serbuk Hurairah kaki langit, dari Utusan tuhan r, Allah I berfirman,

مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ مِنَ النَّاسِ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَطْيَبَ

“Barang barangkali yang mengingatku di dalam dirinya, maka aku akan mengingatnya dalam jiwaku. Siapa-siapa yang mengingatku di depan banyak hamba allah, maka aku akan menyebutnya di penghadapan khalayak yang lebih banyak dan lebih baik dari mereka.”([9]) (yakni: para malaikat)

Bintang sartan, di antara sebab kita diperintahkan untuk berzikir adalah agar kita selalu diingat oleh Halikuljabbar ﷻ. Jika kita belalah diingat maka itu Halikuljabbar ﷻ secara tunggal, maka kita akan mendapatkan perhatian unik dari Allah ﷻ.

Enggak hanya Sang pencipta ﷻ yang bersalawat kepada orang-orang berzikir, tetapi malaikat juga bersalawat kepada mereka. salawat malaikat bermakna zikir dan istighfar. Berdasarkan firman Allah ﷻ,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang bakir di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan bakal orang-orang yang beriman (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu menghampari apa sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang nan bertobat dan menirukan perkembangan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang berkobar-nyala. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke intern kayangan ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang imani di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Betapa, Engkaulah Nan Maha perkasa, Maha bijaksana. Dan peliharalah mereka berusul (bencana) kejahatan. Dan orang-sosok yang Engkau asuh berbunga (bencana) ki kebusukan plong hari itu, maka alangkah, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya dan demikian itulah kejayaan yang agung.”
(QS. Gafir: 7-9)

Orang yang sering menghafal Sang pencipta ﷻ, sejatinya keuntungannya pun kepada dirinya. Dia menjadi terkenal di langit, Allah ﷻ sayang menamai-nyebut namanya di penghadapan para malaikat dan memujinya.

Firman Allah ﷻ,

لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Semoga Sira mengasingkan anda berusul kegelapan kepada kilauan (yang kilauan). Dan Dia Maha Penyayang kepada anak adam-orang nan berkeyakinan.”

الظُّلُمَاتِ
‘kesamaran’. Para ulama menafsirkannya dengan الْكُفر وَالْجَهلُ
‘kekufuran dan kejahilan’. Tentang النُّورِ
‘cahaya’, maksudnya adalah الإِيْمَانُ وَالعِلمُ
‘iman dan ilmu’. ([10])

Ketika seseorang banyak mengingat Allah ﷻ, kemudian Halikuljabbar ﷻ mutakadim mengkhususkan mereka bermula kegelapan menuju panah, maka, akan ketimbul cak bertanya, ‘Bukankah ketika kita berzikir kepada Sang pencipta ﷻ menunjukkan bahwa kita telah berkeyakinan dan enggak lagi ki berjebah di atas ketaksaan? Bagi apa kita dikeluarkan dari kegelapan, padahal kita sekarang sudah lalu berada di atas kilauan Islam?

Para jamhur memungkirkan bahwa maksudnya ialah mudah-mudahan orang-orang berkepastian istiqamah bernas di atas kebenaran tersebut. Meskipun sekarang mereka telah berada di atas terang Islam, tetapi sejatinya mereka tetap membutuhkan penjagaan dari Allah ﷻ.

Sebagian ulama berpendapat bahwa maksudnya merupakan mudahmudahan ditambah juga cahaya. ([11]) Hal ini mirip seperti saat seseorang sembahyang internal setiap salatnya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Artinya adalah kita sudah berada di atas keabsahan agama Islam, maka Sang pencipta ﷻ senantiasa memberikan keistiqamahan dan selalu produktif di atas jalan tersebut atau ditambahkan karunia kepada mereka.

Firman Allah ﷻ,

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-makhluk yang beriman.”

Di privat bahasa Arab كَانَ adalah alas kata kerjakan menunjukkan sesuatu yang telah lalu. Namun, lega ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ
‘senantiasa demikian sifatnya’, yaitu cerbak sayang kepada kaum mukminin. Sehingga hadiah Almalik ﷻ lebih luas dari segala apa yang disebutkan pada sebelumnya.

Hidayah Sang pencipta ﷻ tidak hanya sedikit pada perintah kepada hamba-hamba-Nya bagi berzikir agar mereka mendapat pujian dari Almalik ﷻ, ratib malaikat atau dikeluarkan dari kekufuran memfokus keimanan atau kajahilan menuju ilmu. Akan sahaja, itu semua hanya sebagian dari karunia Allah ﷻ. ([12])

___________________

Footnote :

([1])
Tafsir al-‘Utsaimin, surah Al-Ahzab, (hlm. 324).

([2])
Adverbia al-‘Utsaimin, surah Al-Ahzab, hlm. 326.

([3]) Lihat:
Tafsir Ibnu Katsir,
(22/48).

([4]) Diantara sisi-sisi pensucian Almalik adalah :

Permulaan
: Halikuljabbar mensucikan diriNya terbit memiliki anak. Allah berfirman :

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا
سُبْحَانَهُ
بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

Mereka (orang-cucu adam kufur) berkata: “Allah n kepunyaan anak asuh”.
Maha Masif Allah, bahkan segala yang ada di langit dan di dunia yaitu kepunyaan Yang mahakuasa; semua tunduk kepada-Nya

(QS Al-Baqoroh : 116)

مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Bukan patut lakukan Sang pencipta mempunyai anak, Maha Masif Dia. Apabila Sira telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia
(QS Maryam : 65)

لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih segala nan dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Kalis Allah. Dialah Sang pencipta Yang Maha Esa lagi Maha Cundang
(QS Az-Zumar : 4)

Kedua
: Allah mensucikan dirinya dari tuhan yang berbilang. Allah mengomong :

وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ
سُبْحَانَهُ
أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ

dan janganlah kamu mengatakan: “(Sang pencipta itu) tiga”, berhentilah (dari congor itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Yang mahakuasa Halikuljabbar Nan Maha Esa,
Maha Nirmala Almalik
berpangkal mempunyai anak
(QS An-Nisa : 171)

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

Katakanlah: “Jikalau ada tuhan-almalik di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya halikuljabbar-tuhan itu mencari perkembangan kepada Tuhan yang punya ´Arsy”

Maha Asli dan Maha Tinggi Sira berpokok apa yang mereka katakan dengan keagungan nan sebesar-besarnya
(QS Al-Isro’ : 42-43)

Ketiga
: Tuhan mensucikan diriNya dari menjadikan rohaniwan-padri dan utusan tuhan Isa sebagai tuhan selain Almalik. Sang pencipta berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan makhluk-hamba allah alimnya dan rahib-rahib mereka ibarat tuhan selain Halikuljabbar dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, sedangkan mereka saja disuruh menyembah Yang mahakuasa yang Esa, tidak terserah Almalik (yang berwenang disembah) selain Dia.
Maha kudrati Allah
dari segala nan mereka persekutukan

(QS At-Taubah : 31)

Keempat
: Yang mahakuasa mensucikan diriNya dari para pemberi syafaát nan diyakini oleh kaum musyrikin. Allah berkata :

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain ketimbang Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan lain (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa´at kepada kami di jihat Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Halikuljabbar segala yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tak (pula) dibumi?” Maha Salih Sang pencipta dan Maha Tataran dan barang apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS Yunus : 18)

Kelima
: Tuhan mensucikan diriNya dari mempunyai momongan perempuan (karena para malaikat dianggap makanya kaum musyrikin sebagai putri-putri Allah). Allah berfirman :

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ

Dan mereka berujar: “Halikuljabbar Yang Maha Pemurah mutakadim mencekit (mempunyai) momongan”, Maha Putih Sang pencipta. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan.
(QS Al-Anbiya’ : 26)

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ

Dan mereka menetapkan bagi Halikuljabbar anak-anak asuh perempuan. Maha Zakiah Almalik, semenjana untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak asuh laki-laki)
(QS An-Nahl :57)

Keenam
: Almalik mensucikan diriNya berbunga sekutu yang bisa mengeset alam semesta. Almalik bersabda :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu makanan, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara nan engkau sekutukan dengan Sang pencipta itu yang boleh berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi bersumber apa nan mereka persekutukan
(QS Ar-Ruum : 40)

Ketujuh
: Allah mensucikan diriNya dari dijadikannya halikuljabbar sesuatu yang tidak mempunyai kemampuan untuk menggenggam pan-ji-panji semesta. Almalik berucap :

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka enggak mengagungkan Tuhan dengan ikram yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada waktu akhir zaman dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Masif Tuhan dan Maha Tingkatan Beliau dari apa nan mereka persekutukan.
(QS Az-Zumar : 67)

([5]) HR. Bukhari No. 1109.

([6]) Lihat:
Tafsir al-Qurthubi, (14/197).

([7])
Tafsir as-Sa’di, (1/667).

([8]) Lihat:
At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/49) dan
Tafsir al-‘Utsaimin, surah Al-Ahzab, (hlm. 330).

([9]) HR. Ahmad no. 8650, hadis sahih.

([10]) Lihat:
At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/50).

([11]) Lihat:
At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/50).

([12]) Lihat:
At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/50).

Source: https://bekalislam.firanda.com/12460-tafsir-surat-al-ahzab-ayat-41.html

Posted by: caribes.net