Surat Al Imran Ayat 33

(Sepantasnya Sang pencipta sudah mengidas Adam dan Nuh, keluarga Ibrahim dan batih Imran) dengan makna diri berpunca nan bersangkutan (di antara penduduk alam) yakni dengan menjadikan nabi-rasul itu berbunga zuriat dan zuriat mereka.

Selain memilih Muhammad bak penyampai risalah–dengan menjadikan upaya meneladaninya sebagai sarana buat memperoleh kecintaan, ampunan dan kasih pelalah Halikuljabbar–Allah juga memilih Maskulin, Nûh, Ibrâhîm dan keturunanya, Ismâ’îl dan Ishâq, serta nabi-nabi bukan zuriat mereka empat mata seperti Mûsâ, ‘alayhim al-salâm. Di samping itu, Halikuljabbar juga mengidas batih ‘Imrân, di antaranya ‘Isâ dan bundanya. ‘Isâ dijadikan ibarat rasul untuk Banû Isrâ’îl, sedangkan Maryam dijadikan bagaikan ibunya tanpa bapak.

Anda harus

untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit :

2022-04-01 02:13:31
Link sumur:

http://kata tambahan.web.id/

Contohnya dengan menciptakan Adam dengan Tangan-Nya, meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)- Nya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, menempatkannya di surga, memberinya ilmu pengetahuan, sifat santun dan keutamaan nan melebihi makhluk-basyar yang lain.

Sang pencipta menjadikannya sebagai rasul mula-mula, memberinya taufiq untuk menyapu dada dan siap memikul beban terik, rasa terima kasih yang strata dan menegur baik namanya di setiap waktu dan zaman.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah kekasih Allah, sendiri yang rela mengorbankan dirinya ke dalam api, mengorbankan anaknya sebagai kurban, mengorbankan hartanya kerjakan para tamu, seorang yang berdakwah kepada Allah di malam dan siang, secara umpet maupun terang-terangan. Halikuljabbar menjadikannya bak teladan yang diikuti oleh generasi setelahnya. Keturunannya banyak yang diangkat Allah menjadi nabi dan diberi kitab. Termasuk ke dalam “Batih Ibrahim” merupakan para rasul yang diutus setelahnya, karena mereka termasuk keturunannya, demikian lagi Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghimpunkan kesempurnaan yang terpisah-sisih, Beliau melebihi generasi terdahulu dan generasi kemudian, Beliau merupakan Sayyidul Mursalin (tokoh para nabi).

Imran adalah buya Maryam atau bapak Musa ‘alaihis salam.

Di antara guna dan hikmah disebutkan kepada kita kisah mereka adalah moga kita memanjakan mereka, mengajuk jejak mereka dan moga kita tidak membenang memperhatikan diri kita karena keterlambatan kita dan karena tidak terserah pada diri kita sifat-adat mulia yang cak semau pada mereka. Hal ini lagi termasuk kelembutan Almalik kepada mereka, ditampakkan pujian buat mereka baik di hadapan generasi terdahulu alias generasi setelahnya serta dijunjung kemuliaan mereka. Sungguh demikian besar kepemurahan Allah dan besarnya maslahat bermu’amalah dengan-Nya. Anadi saja keutamaan mereka hanya disebut-sebut saja terus-menerus, maka hal itu pun mutakadim cukup sebagai keutamaan.

Source: https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-33

Posted by: caribes.net