Tawallud Min Al Mamluk Adalah

Tentara berkuda Mamluk dilukis plong hari 1810

Mamluk
atau
Mamalik
(Bahasa Arab:مملوك,
mamlūk
(tunggal),
مماليك,
mamālīk
(jamak)) adalah bani budak belian kasta ksatria yang dimiliki oleh khalifah Selam yang berkuasa. Meskipun para mamluk adalah belian, doang status mereka di atas budak stereotip, budak biasa tidak diperkenankan membawa senjata dan juga dilarang mengerjakan aktivitas tertentu. Di bilang gelanggang tertentu, seperti di Mesir, sejak masa dinasti Ayyubiyah sampai masa Kesultanan Utsmaniyah, mamluk bahkan telah menjadi majikan nirmala yang status sosialnya di atas orang merdeka biasanya.[1]

Secara rinci dinasti mamluk nan perhubungan berkuasa merujuk kepada:

  • Dinasti Khwarazmia di Persia (1077–1231)
  • Dinasti Mamluk di Delhi (1206–1290)
  • Kesultanan Mamluk di Kairo (1250–1517)
  • Dinasti Mamluk di Irak (1704–1831)

Para prajurit mamluk ini menciptakan kelas berani yang individual,[2]
yang memiliki singgasana politik yang terdahulu dan punya pengaruh yang berumur panjang, bertahan sejak abad ke-9 setakat abad ke-19 masehi.

Seiring waktu, para Mamluk menjadi kasta militer nan habis awet dalam sebagian masyarakat Islam. Mamluk menjawat dominasi strategi dan militer khususnya di Mesir, juga di Syam, Irak, dan India. Dalam beberapa kasus, sampai-sampai memegang sebagai sultan, sebagian lain mengusai kekuasaan lokal laksana Amir.

Periode Kesultanan Mamluk (1250–1517) yang paling terkenal adalah, di mana sebuah faksi Mamluk di Mesir berbuntut mengoper pengaturan pecah penguasanya, dinasti Ayyubiyah. Mereka awalnya merupakan prajurit budak nan berasal dari suku-suku nasion Turki,[3]
nan memanfaatkan keadaan dinasti Ayyubiyah yang menginjak encer.

Kesultanan ini dikenal karena mampu memukul memulur invasi angkatan ilkhan dari Mongol puas Pertempuran Ain Jalut juga dalam melawan pasukan Salib, mereka secara efektif menggiring pasukan Salib keluar berbunga Syam lega 1291 hingga secara stereotip era Pasukan salib berakhir pada 1302.[4]

Selayang pandang

[sunting
|
sunting sumber]

Pasukan Mamluk purwa dikerahkan sreg zaman Abbasiyyah pada abad ke-9. Bani Abbasiyyah merekrut tentara-tentara ini berusul wilayah Kaukasus dan Laut Hitam dan mereka ini pada mulanya bukanlah orang Islam. Berasal Laut Hitam direkrut bangsa Turki dan kebanyakan berasal suku Kipchak.

Kurnia tentara Mamluk ini yakni mereka bukan punya kekeluargaan dengan golongan bangsawan alias pemerintah lain. Tentera-tentera Selam kerap setia kepada syekh, kaki dan pula bangsawan mereka. Jika terwalak penentangan tentara Islam ini, cukup sulit bagi khalifah cak bagi menanganinya tanpa pertarungan berpokok golongan bangsawan. Tentara budak juga golongan asing dan merupakan lapisan nan terendah privat umum. Sehingga mereka enggak akan menumpu khalifah dan mudah dijatuhkan hukuman jikalau menimbulkan kebobrokan. Oleh karena itu, barisan Mamluk yakni gana terpenting intern militer.

Organisasi

[sunting
|
sunting sumber]

Setelah memeluk Islam, seorang Mamluk akan dilatih sebagai tentara berkuda. Mereka harus mematuhi
Furisiyyah, sebuah aturan perilaku yang memasukkan nilai-poin begitu juga kepahlawanan dan keridaan dan juga doktrin mengenai taktik perang berkuda, kemahiran menunggang kuda, kemahiran memanah dan pula kemahiran merawat luka dan cedera.

Tentara Mamluk ini arwah di dalam komunitas mereka sendiri saja. Masa lapang mereka diisi dengan permainan begitu juga memanah dan lagi persembahan kemahiran bertempur. Tutorial yang intensif dan ketat buat anggota-anggota baru Mamluk pula akan memastikan bahawa kebudayaan Mamluk ini awet.

Setelah tamat latihan, tentara Mamluk ini dimerdekakan sahaja mereka harus setia kepada khalifah ataupun tuanku. Mereka membujur perintah terus dari khalifah ataupun pangeran. Tentara Mamluk cerbak dikerahkan untuk tanggulang perselisihan antara suku setempat. Pemerintah setempat seperti amir kembali mempunyai pasukan Mamluk sendiri tetapi lebih katai dibandingkan legiun Mamluk Khalifah alias Paduka tuan.

Pada awal, prestise tentara Mamluk ini bukan boleh diwariskan dan momongan lanang tentara Mamluk dilarang mengimak jejak ancang ayahnya. Di sebagian kawasan seperti Mesir, barisan Mamluk mulai menjalin hubungan dengan pemerintah setempat dan balasannya mendapat pengaruh yang luas.

Kemajuan di permukaan Ilmu kemiliteran

[sunting
|
sunting sumber]

Pada era Dinasti Al-Mamluk produksi buku adapun aji-aji militer itu berkembang pesat. Padahal, pada zaman Shalahuddin, ada buku manual militer karya AT-Thurtusi
(570 H/1174 M)
yang membahas kemajuan menaklukan Yerussalem. Pecah awal Islam memang mengedrop manah spesial mengenai soal perang. Tambahan pula Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
perkariban menunangi mudah-mudahan para anak lanang diajari berenang, gulat, dan berkuda. Bermacam-macam cerita pertarungan seperti legenda Daud dan Jalut pun dikisahkan dengan apik dalam Al-Qur’an. Bahkan, ada satu surat di Al-Qur’an yang mendongeng tentang `heroisme’ kuda-kuda nan berlari kencang n domestik kecamuk pertampikan.

”Demi kuda perang yang berlari kencang dengan megapmegap. Dan jaran yang mencetuskan jago merah dengan pukulan (kuku kakinya). Dan jaran nan menyerang dengan mendadak di waktu pagi. Maka, ia melayangkan tepung dan menyerbu ke tengah kumpulan jodoh.”
(Al-‘aAdiyat 1-4).

Suku bangsa muslim sebenarnya lagi sudah lalu menulis bermacam rupa karya tentang pertanyaan perang dan ilmu militer. Beraneka ragam tipe buku mengenai ‘jihad’ dan pengenalan terhadap hal ihwal jaran, panahan, dan pusat militer. Salah satu kunci yang populer dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The Catologue yang merupakan karya Ibnu Al-Nadim (wafat antara
380H-338 H/990-998 M).

Dalam karya itu, Al-Nadim menggambar berbagai kategori mengenai cara menunggang jaran, menunggangi senjata, mengenai memformulasikan pasukan, akan halnya bergulat, dan menggunakan alat-alat persenjataan nan detik itu telah dipakai oleh semua bangsa. Karya begini juga kemudian banyak muncul dan disusun sreg perian Khalifah Abbasiyah, misalnya oleh Khalifah al-Manshur dan al-Ma’mun. Bahkan, pada periode kekuasaan Daulah Al-Mamluk produksi trik akan halnya mantra militer itu berkembang sangat pesat. Minat para penulis semakin terpacu dengan kemauan mereka bikin mempersembahkan sebuah karya kepada kepada para paduka tuan yang menjadi penguasa saat itu. Pembahasan camar dibahas adalah mengenai seluk beluk yang berkaitan dengan serbuan bangsa Mongol.

Pada zaman Shalahuddin, ada sebuah daya manual militer yang disusun makanya At-Tharsusi, sekitar
tahun 570 H/1174 M. Buku ini membahas mengenai keberhasilan Shalahuddin di intern memenangkan perang menimbangi bala barisan salib dan menaklukan Yerussalem. Buku ini ditulis dengan bahasa Arab, meski sang penulisnya orang Armenia. Manual yang ditulisnya selain berisi tentang pendayagunaan panah, lagi menggunjingkan mengenai ‘mesin-mesin perang’ detik itu, seperti mangonel (pelempar bujukan), alat pendobrak, palas-palas-menara pengintai, penempatan bala di tempat perang, dan cara membuat busana besi. Buku ini semakin berharga karena dilengkapi dengan laporan praktis bagaimana senjata itu digunakan.

Buku lain yang membahas mengenai militer adalah karya yang ditulis oleh Ali ibnu Abi Bakar Al Harawi (wafat
611 H/1214 M). Kancing ini membahas secara detail mengenai tanya taktik perang, organisasi militer, tata cara pengepungan, dan formasi tempur. Kalangan ahli militer di Barat menegur ki akal ini sebagai sebuah riset yang lengkap tentang barisan muslim di medan tempur dan dalam pengepungan. Pada mileu militer Daulah Mamluk menghasilkan banyak karya tentang militer, khususnya keahlian menunggang kuda ataupun
fu’usiyyah. Internal buku ini dibahas mengenai bagaimana cara sendiri calon satria melatih diri dan kuda untuk bertekun, pendirian menggunakan senjatanya, dan bagaimana mengatur bala berkuda atau kavaleri.

Ideal trik yang lain merupakan karya Al-Aqsara’i (wafat74 H/1348 M) yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris menjadi An End to Questioning and Desiring (Further Knowledge) Concering the Science of Horsemenship. Sosi ini lebih komplet karena tidak hanya membahas soal jaran, pasukan, dan senjata, namun juga membicarakan mengenai doktrin dan pembahasan pembagaian rampasan perang.

Layanan Pos Ala Dinasti Mamluk

[sunting
|
sunting sumur]

Layanan pos sreg era kejayaan Islam tidak hanya sekadar sebagai pengantar wanti-wanti. Dinasti Mamluk yang berwenang di Mesir puas
1250 M
hingga
1517 M
pula menjadikan pos bak alat pertahanan. Guna mencegah penyerbuan armada barisan Mongol di bawah komando Hulagu Khan pada medio abad ke-13 M, para mekanik Mamluk membangun menara ahli nujum di sejauh rute pos Irak sampai Mesir.

Di atas menara pengawas itu, sejauh 24 jam munjung para penjaga sudah menyiapkan perlambang bahaya. Kalau bahaya mengancam di siang hari, petugas akan kobar kayu basah nan bisa mengepulkan asap hitam. Sedangkan sreg malam hari, petugas akan membakar kayu kersang. Upaya itu ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Armada Mongol mampu menembus Baghdad dan memorak-porandakan metropolis intelektual itu. Meski begitu, peringatan awal yang ditempatkan di selama rute pos itu kembali berbuah mencegah masuknya tentara Mongol ke Kairo, Mesir.

Hanya privat waktu delapan jam, berita armada Mongol akan menyerbu Kairo sudah lalu diperoleh bala laskar Muslim. Itu berarti, sama dengan waktu yang diperlukan untuk mengakuri kawat dari Baghdad ke Kairo puas era bertamadun. Berkat kenyataan berantai dari menara juru ramal itu, pasukan Mamluk mampu menampung mundur tentara Mongol yang akan menginvasi Kairo. Menurut Paul Lunde, layanan pos melangkaui jalur darat pada era supremsi Dinasti Mamluk pula sempat tertangguh ketika pasukan Armada Salib memblokir rute pos. Biar begitu, penguasa Dinasti Mamluk bukan kekeringan akal.

Sejak saat itu, kata kamu, Dinasti Mamluk mulai memperalat merpati pos. Dengan menggunakan burung merpati sebagai pengantar pesan, laskar Angkatan Salib tidak bisa mencegah masuknya pesan dari Kairo ke Irak. Merpati pos mampu mengantarkan dokumen dari Kairo ke Baghdad kerumahtanggaan tahun dua hari, ujar Lunde. Sejak itu, peradaban Barat kembali mulai meniru layanan pos dengan merpati seperti yang digunakan penguasa Dinasti Mamluk.

Lunde menuturkan, pada
1300 M
Dinasti Mamluk memiliki tidak rendah dari 1.900 merpati pos. Penis merpati itu mutakadim lalu terlatih dan bonafide rani mengirimkan wanti-wanti ketempat maksud. Sendiri tentara Jerman bernama Johan Schiltberger menuturkan kehebatan pasukan merpati pos yang dimiliki penguasa Dinasti Mamluk. Sultan Mamluk utus surat dengan merpati, sebab kamu n kepunyaan banyak musuh, cetus Schiltberger. Dinasti Mamluk memang bukan yang pertama menggunakan merpati pos. Penggunaan merpati bakal mengapalkan pesan kali purwa diterapkan peradaban Mesir bersejarah sreg
2900 SM.

Pada masa pengaruh Dinasti Mamluk, merpati pos juga berfungsi kerjakan mengirimkan pesanan pos parcel. Al-cerita, penguasa Mamluk sangat puas dengan kiriman biji pelir ceri dari Lebanon yang dikirimkan ke Kairo dengan penis merpati. Setiap zakar merpati membawa suatu biji biji kemaluan ceri nan dibungkus dengan kain sutra. Pada perian itu, sepasang burung merpati pos harganya hingga ke 1.000 keping emas. Layanan merpati pos ala Dinasti Mamluk itu tersurat misal sistem komunikasi yang tercepat puas abad pertengahan.

Waktu Kekuasaan Daulah Mamalik di Mesir

[sunting
|
sunting perigi]

Jikalau ada negeri Selam yang selamat berbunga kerusakan akibat serbuan-terjangan bangsa Mongol, baik serangan Hulagu Khan ataupun Timur Lenk, maka distrik itu merupakan Mesir yang momen itu bakir di radiks otoritas dinasti Mamalik. Karena negeri ini terhindar dari kerhancuran, maka persambungan perkembangan kebudayaan dengan masa klasik nisbi terlihat dan sejumlah di antara prestasi nan pernah dicapai sreg masa klasik bertahan di Mesir. Walaupun demikian, kemenangan yang dicapai oleh dinasti ini, masih di sumber akar penampilan yang gayutan dicapai oleh umat Selam pada masa klasik. Hal itu mungkin karena metode berpikir tradisional sudah terukir adv amat abadi sejak berkembangnya aliran teologi ‘Asy’ariyah, filsafat mendapat sangkaan sejak pemikiran al- Ghazali mewarnai pemikiran mayoritas umat Islam, dan yang lebih signifikan juga merupakan karena Baghdad dengan kemudahan-fasilitas ilmiahnya yang banyak memberi inspirasi ke pusat-muslihat kultur Selam, hancur.

Mamalik adalah jamak semenjak Mamluk nan berarti budak. Dinasti Mamalik memang didirikan oleh para budak. Mereka pada mulanya adalah manusia-anak adam yang ditawan oleh penguasa dinasti Ayyubiyah andai budak, kemudian dididik dan dijadikan tentaranya. Mereka ditempatkan pada kelompok distingtif nan terpisah dari umum. Maka itu penguasa Ayyubiyah nan bontot, al-Malik al-Salih, mereka dijadikan tukang potret bagi menjamin kelanjutan kekuasaannya. Pada masa penguasa ini, mereka mendapat hak-milik tunggal, baik dalam tiang penghidupan ketentaraan atau dalam royalti-sagu hati material. Pada umumnya mereka bermula dari daerah Kaukasus dan Laut Kaspia. Di Mesir mereka ditempatkan di pulau Raudhah di Sungai Nil untuk menjalani latihan militer dan keimanan. Karena itulah, mereka dikenal dengan julukan Mamluk Bahri. Saingan mereka dalam ketentaraan pada masa itu adalah barisan nan berasal dari suku Kurdi.

Ketika al-Malik al-Salih meninggal
(1249 M), anaknya, Turansyah, menaiki tahta sebagai Sulthan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih erat kepada laskar asal Kurdi daripada mereka. Plong musim
1250 M
Mamalik di dasar pimpinan Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah. Ampean al-Malik al-Salih, Syajarah al-Durr, seorang yang juga berpangkal dari kalangan Mamalik berusaha mengambil kendali rezim, sesuai dengan aman golongan Mamalik itu. Kepemimpinan Syajarah al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Sira kemudian pergaulan dengan seorang dalang Mamalik bernama Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya serempak berharap bisa terus berkuasa di pinggul tabir. Akan namun buru-buru pasca- itu Aybak membunuh Syajarah al-Durr dan mengambil seutuhnya kendali tadbir. Pada semula, Aybak menyanggang sendiri keturunan penguasa Ayyubiyah bernama Musa sebagai Sultan “syar’i” (biasa) disamping dirinya yang berlaku bagaikan penguasa yang sememangnya. Namun, Musa akhirnya dibunuh oleh Aybak. Ini merupakan akhir dari dinasti Ayyubiyah di Mesir dan tadinya berbunga kekuasaan dinasti Mamalik.

Aybak berhak sepanjang tujuh hari
(1250-1257 M). Sesudah meninggal engkau digantikan maka dari itu anaknya, Ali yang masih berusia akil balig. Ali kemudian mengundurkan diri pada tahun
1259 M
dan digantikan oleh wakilnya, Qutuz. Sesudah Qutuz naik tahta, Baybars yang mengecualikan diri ke Syria karena tidak senang dengan kepemimpinan Aybak kembali ke Mesir. Di awal tahun
1260 M
Mesir terancam serangan bangsa Mongol nan sudah berhasil menduduki hampir seluruh dunia Islam. Kedua pasukan bertemu di Ayn Jalut, dan pada terlepas
13 September 1260 M, tentara Mamalik di dasar pimpinan Qutuz dan Baybars berdampak mengandaskan tentara Mongol tersebut. Keberuntungan atas angkatan Mongol ini membuat kekuasaan Mamalik di Mesir menjadi tumpu intensi umat Islam di sekitarnya. Penguasa-penguasa di Syria segera menyatakan serapah teguh kepada penguasa Mamalik.

Tidak lama setelah itu Qutuz meninggal dunia. Baybars, koteng kepala militer yang tangguh dan cerdas, diangkat maka itu pasukannya menjadi Kanjeng sultan
(1260- 1277 M). Ia yakni baginda terbesar dan termasyhur di antara Pangeran Mamalik. Sira pula yang dipandang sebagai pembangun hakiki dinasti Mamalik.

Ki kenangan daulah ini hanya berlangsung sampai tahun
1517 M, saat dikalahkan oleh Anak laki-laki Utsmani, Daulah ini dibagi menjadi dua periode:

Pertama, waktu kekuasaan Mamluk Bahri, sejak berdirinya
(1250 M)
sampai berakhirnya pemerintahan Hajji II tahun
1389 M.

Kedua
periode kekuasaan Mamluk Burji, sejak berkuasanya Burquq untuk kedua kalinya tahun
1389 M
sampai kerajaan ini dikalahkan oleh Anak laki-laki Utsmani tahun 1517 M.

Daulah Mamalik membawa warna plonco dalam sejarah strategi Islam. Pemerintahan dinasti ini berkarakter oligarki militer, kecuali dalam waktu yang singkat momen Qalawun
(1280-1290 M)
menerapkan pergantian sultan secara turun temurun. Anak Qalawun berwenang saja catur masa, karena kekuasaannya direbut oleh Kitbugha
(1295- 1297 M). Sistem pemerintahan oligarki ini banyak mendatangkan kemajuan di Mesir. Kedudukan amir menjadi sangat penting. Para amir berkompetisi dalam prestasi, karena mereka merupakan kandidat yamtuan. Kemajuan-kejayaan itu dicapai dalam bebagai bidang, seperti konsolidasi pemerintahan, perekonomian, dan guna-guna takrif.

Dalam bidang rezim, kemenangan dinasti Mamalik atas barisan Mongol di ‘Ayn al-Jalut menjadi modal besar kerjakan menguasai daerah-kewedanan sekitarnya. Banyak penguasa-penguasa dinasti kecil menyatakan tegar kepada kerajaan ini. Untuk menjalankan pemerintahan di intern daerah, Baybars mengangkat kelompok militer sebagai elit politik. Disamping itu, cak bagi memperoleh timbang rasa semenjak kerajaan-kerajaan Islam lainnya, Baybars membaiat zuriat Bani Abbas yang berhasil meloloskan diri berusul ofensif bangsa Mongol, al-Mustanshir sebagai khalifah. Dengan demikian, khilafah Abbasiyah, selepas dihancurkan oleh legiun Hulaghu di Baghdad, berhasil dipertahankan maka dari itu daulah ini dengan Kairo sebagai pusatnya. Sementara itu, kemujaraban-fungsi yang dapat mengancam kekuasaan Baybars dapat dilumpuhkan, seperti laskar Salib di selama Laut Tengah, Assasin di pegunungan Syria, Cyrenia (tempat berkuasanya individu-orang Armenia), dan kapal-kapal Mongol di Anatolia.

Dalam bidang ekonomi, dinasti Mamalik membeberkan perhubungan dagang dengan Prancis dan Italia melalui perluasan jalur bazar yang telah dirintis oleh dinasti Fathimiyah di Mesir sebelumnya. Jatuhnya Baghdad menjadikan kota Kairo sebagai jalur bursa antara Asia dan Eropa, dan menjadi lebih terdepan karena Kairo menghubungkan jalur ekspor impor Laut Merah dan Laut Paruh dengan Eropa. Disamping itu, hasil pertanian juga meningkat. Keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung maka itu pembangunan jaringan transportasi dan komunikasi antarkota, baik laut alias darat. Ketangguhan angkatan laut Mamalik dulu membantu pengembangan perekonomiannya.

Di bidang mantra pesiaran, Mesir menjadi bekas pelarian ilmuwan-ilmuwan asal Baghdad dari serangan tentara Mongol. Karena itu, guna-guna-hobatan banyak berkembang di Mesir, seperti sejarah, medis, ilmu perbintangan, ilmu hitung, dan ilmu agama. Dalam ilmu sejarah tertulis nama-nama besar, seperti Ibn Khalikan, Ibn Taghribardi, dan Ibn Khaldun. Di bidang astronomi dikenal nama Nashiruddin ath-Thusi. Di bidang ilmu hitung Abul Faraj al-‘Ibry . Dalam bidang kedokteran: Abul Hasan ‘Ali an-Nafis, penemu susunan dan rotasi darah internal paru-paru manusia, Abdul Mun’im ad-Dimyathi, sendiri sinse hewan, dan Ar-Razi’, perambah psykoterapi. Internal meres opthalmologi dikenal logo Shalahuddin ibn Yusuf. Sementara itu dalam bidang ilmu keagamaan, terkenal nama Syaikhul Islam ibn Taimiyah
Rahimahullah, seorang mujaddid, mujahid dan pandai hadits internal Islam, Imam As-Suyuthi
Rahimahullah
nan tanggulang banyak ilmu keyakinan, Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani
Rahimahullah
dalam ilmu hadits, mantra fiqih dan lain-bukan.

Daulah Mamalik lagi banyak mengalami kemajuan di bidang arsitektur. Banyak arsitek didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah. Bangunan-bangunan lain yang didirikan pada musim ini di antaranya merupakan flat sakit, museum, perpustakaan, villa-villa, kubah dan menara zawiat.

Kemajuan-kejayaan itu tercapai berkat karakter dan wibawa Sulthan yang pangkat, kesetiakawanan sesama militer yang kuat, dan stabilitas negara yang aman dari gangguan. Akan sekadar, ketika faktor-faktor tersebut lenyap, daulah Mamalik abnormal demi minus mengalami kemunduran. Berbunga masuknya budak-budak berpangkal Sirkasia nan kemudian dikenal dengan merek Mamluk Burji yang bikin pertama kalinya dibawa oleh Qalawun, solidaritas antar sesama militer menurun, terutama setelah Mamluk Burji berwajib. Banyak penguasa Mamluk Burji yang bermoral invalid dan tidak menyukai ilmu pengetahuan. Keglamoran dan kebiasaan berfoya-foya di gudi penguasa menyebabkan fiskal dinaikkan. Kesannya, semangat kerja rakyat menurun dan perekonomian negara lain stabil. Disamping itu, ditemukannya Tanjung Harapan oleh kaum Eropa
waktu 1498 M, menyebabkan jalur perdagangan Asia-Eropa melalui Mesir melandai fungsinya. Kondisi ini diperparah maka dari itu datangnya kemarau panjang dan berjangkitnya pandemi penyakit.

Di pihak tidak, suatu kekuatan politik baru nan besar muncul sebagai tantangan bagi Mamalik, ialah Daulah Bani Utsmani. Kerajaan inilah yang mengakhiri riwayat Mamalik di Mesir. Dinasti Mamalik kalah melawan barisan Utsmaniyah dalam pertempuran menentukan di asing ii kabupaten Kairo tahun
1517 M
. Sejak itu wilayah Mesir berlambak di bawah kekuasaan Kesultanan Bani Utsmani bagaikan salah satu propinsinya.
Wallahul Musta’an.

Pembubaran Mamalik

[sunting
|
sunting sumber]

Dimasa kekuasaan Muhammad Ali Mamalik dibubarkan melalui pembunuhan n domestik sebuah makan besar kenegaraan di
Al-Qal’ah
puas 11 Maret 1811 M. Ketika para perwiwa tinggi mamlik telah berkumpul di pesta kenegaraan Muhammad Ali memrintahkan para pengawalnya untuk mengunci semua pintu dan dan dengan serentak menembaki para perwira Mamalik, Kuantitas perwira yang dibantai mencecah 1000 individu tanpa seorangpun berbunga mereka dapat lolos. Pembantaian ini memang keji namun Muhammad Ali memandang sreg sejarah Mamalik yang pelalah berbuat penghianatan dan perebutan kekuasaan kekuasaan berpembawaan.

Referensi

[sunting
|
sunting perigi]

  1. Kitab At-Tarikh,Ibn Khaldun.
  2. Tarikh Khulafra’,As-Suyuthi.
  3. Al-Bidaayaah Wan Nihaayah,Ibn Katsir.
  4. Sejarah Kerajaan Mamalik,Muhammad Syu’ub,Penerbit PT.Bulan Bintang.
  5. 1000 Peristiwa Dalam Islam,Abdul Hakim Al-Afifi.Pustaka Hidayah.Bandung. 2002.

Catatan suku

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Behrens-Abouseif, Doris.
    Cairo of the Mamluks: A History of Architecture and Its Culture. New York: Macmillan, 2008.

  2. ^


    Ayalon, David (1979).
    The Mamlūk military society. Variorum Reprints. ISBN 978-0-86078-049-6.





  3. ^


    Isichei, Elizabeth (1997).
    A History of African Societies to 1870. Cambridge University Press. hlm. 192. Diakses tanggal
    8 November
    2008
    .





  4. ^


    Asbridge, Thomas. “The Crusades Episode 3”. BBC. Diakses tanggal
    5 February
    2012
    .




Pranala luar

[sunting
|
sunting mata air]

  • Mamluk — Dinasti tentara budak
  • Kesenian Mamluk
  • Mamluk — sejarah bikin anak-anak Diarsipkan 2007-08-11 di Wayback Machine.
  • Bibliografi Mamluk di
    Chicago Online Bibliography



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Mamluk

Posted by: caribes.net