Tujuan Mempelajari Ulumul Qur An








Bab I





PENDAHULUAN



1.1.





Bidang Pinggul






Intern pembahasan referat ini, marilah kita mengenal lebih jauh tentang Ulumul Qur’an dan khasiat-faedahnya.


Al-Qur’an adalah kalamullah nan diwahyukan kepada nabi Muhammad saw. Sebagai risalah yang universal. Dan merupakan sebuah ilham bagi semua manusia nan lengkap dan komprehensif. Al-Qur’an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah suatu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin makanya Allah swt., dan ia adalah kitab yang senantiasa dipelihara oleh Halikuljabbar sebatas hari pembalasan nanti.


[1]





Al-Qur’an ialah sumber ilmu lakukan kaum muslimin yang yakni dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal.



kaki langit


P


ö


q


horizon


ƒ


u


r




ß


]


y


è


ö


7


cakrawala


R







Î


û




È


e


@


ä


.




7


p


¨


B


é


&




#


´








Î


g


x


©




O


Î


g


ø


Š


tepi langit


=


t


æ




ô


`


Ï


i


B




ö


T


Í


k


Å


¦


à


ÿ


R


r


&




(




$


u


Z


ø


¤


Å


_


u


r




š





Î


/




#


´








Í


k


y


­




4





n


?


t


ã




Ï


ä


I


w


à


s


¯


»


y


d




4




$


u


Z


ø


9


¨





t


R


u


r




š





ø





n


=


t


ã




|


=


»


cakrawala


G


Å


3


ø


9


$


#




$


Y


Z


»


u





ö


;


Ï


?




È


e


@


ä


3


Ï


j


9




&


ä


ó


Ó


x


«







Y





è


d


u


r




Z


p


y


J


ô


m


u





u


r




3





u


Ž


ô


³


ç


0


u


r




falak


û


ü


Ï


J


Î


=


ó


¡


ß


J


ù


=


Ï


9








Artinya:
(dan ingatlah) akan musim (momen) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka pecah mereka sendiri dan Kami datangkan beliau (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan tanzil serta hadiah dan pengumuman gembira lakukan bani adam-orang yang berserah diri. (Q.S. An-Nahl : 89).




Mempelajari isi Al-Qur’an akan menggunung perbendaharaan baru, memperluas pandangan dan amanat, meningkatkan perspektif bau kencur dan selalu menemui hal-keadaan yang selalu baru.

Lebih lanjut lagi, kita akan lebih optimistis akan keunikan isinya yang menunjukkan Maha Besarnya Yang mahakuasa sebagai penciptanya.


Al-Qur’an diturunkan internal bahasa Arab. Oleh karena itu, ada anggapan bahwa setiap cucu adam nan mengerti bahasa Arab boleh mencerna isi Al-Qur’an. Lebih dari itu, cak semau orang nan merasa mutakadim bisa memaklumi dan menyangkal Al-Qur’an dengan bantuan terjemahnya, sekalipun lain memahami bahasa Arab. Padahal orang Arab koteng banyak yang tidak mencerna makanan Al-Qur’an. Maka berpokok itu, untuk dapat mengetahui isi peranakan Al-Qur’an diperlukanlah ilmu yang mempelajari bagaimana tata cara menafsiri Al-Qur’an yakni Ulumul Qur’an dan juga terdapat faedah-faedahnya. Dengan adanya pembahasan ini, kita perumpamaan generasi islam meski bertambah mengenal Al-Qur’an, karena tak kenal maka tak sayang.


1.2.





Rumusan Masalah



1.



Apa pengertian Ulum, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an ?



2.



Bagaimana pendapat para cerdik pandai’ ?



3.



Segala apa doang pembagian dan perinciannya ?



4.



Bagaimana sejarah perkembangannya ?



5.



Barang apa saja maslahat-faedahnya ?



6.



Siapa-siapa tokoh-inisiator ahli tafsir ?


1.3.





Harapan Komplikasi



1.



Untuk mengetahui konotasi Ulum, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an



2.



Untuk mengetahui pendapat para ulama’



3.



Untuk mengetahui sejarah perkembangannya



4.



Untuk mengetahui faedah-faedahnya
.



5.



Untuk mencerna dedengkot-tokoh ahli tafsir




Pintu II





PEMBAHASAN



2.1.





Denotasi


1. Arti Prolog ‘Ulum


Prolog ulum (علوم) merupakan bentuk bervariasi semenjak dari introduksi tunggal ilm (علم). Kata ilm merupakan kerangka masdar (alas kata kerja yang dibendakan).

Secara etimologis berarti al-fahmu (reseptif), al-ma’rifah (tahu) dan al-yaqin (yakin).


[2]



Ketiga istilah tersebut mengandung pengertian yang farik dan bisa dikaji lebih serius buku-buku perbedaan kosakata bahasa Arab, seperti mana kitab al furuq al-lugawiyyah karya Abuk Bulan sabit al-Askari.


Secara terminologis, mantra punya definisi-definisi yang berbeda sesuai dengan latar belakang pendefinisi tersebut. Para filosof memahamkan bahwasanya ilmu adalah konsep yang muncul dalam akal maupun keterkaitan jiwa dengan sesuatu menurut cara pengungkapannya. Para Teologis berpendapat bahwa ilmu adalah adat yang bisa mengkhususkan sesuatu tanpa ketidakseragaman. Sementara itu orang-insan bijak mengartikan ilmu seumpama gambaran sesuatu yang dihasilkan berpokok akal.


[3]





Akan halnya menurut syara’, ilmu merupakan mengerti dan memaklumi Ayat-ayat Allah dan lafalnya berkenaan dengan hamba dan mahluk-makhluknnya. Terbit situlah Imam Ghazali berpendapat bahwasanya ilmu sebagai objek yang terlazim dipelajari oleh mukminat merupakan konsep tentang ibadah, akidah, pagar adat dan etika Selam secara lahir dan batin.


Al-Qur’an menggunakan kata ‘ilm n domestik berbagai susuk dan artinya sebanyak 854 bisa jadi. Antara lain firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah: 31-32 “proses pencapaian publikasi dan bulan-bulanan pengetahuan”. Musyawarah tentang ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan adapun sumur-sumber ilmu disamping klasifikasi dan ragam disiplinnya.


[4]




Lakukan lebih mengarifi pengertian ilmu secara jelas, silakan kita simak pendapat-pendapat di asal ini :



·



Menurut para juru filsafat, kata ilmu perumpamaan paparan sesuatu yang terdapat dalam akal bulus.



·



Menurut Serdak Musa Al-Asy’ari, ilmu merupakan resan nan mensyariatkan pemiliknya makmur mengasingkan dengan panca indranya.



·



Menurut Imam Ghazali, secara umum arti ilmu dalam istilah syara’ adalah ma’rifat Allah terhadap pertanda dominasi, ulah, hamba-hamba dan khalayak-Nya.



·



Menurut Muhammad Abdul ‘Adzhim, ilmu menurut istilah adalah ma’lumat-ma’lumat yang dirumuskan internal satu kesatuan judul atau harapan.
Dari sejumlah pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kata “ulum / ilmu” ialah kelainan-masalah yang sudah lalu dirumuskan n domestik suatu loyalitas pengetahuan nan terdapat n domestik pernalaran.


2. Kelebihan Kata Al-Qur’an


Menurut bahasa,

Perkenalan awal al-Qur’an ialah bagan Mashdar (introduksi kerja nan dibendakan), dengan mengajuk standar Fu’lan, sebagaimana lafadz Gufran, Rujhan dan Syukran. Lafadz Qur’an adalah lafadz Mahmuz, yang salah suatu bagiannya faktual huruf hamzah, yaitu puas bagian intiha, karenanya disebut Mahmuz Lam, berasal lafadz: Qara’a-Yaqra'[u]-Qirâ’at[an]-Qur’ân[an], dengan konotasi Gembok-Yatlu-Tilawat[an]: mengaji-wacana. Kemudian lafadz tersebut mengalami metamorfosis dalam peristilahan hukum, berasal signifikansi harfiah ini, sehingga dijadikan misal nama untuk referensi tertentu, yang kerumahtanggaan istilah orang Arab disebut: Tasmiyyah al-maf’ul bi al-masdar, menegur obyek dengan Masdarnya.


Konotasi harfiah seperti ini dinyatakan dalam firman Almalik swt. dalam Q.S. Al-Qiyamah:16-17.



Ÿ


w




õ


8


Ì


h





p


t


é


B




¾


Ï


m


Î


/




y


7


t


R


$


|


¡


Ï


9




Ÿ


@


y


f


÷


è


t


G


Ï


9




ÿ


¾


Ï


m


Î


/



,





¨


b


Î


)




$


u


Z


ø


Š


n


=


t


ã




¼


ç


m


y


è


÷


H


s


d




¼


ç


m


t


R


#


u


ä


ö





è


%


u


r




Artinya: Janganlah kamu gerakkan lidahmu cak bagi (membaca) al-Quran karena hendak lekas-lekas (menuntaskan)nya. Selayaknya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami mutakadim radu membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.


(Q.S. Al-Qiyamah:16-17)



[5]








Rohaniwan Syafi’i (150-204 H), pelecok seorang imam mazhab nan terkenal, mengatakan bahwa pengenalan al-Qur’an ditulis dan dibaca tanpa hamzah, serta tidak diambil bersumber bongkahan kata manapun (ghayr musytaqq). Ia yaitu nama idiosinkratis yang dipakai untuk kitab asli yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw., seperti halnya dengan segel Injil dan Taurat, yang masing-masing diberikan kepada rasul Isa dan nabi Musa.


[6]





Para pakar bahasa, cerdik pandai ushul dan kalam telah mendefinisikan al-Qur’an dengan definisi yang beragam. Dalam pandangan ahli bahasa, al-Qur’an adalah tanda perkataan Allah yang mempunyai mu’jizat, nan diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Ulama fikih dan usul memberikan definisi al-Qur’an yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad saw., membacanya dinilai perumpamaan ibadah, dinukilkan secara mutawatir menginjak dari surah al-Fatihah mencecah akhir surah al-Nas. Sementara itu cerdik pandai kalam memberikan pengertian al-Qur’an sebagai kalam Allah yang berdiri sendiri, bukan berupa abc, tidak makhluk dan tidak dengan suara.


[7]





Menurut istilah, “Al-Qur’an” yakni firman Allah yang bersifat mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang tertulis privat mushaf-mushaf, yang dinukil dengan jalan mutawatir dan nan membacanya yakni ibadah.


Berusul beberapa definisi di atas bisa disimpulkan bahwa al-Qur’an yaitu kalam Allah yang substansial mukjizat, diturunkan kepada Muhammad saw. dan dinukil kepada kita secara mutawatir, serta dinilai beribadah ketika membacanya.


Bikin lebih mengerti pengertian Al-Qur’an secara jelas, marilah kita simak pendapat-pendapat di bawah ini :



·



Menurut Manna’ Al-Qathkan, Al-Qur’an adalah kitab nan diturunkan kepada Rasul Muhammad SAW dan orang yang membaca akan memperoleh pahala.



·



Menurut Al-Jurjani, Al-Qur’an yaitu wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah nan ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir (berangsur-angsur).



·



Menurut kalangan pakar ushul fiqih, fiqih, dan bahasa Arab, Al-Qur’an adalah kalam Halikuljabbar nan diturunkan kepada Nabi-Nya, lafadz-lafadznya mengandung mu’jizat, membacanya bernilai ibadah, diturunkan secara mutawatir dan ditulis mulai sejak tindasan Al-Fatihah sampai akhir surat yaitu An-Nas.

Berusul sejumlah denotasi di atas, dapat disimpulkan bahwa perkenalan awal “Al-Qur’an” adalah firman Halikuljabbar yang bersifat mu’jizat yang diturunkan kepada Rasul Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf-mushaf yang dinukil kepada kita secara mutawatir, membacanya bernilai ibadah, nan diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.




3. Faedah Kata Ulumul Qur’an


Setelah membahas alas kata “ulum” dan “Al-Qur’an” yang terdapat dalam kalimat “Ulumul Qur’an”, perlu kita ketahui bahwa tersusunnya kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa adanya bermacam-tipe hobatan keterangan yang berkaitan dengan Al-Qur’an alias pembahasan-pembahasan yang berbimbing dengan Al-Qur’an, baik dari aspek keberadaannya sebagai Al-Qur’an maupun aspek pemahaman kandungannya andai pedoman dan tanzil bagi cucu adam.


Definisi Ulumul Qur’an

s

ecara terminologi terwalak berbagai pendapat para ulama’ terhadap definisi Ulumul Qur’an, antara lain :



·



Menurut As-Suyuthi dalam kitab Itmamu Al-Dirayah mengatakan bahwa Ulumul Qur’an ialah aji-aji yang membahas tentang keadaan Al-Qur’an berpangkal segi turunnya, sanadnya, adab makna-maknanya, baik yang berbimbing dengan lafadz-lafadznya atau syariat-hukumnya.



·



Al-Zarqany dalam kitab Manahilul Itfan Fi Ulumil Qur’an mengatakan bahwa Ulumul Qur’an adalah bilang pembahasan nan berbimbing dengan Al-Qur’an dari turunnya, urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemu’jizatannya, nasikh mansukhnya, penolakan hal-hal yang dapat menimbulkan keraguan terhadapnya.


2.2.



Ruang Lingkup Pembahasan Al-Qur’an



Para ulama’ farik pendapat mengenai ruang lingkup pembahasan Ulumul Qur’an, diantaranya adalah :



a.



As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan menguraikan sebanyak 80 cabang ilmu. Pecah tiap-tiap cagak terdapat sejumlah macam cabang ilmu.



b.



Debu Bakar Ibnu Al-Araby mengatakan bahwa Ulumul Qur’an terdiri berusul 77.450 ilmu. Hal ini didasarkan pada jumlah pengenalan nan terdapat kerumahtanggaan Al-Qur’an dengan dikalikan catur. Sebab setiap pembukaan dalam Al-Qur’an mengandung makna dzhohir, bathin, terbatas dan tidak terbatas, serta dilihat berbunga sudut mufrodnya.



c.



Sebagian jumhur ulama’ berpendapat, objek pembahasan Ulumul Qur’an nan mencakup berbagai segi kitab Al-Qur’an berkisar antara ilmu-hobatan bahasa Arab dan pengetahuan agama islam.



d.



M. Hasbi Ash-Shiddiqy berpendapat, ruang jangkauan pembahasan Ulumul Qur’an terdiri atas 6 kejadian pokok :



1.



Persoalan turunnya Al-Qur’an



2.



Permasalahan sanadnya



3.



Persoalan qira’atnya



4.



Persoalan kata-kata Al-Qur’an



5.



Persoalan makna-makna Al-Qur’an nan berkaitan dengan hokum



6.



Persoalan makan Al-Qur’an yang berpautan dengan kata-alas kata Al-Qur’an


Pencatuan dan Perincian Ulumul Qur’an


Secara garis raksasa, Ulumul Qur’an terbagi menjadi 2 siasat bahasan, yaitu :



1.



Ilmu yang gandeng dengan riwayat semata-netra, sama dengan mantra yang membahas tentang macam-spesies bacaan, kancah jatuh ayat-ayat Al-Qur’an, waktu-musim turunnya dan sebab-sebabnya.



2.



Ilmu yang gandeng dengan dirayah, yaitu ilmu yang diperoleh dengan jalan pembelajaran secara mendalam, seperti memahami lafadz nan ghorib (asing) serta mengetahui makna ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum.


2.3.

Sejarah Jalan Ulumul Qur’an


Sebagai ilmu nan terdiri bersumber berbagai macam cabang dan macamnya, Ulumul Qur’an tidak lahir kontan. Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu kepatuhan ilmu melaui proses pertumbuhan dan kronologi sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al-Qur’an berpokok segi keberadaanya dan segi pemahamannya.


Di masa Utusan tuhan SAW dan para shahabat, Ulumul Qur’an belum dikenal misal satu ilmu yang berdiri koteng dan tertulis. Para shahabat adalah orang-makhluk Arab kalis nan dapat merasakan struktur bahasa Arab nan tahapan dan memahami segala apa nan diturunkan kepada Nabi dan bila menemukan kesulitan dalam memaklumi ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakan serempak kepada Rasul SAW.


Di zaman Khulafaur Rasyidin sampai Dinasti Umayyah, wilayah selam bertambah luas sehingga terjadi perombakan antara orang Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengerti bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran shahabat akan tercemarnya keistimewaan bahasa Arab, bahkan dikhawatirkan tentang referensi Al-Qur’an yang menjadi sebuah tolok bacaan mereka.

Bakal mencegah kekhawatiran itu, disalinlah pecah tulisan-tulisan nirmala Al-Qur’an nan disebut dengan Mushaf Pastor. Dan dari salinan inilah suatu dasar Ulumul Qur’an disebut Al-Rasm Al-Utsmani.


Kemudian Ulumul Qur’an memasuki waktu pembukuannya puas abad ke-2 H. Para ulama’ memberikan prerogatif pikiran mereka terhadap mantra adverbia karena fungsinya sebagai umm al-ulum al-qur’aniyyah.

Sampai saat ini bersamaan dengan tahun kebangkitan modern dalam perkembangan ilmu-dogma, para ulama’ masih menuduh akan ilmu Qur’an ini. Sehingga tokoh-tokoh pakar tafsir (Qur’an) masih banyak hingga saat ini di seluruh dunia.


1. Masa Pra Pendaftaran (Qabl al-Tadwin)


Lega periode ini sebenarnya mutakadim kulur sperma kemunculan Ulumul Qur’an nan dirasakan semenjak Nabi masih suka-suka. Situasi ini ditandai dengan gairah semangat yang terpancar dari sahabat privat mempelajari sekaligus berbuat al-Qur’an dengan memahami ayat-ayat yang terkandung di dalamnya.


Jika mereka menemukan kesulitan intern memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakannya langsung kepada nabi. Misalnya saat mereka menanyakan firman Sang pencipta kerumahtanggaan Q.S. al-An’am/6: 82 tentang pengertian zulm. Utusan tuhan menjawabnya dengan berdasarkan Q.S. Luqman/31: 13 bahwa zulm itu yaitu syirk. Dengan demikian, sangat wajar jikalau ilmu-ilmu al-Qur’an pada masa nabi Muhammad belum dibukukan mengingat kondisinya belum membutuhkan disebabkan kemampuan para sahabat yang cukup mapan dalam menghapal memahami al-Qur’an.


Perkembangan al-Qur’an pada konglomerat ini hanya setakat dari congor ke mulut, belum ada inventarisasi teks al-Qur’an karena ditakutkan tercampurnya al-Qur’an dengan sesuatu selain al-Qur’an. Di samping itu Rasulullah saw.  juga merekomendasikan untuk tidak menggambar al-Qur’an .


2. Waktu Persiapan Kodifikasi


Pada tahun pemerintahan Usman bin Affan, Islam telah tersebar luas. Bani adam-orang Arab yang turut serta privat ekspansi provinsi napas dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal bahasa Arab. Sehingga dikhawatirkan Arabisitas bangsa itu akan hancur dan al-Qur’an itu akan menjadi tegak kerjakan kaum muslimin bila dia tidak dihimpun dalam sebuah mushaf sehingga mengakibatkan kerusakan yang besar di dunia ini akibat riuk dari penginterpretasian dalam pemaknaan Al-Qur’an.


Maka Usman berinisiatif untuk mengerjakan penyeragaman tulisan al-Qur’an dengan menyalin sebuah Mushaf al-Imam (emak) yang disalin dari skrip-naskah aslinya. Keberhasilan Utsman privat menyalin Mushaf al-Pater ini penting sira sudah menjadi peletak pertama bagi tumbuh dan berkembangnya Ulum al-Qur’an yang kemudian popular lega hari ini dengan istilah Hobatan Rasm al-Qur’an ataupun Hobatan Rasm Ustmani.


Lega masa pemerintahan Ali terjadi banyak penyimpangan privat membaca bahasa Arab sehingga anda terbang akan misinterpretasi dalam membaca terlebih mengarifi Al-Qur’an. Maka itu karena itu, Ali mewajibkan Tepung al-Aswad al-Dualy (w.691.H.) lakukan mengekspresikan kaidah-kaidah bahasa Arab n domestik upaya membudidayakan bahasa al-Qur’an. Tindakan Ali ini kemudian dianggap perumpamaan perambah lahirnya Ilm al-Nahw dan Ilm I’rab al-Qur’an.


Sehabis berakhirnya masa pemerintahan Khulafa Rasyidin, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh penguasa Bani Umayyah. Upaya pengembangan dan pemeliharaan Ulumul Qur’an dikalangan sahabat dan tabi’in semakin menara api, khususnya melewati periwayatan seumpama awal dari usaha pengkodifikasian.


3.  Masa Inventarisasi Ulumul Qur’an


Lega Abad III H, para jamhur berangkat menyusun beberapa Aji-aji al-Qur’an, yaitu :



a)



Ali kacang Al-Madini (w. 243 H ) menyusun Ilmu Asbabun al-Nuzul.



b)



Abuk Ubaid Al-Qasim bin Salman (w. 224 H) menyusun Ilmu Nasikh wa al- Tawar dan Ilmu Qira’at.



c)



Muhammad bin Ayyub al-Dhirris (w. 294 H) menyusun Mantra al-Makki wa al-Madani.



d)



Muhammad kedelai Khalaf Al-Marzubzn (wafat tahun 309 H ) menyusun kitab al-Hawi fi Ulum al-Qur’an ( 27 juz ).


Pada abad IV H, tiba disusun Hobatan Garib al-Qur’an dan beberapa kitab Ulumul Qur’an dengan memakai istilah. Di antara Ulama yang mengekspresikan Mantra Garib al-Qur’an dan kitab-kitab Ulumul Qur’an puas abad IV ini merupakan :



a.



Serdak Bakar Al-Sijistani (w. 330 H ) menyusun Aji-aji Garib al-Qur’an.



b.



Abu Bakar Muhammad polong Al-Qasim al-Anbari (w. 328 H) menyusun kitab Ajaib Ulum al-Qur’an. Di dalam kitab ini, sira mengklarifikasi atas tujuh aksara, tentang penulisan Mushaf, jumlah kadar surat-surat, ayat-ayat dan prolog-kata intern al-Qur’an.



c.



Abul Hasan al-Asy’ari (w. 324 H) merumuskan kitab Al-Mukhtazan fi Ulum al-Qur’an.



d.



Abuk Muhammad Al-Qassab Muhammad bin Ali Al-Karakhi (w. 360 H) memformulasikan kitab :



e.



Muhammad polong Ali al-Adwafi (w. 338 H ) menyusun kitab al-Istigna’ fi Ulum al-Qur’an ( 20 jilid ).


Pada abad V H, berangkat disusun Hobatan I’rabil Qur’an dalam satu kitab. Di samping itu, penulisan kitab-kitab n domestik Ulumul Qur’an masih terus dilakukan maka itu jamhur pada masa ini. Adapun jamhur nan berguna dalam pengembangan Ulumul Qur’an lega abad V ini, antara lain yaitu:



a.



Ali kedelai Ibrahim polong Sa’id al-Khufi (w. 430 H). Selain mempelopori penyusunan Mantra I’rab al-Qur’an, ia juga memformulasikan kitab al-Burhan Fi Ulum al-Qur’an. Kitab ini selain menyangkal Al-Qur’an seluruhnya, juga menerangkan Aji-aji-ilmu al-Qur’an yang suka-suka hubungannya dengan ayat-ayat al-Qur’an yang ditafsirkan. Karena itu, Mantra-ilmu al-Qur’an tidak tersusun secara sistematis privat kitab ini. Sebab Ilmu-ilmu al-Qur’an diuraikan secara terpencar-pencar, tidak terkumpul dalam ki-pintu menurut judulnya. Sahaja demikian, kitab ini merupakan karya ilmiah yang besar dari koteng ulama yang sudah merintis penulisan kitab adapun Ulumul Qur’an nan sangkil sempurna.



b.



Abu ‘Amr Al-Dani (w. 444 H ) memformulasikan kitab al-Tafsir Fi al-Qira‘a al-Sab’a dan kitab al-Muhkam Fi al-Nuqati.


Pada abad VI H, di samping terdapat jamhur yang menerusakan pengembangan Ulumul Qur’an, juga terdapat jamhur nan mulai menyusun Ilmu Mubhamat al-Qur’an. Mereka itu antara lain, yaitu :



a.



Abul Qasim bin Abdurrahman Al-Suhaili (w. 581 H) menyusun kitab tentang Mubhamat al-Qur’an, menguraikan maksud kata-kata dalam al-Qur’an yang lain jelas apa atau barangkali yang dimaksudkan. Misalnya perkenalan awal rajulun (koteng lelaki) atau malikun (seorang raja).



b.



Ibnul Jauzi (w. 597 H ) Kitab Funun al-afnan Fi Ajaib al-Qur’an dan kitab al-Mujtaba Fi Ulum Tata’allaqu bi al-Qur’an.


Plong abad VII H, Hobatan-ilmu al-Qur’an terus berkembang dengan berangkat tersusunnya Ilmu Majaz al-Qur’an dan tersusun pula Mantra Qira’at. Di antara ulama Abad VII yang besar perhatiannya terdapat Ilmu al-Qur’an, ialah :



a.



Ibnu Abd al-Salam nan naik daun dengan logo al-Izz (w. 660 H) ialah pelopor penulisan Ilmu Majaz al-Qur’an intern satu kitab.



b.



Alamudin Al-Sakhawi (w. 643 H ) menyusun Aji-aji Qira’at dalam kitabnya Jamal al-Qurra’ Wa Kamal al-Iqra’.



c.



Serdak Syamah (w. 655 H ) menyusun kitab al-Mursyid al-Wajiz Fi Ma Yata’ allaqu bi al-Qur’an.


Pada Abad VII H, muncullah bilang jamhur nan merumuskan mantra-ilmu mentah tentang Al-Qur’an masih tetap melanglang terus. Di antara mereka ialah :



a.



Ibnu Abil Isba’ menyusun Guna-guna Bada’i al-Qur’an, suatu hobatan yang membicarakan keberagaman-keberagaman badi’ (ketampanan bahasa dan perut Al-Qur’an) dalam Al-Qur’an.



b.



Anak lelaki Qayyim (w. 752 H ) menyusun Hobatan Aqsam al-Qur’an, suatu ilmu yang membahas tentang tulah-serapah yang terwalak dalam al-Qur’an.



c.



Najmudin Al-Thufi (w. 716 H) menyusun Ilmu Hujaj al-Qur’an alias Mantra Jadal al-Qur’an, satu Guna-guna yang membahas tentang bukti-bukti/dalil-dalil (argumentasi-argumentasi) nan dipakai oleh al-Qur’an untuk menetapkan sesuatu.



d.



Abul Hasan Al-Mawardi menyusun Ilmu Ams}al al-Qur’an, suatu ilmu yang mengomongkan tentang perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di dalam al-Qur’an.



e.



Badruddin Al-Zarkasyi (w. 794 H) menyusun kitab al-Burhani Fi Ulum al-Qur’an. Kitab ini telah diterbitkan oleh Muhammad Abdul Fadl Ibrahim (4 juz).


Puas abad IX dan mula-mula abad X H, makin banyak karangan-garitan yang ditulis makanya ulama tentang Ilmu-ilmu al-Qur’an dan pada kini perkembangan Ulumul Qur’an sampai ke kesempurnaannya. Di antara ulama nan menyusun Ulumul Qur’an plong masa ini ialah :



a.



Jalaludin al-Bulqini (w. 824 H ) menyusun kitab Mawaqi’ al-Ulum Min Mawaqi’ al-Nujum. Al-Bulqini ini dipandang oleh al-Suyuti bak ulama yamg mempelopori penyusunan kitab Ulumul Qur’an yang model, sebab di dalamnya telah disusun sejumlah 50 macam Ilmu al-Qur’an.



b.



Muhammad kedelai Sulaiman Al-Kafiyaji (w. 879 H ) menyusun kitab al-Taisir Fi Qawa’id al-Tafsir.



c.



Al-Suyuti (w. 911 H) menyusun kitab al-Tahbir Fi Ulum al-Tafsir. Penyusunan kitab ini selesai pada tahun 872 H dan merupakan kitab Ulum al-Qur’an yang paling pola karena memuat 102 macam ilmu-ilmu al-Qur’an. Namun Imam al-Suyuti masih belum puas atas karya ilmiahnya yang hebat itu. Kemudian ia menyusun kitab al-Itqan Fi Ulum al-Qur’an (2 juz) yang membahas sejumlah 80 macam ilmu-guna-guna al-Qur’an secara berstruktur dan padat isinya. Kitab al-Itqan ini belum suka-suka nan menandingi mutunya dan kitab ini diakui misal kitab patokan internal mata pelajaran Ulumul Qur’an.


Setelah Al-Suyuti wafat, perkembangan Mantra-ilmu al-Qur’an seolah-olah telah sampai ke puncaknya dan berhenti dengan berhentinya kegiatan ulama intern mengembangkan Ilmu-ilmu Al-Qur’an, dan kejadian semacam itu berjalan sejak wafatnya Iman Al-Suyuti (911 H) sebatas akhir abad XIII H.


Keadaan Guna-guna-Hobatan Al-Qur’an pada abad XIV H ini, maka bangkit kembali perhatian jamhur menyusun kitab-kitab yang membahas al-Qur’an berpokok berbagai segi dan macam Ilmu al-Qur’an. Di antaranya mereka adalah:



a.



Thahir Al-Jazairi menyusun kitab al-Tibyan Fi Ulum al-Qur’an yang selesai sreg periode 1335 H.



b.



Jamaludin al-Qaim (w. 1332 H ) bercerita kitab Mah{payau al-Takwil.



c.



Muhammad Abduh Adzim al-Zarqani merumuskan kitab Manahil al-Irfan Fi Ulum al-Qur’an ( 2 jilid ).



d.



Muhammad Ali Salamah mengarang kitab Manhaj al-Furqan Fi Ulum al-Qur’an.



e.



Tantawi Cendekiawan merencana kitab al-Jawahir Fi Tafsir al-Qur’an dan kitab al-Qur’an wa al-Ulum al-As{riyah.



f.



Muhammad Shadiq al-Rafi’i memformulasikan kitab I’jaz al-Qur’an.



g.



Must{afa al-Maraghi memformulasikan risalah tentang “Bisa menerjemahkan al-Qur’an, dan risalah ini beruntung tanggapan berbunga para cerdik pandai yang pada umumnya menyetujui pendapat Mustafa Al-Maragi, doang ada pun nan menolaknya, seperti Mustafa Sabri koteng jamhur segara dari Turki yang merencana kitab dengan judul “Risalah Tarjamah al-Qur’an”.



h.



Sayyid Qutub mengarang kitab al-Taswir al-Fanni Fi al-Qur’an dan kitab Fi Dzilal al-Qur’an.



i.



Sayyid Muhammad Rasyid Ridha mengarang kitab Tafsir Qur’an al-Wasit. Kitab ini selain menafsirkan al-Qur’an secara ilmiah, juga membahas Ulumul Qur’an.



j.



Dr. Muhammad Abdullah Darraz, seorang Guru Besar Universitas al-Azhar nan diperbantukan di Perancis, mengarang kitab Al-Naba’ Al-Adzim, Naz{rah Jadidah Fi al-Qur’an.



k.



Malik polong Nabi mengarang kitab Al-Z<ahirah al-Qur’aniyah. Kitab ini mengomongkan masalah ilham dengan pembahasan nan sangat penting.



l.



Dr. Shubi Al-Salih, Hawa Raksasa Islamic Studies dan Fiqh al-Lugah puas fakultas Adab Sekolah tinggi Libanon, mendongeng kitab Mabah{is Fi Ulum al-Qur’an. Kitab ini selain membahas Ulumul Qur’an, sekali lagi menanggapi/membantah secara ilmiah pendapat-pendapat orientalis yang dipandang salah mengenai berbagai masalah nan berhubungan dengan al-Qur’an.



m.



Muhammad Al-Mubarak, Dekan Fakultas Syari’ah Universitas Syria, bercerita kitab al-Manhal al-Khalid. Lahirnya istilah al-Qur’an yang Mudawwan


2.
4
.





Kekuatan-kepentingan


Ulumul Qur’an


Tentang faedah-fungsi mempelajari Ulumul Qur’an antara lain :



a.



Mampu menguasai bermacam rupa ilmu pendukung dalam rangka memahami makna yang terkandung kerumahtanggaan Al-Qur’an.



b.



Membekali diri dengan persenjataan guna-guna pengetahuan yang lengkap dalam rancangan membela Al-Qur’an dari majemuk tuduhan dan fitnah yang unjuk dari pihak tidak.



c.



Sendiri juru ulas (mufassir) akan lebih mudah n domestik memahamkan Al-Qur’an dan mengimplementasikan n domestik kehidupan nyata.



d.



Takhlik khuluk muslim yang seimbang.



e.



Menanamkan iman nan kuat



f.



Menjatah arahan bagi dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dan sumber-perigi kebaikan nan ada di dunia.



g.



Menetapkan undang-undang agar setiap muslim mampu memberikan sumbangsih dan kreatif untuk mencapai kemajuan.



h.



Membentuk masyarakat muslim nan betul-betul Qur’ani.



i.



Membimbing umat dalam memerangi kejahiliyahan.


Mengenai intensi mulai sejak mempelajari ‘Ulumul Qur’an adalah:



1.



Moga dapat mencerna burung Halikuljabbar ‘Aza Wajalla sepikiran dengan informasi yang dikutip oleh para sahabat dan para tabi’in tentang interprestasi mereka terhadap Al-Qur’an.



2.



Agar memafhumi cara dan gaya yang digunakan oleh para mufassir (ahli tafsir) privat menafsirkan Al-Qur’an dengan disertai penjelasan akan halnya penggagas-motor ahli tafsir yang ternama serta keistimewaan-kelebihannya.



3.



Agar mengerti persyaratan-persyaratan n domestik mengingkari Al-Qur’an



4.



Memafhumi ilmu-hobatan bukan yang dibutuhkan privat menafsirkan Al-Qur’an.


Kombinasi ‘Ulumul Qur’an dengan tafsir pun dapat dilihat berusul beberapa hal yaitu:


Fungsi ‘Ulumul Qur’an sebagai alat buat menafsirkan, yakni:



1.



Ulumul Qur’an akan menentukan buat seseorang nan membuat syarah alias meniadakan ayat-ayat Al-Qur’an secara tepat boleh dipertanggung jawabkan. Maka bikin mafassir ‘Ulumul Qur’an secara mutlak merupakan alat nan harus lebih dahulu dikuasai sebelum mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an.



2.



Dengan menguasai ‘Ulumul Qur’an seseorang hijau boleh menyingkapkan dan meresapi segala nan terkandung dalam Al-Qur’an



3.



‘Ulumul Qur’an bak kunci pembuka dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an sesuai dengan harapan apa nan terkandung di dalamnya dan mempunyai kursi sebagai ilmu muslihat dalam mengingkari Al-Qur’an.


Keistimewaan dan faedah Ulumul Qur’an yakni ibarat radas ataupun kunci lakukan mengkaji dan menidakkan alqur’an



a.



Ibnu Abi ad-Bumi : ulumul Qur’an perumpamaan lautan dalam yang lain bertepi dia merupakan instrumen lakukan mufassir.



b.



Az-zarqani : seumpama daya buat menjeput khazanah ilmu pengetahuan yang bukan terbandingkan dan budaya menyeluruh yang tinggi di dalam Al-qur’an.


Adapun faedah-faedah mempelajari Ulumul Qur’an antara lain :


  • Kreatif menguasai berbagai ilmu partisan privat gambar memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.

  • Membekali diri dengan persenjataan ilmu pengetahuan yang teladan privat rajah membela Al-Qur’an mulai sejak berbagai gugatan dan umpat yang muncul dari pihak lain.

  • Seorang pembahas (mufassir) akan lebih mudah intern mengartikan Al-Qur’an dan mengimplementasikan dalam kehidupan berupa.

  • Membentuk kepribadian mukmin yang seimbang.

  • Menanamkan iman yang kuat

  • Memberi arahan lakukan dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dan sumber-sumber kebaikan yang ada di bumi.

  • Menetapkan undang-undang agar setiap muslim mampu memberikan sumbangsih dan berkecukupan buat mencapai keberuntungan.

  • Membentuk umum muslim yang betul-betul Qur’ani.

  • Membimbing umat dalam memerangi kejahiliyahan.


Keutamaan Ulumul Qur’an,


Bukan dipungkiri pun bahwa Al-Qur’an adalah sumber bermula segala ilmu. Banyak teori-teori yang ditemukan pantat ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an yang sudah lalu turun beribu-ribu periode sebelumnya. Teori yang diungkapakan Harun Yahya tentang terbentuknya Bumi yang tidak tercipta secara kebetulan, melainkan sudah diatur sedemikian rupa secara implisit itu mutakadim cak semau n domestik Al-Qur’an inskripsi Luqman ayat 10-11. Dan untuk menggali poin-nilai dan substansi keilmuan yang ada dalam Al-Qur’an, Kita membutuhkan ilmu-ilmu yang berhubunngan dengannya. Berusul sinilah tampak keutamaan Ulumul Qur’an dibanding dengan aji-aji-guna-guna yang enggak.


[8]





Fungsi
‘Ulumul Qur’an
andai Standar atau Ukuran Tafsir
Apabila dilihat dari segi hobatan, ‘Ulumul Qur’an sebagai standar ataupun ukuran kata tambahan Al-Qur’an artinya semakin tangga dan mendalam ‘Ulumul Qur’an dikuasai oleh seseorang mufassir maka adverbia yang diberikan akan semakin mendekati kebenaran, maka dengan ‘Ulumul Qur’an akan bisa dibedakan adverbia yang shahih dan adverbia yang tidak shahih.


Suka-suka beberapa syarat dari mufasir ( mufassir) adalah:



1.



Akidahnya polos



2.



Tak mengikuti hawa nafsu



3.



Mufassir mengerti Ushul at-Kata tambahan



4.



Tukang dalam aji-aji riwayah dan dirayah hadits



5.



Mufassir memahami radiks-dasar agama



6.



Mufassir mengerti ushul fiqh



7.



Mufassir menguasai bahasa Arab


Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa ‘Ulumul Qur’an sangat terdepan dipelajari dalam rangka sebagai pijakan dasar privat memungkirkan Al-Qur’an maka itu para mufassir. Dapat dikatakan semakin dikuasainya ‘Ulumul Qur’an makanya mufassir maka semakin tinggilah kualitas tafsir yang dibuatnya.


2.5.

Dedengkot-tokoh Pandai Tafsir



1.



Syu’bah Ibn Al-Hajjaj



2.



Sufyan Ibn Uyaynah



3.



Pengasuh Ibn Al-Jarrah



4.



Ibn Jarir At-Thabari



5.



Jalaluddin Al-Bulqini



6.



Jalaluddin As-Suyuthi



7.



Abdullah Ibn Abbas



8.



Mujahid Ibn Jabr



9.



At-Thobari



10.



Ibnu Katsir



11.



Fakhruddin Ar-Rozi




Gapura III





Penutup



3.1.

Kesimpulan


Dari pembahasan yang sudah lalu disebutkan bisa disimpulkan bahwa secara terminologi, Ulumul Qur’an adalah kumpulan bilang ilmu yang gandeng dengan Al-Qur’an yang mempunyai ruang radius pembahasan nan luas. Pertumbuhan dan perkembangan Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melintasi proses secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al-Qur’an bersumber segi kedatangan dan pemahamannya. Kaprikornus, Al-Qur’an adalah pedoman umur bagi insan yang disajikan dengan status sastra yang tinggi. Kitab jati ini sangat berpengaruh terhadap semangat manusia semenjak Al-Qur’an diturunkan, terutama terhadap ilmu pengetahuan, peradaban serta kesusilaan cucu adam.




3.2.

Saran


Demikianlah tugas penyusunan makalah ini saya persembahkan. Tujuan kami dengan adanya catatan ini dapat menjadikan kita bagi lebih mencatat bahwa agama islam n kepunyaan khazanah keilmuan nan lewat dalam bakal berekspansi potensi yang ada di alam ini dan yakni langkah awal cak bagi membeberkan horizon keilmuan kita, kiranya kita menjadi seorang mukmin yang bijak sekaligus intelek. Serta dengan harapan dapat bermanfaat dan dapat difahami oleh para pembaca. Kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca, khususnya bersumber dosen mata orasi yang mutakadim membimbing kami dan para maha petatar demi kesempurnaan referat ini. Apabila ada kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami mohon maaf nan sebesar-besarnya.




DAFTAR PUSTAKA



Abdul Wahid Ramli, Drs.2002.Ulumul Qur’an. Jakarta : Aji Grafindo Persada.


Abdul, Halim M.1999. Mengarifi Al-Qur’an. Bandung : Marja’


Ahmad dan Ahmad Rofi’i Syadali,.
Ulumul Qur’an. Pustaka Setia. Bandung. 2000


Anwar, Rosihan.2006.Ulumul Qur’an. Bandung : Wacana Setia


Kementerian Agama RI, Op.cit., h. 854.


Mardan, Al-Qur’an:
Sebuah Pengantar Mengerti al-Qur’an Secara Utuh, (Cet. I; Makassar: Alauddin Press, 2009), h. 25


M. Quraish Shihab,
“Membumikan” Al-Qur’an: Keistimewaan dan Peran Wahyu dalam Vitalitas Masyarakat, (Cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999), h. 21


Muhammad Bakri Ismail,
Dirasat fi Ulum al-Qur‘an (Cet. II; Kairo: Dar al-Manar, 1999), h. 9.


Muni‘ Abd al-Halim Mahmud, Ahmad Syahatah Ahmad Musa, Abd al-Badi‘ Tepung Hasyim Muhammad,
Ulum al-Qur‘an al-Karim
(lengkung langit.d.), h. 49.


Nata, Abuddin.1992.Al-Qur’an dan Hadits. Jakarta : Raja Grafindo Persada


Shaleh, K.H.1992. Asbabun Nuzul. Bandung : C.V Diponegoro


Zuhdi, Masfuk.1997. Pengantar Ulumul Qur’an. Surabaya : Karya Abditama








[1]






M. Quraish Shihab,
“Membumikan” Al-Qur’an: Keefektifan dan Peran Visiun dalam Usia Umum, (Cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999), h. 21








[2]






Muhammad Bakri Ismail,
Dirasat fi Ulum al-Qur‘an (Cet. II; Kairo: Dar al-Manar, 1999), h. 9.








[3]






Muni‘ Abd al-Halim Mahmud, Ahmad Syahatah Ahmad Musa, Abd al-Badi‘ Abu Hasyim Muhammad,
Ulum al-Qur‘an al-Karim
(t.d.), h. 49.








[4]






M. Quraish Shihab, Op.cit., h. 62







[5]






Departemen Agama RI, Op.cit., h. 854.







[6]






Mardan, Al-Qur’an:
Sebuah Pengantar Mengarifi al-Qur’an Secara Utuh, (Cet. I; Makassar: Alauddin Press, 2009), h. 25








[7]






Muni‘ Abd al-Halim Mahmud, Ahmad Syahatah Ahmad Musa, Abd al-Badi‘ Abu Hasyim Muhammad, Op.cit., h. 50-54







[8]





Ahmad dan Ahmad Rofi’i Syadali,.
Ulumul Qur’an. Pustaka Setia. Bandung. 2000


Source: http://rioardi.blogspot.com/2016/02/ulumul-quran-dan-faedahnya-dalam.html