Tutorial Hiasan Tumpeng Dari Daun Pisang

HAND OUT
BOGA Radiks

“ LIPATAN DAUN DAN ALAS HIDANG”

X JASA BOGA

Oleh :
Divya Paradipta Falak.B
Universitas Negeri Malang

SMKN 1 TUREN
September 2022

Mata Pelajaran : Boga Asal

Materi Daya : Tisikan Patera dan Wana Hidang

Tujuan Pembelajaran :

Setelah mempelajari materi pembelajaran ini diharapkan peserta asuh dapat :

a. Menguraikan signifikansi lipatan patera dan pangan hidang dengan benar.

b. Mengklarifikasi fungsi tisikan daun dan alas hidang dengan tepat.

c. Memilah varietas atau macam-macam obrasan daun dan pangan hidang dengan

sopan.

d. Menganalisis kriteria bahan bakal membuat lipatan daun dan alas hidang dengan

benar.

e. Menentukan alat buat membuat lipitan daun dan alas hidang dengan bersusila.

f. Menyiapkan bahan dan radas buat membuat lipatan daun dan alas hidang dengan

tepat.

g. Mengklarifikasi anju-langkah membuat keliman patera dan hutan hidang dengan benar.

h. Membuat tisikan patera dan alas hidang dengan benar.

Jabaran Materi

 Pengertian

Lipatan daun adalah seni membentuk alias melipat daun pisang atau daun janur.

Jenggala hidang adalah tempat alias perkakas yang digunakan untuk meletakan hidangan substansial
kue-kue maupun ikan pauk. Jenggala hidang bisasnya diletakkan diatas alat begitu juga, pirirng,
tetampan, tampah, keranjang bambu, keranjang plastik dan lain-tidak.

 Fungsi

Funsgi alas hidang digunakan bakal menyervis ataupun meletakkan kue-kue tradisional dan
tumpeng. Padahal fungsi dari lipatan daun untuk paesan pada marginal alas hidang
ataupun ajang hidang.

 Sasaran Untuk Membuat Lipatan Daun dan Alas Hidang

Jenis daun nan bisa digunakan adalah

1. Patera pisang
a. Patera pisang batu
Ciri-ciri :
1) Warna daun hijau panah
2) Tulang daunnya rapat
3) Tidak mudah patah
4) Tidak mudah sobek
5) Lembut bila dipegang
b. Daun pisang kepok
Ciri-ciri :
1) Warna daun hijau tua
2) Tulang daunnya besar, hierarki dan bergairah
3) Regas
4) Mudah kotong
c. Daun pisang raya
Ciri-ciri :
1) Warna hijau cerah
2) Tulang daun besar, kasar, pendek, regas
3) Mudah sobek
d. Daun pisan nan sedang (lain sesak tua)
Ciri-ciri :
1) Mudah dibentuk
2) Tidak cepat kering
3) Warna wilis
4) Lemak tulang patera tak berlebih besar dan menonjol

Penanganan daun

1) Daun mauz nan digunakan sepatutnya memperalat daun mauz batu karena
tidak mudah robek. Memilah-milah daun yang bogok dan lain terlalu sepuh.

2) Daun pisang jenis lain normatif serta mudah sobek, dan suka-suka beberapa jenis patera
mauz nan dapat menyebabkan kue-kue tradisional menjadi berwarna kebiruan.

3) Apabila daun pisan sudah lalu sesak wreda sehingga dogmatis boleh dilayukan dahulu
dengan dijemur kurang berasal 5 menit (agar enggak terlalu coklat) atau diangin-
anginkan semalaman.

4) Patera bisa juga dilayukan diatas nyala api atau uap air panas, agar lemas dan
tidak mudah robek, sahaja hal ini akan menyebabkan warna daun menjadi coklat
dan adv minim baik untuk digunakan.

5) Saat dilipat daun jangan terlalu banyak ditekan-tekan dengan tangan sepatutnya
permukaanya teguh licin dan tak berubah warna.

2. Daun pandan
Membeda-bedakan patera nan demes supaya lebih mudah dibentuk. Kemudiaan cuci bersih daun pandan
yang akan digunakan

3. Daun kerambil fragmen pucuk berwarna kuning (janur)
Pilih yang masih cukup umur dan bercat kuning lembut supaya rona suguhan enggak
terpengaruh.

 Perlengkapan nan Digunakan

1. Perlengkapan pemotong
a. Pisau
Berfungsi untuk memotong atau membagi guratan puas daun.
b. Gunting
Berfungsi buat memotong daun, gunakan gunting yang besar dan tajam.

2. Alat kaitan
a. Biting lidi
b. Stapler
c. Jarum jahit dan benang

3. Alat lainnya
a. Tusuk sate
b. Lap zakiah
c. Penyemprot isi air
d. Alat hidang : tampah, nyiru, sterofoam, kranjang rotan, baki plastik, dll

 Bentuk-bentuk Jenggala dan Tempat Hidang

1. Hutan hidang
Samir yaitu daun mauz yang dipotong mengajuk tulangtulangan dari alat hidang yang
digunakan sebagai hutan berpunca saji boleh berbentuk bulat, bulat telur, segi empat, dll.
Selain bakal alas perlengkapan hidang samir juga dapat digunakan buat alas perut seperti
aneka kue, kue tok, bakpao, dll.

2. Wadah hidang
a. Pincuk
pincuk adalah ajang berasal daun pisang yang dilipat menjadi segitiga sama dengan
kerucut dengan disemat lidi dibagian ujung. Umumnya digunakan buat hidangan
begitu juga, pecel.

b. Sudi
Sudi merupakan wadah dari duan pisang yang berbentuk lingkaran dengan ujung
segitiga lancip di bagian tengahnya. Biasanya digunkan bikin lauk gersang, kue,
jajan pasar, seperti klepon, dll.

c. Takir
Takir ialah wadah nan terbuat berpangkal daun mauz dan dilipat berbentuk persegi
panjang sebatas menyerupai mankok peti persegi pangkat, dikedua ujung lipatan
disematkan lidi sepatutnya lebih langgeng. Biasanya digunakan laksana hidangan yang
berkuah atau basah sebagaimana, dodol sumsum, bubur, kue nampan, dll.

d. Sumpil
Sumpil adalah pembungkus makanan terbit patera pisang berbentuk segitiga sama kaki dan
disemat lidi supaya tak mudah lepas. Suguhan yang rata-rata dibungkus
menggunakan kelipat sumpil adalah kue lopis.

e. Tum
Tum adalah bungkusan semenjak daun mauz dengan menyulap kedua ujung daun pisang
yang berbentuk persegi ke atas dan disemat lidi puas babak tengah atas. Biasanya
digunakan bagi menyampu suguhan berkuah atau basah seperti, aneka botok.

f. Tempelang
Tempelang adalah pembungkus nafkah nan dibuat dari daun mauz dengan
melipat-bekuk daun minus menyematkan lidi. Biasanya digunakan cak bagi
membungkus nasi namun sekali lagi boleh digunakan cak bagi membungkus aneka kue
seperti mana, naga sari, dll.

g. Pasung
Pasung adalah cara memalut makanan dengan mengulung daun pisang
menjadi kerucut, selain daun pisang pasung kembali dapat menggunakan daun kelapa.
Galibnya bungkusan ini diisi dengan lepa serbuk beras, santan, dan gula merah
sehingga menjadi kue pasung

h. Pinjung
Pinjung ialah pembungkus nafkah dari daun pisang nan dibentuk kerucut lalu
sisa daunnya diselipkan sebagai penutupnya. Biasanya digunakan untuk hidangan
seperti botok, meniran, dll.

i. Lontong
Lontong adalah buntelan daun pisang yang digulung lebih lagi dahulu dan
disemat disalah suatu ujungnya kemudian dimasukkan bahannya dipadatkan lalu
disemat ujung lainnya pun.

j. Lemper
Lemper adalah sampul daun mauz yang mirpi lontong namun berbeda prinsip
membungkusnya. Lemper diletakkan disalah satu arah daun pisang lalu digulung
ke arah tengah kemudian dipadatkan dan disemat dengan lidi. Selai digunakan
untuk membungkus lemper selongsong ini boleh digunakan bagi membungkus
arem-arem.

 Bentuk-Bentuk Lipatan Daun

1. Sirip ikan / Tembakau Ikan
a. Cabut selembar patera pisang dimensi 15 x 4 cm atau sesuai keperluan
b. Tinggal bekuk menjadi sepenggal putaran
c. Gulung jihat kanan dua kali sampai ujungnya hingga ditengah daun
d. Obrasan arah kiri dan kanan harus bertemu ditengah
e. Lakukan hal nan seperti mana sisi kidal
f. Kemudian sematkan pada fragmen sumber akar dengan lidi atau stepler dan gunting
bagian bawahnya hingga segeh

2. Ceker garuda
a. Ambil satu lembar patera mauz ukuran minknal 12 x 5 cm
b. Lipat seperti keliman radai ikan. Kemudian tekuk sisi kanan ke tengah dan tekuk
sisi kiri ketengah
c. Kemudian sematkan sreg bagian asal dengan lidi ataupun stepler dan gunting
bagian bawahnya sampai rapi

3. Kakas garuda isi
a. Ambil suatu makao daun pisang format 15×3 cm.Sebelah yang keras atau bagian
hampir pelepah dilipat kesisi yang lemah hingga membentuk segitiga

b. Gulung paisan atas hingga tepat di paruh

c. Bekuk sisi kanan ketengah dan lipat sisi kiri ke tengah

d. Kemudian sematkan pada bagian bawah dengan lidi atau stepler dan gunting
bagian bawahnya sampai rapi

4. Mawar
a. Ambil selembar patera pisang matra minimal 8 x 5 cm ataupun sesuaikan besar
kecilnya dengan tempat yang akan digunakan
b. Kemudian lipat sisi kanan ke bagian tengah demikian juga jihat kiri
c. Lipat sisi kanan menutupi sisi kidal
d. Lipat lagi bagian sisi sehingga membentuk belengkokan-lekukan
e. Susun tiga atau catur keliman daun kemudian sematkan dan rapikan

5. Kuku gadis alias kuku jari
a. Rampas lembar patera mauz dengan ukuran paling kecil 20 x 7 cm alias sesuai
dengan kebutuhan
b. Letakkan daun dalam posisi horizontal, bagian lembut disebelah kanan
c. Renggut noktah tengah tetapi tidak dilipat
d. Gulung patera berusul kanan dengan tangan kanan sebatas sangat
e. Kemudian sematkan pada bagian bawah dengan lidi atau stepler dan gunting
babak bawahnya hingga beres

6. Kelopak Teratai
a. Potong selembar daun dengan format 8 x 18 cm
b. Lipat 1/3 bagian daun ke arah paruh dimulai berpangkal sebelah kanan kemudian kiri
sehingga membuat satu segitiga sama kaki
c. Balik ke jihat depan dengan garis daun yang melintang / horisontal terletak di
sisi depan
d. Tekuk bagian tengah daun yang sudah berbentuk segitiga itu ke sebelah depan,
kedalaman tekukan ±1 cm sehingga menciptakan menjadikan sama dengan takir

e. Lipat putaran kiri daun dengan rataan menghadap ke arah depan dimulai semenjak
sisi kiri daun

f. Lakukan hal nan sama puas fragmen sebelah kanan
g. Terbentuk kelopak bunga teratai

 Penyimpanan Lipatan Daun, Alas Hidang dan Wadah Hidang

1. Bila tidak segera digunakan simpan patera kerumahtanggaan kulkas, tetapi terlebih dahulu
disemprot dengan air dan akuisisi kedalam plasrik nan diberi lubang

2. Jangan menyimpan daun secara berpangkat privat kantung pastik dengan suhu kamar
karena daun akan menguap dan warnanya akan menjadi kecoklatan

3. Bila wadah lipatan daun beum dipergunakan, bungkus dengan lap basah kemudian
simpan privat kulkas pada rak bagian bawah

4. Seandainya patera pisang dibentuk wadah suguhan seperti takir, sudi, dll rendam n domestik air
dan simpan dikulkas. Ini akan mewujudkan waran daun pisang ki ajek segak

5. Setelah lipatan daun ditata ataupun disusun lega alat hidang , bisa dioless dengan minyak
goreng baru kejadian ini bisa dilakukan bila rubrik ber-AC

 Aplikasi Hasil Lipatan Patera dan Rimba Hidangan

DAFTAR RUJUKAN

Hermain, Faiza. 2001. Kreatif Dengan Buah Bugar. (Online).
(https://books.google.co.id/books?id=47qxRpKJlowC&dq=wadah+saji+bersumber+sayuran+dan
+buah&hl=id&sitesec=reviews)

Maulida, Wita. 2022. Boga Bawah. Malang: PT. Kuantum Buku Sejahtera
Rusmini, W. 2022. Boga Sumber akar 2: Persiapan Dasar Masakan Indonesia. Jakarta:
Kemendikbud.
Yahyono, Sufi S. 2009. Aneka Kreasi Tumpeng. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Terdepan.

Source: https://anyflip.com/fkxcl/blqy/basic