Wa Ahsin Kamaa Ahsanallahu Ilaika

Bismillah.

Alhamdulillah atas nikmat iman dan belas kasih nan Tuhan berikan kepada kita. Tanpa nubuat dan sambung tangan Halikuljabbar kita tidak boleh sholat, tidak bisa puasa, bahkan tidak bisa menghafal-Nya.

Salah suatu congor yang sering terdengar berpangkal para penimba aji-aji di majelis para ulama ketika hendak menyoal atau melanjutkan mengimlakan kitab yang dikaji adalah
‘ahsanallahu ilaikum’
yang artinya,
“Hendaknya Allah mencurahkan ihsan/kebaikan kepada anda.”

Di privat kalimat ini terkandung doa yang sangat agung dari para penimba ilmu bikin para guru dan pembimbing mereka. Doa itu berisi petisi kepada Allah semoga menumpahkan kepentingan kepada guru-master mereka. Sungguh sani segala yang mereka ucapkan. Hal ini mengingatkan kita akan kalimat senada nan bosor makan diucapkan oleh para ulama di sela-sadel penjelasan mereka. Begitu juga yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
rahimahullah
dalam karya-karyanya
‘moga Tuhan merahmatimu’
atau
‘semoga Yang mahakuasa membimbingmu untuk taat kepada-Nya’.

Hal ini juga mengingatkan kita akan maksud yang adv amat indah di balik kalimat-kalimat ini. Sebagaimana nan dijelaskan oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh
hafizhahullah
bahwa kalimat semacam ini memberikan pelajaran bahwa sesungguhnya ilmu itu dibangun di atas rasa kasih sayang; gayutan belas kasih rajin antara penatar dengan pelajar.

Ya, sifat karunia sayang ataupun pemberian sangat berfaedah internal usia. Karena rasam ini pula Allah menurunkan hujan abu. Karena adat ini pula Almalik mengutus para rasul dan menaruh kitab-kitab. Sifat rahmat adalah sifat nan habis terpuji. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
sekali lagi memerintahkan kita untuk memanjakan sesama dan menjanjikan bahwa orang-orang yang memiliki sifat pemurah akan disayangi maka dari itu Allah Nan Maha Pemurah. Inilah salah satu bentuk perwujudan ‘kaidah’
al-jazaa’u min jinsil ‘amal; bahwa peperangan itu sekaum dengan amalan. Barangsiapa menganakemaskan anak adam lain kesudahannya adalah mendapatkan karunia sayang.

Kalimat
‘ahsanallahu ilaikum’
mungkin singkat tetapi sarat akan makna. Sebuah kalimat yang mencerminkan ungkapan terima kasih dan penghargaan para pelajar kepada gurunya. Seperti anak salih nan mewiridkan manusia tua bangka ialah amalan nan lalu utama, maka sedemikian itu lagi murid yang salih dan senantiasa mendoakan guna bagi guru-gurunya. Inilah yang diajarkan oleh para cerdik pandai rabbani kepada kita bakal berusaha menghormati dan mendoakan kebaikan bagi guru-hawa kita. Tidakkah kita ingat ucapan Hasan al-Bashri
rahimahullah,
“Jikalau tak karena eksistensi para ulama niscaya manusia sama persis dengan binatang.”

Apabila kita cermati keadaan para ulama kita pun akan teringat ucapan Imam Ahmad bin Hanbal
rahimahullah
tentang besarnya jasa cerdik pandai dan buruknya tanggapan kebanyakan manusia kepada mereka. Dia mengatakan,
‘fa maa ahsana atsarahum ‘alan naas, wa maa aqbaha atsaran naasi ‘alaihim’
yang artinya,
“Betapa indah pengaruh yang mereka berikan kepada basyar, sementara alangkah buruk tanggapan/perlakuan manusia kepada mereka.”

Tidakkah kita pulang ingatan bagaimana kerasnya perjuangan dakwah Utusan tuhan
shallallahu ‘alaihi wa sallam
terlebih anda dijuluki
‘orang gila’
‘penyair’
‘penokoh’
dan gelaran-gelaran buruk lainnya. Bukan itu saja malar-malar engkau juga harus terusir berusul kampung halamannya, dilempari dengan batu ketika berdakwah ke Tha’if, dilumuri dengan isi perut gamal ketika sujud, menjadi objek makar dan pembunuhan, diboikot, diracun, dan lain sebagainya. Semacam itu pula para sahabat yang rela mempertaruhkan nyawanya demi membela agama dan mempertahankan aqidahnya. Tidakkah kita ingat siksaan yang dialami Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir beserta kedua orang tuanya?

Kalimat
‘ahsanallahu ilaikum’
mungkin hanya beberapa introduksi. Akan tetapi ia memuat begitu banyak faidah dan cak bimbingan bagi kita. Kalimat-kalimat yang ringkas dan munjung manfaat semacam ini lah nan kita butuhkan bikin menimbun pundi-pundi pahala. Di saat banyak manusia sibuk dengan komentar-komentar dan update status yang memperkeruh suasana, kita dahulu penis bikin terus berdzikir dan mendoakan keefektifan bagi diri kita seorang dan tembuni-saudara kita.

Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
berbicara,
“Dua buah kalimat yang ringan di verbal hanya selit belit di atas timbangan dan dicintai oleh ar-Rahman; ‘subhanallahi wa bihamdihi subhanallahil ‘azhim’.”
(HR. Bukhari). Keadaan ini mengingatkan akan besarnya nikmat lisan. Oral lakukan bercakap-kata nan baik, verbal bakal berdzikir dan memuji Yang mahakuasa. Lisan yaitu nikmat yang adv amat besar. Akan tetapi legit ini akan berubah menjadi bencana saat tidak kita gunakan dalam kebaikan dan ketaatan. Betapa banyak kehancuran kulur gara-gara lisan…

Kita sekali lagi mengerti bahwa riuk satu kepentingan kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
yaitu kalimat yang ringkas namun sarat akan makna dan faidah. Itulah yang absah disebut maka dari itu para jamhur dengan istilah
jawaami’ul kalim. Kalimat-kalimat nan sumir tetapi sarat akan makna. Begitulah rasam pembicaraan salafus shalih. Para pendahulu kita nan asli memberikan nasihat dan pesan yang ringkas tetapi sarat faidah. Seperti kalimat nan dikatakan makanya Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu,
“Seandainya kudus hati kita niscaya engkau tidak akan pernah merasa kenyang pecah menikmati tuturan Rabb kita (ialah al-Qur’an).”

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kalimat
‘ahsanallahu ilaikum’
adalah tahmid yang sangat agung. Para jamhur kita mutakadim mengajari kita untuk mewiridkan kebaikan kerjakan tembuni-uri kita. Karena salah satu jenama keutuhan iman itu adalah ketika kita mencintai guna bagi saudara kita begitu juga kita mencintai kebaikan itu bagi diri kita sendiri. Terlebih lagi seandainya kita mendoakan guna untuk saudara kita bersumber jauh -tidak di hadapannya- maka malaikat akan mewiridkan maslahat serupa bakal kita. Mungkin tangan kita terlalu pendek buat membantu kesulitan dan kesusahan saudara kita, tetapi lisan kita boleh mendoakan kemustajaban untuknya…

Demikianlah pelecok suatu sifat orang islam tulen, kamu akan menjaga kaum muslimin lainnya dari kejahatan lisan dan tangannya. Terlebih lebih daripada itu dia akan menghamburkan kebaikan menerobos lisannya. Ia akan mengajak kepada yang ma’ruf dan melarang berbunga yang mungkar. Anda akan menjalin wejangan dalam kebenaran dan petuah untuk menunaikan janji kesabaran. Anda akan mendoakan kemujaraban bagi saudaranya, mendoakan karunia bagi kaumnya, meratibkan ampunan bakal kaum muslimin, dan yang paling utama diantaranya adalah mendoakan kebaikan bagi kedua orang tuanya, manfaat bagi guru-gurunya, dan kebaikan buat para penguasa kaum muslimin.

Source: https://www.al-mubarok.com/ahsanallahu-ilaikum/

Posted by: caribes.net