Wa Tasimu Bihablillahi Jami An

Akhir-penghabisan ini kita cinta disuguhi pelbagai konflik, yang kadang sengaja ‘dibuat’. Tidak sedikit fitnah, perceraian, dan perselisihan terjadi namun cak bagi berburu kepentingan pribadi atau golongan. Balasannya, persatuan, persahabatan, dan koneksi menjadi tersisihkan.

Menyambut hajat ki akbar –Pemilihan Umum (Pemilu) 2022–, tidak langka kita disuguhi praktik-praktik kasus intoleransi agama. Polarisasi masyarakat yang terjadi di Indonesia dapat menyebabkan kerentanan nan tinggi sehingga rentan unjuk konflik mengufuk. Dan, praktik kampanye ketatanegaraan nan mulai mengarah ‘pergesekan’ lega unsur suku, ras, agama, dan antar golongan atau SARA harus dihentikan.

Jika kita menelusuri dalam Al-Qur’an, surat Ali Imran ayat 103, Sang pencipta Swt dengan tegas berfirman:
‘Wa’tasimu bihablillahi jami’an wa la tafarraqu’,
berpijak teguhlah di jalan Allah, di tali Allah, dan janganlah bercerai-berai. Jelas sekali, persatuan merupakan sesuatu yang sangat terdahulu, buat dibangun, dirawat, dilestarikan.

Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bersabda, “Anak adam beriman, yang satu dengan lainnya seperti bangunan yang saling memekakkan suatu separas enggak.”. Menjaga persatuan itu penting. Karenanya, konflik, perpecahan, kita cocok merupakan hal nan harus dihindari. Rasulullah saw telah memperingatkan kaum Muslimin akan bahaya perpecahan dan perselisihan serta menjelaskan akibat berusul keduanya, yang berupa kebinasaan dan kehancuran. “Janganlah kalian bertengkar, karena orang-orang yang berselisih sebelum beliau nyata-substansial telah mengalami fasad.”

Tersapu hal ini, Tuhan Swt mewajibkan kabilah Muslimin buat buru-buru mencari perkembangan keluar takdirnya terwalak pergesekan di antara mereka seyogiannya kebobrokan yang terdapat di dalamnya tidak tersebar luas. Sang pencipta SWT berfirman, “Dan apabila dua golongan sosok mukmin bergulat, maka damaikanlah di antara keduanya.” (QS. Al-Hujurat: 9)


Indonesia itu luar biasa.

Bayangkan! Besaran penduduknya kian berpunca 250 miliun spirit, Indonesia ialah negara gugusan pulau terbesar di dunia dengan jumlah kuantitas pulau mencapai 17.508 pulau. Terdiri dari 5 gugusan pulau samudra dan 30 keramaian kepulauan kecil. Termasuk 9.634 pulau yang belum diberi jenama dan 6.000 pulau nan tidak berpenghuni. Di dalamnya suka-suka 3 pecah 6 pulau terbesar didunia, yaitu: Kalimantan laksana pulau terbesar ketiga di dunia dengan luas 539.460 km², Sumatera  luasnya 473.606 km² dan Papua yang luasnya 421.981 km².

Di dalamnya terdapat beragam suku bangsa. Cak semau 1340 suku bangsa dengan corak kebudayaan yang berlainan-beda. Agama di Indonesia, lagi bermacam-macam, minimum enggak, terdapat enam agama yang dipeluk mayoritas masyarakat. Masih ditambah lagi penganut ajun. Dilihat bermula pengikut organisasi kemasyarakatan, sekali lagi lampau banyak variasinya. Belum kembali keramaian partai kebijakan. Luar biasa majemuknya.

Penulis optimistis, Indonesia dengan segala keragamannya merupakan anugerah nan dihadiahkan Allah swt bikin bangsa Indonesia. Makanya karena itu, tugas kita sebagai masyarakat Indonesia adalah mensyukurinya. Bersyukur dengan mandu merawat Indonesia menjadi ‘baldatun thayyibun wa rabbun ghafur’. Dengan demikian, benar jika semboyan Indonesia adalah ‘Bhineka Tunggal Ika’.

Kita, andai generasi penerus bangsa, sudah lalu seharusnya dapat menghargai para
f
ounding fathersnasion ini dengan menelorkan gagasan cerdas dan ide gemuk dalam pigura persatuan dan kesatuan. Tantangan segara yang kini dihadapi adalah bagaimana kita merawat apartemen besar Indonesia.

Merawat persatuan dan keesaan harus didudukkan secara setimbang. Dilihat terbit dimensi hubungan manusia, ada dua dimensi pernah,
habl minallah
dan
habl minannaas. Urusan
habl minallah
harus berpijak pada aqidah nan diyakini, provisional
habl minannaas,dibangun atas semangat mensyukuri misal bangsa Indonesia.

Andai umat Islam, kita harus optimistis bahwa agama Islam yaitu agama yang paling kecil benar. Di sisi lain kita juga berpengharapan bahwa ada uri non mukminat yang kembali berpengharapan dan percaya kepada agamanya sebagai agama yang otentik,genuine, yang mereka beriktikad. Kita harus boleh memuliakan itu. Itulah konsep
habl minallah.

Sedangkan, intern vitalitas berbangsa dan bernegara di Indonesia, kita semua tahu bahwa Indonesia merupakan negara nan dibangun atas kesepakatan yang berdasar konstitusi, Pancasila dan UUD 1945. Jelas, kita tidak boleh kejedot konstitusi Negara tersebut.

Barang siapa yang menyampuk konstitusi, Rasulullah bersabda ‘Man qatala nafsan mu’aahadan bighairi hillihaa fa haraamun ‘alaihil jannah an yasyumma riihahaa’,
barang mungkin yang membunuh seseorang yang telah terikat n domestik sebuah konstitusi, dalam sebuah perjanjian bersama minus alasan benar, maka haram baginya bau suwargaloka.

Al-Qur’an terlampau menganjurkan dan mewajibkan kita buat menaati konstitusi negara. Inilah wahi toleransi yang ada di dalam Selam. Ialah meyakini agama kita umpama agama yang paling benar, namun patuh menghargai khalayak enggak. Sementara, orang lain orang tak juga akan menghargai dan meyakini hal yang selaras sebagai halnya kita. Konsekuensinya, kita bisa hidup rukun, bersama privat bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah nan dinamakan
habl minannaas.

Menjaga persatuan ialah pelecok satu bagasi di antara kewajiban lainnya. Di pengunci catatan ini, dabir menegaskan pula bahwa cara kita berlega hati seumpama hamba allah Indonesia yaitu dengan merawat Indonesia. Mensyukuri eco yang sudah lalu diberikan kepada bangsa Indonesia dapat dilakukan dengan banyak cara. Baik melalui urut-urutan pendidikan, budaya, ekonomi, setakat sosial politik.

Merawat Indonesia dengan terus menjaga persatuan dan kesatuan serta tetap ber-Ketuhanan yang Maha Esa. Seperti mana yang termuat intern pancasila. Silakan, berterima kasih, karena sudah ditaqdirkan Allah swt menjadi cucu adam Indonesia.
[ahf]


What’s Your Reaction?

Abdul Halim Fathani

Abdul Halim Fathani merupakan dosen di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Selam Malang. Lahir di Lamongan, tepat Hari Pahlawan 1983. Pendidikan tinggi S1 Ilmu hitung ditempuh di UIN Malang, dan melanjutkan S2 Pendidikan Matematika Universitas Distrik Malang. Dia berkesempatan ‘nyantri’ di pesantren Tanwirul Qulub dan Al-Ma’ruf, keduanya di Lamongan. Memiliki hobi mengaji spontan menulis dan selalu menjadikan “matematika” seumpama perspektif. Berbagai rupa tulisannya dapat dibaca di berjenis-jenis media massa/online. Ada yang dipublikasikan dalam bentuk muslihat, artikel jurnal ilmiah, maupun prosiding ilmiah. Ada yang berperan seumpama penulis spesial maupun penyokong dalam buku “himpunan”. Aktif di Peguyuban “Sahabat Pena Nusantara” dan “Forum Literasi Matematika”. Korespondensi via email: [email protected] atau HP. +6281334843475.

Source: https://artikula.id/masthoni/menjaga-persatuan-merawat-indonesia/

Posted by: caribes.net