Wajah Ali Bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib
علي بن أبي طالب
Rashidun Caliph Ali ibn Abi Talib - علي بن أبي طالب.svg

Ali
radhiallahu anhu

Khalifah Kekhalifahan Rasyidin Ke 4

sudut pandang Sunni
Berkuasa 20 Juni 656 – 29 Januari 661
(4 waktu, 224 periode)
Pendahulu Utsman kedelai ‘Affan
Penerus Hasan kedelai Ali
Pastor
sudut pandang Syi’ah
Berkuasa 632–661
Penerus Hasan bin Ali
Kelahiran 15 September 601 (13 Rajab 21 SH)
Ka’bah, Makkah, Jazirah Arab[1]
Mortalitas 29 Januari 661 (21 Ramadan  40 H)
(arwah 59)[2]
[3]

Kufah, Mesopotamia
Pemakaman

  • Istana Pemerintah, Kufah (menurut Sunni).[4]
    [5]
    [6]
  • Zawiat Imam Ali, Najaf (menurut Syiah)
Suku Anak lelaki Hasyim (Quraisy)
Nama acuan
‘Alī ibn Abī Ṭālib bahasa Arab:
علي ابن أبي طالب
Stempel dan tanggal waktu
Khulafaur Rasyidin: 656–661
Ayah Abuk Thalib
Ibu Fatimah binti Asad
Pasangan
  • Fathimah binti Muhammad
  • Umamah binti Abi al-Ash bin ar-Tuhanku’
  • Fathimah binti Hizam
  • Laila binti Mas’ud
  • Asma’ binti Umais
  • Khaulah binti Ja’far
  • Ash-Shahba’ binti Rabi’ah
  • Ummu Sa’id binti Urwah
Momongan
  • Hasan
  • Husain
  • Zainab
  • Ummu Kultsum
  • Muhsin
  • Muhammad
  • Al-‘Abbas
  • ‘Abdullah
  • Abu Bakar
  • Utsman
  • Umar
  • Ubaidillah
  • Muhammad al-Ashghar
Agama Islam

‘Alī bin Abī Thālib
(Arab:
علي بن أﺑﻲ طالب
, Persia:
علی پسر ابو طالب
) (lahir sekitar 13 Rajab 23 SH/599 Serani – wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/661 Masehi) adalah khalifah keempat yang berkuasa dan Imam Syiah pertama. Kamu termasuk golongan pemeluk Islam purwa dan riuk satu sahabat terdepan Nabi. Secara silsilah, Ali adalah sepupu dari Utusan tuhan Muhammad. Pernikahan Ali dengan Fatimah az-Zahra pun menjadikannya andai menantu Nabi Muhammad.

Bagaikan pelecok satu pemeluk Islam awal, Ali telah terlibat dalam berbagai ragam peran lautan sejak musim kenabian, kendati usianya terbilang muda bila dibandingkan sahabat terdahulu Nabi nan bukan. Ali mengikuti semua perang, kecuali Perang Tabuk, pengusung panji, juga berperan sebagai sekretaris dan pemandu pesan Rasul. Ali juga ditunjuk seumpama ketua pasukan pada Perang Khaibar.

Sepeninggal Rasul Muhammad, Ali diangkat sebagai khalifah atau pemimpin umat Islam selepas Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dalam tesmak pandang Sunni, Ali bersama tiga pendahulunya digolongkan umpama
Khulafaur Rasyidin.[7]
Di sisi lain, kelompok Syiah memandang bahwa Ali yang harusnya mewarisi kepemimpinan umat Islam seperti itu mangkatnya Nabi Muhammad atas tafsiran mereka dalam peristiwa Ghadir Khum, membuat kepemimpinan tiga khalifah sebelumnya dipandang tidak jamak. Masa otoritas Ali merupakan pelecok satu periode tersulit dalam sejarah Islam karena momen itulah terjadi perang sipil pertama dalam tubuh umat Mukmin yang berawal berusul terbunuhnya Utsman bin ‘Affan, khalifah ketiga. Terlepas bermula perbedaan pendapat tentang status Ali dan hak kepemimpinannya atas umat Islam, Sunni dan Syiah sepakat adapun pribadinya yang saleh dan bebas.

Perbedaan pandangan tentang pribadi Ali bin Abi Thalib

[sunting
|
sunting sumber]


Ahlussunnah (Sunni)

[sunting
|
sunting sumber]

Ahlussunnah memandang Ali bin Abi Thalib sebagai riuk seorang sahabat Nabi yang terpandang. Gayutan kekerabatan Ali dan Rasulullah sangat akrab sehingga ia merupakan seorang ahlul stanza semenjak Utusan tuhan ﷺ. Ahlussunnah juga mengakui Ali kacang Abi Thalib perumpamaan salah sendiri
Khulafaur Rasyidin
(khalifah yang mendapat wahi).

Sunni menambahkan nama Ali di belakang dengan

Radhiyallahu Anhu

alias
seharusnya Tuhan ridha padanya. Tambahan ini sama sebagaimana yang lagi diberikan kepada sahabat Nabi yang lain.

Sufi

[sunting
|
sunting sumber]

Sufi menambahkan segel Ali bin Abi Thalib dengan

Karramallahu Wajhah

atau
sepatutnya Halikuljabbar memuliakan wajahnya. Zikir kabilah Sufi ini sangat spesifik, bersendikan riwayat bahwa engkau tidak suka menggunakan wajahnya untuk mengaram hal-hal buruk bahkan yang sedikit sopan sekalipun.
[titit rujukan]

Dibuktikan n domestik sebagian riwayat bahwa dia tidak gemar memandang ke asal bila sedang berbimbing hampir dengan istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan internal banyak perjuangan, bila pakaian n antipoda melenggong bagian bawah dihinggapi sobekan pedang dia, maka Ali berat pinggul meneruskan duel hingga musuhnya bertambah dahulu memperbaiki pakaiannya.

Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kabilah Sufi bagaikan Pendeta dalam ilmu al-hikmah (divine wisdom) dan futuwwah (spiritual warriorship). Berusul dia bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh) ataupun
spiritual-brotherhood. Hampir seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah zuriat dia sesuai dengan catatan zuriat nan sah mereka miliki. Sama dengan lega tarekat Qadiriyah dengan pendirinya Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan pertalian keluarga simultan dari Ali melampaui anaknya Hasan bin Ali sebagai halnya yang tercatat dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani (karya Syekh Ja’far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.

Memoar

[sunting
|
sunting perigi]


Kelahiran & Kehidupan Keluarga

[sunting
|
sunting sendang]

Kelahiran

[sunting
|
sunting sendang]

Ali dilahirkan di Mekkah, negeri Hejaz, Ancol Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 masa sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi ataupun 600 (perkiraan). Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka’bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 musim, ada yang 30 waktu bahkan 32 tahun.

Dia bernama asli
Assad
bin Serbuk Thalib, bapaknya Assad yakni riuk seorang paman terbit Muhammad ﷺ. Assad yang berjasa
Singa
adalah harapan keluarga Tepung Thalib buat n kepunyaan penerus nan boleh menjadi motor pemberani dan disegani di antara kalangan Quraisy Mekkah.

Setelah memafhumi anaknya yang baru lahir diberi nama
Assad,
[butuh rujukan]

Ayahnya memanggil dengan
Ali
yang bermanfaat
Tinggi
(derajat di sisi Tuhan).

Nasib Sediakala

[sunting
|
sunting sumber]

Ali dilahirkan berpunca ibu yang bernama Fatimah binti Asad, di mana Asad merupakan anak asuh dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim mulai sejak sisi kiai dan ibu.

Kelahiran Ali kedelai Abi Thalib banyak membagi hiburan buat Rasul ﷺ karena engkau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya anak bini Serbuk Thalib memberi kesempatan bagi Nabi ﷺ bersama ampean dia Khadijah untuk momong Ali dan menjadikannya putra gotong. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Bubuk Thalib nan telah mengasuh Nabi sejak ia kerdil setakat dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.

Pubertas

[sunting
|
sunting sendang]

Detik Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Bani Ishaq menjelaskan Ali merupakan maskulin pertama yang mempercayai wangsit tersebut atau orang ke 2 nan percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini, Ali berusia sekitar 10 tahun.
[butuh rujukan]

Pada hayat remaja pasca- wangsit runtuh, Ali banyak berlatih langsung dari Nabi ﷺ karena sebagai anak asuh, berselesa camar dekat dengan Rasul hal ini berkelanjutan hingga sira menjadi menantu Utusan tuhan. Hal inilah yang menjadi bukti bikin sebagian kaum Sufi bahwa cak semau pelajaran-tutorial tertentu masalah ruhani (spirituality
intern bahasa Inggris atau kaum Salaf makin gemar menyapa istilah ‘Ihsan’) atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang diajarkan Nabi idiosinkratis kepada engkau tetapi lain kepada Petatar-petatar atau Sahabat-sahabat yang lain.

Karena bila guna-guna Syari’ah ataupun syariat-hukum agama Islam baik yang mengatur ibadah alias kemasyarakatan semua yang dipedulikan Nabi harus disampaikan dan diajarkan kepada umatnya, sementara masalah ruhani hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu dengan kapasitas masing-masing.

Didikan langsung berbunga Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek
zahir
(eksterior) maupun syariah dan
batin
(interior) ataupun tasawuf menempa Ali menjadi seorang teruna yang sangat cerdas, berani dan bijak.

Vitalitas di Mekkah sampai Pengungsian ke Madinah

[sunting
|
sunting sumber]

Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Rasul. Dia tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga turut waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah terlambat suatu lilin lebah perjalanan makanya nan sudah lalu meloloskan diri ke Madinah bersama Bubuk Bakar.

Spirit Ali di Madinah

[sunting
|
sunting sumber]

Akad nikah

[sunting
|
sunting sumur]

Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali menikah dengan Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad. Ali bukan menikah dengan wanita tak momen Fatimah masih hidup. Tersurat dalam
Sanat
Anak laki-laki Atsir, setelah itu Ali menikah dengan Ummu Banin binti Haram, Laila binti Mas’ud, Asma binti Umais, Sahba binti Rabia, Umamah binti Abil Ash, Haulah binti Ja’far, Ummu Said binti Urwah, dan Mahabba binti Imru’ul Qais.[8]

Julukan

[sunting
|
sunting sumber]

Saat Muhammad mencari Ali menantunya, ternyata Ali sedang tidur. Episode atas pakaiannya tersingkap dan debu mengotori punggungnya. Melihat itu Muhammad pun lewat duduk dan menerangkan punggung Ali kontan berfirman, “Duduklah wahai
Bubuk Turab, duduklah.”
Turab
yang berarti duli ataupun persil dalam bahasa Arab. Julukan tersebut adalah julukan yang paling disukai oleh Ali.

Pertempuran yang diikuti pada masa Nabi

[sunting
|
sunting sumber]

Perang Badar

[sunting
|
sunting sumber]

Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang permulaan n domestik rekaman Selam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, om Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam percekcokan, belaka semua sepaat beliau menjadi pemain andalan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 masa.

Perang Khandaq

[sunting
|
sunting sumber]

Perang Khandaq kembali menjadi syahid nyata keberanian Ali kedelai Abi Thalib ketika memerangi Amar polong Abdi Wud. Dengan suatu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar polong Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.

Perang Khaibar

[sunting
|
sunting sumber]

Pasca- Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian waktu Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga dari perang mengembari Yahudi yang tarik urat di Benteng Khaibar yang adv amat kukuh, halal disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat bukan mampu membuka benteng Khaibar, Nabi ﷺ bersabda:

“Besok, akan aku serahkan duaja kepada seseorang nan tidak akan melarikan diri, dia akan mencela iteratif-ulang dan Allah akan mengaruniakan kejayaan baginya. Yang mahakuasa dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Sang pencipta dan Rasul-Nya”.

Maka, seluruh sahabat pun zirnikh-angan buat mendapatkan keagungan tersebut. Belaka, tenyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat virginitas itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berakibat membunuh koteng prajurit musuh yang berani bernama Marhab habis menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.

Tangkisan lainnya

[sunting
|
sunting sendang]

Hampir semua persabungan engkau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili Utusan tuhan Muhammad bikin menjaga daerah tingkat Madinah.

Setelah Nabi wafat

[sunting
|
sunting sumber]

Sampai disini hampir semua pihak sejadi tentang riwayat Ali kedelai Abi Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat. Syi’ah berpendapat telah terserah wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi ﷺ wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga kapan Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka manusia-orang Quraisy bersepakat untuk menobatkan Duli Bakar.

Menurut riwayat dari Al-Ya’qubi dalam kitab Tarikh-nya Jilid II Menyebutkan satu peristiwa seumpama berikut. Dalam perjalan pulang ke Madinah seusai menunaikan ibadah haji ( Hijjatul-Wada’), lilin batik hari Rasulullah ﷺ bersama rombongan menginjak di suatu tempat sanding Jifrah yang dikenal dengan jenama “GHADIR KHUM.” Periode itu adalah hari ke-18 bulan Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya kemudia berkhutbah di depan jamaah sambil memegang tangan Imam Ali Polong Abi Tholib r.a. Dalam khutbahnya itu antara tidak beliau berkata: “Barang kali menanggap aku ini pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Sang pencipta, pimpinlah orang yang mengakui kepemimpinannya dan musuhilah sosok yang memusuhinya”.

Pengangkatan Abu Bakar misal Khalifah tentu tidak disetujui tanggungan Nabi, Ahlul Bait, dan pengikutnya. Bilang riwayat berbeda pendapat tahun pem-bai’at-an Ali kacang Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Suka-suka yang menarikhkan setelah Rasul dimakamkan, ada nan beberapa perian setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali membai’at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu heksa- bulan selepas meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan internal ummat.

Ada nan menyatakan bahwa Ali belum pantas cak bagi memegang jabatan Khalifah karena umurnya nan masih muda, ada pula nan menyatakan bahwa
kekhalifahan
dan
kenabian
moga tidak berada di tangan Anak lelaki Hasyim.

Sebagai khalifah

[sunting
|
sunting sumber]

Situasi pembunuhan terhadap Khalifah ‘Utsman bin Affan mengakibatkan kemelut di seluruh dunia Islam nan waktu itu sudah membentang hingga ke Persia dan Afrika Utara. Pembangkang nan waktu itu menguasai Madinah lain mempunyai pilihan tak selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah mengerasi dia, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melangkaui pendirian yang berbeda-beda.

Perumpamaan Khalifah ke-4 yang memerintah selama selingkung 5 musim. Masa pemerintahannya mewarisi kekusutan yang terjadi ketika periode pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Bagi pertama kalinya perang saudara antara umat Orang islam terjadi momen masa pemerintahannya, Peperangan Basra. 20.000 laskar pimpinan Ali melawan 30.000 legiun pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, Istri Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu cacat bisa diselesaikan karena fitnah yang sudah telanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) makanya Utusan tuhan Muhammad ﷺ momen dia masih hidup, dan diperparah makanya gelitikan-hasutan para perejah yang ada sejak zaman Utsman kacang Affan, menyebabkan perceraian di galangan kabilah muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya radu di situ, konflik melantur terjadi hingga penghabisan pemerintahannya. Pertempuran Shiffin nan melemahkan kekhalifannya juga berawal dari penyakit tersebut. Ali bin Abi Thalib, seseorang nan memiliki kecakapan dalam latar militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya.

Pembunuhan di Kufah

[sunting
|
sunting sendang]

Pada tanggal 19 Ramadan 40 Hijriyah, maupun 27 Januari 661 Serani, ketika sholat di Masjid Agung Kufah, Ali diserang oleh koteng Khawarij bernama Abdurrahman polong Muljam. Dia terluka oleh pedang yang diracuni oleh Abdurrahman polong Muljam detik ia madya bersujud ketika sholat dini hari.[9]
Ali memerintahkan anak-anaknya untuk tidak menyerang bani adam Khawarij tersebut, Ali malah berucap bahwa jika dia selamat, Abdurrahman kacang Muljam akan diampuni padahal kalau anda meninggal, Abdurrahman bin Muljam hanya diberi suatu pukulan yang sama (terlepas apakah dia akan meninggal karena pukulan itu ataupun enggak).[10]
Ali meninggal dua periode kemudian pada copot 29 Januari 661 (21 Bulan rahmat 40 Hijriyah).[9]
[11]
Hasan bin Ali memenuhi Qisas dan memberikan aniaya nan sama kepada Abdurrahman bin Muljam atas mortalitas Ali.[12]

Batih

[sunting
|
sunting sumber]

Orangtua dan moyang

[sunting
|
sunting sumber]

Ayah
— ‘Imran
(selingkung 539 – sekitar 619). Lebih dikenal dengan nama
Abu Thalib. Pemimpin Bani Hasyim. Riuk suatu pelindung penting Rasul Muhammad di Makkah. Terdapat perbedaan pendapat, utamanya antara lingkaran Sunni dan Syi’ah, tentang status keislamannya. Menurut Sunni, Tepung Thalib tidak masuk Islam sampai akhir hayatnya, sementara Syi’ah memandang bahwa Duli Thalib adalah seorang Muslim.

  • Cikal bakal —
    Syaibah
    polong Hasyim. Makin dikenal dengan ‘Abdul Muttalib.
  • Nenek —
    Fatimah
    binti Amr berpunca Ibnu Makhzum

Ibu

Fatimah
binti Asad.

  • Kakek —
    Asad
    polong Hasyim
  • Nenek —
    Fatimah
    binti Qais

Pasangan dan pertalian keluarga

[sunting
|
sunting sumber]

‘Ali menikahi okta- gula-gula setelah meninggalnya Fatimah az-Zahra.[8]
[13]

  • Fatimah
    (615–632). Cewek bungsu Nabi Muhammad dan Khadijah binti Khuwailid.

    • Hasan
      (624–670). Menjadi khalifah sejauh enam atau tujuh bulan pada waktu 661.
    • Husain
      (625–680). Menikah dengan Syahrbanu, putri Yazdegerd III, Yang dipertuan Sasaniyah terakhir. Terbunuh dalam Tentangan Karbala.
    • Zainab
      (626–681). Menikah dengan sepupunya, ‘Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib.
    • Zainab
      As-Sughra (Zainab Kecil), pula dikenal dengan
      Ummu Kultsum. Menikah dengan Umar kedelai Khattab. Mahar cak bagi pernikahannya sebesar 40.000 dirham[14]
      dan mereka umur sebagai suami ayutayutan pada tahun 638.[15]
      Tertulis Ummu Kultsum kombinasi memasrahkan hadiah parfum kepada Permaisuri Martina, istri Kaisar Romawi Timur Heraklius. Ibarat balasan, Martina menghadiahi rantai kepada Ummu Kulstum. Namun ‘Umar yang percaya bahwa istrinya tak sebaiknya ikut campur intern urusan kenegaraan karenanya menerimakan kalung tersebut ke kerumahtanggaan mal negara.[16]
      Kerumahtanggaan ki perspektif pandang Syi’ah, ijab kabul antara Ummu Kulstum dan ‘Umar adalah kisah rekaan.[17]
    • Muhsin. Terlahir senyap.
  • Khaulah binti Ja’far
    berpunca Anak laki-laki Hanifah. Ketika masyarakat Yamamah menolak membayar zakat sepeninggal Nabi Muhammad, Khalifah Duli Bakar memerangi mereka. Khaulah dan bilang wanita lain ditawan sebagai budak dan dibawa ke Madinah. Saat sukunya mengetahui nasib Asma, mereka mendatangi ‘Ali bin Abi Thalib kerjakan membebaskannya dari perhambaan dan melindungi martabat keluarganya. ‘Ali kemudian membeli Asma dan membebaskannya, kemudian menikahinya.

    • Muhammad bin al-Hanafiyah (637–700)
  • Umamah binti Abi al-Ash polong ar-Rabi’. Ibunya adalah Zainab, putri tertua Nabi Muhammad dan Khadijah binti Khuwailid. Ayahnya adalah Abu al-Ash kedelai ar-Rabbana’ dari Anak laki-laki Abdu Syams.

    • Muhammad al-Ausath
  • Fatimah
    binti Hizam. Juga dikenal dengan Ummul-Banin. Berasal dari Bani Kilab.

    • Al-‘Abbas
    • Utsman
    • ‘Abdullah
    • Ja’far
  • Laila
    binti Mas’ud

    • Ubaidillah
    • Abu Bakar
  • Asma’
    binti Umais. Secara keseluruhan, Asma menikah sebanyak tiga kelihatannya dan ‘Ali adalah junjungan terakhirnya. Laki pertama Asma yaitu ari-ari ‘Ali koteng, Ja’far bin Abi Thalib. Suami keduanya ialah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

    • Yahya
    • Aun
  • Ash-Shahba’
    binti Rabbana’ah

    • ‘Umar
    • Ruqayyah. Dikatakan ili ke anak asuh tanah raya India dan mendakwahkan Islam di sana setelah Pertentangan Karbala.
  • Ummu Sa’id
    binti Urwah

    • Ummul Hasan
    • Ramlah Kubra
  • Mahabba
    binti Imru’ul Qais

    • sendiri upik, meninggal ketika masih kecil
  • Ummu walad

    • Muhammad al-Ashghar

Banyak anak cucu Ali yang tewas terbunuh dalam Bantahan Karbala. Keturunannya yang masih cak semau saat ini merupakan para keturunan dari Hasan dan Husain (anak asuh Fatimah), Muhammad bin al-Hanafiyah (anak Khaulah), Abbas (anak Ummul Banin), dan Umar (momongan Ash-Shahba’).[8]

Keturunan Ali melewati putranya Hassan dikenal dengan Syarif, dan berasal jongkong Hussein dikenal dengan Sayyid. Sebagai nasab serempak Rasul Muhammad, mereka dihormati oleh Sunni dan Syi’ah. Keturunan Ali secara kesuluruhan dari para istrinya dikenal sebutan dengan Alawiyin atau
Alawiyah.

Lihat sekali lagi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Fatimah az-Zahra
  • Rabithah Alawiyah
  • Ahlul Bait
  • Sayyid

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    Lambung, Husein A.; Sheriff, Ali Mohamedjaffer (1993).
    Guidance From Qur’an
    (privat bahasa Inggris). Khoja Shia Ithna-asheri Supreme Council. Diakses tanggal
    11 April
    2022
    .





  2. ^

    Shad, Abdur Rahman.
    Ali Al-Murtaza. Kazi Publications; 1978 1st Edition. Mohiyuddin, Dr. Ata.
    Ali The Superman. Sh. Muhammad Ashraf Publishers; 1980 1st Edition. Lalljee, Yousuf N.
    Ali The Magnificent. Ansariyan Publications; January 1981 1st Edition.

  3. ^


    Sallaabee, Ali Muhammad.
    Ali ibn Abi Talib (piutang 2). hlm. 621. Diakses tanggal
    15 December
    2022
    .





  4. ^

    Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, (27 / 446)

  5. ^

    Wafayat al-A’yan, Ibnu Khallikan, (4 / 55)

  6. ^

    Tarikh Baghdad, Al-Khathib al-Baghdadi, (1 / 136)

  7. ^

    Biographies of the Prophet’s companions and their successors, Ṭabarī, translated by Ella Landau-Tasseron, pp.37-40, Vol:XXXIX
  8. ^


    a




    b




    c




    Sayyid Sulaiman Nadwi (2015).
    Ali bin Abi Thalib. Puspa Swara. hlm. 62. ISBN 978-979-1479-87-5.




  9. ^


    a




    b



    Tabatabaei 1979, hlm. 192

  10. ^

    Kelsay 1993, hlm. 92

  11. ^

    Kesalahan pengutipan: Tag
    <ref>
    enggak lumrah; tidak ditemukan pustaka untuk ref bernama
    Iranica

  12. ^

    Kesalahan pengutipan: Tag
    <ref>
    tidak sah; lain ditemukan pustaka kerjakan ref bernama
    Madelung 1997 p=309

  13. ^

    The Life of Hadrat Ali

  14. ^

    Muhammad ibn Jarir al-Tabari.
    Sanat al-Rusul wa’l-Muluk. Translated by Smith, G. R. (1994).
    Volume 14: The Conquest of Iran, hlm. 101. Albany: State University of New York Press.

  15. ^

    Muhammad ibn Jarir al-Tabari.
    Tarikh al-Rusul wa’l-Bermegah. Translated by Juynboll, G. H. A. (1989).
    Volume 13: The Conquest of Iraq, Southwestern Persia, and Egypt, hlm. 109-110. Albany: State University of New York Press.

  16. ^

    Muhammad ibn Jarir al-Tabari.
    Tarikh al-Rusul wa’l-Muluk. Translated by Humphreys, R. S. (1990).
    Volume 15: The Crisis of the Early Caliphate, hlm. 28. Albany: State University of New York Press

  17. ^

    Umar’s Marriage to Umm Kulthum in Shiite Narrations. (kaki langit.d) Retrieved from https://www.al-islam.org/critical-assessment-umm-kulthums-marriage-umar-sayyid-ali-al-husayni-al-milani/section-4-umars.

Pranala asing

[sunting
|
sunting mata air]

  • (Inggris)
    Ali kacang Abi Talib oleh I. K. Poonawala dan E. Kohlberg dalam Encyclopedia Iranica
  • (Inggris)
    Ali, artikel pada
    Enyclopaedia Britannica Online
  • (Inggris)
    Biography from USC’s MSA website Diarsipkan 2008-12-16 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    The Life of the Commander of the Faithful Ali b. Duli Talib by Shaykh Mufid in Kitab al-Irshad

Ali bin Abi Thalib

Bani Hasyim

Cabang pencilok
Quraisy


Lahir:
15 September 601


Meninggal:
29 Januari 661

Jabatan Selam Sunni
Didahului oleh:
‘Utsman bin ‘Affan
Khalifah

20 Juni 656 – 29 Januari 661
Diteruskan oleh:
Hasan bin ‘Ali
Jabatan Islam Syi’ah
Jabatan hijau Imam

632–661
Diteruskan oleh:
Hasan bin ‘Ali



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib

Posted by: caribes.net