Yesus Berjalan Di Atas Air

Posts tagged ‘YESUS Melanglang DI ATAS AIR’

MARILAH KITA MOHON KEPADA BAPA SURGAWI Mudah-mudahan DIA MENAMBAHKAN IMAN KITA


MARILAH KITA MOHON KEPADA BAPA Surgawi AGAR DIA MENAMBAHKAN IMAN KITA

(Teks Injil Misa Kudrati, Hari Seremonial Pekan Biasa XVIII – Selasa, 2 Agustus 2022)

Peringatan Fakultatif S. Eusibius Vercelli, Uskup

Peringatan Fakultatif S. Petrus Yulianus Eymard, Padri

Tanggungan Lautan Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat dr Portiuncula

Pasca- itu Yesus segera mendesak peserta-murid-Nya naik ke lambu dan menganjuri-Nya ke membelot, sedangkan Ia menyuruh orang banyak pulang. Sesudah sosok banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus mendaki ke atas giri cak bagi sembahyang seorang diri. Menjelang malam, Anda sendirian di situ. Lambu murid-siswa-Nya sudah sejumlah mil jauhnya bersumber pesisir dan diombang-ambingkan gelombang elektronik, karena angin sakal. Agak-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-pesuluh-Nya mematamatai Engkau melanglang di atas air, mereka tersentak dan berseru, “Itu mambang!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi lekas Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Petrus berkata kepada-Nya, “Tuhan, apabila engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus,”Datanglah!” Lalu Petrus turun berpangkal bahtera dan melanglang di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak, “Yang mahakuasa, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “Hai cucu adam nan kurang percaya, mengapa engkau panik?” Lalu mereka naik ke kano dan kilangangin kincir sekali lagi reda. Orang-hamba allah yang ada  di perahu menyembah Dia, katanya, “Sesungguhnya Engkau Anak Almalik.”

Setibanya di membelot mereka mendarat di Genesaret. Saat Yesus dikenal oleh sosok-bani adam di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Semua insan yang remai dibawa kepada-Nya. Mereka memohon kepada-Nya supaya diperkenankan walaupun hanya menyentuh jumbai jubah-Nya. Semua orang nan menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mat 14:22-36)

Referensi Permulaan: Yer 30:1-2,12-15,18-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:16-23,29

“Almalik, apabila kamu itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air”
(Mat 14:28).

“Lalu Petrus runtuh dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus” (Mat 14:31). Petrus merasa ketakutan dan tiba tenggelam. Setelah Yesus menariknya, Ia berseru: “Hai hamba allah yang kurang beriman, mengapa engkau mangut?” (Mat 14:31).

Apabila Yesus merasa kecewa terhadap iman Petrus yang minus teguh, bagaimana dengan iman para peserta lainnya yang masih berada di dalam perahu? Sekiranya Yesus bukan berkenan dengan insan yang tiba tenggelam ke dalam air seperti halnya Petrus, bagaimanakah dengan makhluk-orang nan berusaha bagi tenggelam koteng? Yesus bersabda:
“… jika Anak Individu itu nomplok, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?”
(Luk 18:8).

Saudari dan Saudara yang terkasih, ingatkah anda ketika para murid tidak mampu melasikan setan (nasib jahat) berasal tubuh anak remaja yang ngilu gila babi? Injil mencatat bahwa Yesus bukan menyalahkan setan, anak muda itu atau ayahnya. Yesus malah menyalahkan kurangnya iman padar murid-Nya:
“Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya aku bertutur kepadamu: Sekiranya dia mempunyai iman sebesar kredit sesawi sahaja kamu dapat berkata kepada giri ini: Mengimbit mulai sejak medan ini ke sana, – maka gunung ini akan mengimbit, dan tidak akan suka-suka yang mustahil bagimu.
(tatap Mat 17:19-20). Makara, seandainya saja para murid punya iman sebesar biji sesawi yang kecil, maka mereka tentu mengkhususkan anak asuh muda itu dari terkaman setan (Mat 17:20).

Lega umumnya kita (sira dan saya) kurang punya   iman, apalagi untuk pelayanan lepas/pemenuhan berusul kuasa setan/umur jahat! Apakah Yesus perlu mengulangi perkenalan awal-kata-Nya:
“Hai engkau turunan-basyar yang tidak percaya dan nan sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara anda? Sampai pron bila Aku harus sabar terhadap kamu?”
(Mat 27:17). Internal hal ini kita harus ingat bahwa Yesus punya pedoman ukuran iman yang jauh lebih tinggi ketimbang kita:
“Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Sang pencipta”
(Yes 55:8). Maka, marilah kita memohon hendaknya Beliau menambahkan iman kita.

Tahlil:
Bapa surgawi, seandainya ada kesalahan dalam prinsip lamaku mencerna arti iman, maka buatlah aku sekarang agar boleh memahaminya dengan benar seturut niat-Mu. Tambahkanlah imanku, ya Bapa surgawi. Amin.


Catatan

: Lakukan mendalami Bacaan Alkitab perian ini (Mat 14:22-36), bacalah tulisan nan berjudul “IMAN Merupakan FONDASI Berbunga SEGALANYA Dalam KEHIDUPAN KITA SEBAGAI UMAT KRISTIANI” (bacaan tanggal 2-8-22) dalam situs/blog Si Hadis https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 22-08 Bacaan Buku harian AGUSTUS 2022).

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2022)

Cilandak, 1 Agustus 2022 [Pw S.Alfonsus Maria de Liguori, Uskuip Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGAN TAKUT!

JANGAN TAKUT!

(Wacana Alkitab Misa Asli, Hari Lazim Pekan II Paskah – Sabtu, 30 April 2022)

Peringatan Fakultatif S. Pius V, Paus

OFMCap: Peringatan Fakultatif B. Benediktus dr Urbino, Ruhban


Ketika waktu mulai lilin batik, murid-pelajar Yesus meninggalkan ke danau, sangat naik ke sumbuk dan menyeberang ke Kapernaum. Hari sudah gelap dan Yesus belum juga hinggap mendapatkan mereka, darurat laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka bersepeda sangka-kira lima maupun enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus bepergian di atas air mendekati sumbuk itu. Mereka pun ketakutan. Sahaja Sira bertutur kepada mereka, “Inilah Aku, jangan takut!” Karena itu, mereka kepingin memanjatkan Sira ke dalam perahu, dan tiba-tiba itu juga sekoci itu sampai ke pantai yang mereka tuju. (Yoh 6:16-21)

Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19


Selagi Yesus mendekati perahu para murid langsung berjalan di atas air, Ia berkata,
“Inilah Aku, jangan  berdiri!”
 (Yoh 6:20). Serupa itu burung laut Tuhan berkata kepada umat-Nya, “Jangan kabur! Aku buruk perut besertamu!” Lebih dari 300 bisa jadi intern keseluruhan Kitab Suci kita mendengar wanti-wanti tersebut dari Allah: “Jangan samar muka!” Karena Aku besertamu; Aku, Sang pencipta, akan menyelamatkan engkau! Jangan remang: ini Allah.”

Dalam kehidupan Yesus, Tuhan bisa dikenali lewat prolog-kata ini. Malaikat Gabriel bersabda kepada Maria, “Jangan remang, hai Maria, sebab ia beroleh hidayah di penghadapan Allah” (Luk 1:30). Malaikat Tuhan tampak kepada Yusuf internal mimpi dan bersabda, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau kabur mencuil Maria perumpamaan istrimu, sebab momongan yang di n domestik kandungannya adalah dari Roh Murni” (Mat 1:20). Ketika para gembala datang untuk menyembah Anak Allah yang baru lahir, barangkali mereka mengatakan kepada Maria dan Yusuf barang apa yang dikatakan malaikat kepada mereka sebelumnya: “Jangan mengalir perlahan-lahan, sebab sesungguhnya aku mempublikasikan kepadamu kesukaan besar bagi seluruh nasion: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, ialah Kristus, Tuhan, di kota Daud. Inilah tandanya bagimu: Kamu akan menemui seorang bayi dibungkus dengan perca ambet dan tergolek di dalam palungan” (Luk 2:10-12). Kita bisa memisalkan bahwa ketika mereka memberitahukan kepada Maria dan Yusuf apa yang dikatakan malaikat kepada mereka, pasutri kudus itu menganggut setuju. Ya, memang itulah Yang mahakuasa yang berbicara! Dia selalu memulai percakapan dengan ungkapan sedemikian!


Puas akhir arwah di atas mayapada, pada periode kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan, para perempuan kudus menjauhi ke kubur-Nya, seorang malaikat berujar kepada mereka, “Janganlah kamu remang; sebab aku luang mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia enggak suka-suka di sini, sebab Ia telah angot, setolok sebagaimana nan telah dikatakan-Nya ……” Mereka lekas pergi berpunca kubur itu, dengan mengalir perlahan-lahan dan dengan sukacita yang samudra dan berlari bergopoh-gopoh untuk memberitahukan kepada murid-pelajar Yesus. Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berujar,
“Salam bagimu”.
Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Lalu kata Yesus kepada mereka,
“Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada tembuni-tali pusar-Ku, supaya mereka menyingkir ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku”
(Mat 28:1-10).

Sungguh sering Tuhan merasa terbiasa kerjakan mengingatkan kita,
“Jangan takut. Percayalah kepada-Ku. Apakah cak semau seseorang di seluruh dunia mengasihi Engkau kian dari Tuhan seorang?”
Dalam Kitab Yesaya kita dapat mendaras: “Sion berkata: ‘Allah (YHWH) telah memencilkan aku dan Rabi sudah lalu melupakan aku.’ Dapatkah seorang perempuan membenamkan bayinya, sehingga ia bukan menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun anda melupakannya, Aku tidak akan melupakan beliau. Tatap, Aku telah menayangkan dia di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu teguh di ruang ain-Ku” (Yes 49:14-16). Ini merupakan sebuah gambaran nan lemah renik dan luhur dari kasih Allah kepada makhluk nan tak gayutan dibatalkan oleh-Nya.


Akan tetapi, rasa berketentuan kita kepada-Nya sungguhlah kecil! Matius dan Markus privat menggambarkan babak Yesus melanglang di atas air, menceritakan kepada kita alangkah terkesannya Petrus melihat Yesus berjalan di atas air di perdua topan yang sedang mengamuk. Petrus berseru kepada Yesus: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Introduksi Yesus,
“Datanglah!”
Petrus kemudian turun dari berlepas dan bepergian di atas air mendapatkan Yesus. Doang ketika dirasanya tiupan angin, takutlah Petrus dan mulai tenggelam. Petrus berseru: “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang beliau dan berkata,
“Hai sosok nan kurang berkepastian, mengapa ia mangut?
(baca: Mat 14:22-33; Mrk 6:45-52).

DOA:
Tuhan Yesus Kristus, kami percaya bahwa Engkau ialah Imanuel yang senantiasa mendampingi kami dan siap menolong kami. Beliau selalu mengingatkan kami bikin tidak menjadi takut n domestik menghadapi bermacam rupa situasi kehidupan ini. Allah, tolonglah dan ampunilah kami yang seringkali enggak/adv minim percaya kepada-Mu. Amin.


Catatan

: Bikin mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:16-21), bacalah goresan yang berjudul “INILAH AKU, JANGAN Berdiri!” (bacaan tanggal 30-4-22) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah gubahan saya pada waktu 2022)

Cilandak, 29 April 2022 [PW S. Katarina semenjak Siena, Perawan Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN ADALAH FONDASI DARI SEGALANYA DALAM KEHIDUPAN KITA Seumpama UMAT KRISTIANI

IMAN ADALAH FONDASI Berpunca SEGALANYA DALAM Kehidupan KITA Andai UMAT KRISTIANI

(Referensi Injil Misa Polos, Hari Biasa Pekan Lazim XVIII – Selasa, 3 Agustus 2022)


Yesus yunior tetapi memberi makan paling rendah lima ribu insan puas malam sebelumnya dan Ia telah pergi menyendiri untuk berdoa. Sebelum itu Yesus sudah mengangkut para murid-Nya mendahului Dia ke seberang bukan berpokok Danau Genesaret dengan menggunakan perahu.

Sementara kano yang memuat para petatar produktif di perdua danau, angin sakal datang menerjang sehingga mengombang-ambingkan perahu yang mereka tumpangi. Di tengah-tengah badai para murid dibuat kaget karena menyaksikan Yesus datang berorientasi mereka dengan bepergian di atas air. Siswa-murid tersebut memang sangat terkejut. Belum sampai mereka tengung-tenging akan kejadian mukjizat penggandaan roti dan ikan pada malam sebelumnya, waktu ini terserah pula satu situasi ajaib.

Privat keadaan seperti mana itu, para petatar menyengaja Yesus yang sedang mendatangi mereka itu hantu. Namun Yesus meyakinkan mereka,
“Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!”
(Mat 14:27).

Siapa sekali lagi seandainya bukan Petrus – nan takut-menggermang berani – menantang Yesus dengan bersuara:
“Almalik, apabila Sira itu, suruhlah aku datang kepada-Mu melanglang di atas air”
 (Mat 14:28). Pengenalan Yesus,
“Datanglah!”
(Mat 14:29).


Petrus kemudian turun pecah perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus, namun ketika merasakan tiupan angin ia juga menjadi agak kelam dan berangkat tenggelam. Yesus mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus sembari mengomong,
“Hai orang yang cacat percaya, mengapa engkau pening?”
 (Mat 14:31).

Ada banyak cak bimbingan yang dapat kita petik dari wanti-wanti Injil waktu ini.

Sehabis banyak pekerjaan, suatu tahun yang sibuk, minimum sedikit setelah satu minggu yang munjung kesibukan, kita butuh “momen teduh” kerjakan rani di intim Halikuljabbar, bikin berdoa. Itulah contoh yang diberikan oleh Yesus. Anda pergi cak seorang diri bikin berdoa.

Di paruh laut sukma kita yang penuh badai, kita harus memiliki iman bahwa Yesus Kristus senantiasa menyertai kita, karena Sira yaitu sang Imanuel (Mat 1:23; 28:20). Apabila laut atau danau diterpa angin ribut, kita yakin bahwa Yesus medium berjalan di atas air mendatangi kita. Hal ini seharusnya memasrahkan kepada kita suatu keyakinan, sukacita dan berbaik-sejahtera karena bangun akan keeratan Kristus dengan kita, kelebihan-Nya, belas kasih-Nya, kuasa ilahi-Nya yang mengalahkan segala angin ribut jiwa.

Iman adalah fondasi dari segalanya dalam hayat kita sebagai umat Kristiani. Apabila kita bertanya kepada diri kita koteng, “mengapa engkau menyeleweng, mengapa anda tidak ki ajek kepada-Nya?”, kita tahu bahwa jawabannya pelahap, minimal sedikit sebagian, adalah “karena iman kita terlalu kecil”, kurang percaya!

Ratib:
Allah Yesus Kristus, kehadiran-Mu yakni kekuatanku. Ajarlah aku buat bepergian dalam dunia ini dengan iman yang teguh kepada-Mu. Yang mahakuasa, tolonglah aku, kiranya aku dapat menjadi peserta-Mu yang baik. Amin.


Catatan

: Bikin mendalami Pustaka Injil masa ini (Mat 14:22-36), bacalah tulisan yang berjudul “
Sememangnya ENGKAU Anak Yang mahakuasa
” (bacaan tangal 3-8-21) dalam situs/blog

PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 21-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2022).

(Garitan ini merupakan revisi bermula tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-8-20 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 2 Agustus 2022 [Peringatan Fakultatif S. Eusebius Vercelli, Uskup dan S. Petrus Yulianus, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INILAH AKU, JANGAN Merembas!

INILAH AKU, JANGAN Agak gelap!

 (Teks Bibel Misa Tulen, Periode Formal Pekan II Paskah – Sabtu, 17 April 2022)


Ketika periode mulai malam, peserta-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Tahun telah haram dan Yesus belum kembali datang mendapatkan mereka, temporer laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka bersepeda kira-duga lima maupun enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus melanglang di atas air menghadap perahu itu. Mereka pun keajaiban. Tetapi Sira berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan bersimbah!” Karena itu, mereka kepingin menaikkan Dia ke internal perahu, dan tiba-tiba itu juga perahu itu menjejak tepi laut nan mereka tuju. (Yoh 6:16-21)

Bacaan Purwa: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19

Setelah memberi bersantap orang banyak, Yesus menghindari sekali lagi ke giri, koteng diri, tentunya kerjakan berdoa dalam keheningan (lihat Yoh 6:15). Sementara itu peserta-murid-Nya menyeberangi danau dengan menggunakan sekoci di kegelapan malam (lihat Yoh 6:16-17). Dengan cepat laut berangkat menggelora karena tiupan angin kencang, dan para murid harus mendayung dengan sekuat tenaga melawan angin. Kalau dalam mukjizat pergandaan roti dan lauk Yesus yang mengambil inisiatif, maka kini para murid-lah nan menjadi titik api perhatian: mereka berjuang sesudah bersusah payah sehari penuh.

“Sehabis mereka mancawas kira-kira panca atau heksa- kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati bahtera itu” (Yoh 6:19). Bayangkan rasa merembas dan keterkejutan mereka selagi mereka melihat Yesus berjalan berorientasi mereka di atas air yang bergejolak. Mereka sudah membengkil untuk setakat ke pantai; dahulu Yesus muncul, tenang dan memegang lagam – tidak kelihatan lelah atau frustrasi.

Yesus berkata kepada mereka:
“Inilah Aku, jangan takut!”
(Yoh 6:20). Kata-introduksi tertinggal ini membuat nyenyat rasa takut mereka, dan dengan gembira mereka memegang Yesus ke dalam biduk mereka. Layak dicatat bahwa alas kata-pembukaan Yesus
“Inilah Aku”
adalah ungkapan bahasa Yunani dari nama YHWH (“Aku adalah Aku nan ada”) dalam Perjanjian Lama. Para murid tidak perlu merasa takut, karena Allah: “Aku yaitu Aku yang ada”, rani bersama mereka. Serupa itu mereka memufakati Yesus, maka seketika itu sekali lagi perahu itu mencapai tujuannya (Yoh 6:21). Para pelajar bukan perlou pun berkarya sirep-matian karena Yesus berada bersama mereka.

Kata-kata Yesus sederhana, singkat dan munjung kuasa. Seperti itu sayang kita terjebak privat upaya bersungguh-sungguh setiap perian – bekerja keras seperti para petatar dalam bahtera melawan angin indra bayu – buat mencapai tujuan kita. Yesus mengetahui pergumulan kita sehari-hari, dan dengan kuasa kata-kata sederhana Dia bisa memberikan damai-sejahtera dan guna kepada kita. Hal ini bukan berarti kita boleh berpangku dengan secara buta memangkalkan kepercayaan kepada Allah bakal mengamalkan segalanya kepada kita. Sebaliknya, kita dapat berkarya dengan penuh keagamaan, karena kita mencerna bahwa Allah senantiasa lampir kita, memampukan kita cak bagi mencapai intensi yang telah ditetapkan-Nya bagi kita.

DOA:
Bapa surgawi, tolonglah kami buat mengetahui bahwa Kamu senantiasa beserta kami dalam upaya-upaya kami mengajuk jalan-Mu. Ajarlah kami bagi menyebut Ia sehingga kami dapat mengalami kuasa-Mu dan kasih-Mu, teristimewa bilamana-saat pergumulan dan kesulitan kami. Amin.


Coretan

: Bakal mendalami Bacaan Injil tahun ini (Yoh 6:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “
YESUS BERKATA KEPADA PARA MURID-NYA Yang Madya KETAKUTAN: INILAH AKU, JANGAN Tegak!
” (bacaan rontok 17-4-21) privat situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 21-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2022)

Cilandak, 16 April 2022

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TENANGLAH! INILAH AKU, JANGAN TAKUT!

TENANGLAH! INILAH AKU, JANGAN TAKUT!

(Teks Injil Misa Kudus, Musim Halal sesudah Kinerja Allah – Rabu, 6 Januari 2022)

OFMCap.: Peringatan Fakultatif B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam


Selepas itu Yesus segera mendesak murid-pesuluh-Nya naik ke biduk dan menginjak lebih lampau ke memintas, ke Betsaida, provisional itu Anda menyuruh individu banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Engkau menghindari ke bukit bakal sembahyang. Menjelang malam perahu itu sudah di perdua danau, darurat Yesus tinggal sendirian di darat. Saat Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga lilin batik Ia hinggap kepada mereka bepergian diatas air dan hendak melewati mereka. Saat mereka mematamatai Ia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia hantu, dulu mereka memekik-mekik, sebab mereka semua mengaram Dia dan mereka kembali adv amat terkejut. Sahaja taajul Ia bertutur kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Silam Ia menanjak ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pula reda. Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti walaupun mutakadim mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka patuh tidak peka. (Mrk 6:45-52)

Bacaan Pertama: 1Yoh 4:11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,10,12-13

Selepas rasa lapar orang banyak dipuaskan, Yesus langsung meminggirkan para pelajar-Nya bagi pergi sebelum Kamu membubarkan makhluk banyak. Mengapa Yesus harus melakukan seperti itu? Markus enggak menceritakan apa alasan Yesus, namun mungkin sekali kita beruntung jawabannya justru dalam narasi di Injil Yohanes. Yohanes menceritakan kepada kita bahwa setelah turunan banyak diberi makan terserah gerakan untuk mengambil Yesus dan menciptakan menjadikan-Nya menjadi raja (Yoh 6:14-15). Hal itu yakni hal terakhir yang dihasrati maka itu Yesus. Menjadi raja dengan segala kontrol materialisme adalah hal yang ditolak oleh-Nya mentah-mentah. Yesus menolaknya ketika Dia digoda di padang gurun oleh Iblis (tatap Mat 4:8-10; bdk. Luk 4:5-8). Yesus memang mengintai kelainan ini akan muncul. Dia enggak mau para peserta-Nya meradang oleh ide atau pemikiran yang tercalit karib dengan gerakan chauvinistis-revolusioner di antara umat Israel. Seperti kita ketahui, Galilea adalah kancah basyar-sosok revolusioner menandingi penjajahan Roma. Poros usaha kabilah Zeloti adalah Galilea. Dengan demikian bukan tanpa alasanlah mengapa Yesus menyuruh para murid-Nya untuk menjauhi sebelum orang banyak yang sedang mendengarkan khotbah-Nya dibubarkan. Kalau tak demikian, lever para murid-Nya boleh saja dibakar maka itu kampanye ekstremis ini. Yesus lalu menyuruh orang banyak untuk pulang.

Sesudah berpisah dengan orang banyak itu, Yesus pergi ke ancala bakal berdoa, seorang. Banyak masalah yang tentunya bermunculan dalam manah dan hati-Nya. Sikap keras para pemuka agama intern menentang Anda dan ajaran-ajaran-Nya. Ada kewaswasan penuh rasa mengalir perlahan-lahan bersumber Herodes Antipas, dan terserah pula orang-manusia reaksioner nan kepingin membentuk diri-Nya menjadi seorang Mesias-chauvinistis, satu hal nan membandingbanding kehendak-Nya koteng. Bilamana itu sungguh banyak problem yang cak semau dalam pikiran Yesus dan hati-Nya jelas berbeban berat.

Sama dengan biasanya, Yesus menyediakan waktu  berada bersama Bapa untuk berjam-jam lamanya. Lalu dari atas bukit Yesus melihat alangkah payahnya para siswa-Nya menyadau karena angin sakal. Masa bikin sembahyang selesai, tibalah saat ini waktu untuk mengambil tindakan! Yesus yakni
a man of action.
Yesus melupakan keselamatan diri-Nya dan pergi bikin menolong para peserta-Nya yang adalah sahabat-sahabat terdekat yang dimiliki-Nya. Inilah Yesus. Bagi-Nya, jeritan khalayak yang membutuhkan pertolongan memecahkan semua klaim lainnya. Sekarang, para sahabat-Nya membutuhkan sambung tangan-Nya, makanya karena itu Dia harus menyingkir kerjakan menolong mereka.Kira-sangkil jam tiga lilin lebah Engkau datang kepada para siswa-Nya dengan berjalan di atas air (Mrk 6:48).


Apa nan sesungguhnya terjadi kita tidak tahu, dan lain akan tahu setepat-tepatnya. Kisahan ini diselimuti misteri yang memang pelik untuk dijelaskan. Yang kita adv pernah yakni bahwa Yesus mendatangi mereka, hingga-sampai para murid-Nya mengira Beliau hantu. Yesus  buru-buru merenjeng lidah kepada mereka,
“Tenanglah! Inilah Aku, jangan bersimbah!”
Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda (Mrk 6:50-51). Sekiranya berada bersama Dia, para petatar pun merasa nyaman, tanpa takut maupun khawatir minus pun.

Santo Augustinus berbunga Hippo [354-430] batik sehubungan dengan teks ini: “Ia menclok dengan melangkahi gelombang listrik-gelombang ombak; dengan demikian Sira menempatkan semua huru-hara sukma, yang seperti gelombang listrik besar, di radiks kaki-kaki-Nya. Umat Kristiani – mengapa harus takut?” Ini adalah kenyataan hidup sederhana, satu kenyataan yang telah dibuktikan maka itu umat Kristiani – baik perempuan maupun laki- laki – yang tak terhitung jumlahnya di setiap generasi, ialah bahwa manakala Kristus ada di sana, maka badai pun mereda, huru-hara juga berubah menjadi damai-sejahtera, segala apa yang tak dapat dilaksanakan menjadi terwujud, bagasi yang tak dapat ditanggung menjadi dapat ditanggung. Untuk berjalan bersama dengan Kristus, cak bagi kita juga berarti membuat badai nan mengamuk menjadi lengang kembali.

Ratib:
Tuhan Yesus Kristus, pada detik-saat aku dibebani oleh rasa meleleh, perkenankanlah Hidup Kudus-Mu mengingatkan aku akan sabda-Mu yang menyabarkan: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan ngeri!” Cak dapat rahmat Tuhan Yesus, Engkau yaitu sungguh Imanuel yang senantiasa menyertai umat-Mu. Amin.


Karangan

: Cak bagi mendalami Referensi Purwa hari ini (1Yoh 4:11-18), bacalah gubahan yang berjudul “JIKALAU ALLAH DEMIKIAN MENGASIHI KITA, MAKA ……” (bacaan copot 6-1-21) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 21-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2022.

(Gubahan ini bersumberkan sebuah karangan saya pada tahun 2022)

Cilandak, 5 Januari 2022

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA HARUS SENANTIASA PERCAYA KEPADA-NYA


KITA HARUS SENANTIASA PERCAYA KEPADA-NYA

(Teks Injil Misa Sejati, HARI MINGGU BIASA XIX [TAHUN A], 9 Agustus 2022)

Selepas itu Yesus segera mendesak siswa-murid-Nya panjat ke sekoci dan mendahului-Nya ke seberang, temporer itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus panjat ke atas giri cak bagi beribadat seorang diri. Menjelang lilin lebah, Ia sendirian di situ. Bahtera murid-murid-Nya sudah lalu sejumlah mil jauhnya berpangkal rantau dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Duga-sangkil jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika peserta-murid-Nya mengintai Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “Itu mambang!”, dahulu berseru-seru karena takut. Belaka buru-buru Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan menggermang!” Tinggal Petrus mengomong kepada-Nya, “Tuhan, apabila engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Prolog Yesus datanglah!” Tinggal Petrus roboh dari lambu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Namun ketika dirasanya tiupan angin, takutlah sira dan mulai tenggelam adv amat berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus menjengukkan tangan-Nya, memegang engkau dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun reda. Orang-orang nan cak semau  di sekoci menyembah Sira, katanya, “Sesungguhnya Anda Anak asuh Almalik.” (Mat 14:22-33)

Bacaan Pertama: 1Raj 19:9a,11-13a; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9ab-10,13-14; Bacaan Kedua: Rm 9:1-5

Dalam bacaan Bibel hari ini kita mempunyai dua mukjizat yang terjamah maka dari itu Yesus: Ia berjalan di atas air dan Dia juga menenangkan angin sakal yang menengah berkecamuk. Iman dan rasa beriman Petrus kepada Yesus lebih besar ketimbang iman dan rasa percaya rasul-rasul yang lain, saja belum lengkap dan bukan tak teradat dipertanyakan juga.

Yesus telah berkarya waktu itu di pesisir timur pecah Danau Genesaret. Momen lilin batik waktu tiba Ia mengatakan kepada para murid-Nya cak bagi pulang dengan perahu pantai sebelah barat. Yesus sendiri melewatkan sebagian besar hari malam itu dengan berdoa kerumahtanggaan keheningan minus ditemani siapapun. Di lain pihak para murid masih terombang-ambing makanya gelombang besar karena angin sakal dan sampai jam 3 malam/dini tahun mereka masih belum dapat mencapai rantau sisi barat yang menjadi pamrih mereka.

Tiba-tiba Yesus mendekati perahu mereka dengan berjalan di atas air. Para murid pun merasa kaget dan takut karena berpikir bahwa Beliau itu hantu. Yesus mengatakan kepada mereka untuk tak merasa takut, dan diri-Nyalah nan mereka asa mambang. Namun iman Petrus melemah momen dia melihat gelombang air yang segara sedang mendekat Petrus merasa  takut dan mulai terbenam, silam berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” (Mat 14:30). Segera Yesus menjulurkan tangan-Nya, memegang dia dan merenjeng lidah,
“Hai orang nan kurang percaya, cak kenapa beliau bimbang?”
Tinggal mereka naik ke kano dan angin sakal pun reda. Anak adam-sosok nan cak semau di sumbuk menyembah Kamu dan bertutur: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah” (Mat 14:31-33). Itulah abnormal lebih ceritanya.

Di samping mau berdoa seorang n domestik keheningan, kiranya ada alasan bukan kok Yesus menyuruh para murid bakal pergi ke rantau sisi barat dengan berdayung, yaitu lakukan menguatkan iman mereka dan rasa percaya mereka kepada diri-Nya. Yesus senggang bahwa para murid dalam lambu akan mengalami bahaya karena akan ada kilangangin kincir sakal nan tidak dolan dahsyatnya. Yesus bertujuan kerjakan mengunjungi para murid di perahu bilamana nan tepat, dan mengerjakan  dua mukjizat serempak, yaitu berjalan di atas air dan meredakan angin ribut/kilangangin kincir sakal.

Semua ini dilakukan maka dari itu Yesus dan hasilnya merupakan seperti mana yang Dia maksudkan – iman para murid kepada-Nya sungguh sudah diperkuat. Mereka meyembah-Nya sambil mendeklarasikan-Nya perumpamaan Anak asuh Almalik (Mat 14:33). Petrus yang mutakadim diakui sebagai  superior para pesuluh, dan menjadi yang paling jantan di antara mereka, menunjukkan dirinya siap tenggelam agar dapat membuktikan rasa berketentuan dan keyakinannya pada Yesus. Selama ada rasa berkeyakinan kepada Yesus, semua aman-aman saja. Akan tetapi ketika imannya melemah, maka kamu tenggelam, sekiranya sahaja Yesus tidak menolongnya. Ini juga ialah cak bimbingan penting intern proses pendidikan Petrus dan para murid lainnya.

Bagi kita kembali, hal ini sekali lagi merupakan pelajaran nan perlu, yaitu kita harus senantiasa berkepastian kepada Yesus dan Bapa surgawi yang adv amat mengasihi kita semua, walaupun pron bila Yang mahakuasa kelihatannya telah meninggalkan kita. Kebanyakan kebobrokan dan pencobaan dalam usia kita adalah disebabkan oleh angkara dan ketiadaan pemberian dari sesama kita. Selebihnya bisa disebabkan kesuntukan-kekurangan dan dosa-dosa kita, atau berbagai kelemahan dalam diri kita secara mental maupun jasad. Akan tetapi Allah telah meluluk di muka semua hal subversif ini dan Beliau dapat mencegah semua ini.

Allah membiarkan keadaan-hal ini terjadi karena semua ini dapat dan harus menjadi alat bakal mendidik kita n domestik pengetahuan tentang makna sebenarnya bermula kehidupan itu sendiri dan supaya kita “ditarik” bertambah sanding kepada-Nya.

Yesus telah melihat sebelumnya bahwa akan terjadi angin sakal dan bahaya yang mengancam para pelajar apabila Kamu menyuruh mereka menghindari ke pesisir sebelah barat dengan berdayung. Doang ujian dan bahaya yang mereka harus hadapi yakni untuk keefektifan mereka sendiri, karena mereka belajar lakukan menyadari bahwa Dia datang bermula Halikuljabbar, Anak asuh Allah, artinya Sang pencipta sendiri. Maka para murid boleh cinta percaya kepada-Nya.

Bagi orang Kristiani hangat-suam ceker yang memberontak terhadap Yang mahakuasa karena penderitaannya di dunia, sebaliknyalah yang akan terjadi. Dia lain berbenda melihat intensi dan nilai dari penderitaan karena dia tidak jalinan secara serius merenungkan alias menyedang memaklumi maka sesungguhnya bermula jiwa ini dan rencana munjung kasih dari Allah bagi dirinya.

DOA:
Sang pencipta Yesus, aku percaya bahwa Engkau cak semau bersamaku dan cak acap mencamkan dan menjaga diriku. Tingkatkanlah iman-kepercayaanku kepada-Mu. Berikanlah kewiraan kepadaku bikin mengambil langkah dalam iman, karena mengetahui bahwa Engkau akan ada di sana bikin menjulurkan tangan-Mu maslahat menolong aku pada waktu aku mulai tenggelam ke intern air yang berbahaya. Terpujilah nama-Mu cangap, ya Yesus, Allah dan Juruselamatku. Amin.


Catatan

: Cak bagi mendalami bacaan pertama waktu ini (1Raj 19:9a,11-13a), bacalah goresan yang berjudul “BUNYI Angin Silir-semilir-Perlahanlahan BASA” (referensi tanggal 9-8-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-08 Khalwat ALKITABIAH AGUSTUS 2022.

Cilandak, 8 Agustus 2022 [Peringatan Wajib S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DISELAMATKAN Oleh KUASA YESUS DAN OLEH KASIH-NYA

DISELAMATKAN Maka itu KUASA YESUS DAN OLEH KASIH-NYA

(Referensi Alkitab Misa Tulus, Waktu Sah Ahad Biasa XVIII – Senin, 3 Agustus 2022)



Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya panjat ke sampan dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus panjat ke atas dolok lakukan berdoa seorang diri. Menjelang malam, Engkau sendirian di tasik. Perahu murid-murid-Nya telah beberapa mil jauhnya berbunga tepi laut dan diombang-ambingkan gelombang elektronik, karena angin sakal. Kira-tebak jam tiga lilin batik datanglah Yesus kepada mereka melanglang di atas air. Momen peserta-murid-Nya melihat Sira berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Saja taajul Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Petrus berfirman kepada-Nya, “Tuhan, apabila engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus datanglah!” Lalu Petrus turun berpokok berlepas dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan menginjak tergenang dahulu berteriak, “Yang mahakuasa, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “Hai basyar yang kurang percaya, mengapa anda rusuh?” Adv amat mereka mendaki ke sumbuk dan angin pun reda. Orang-orang nan ada  di perahu menyembah Dia, katanya, “Sesungguhnya Ia Anak Yang mahakuasa.”

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. Ketika Yesus dikenal makanya makhluk-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh distrik itu. Semua khalayak nan sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon kepada-Nya supaya diperkenankan walaupun hanya menyentuh jumbai jubah-Nya. Semua orang yang mengaras-Nya menjadi sembuh. (Mat 14:22-36)

Bacaan Pertama: Yer 28:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,43,79-80,95,102

“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau merayang?”
(Mat 14:31)

Terserah pepatah berida yang mengatakan, bahwa seorang suci bukanlah seseorang yang bukan persaudaraan melakukan kesalahan dan tak perpautan gagal, melainkan seseorang yang bangkit berusul setiap kegagalan dan maju sekali lagi. Petitih renta ini menggambarkan bagaimana pribadi Petrus itu. Karena Petrus berorientasi lakukan bukan sabar dan bergerak dengan kekuatan dan kederasan yang besar, maka dia dikenal tak jarang membuat dirinya terlibat n domestik peristiwa-situasi di mana dirinya dapat mengalami kegagalan. Namun demikian, setiap kegagalan membentuk dirinya semakin percaya kepada cintakasih Yesus. Setiap saat Petrus menciptakan menjadikan sebuah awalan mungil kerumahtanggaan iman, maka diapun bertumbuh internal iman.

Pada malam Yesus mendatangi para murid-Nya dengan berjalan di atas air, cintakasih Petrus kepada Yesus sudah lalu menggerakkannya kerjakan turun dari lambu dan berjalan di atas air  mendapatkan-Nya. Dengan penuh kengerian Petrus kaya takhlik sejumlah ancang dalam jalannya di atas air, tetapi ketika rasa ngeri membereskan dirinya, engkau mulai tergenang. Engkau berteriak:
“Tuhan, tolonglah aku!”
(Mat 14:30). Di sini ada pelajaran yang sangat indah nan diperoleh Petrus, yaitu bahwa Yesus akan pelalah berada di sana guna menolongnya. Hal ini sekali lagi mudah-mudahan menjadi les lalu berharga bagi kita semua: Yesus selalu siap menolong kita! Dalam setiap badai hayat yang dialami setiap sosok, cintakasih-Nya dan kuasa-Nya akan berputar ke dalam diri kita berbunga salib-Nya, mengangkut kepada kita keselamatan dan akur-sejahtera.

Seperti juga para siswa Yesus nan mula-mula, kita kembali sedang congah dalam suatu pengelanaan iman. Plus sering kita bertindak sesuai perasaan-perasaan kita sendiri dan pandangan publik nan berlaku, bukannya maka dari itu iman. Sekadar Allah bukan pernah cak jongkok mengundang kita bagi ‘untuk turun dari perahu’ cara-cara rasam kita berpikir dalam-dalam. Ia selalu memanggil kita bikin dolan dengan cara melawan gelombang listrik penglihatan-pandangan dunia.

Apakah dalam cara kita mendidik dan membesarkan anak-anak asuh kita maupun n domestik pendirian kita memperlakukan pasangan hidup kita atau anggota-anggota keluarga kita nan tidak, atau pun juga sesama kita, Halikuljabbar seringkali menjuluki kita untuk mengambil langkah keluar berbunga “zona nyaman” kita, kerjakan keluar terbit perahu kita yang kesatuan hati, kemudian menolong mereka nan medium berada dalam kesulitan, baik materiil maupun spiritual. Manjapada kita dibuat menjadi liar oleh ikrar-taki palsu yang tak kontak dipenuhi dan rumah tangga yang retak setakat berantakan; lagi oleh ketamakan dan kebencian, oleh distribusi khazanah yang lain adil dan rang-gambar Allah yang telah terdistorsikan.

Kita bisa membuat satu perbedaan, akan tetapi hanya jikalau kita melangkah keluar ke dalam dunia yang gelap ini dengan iman-kepercayaan ki ajek bahwa Yesus ada di sana bersama dengan setiap makhluk yang memanggil tera-Nya. Terkadang kita akan gagal, doang Yesus akan demap berada di sana, siap untuk mengajar kita dan mengulurkan tangan-Nya bakal menolong kita. Petrus diselamatkan maka itu kuasa Yesus dan oleh kasih-Nya.

DOA:
Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah si Imanuel. Aku percaya bahwa Engkau senantiasa cak semau bersamaku. Tingkatkanlah iman-kepercayaanku kepada-Mu. Berikanlah keberanian kepadaku untuk mencoket anju [dalam] iman kerumahtanggaan bermacam rupa peristiwa kehidupanku, karena yakin bahwa Engkau akan hadir di sana kerjakan mengulurkan tangan-Mu kelebihan menolong aku sreg perian aku berangkat tenggelam ke n domestik air nan berbahaya. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Sang pencipta dan Juruselamatku. Amin.


Catatan

: Buat mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:22-36), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN Adalah FONDASI Berpunca SEGALANYA Kerumahtanggaan KEHIDUPAN KITA Ibarat UMAT KRISTIANI” (pustaka tangal 3-8-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2022).

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk wacana sungkap 7-8-18 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 2 Agustus 2022 [HARI Minggu Lazim XVIII – Tahun A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS Mengomong KEPADA PARA Pesuluh-NYA Yang SEDANG KETAKUTAN: INILAH AKU, JANGAN TAKUT!

YESUS Merenjeng lidah KEPADA PARA MURID-NYA Nan SEDANG Kengerian: INILAH AKU, JANGAN TAKUT!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Konvensional Pekan II Paskah – Sabtu, 4 Mei 2022)

Tahun SABTU IMAM



Ketika hari tiba lilin batik, murid-murid Yesus menjauhi ke danau, lalu naik ke bahtera dan menyeberang ke Kapernaum. Tahun sudah gelap dan Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sementara laut bergelora karena tiupan kilangangin kincir kencang. Sehabis mereka mendayung kira-kira lima alias enam kilometer jauhnya, mereka meluluk Yesus berjalan di atas air memfokus perahu itu. Mereka kembali keheranan. Belaka Engkau berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan berdiri!” Karena itu, mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan tiba-tiba itu pun perahu itu setakat ke pantai nan mereka tuju. (Yoh 6:16-21)

Referensi Permulaan: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19

Orang banyak begitu tertambat oleh mukjizat-mukjizat Yesus sehingga mereka mau (dengan paksa) membuat Anda menjadi Yamtuan (Yoh 6:15), dengan demikian akan menempatkan diri-Nya sebagai oposisi yang berhadap-hadapan dengan Herodes Antipas nan pada umumnya dipandang sebagai desertir bangsa (engkau memang bukan bangsa Yahudi). Semata-mata Yesus lain kepingin menerima situasi tersebut. Lain hanya tindakan seperti itu akan ki memanas-manasi intrusi militer dari pihak Romawi; namun lagi nan kian berjasa adalah, bahwa apabila dinobatkan sebagai seorang prabu dunia maka hal tersebut akan merupakan tafsiran yang riuk samasekali dari Kekaisaran yang hendak didirikan Yesus dengan kedatangan-Nya. Di hadapan Pilatus, Yesus menyatakan dengan penuh empati bahwa Kerajaan-Nya bukanlah dari marcapada ini (tatap Yoh 18:36). Oleh karena itu Yesus menghindari ke gunung seorang diri, dan para murid-Nya naik bahtera menyeberang ke Kapernaum; sememangnya cak bagi menghindar dari konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan.

Kita akan tatap, bahwa kesulitan para murid tidak berhenti sekali mereka berdampak “culik diri” berpunca anak adam banyak. Situ Galilea ini privat teks Injil beberapa varian bahasa Inggris disebut “Sea of Galilee” (“Laut Galilea”:
misalnya
dalam
Revised Standard Version; Christian Community Bible – Catholic Pastoral Edition; The New American Bible; The New Jerusalem Bible). “Laut” dipandang sebagai sebuah palagan “khaos” (Inggris:
chaos), tempat tinggal nasib-jiwa biadab dan kekuatan-kekuatan berbahaya yang harus dengan langgeng ditahan oleh Allah. Misalnya dalam “Ucapan Ilahi terhadap Asyur”:
Wahai! Ributnya banyak nasion-nasion, mereka ribut sebagaimana ombak laut menderu! Gaduhnya kaki-suku nasion, mereka riuh-rendah seperti gaduhnya air yang hebat! Suku-suku bangsa riuh-rendah seperti gaduhnya air nan besar; tetapi TUHAN (YHWH) menghardiknya, sehingga mereka lari jauh-jauh, raba-rubu seperti sekam di ajang penumbukan dihembus angin, dan seperti dedak ditiup puting beliung”
(Yes 17:12-13; lihat pula Mzm 18:16-17). Makara, walaupun berbuntut menghindar dari tekanan orang banyak, para murid Yesus sekarang mendapatkan diri mereka berkonfrontasi dengan kuasa-kuasa yang bukan dapat mereka hindari ataupun kendalikan.

Pada bintik keruncingan ini, saat segala kekuatan lahir dan batin para peserta sanding terkuras adv amat, muncullah Yesus yang berjalan di atas air. Mematamatai pemberitaan itu, mereka sungguh merasa takut! Sang Guru, yang mampu melipat-gandakan roti dan iwak, sekarang “mendemonstrasikan” lestari-kuasa nan jauh lebih dahsyat, nan menunjukkan pengaturan yang menentukan atas air danau nan mengamuk. Pron bila Yesus berbicara, kata-introduksi-Nya bukan cuma menghibur – “Jangan takut” (Yoh 6:20). Namun Yesus juga bersabda, “Inilah Aku”, kata-pengenalan nan dengan cepat ditangkap oleh para peserta-Nya ibarat gelar yang dimiliki oleh YHWH saja, satu-satunya Allah yang benar (“AKU Yakni AKU” [Kel 3:14 LAI edisi TB; bdk. Yoh 8:58] nan menurut Prof. DR. Martin Harun, OFM dalam ceramah dia lebih tepat diterjemahkan sebagai “AKU Yakni AKU YANG Ada”).

Dalam narasi ini dengan berbagai cara Yesus memanifestasikan kuat-kuasa Sang pencipta, kuasa yang mencangam kendali (kontrol) atas kuasa-kuasa kegelapan dan pada ketika sepadan keamanan dan perawatan bagi mereka nan telah dipanggil-Nya. Selanjutnya Ia terus berbicara mengenai perlunya bagi semua makhluk lakukan ikut ambil bagian kerumahtanggaan hidup-Nya sampai suatu bintik di mana kita sungguh-betapa bersantap tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Sahaja sebelum kita start merenungkan kebenaran-kebenaran yang luhur ini, kita masih mempunyai kesempatan kerjakan beristirahat di rantau danau dan menimang-nimang keagungan Tuhan dan kasih-Nya.

Puji-pujian:
Tuhan Yesus, kami berkepastian bahwa Engkaulah Allah yang Mahakudus, Mahakuasa, Kaisar atas segala syah dan sempurna dalam pemberian. Makanya rahmat-Mu, tolonglah kami untuk menempatkan iman dan kepercayaan kami privat Engkau. Agar kami senantiasa terbuka lakukan kasih dan kerahiman-Mu, dan semoga hati kami menjadi sirep dalam kehadiran-Mu seperti yang telah Kaulakukan atas air danau itu. Amin.


Karangan

: Cak bagi mendalami Bacaan

Pertama

perian ini (

Kis

6:1

-7
), bacalah catatan yang berjudul “Munjung Hidup DAN HIKMAT” (wacana tanggal 4-5-19) kerumahtanggaan situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-05 Nyepi ALKITABIAH MEI 2022.

(Gubahan ini bersumberkan sebuah garitan saya puas tahun 2012)

Cilandak,

1

Mei 2022

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HAI UMAT KRISTIANI, MENGAPA HARUS TAKUT?

HAI UMAT KRISTIANI, Mengapa HARUS TAKUT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Seremonial pasca- Kinerja Tuhan – Rabu, 9 Januari 2022)

Sesudah itu Yesus segera memarginalkan pesuluh-murid-Nya menaiki ke perahu dan menginjak lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, tentatif itu Ia menyuruh khalayak banyak pulang. Sehabis berpisah bermula mereka, Ia memencilkan ke bukit kerjakan sembahyang. Menjelang malam sekoci itu sudah di tengah danau, provisional Yesus tinggal cak seorang diri di darat. Ketika Beliau mengaram betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia nomplok kepada mereka berjalan diatas air dan hendak melintasi mereka. Saat mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka juga sangat terkejut. Cuma segera Ia berujar kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Adv amat Ia mendaki ke perahu mendapatkan mereka, dan kilangangin kincir pun reda. Mereka lewat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti sungguhpun sudah mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka ki ajek bukan peka. (Mrk 6:45-52)

Bacaan Mula-mula: 1Yoh 4:11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-210-13

Kerumahtanggaan beberapa hari ini, liturgi Basilika terus menerimakan bukti kepada kita keefektifan menunjukkan siapa Kristus sebenarnya. Kemarin kita melihat kuasa Yesus bagi memanipulasi-gandakan roti dan ikan. Namun demikian, para pesuluh-Nya “belum juga memaklumi biarpun sudah mengalami situasi roti itu, dan hati mereka tetap tak perseptif” (Mrk 6:52). Lega hari ini kita menyaksikan kuasa Yesus atas kekuatan alam selagi Anda berjalan di atas air dan menghilangkan angin sakal. Ini adalah Yesus yang sama, yang dua ahad lalu intern liturgi digambarkan sebagai seorang anak kecil lain berkapasitas di intern palungan.

“Berjalan di atas air” yang dilakukan oleh Yesus kerumahtanggaan hal ini bukanlah sekadar satu pertunjukan yuridiksi (Inggris:
show of power). Perjanjian Lama memandang “berjalan di atas air” sebagai suatu faedah ilahi. Intern Kitab Ayub misalnya, Ayub mendeklarasikan bahwa Allah
“koteng diri mengedepankan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut”
(Ayb 9:8). Dengan “bepergian di atas air” Yesus menunjukkan bahwa Engkau ialah Allah. Manifestasi ini dipertinggi/ditingkatkan dengan pernyataan Markus nan munjung misteri:
“Ia …… hendak melewati mereka”
(Mrk 6:48). Momen YHWH menyatakan izzah-Nya kepada Musa, Dia pertama-tama “melewati”-nya sehingga Musa hanya dapat melihat Kamu terbit belakang dan Musa pun selamat karena tidak ada orang yang meluluk YHWH dapat semangat (lihat Kel 33:19-23). Akan tetapi, kepada para murid-Nya, Yesus menunjukkan roman-Nya.

Dengan demikian, bukan mengherankanlah bila kita membaca bukan main terkejutnya para pesuluh Yesus ketika melihat-Nya, mereka berteriak-teriak kengerian karena menyahajakan Beliau hantu. Kata-kata Yesus kepada mereka sangat menyabarkan dan membuat nyenyat:
“Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!”
(Mrk 6:50). Yesus mengirimkan pesan nan sama kepada semua individu yang sedang dikuasai maka itu rasa takut. Ketika kita dilanda rasa takut, apakah kita menoleh kepada Yesus dan memperkenankan Beliau menghibur kita? Bayi Yesus privat palungan di Betlehem tidak bercerai di situ karena selanjutnya kita dipimpin kepada perwahyuan-perwahyuan nan bertambah ki akbar sepanjang kehidupan Yesus, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Demikian juga, selagi kita menyerahkan arwah kita kepada Dia dan mengedrop kepercayaan kepada-Nya, Ia akan menyatakan hal-keadaan yang lebih besar lagi kepada kita.

Apakah bervariasi performa kekerasan dalam masyarakat kita atau di dunia berpuaka kita? Apakah kita mengalami kebingungan sehubungan dengan problem keuangan? Apakah kesegaran bodi kita merupakan masalah yang serius akhir-akhir ini? Dalam semua situasi ini, yuk kita mengingat kata-pengenalan Yesus:
“Tenanglah! Inilah Aku, jangan agak kelam!”
Mengomentari Yesus nan berjalan di atas air, Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menulis:
“Sira datang melangkahi ombak-ombak; dengan demikian Anda menaruh semua gelombang huruhara kehidupan di bawah kaki-Nya. Hai umat Kristiani – mengapa harus seram?”

Tahlil:
Sang pencipta Yesus, kapan-saat aku dibebani oleh rasa takut, perkenankanlah Roh kudus-Mu mengingatkan aku akan perbuatan nabi nabi muhammad-Mu nan menghibur: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan seram!” Syukur Tuhan Yesus, Engkau adalah sungguh Imanuel yang senantiasa menyertai umat-Mu. Amin.


Catatan

: Bikin mendalami Bacaan Pertama musim ini (1Yoh 4:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “Saling mengasihi” (bacaan tanggal 9-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2022)

Cilandak, 7 Januari 2022

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNDANGLAH YESUS KE Kerumahtanggaan Sumbuk KEHIDUPAN KITA

UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU Semangat KITA

(Bacaan Bibel Misa Ceria, Peringatan S. Katarina berpokok Siena, Perawan Pujangga Dom – Sabtu, 29 April 2022)

Ketika periode mulai malam, murid-petatar Yesus pergi ke haud, silam mendaki ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Perian sudah gelap dan Yesus belum juga menclok mendapatkan mereka, darurat laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka mancawas kira-kira lima alias heksa- kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus bepergian di atas air mendatangi perahu itu. Mereka pun keluarbiasaan. Semata-mata Beliau berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan remang!” Karena itu, mereka mau menaikkan Ia ke dalam lambu, dan seketika itu juga perahu itu mencapai pantai nan mereka tuju. (Yoh 6:16-21)

Wacana Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19

Kalau kita mengenang suatu peristiwa berbahaya nan pernah kita hadapi di masa lepas, maka kita akan serta merta memahami pengalaman para rasul (murid) di atas perahu mereka di tengah-tengah air danau yang bergelora karena tiupan angin kencang. Situasi mencengkau ini ditambah lagi dengan suatu pengalaman nan enggak protokoler-biasa: “mengawasi seorang manusia sedang berjalan di atas air” yang sedang diterpa badai itu, dan orang itu semenjana mendekati sumbuk mereka. Bayangkanlah, seandainya apa yang mereka medium perhatikan itu sekali-boleh jadi diterangi makanya kirana, kemudian gelap kembali seperti yang sering terjadi di atas medan teater. Maka, tidak mengherankanlah apabila para murid Yesus itu ketakutan (Yoh 6:19). Semua itu begitu juga adegan dalam sinema thriller (horror?) saja!

Kita semua tentu mengenal benar rasa merembas atau ketakutan itu – dari yang kecil-kecil setakat kepada rasa cemas yang melumpuhkan. Dalam Kitab Suci diungkapkan bahwa Iblis memanipulasi manusia melalui rasa takut kita akan maut. Misalnya, penulis ‘Surat kepada Orang Ibrani’ menyatakan: “Karena anak-momongan itu merupakan anak-anak dari darah dan daging, maka Sira juga menjadi sama dengan mereka dan masuk mengalami keadaan mereka, kendati melalui kematian-Nya Sira memusnahkan anda, yaitu Ifrit nan berkuasa atas maut. Dengan demikian, Kamu menyingkirkan lagi mereka yang segenerasi hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:14-15). Pemikiran bahwa keheranan kita bisa membuka portal bagi si Iblis bakal menyambung kita, sesungguhnya dapat lebih mengkhawatirkan kita lagi. Bintang sartan, bagaimana pendirian yang terbaik untuk kita kerjakan mengatasi masalah keheranan ini? Yuk kita kembali kepada Kitab Zakiah di mana teragendakan bahwa Yesus, “model” kita, kembali mengalami rasa seram: “Intern hidup-Nya bak cucu adam, Ia mempersembahkan ratib dan petisi dengan keluh tangis dan air ain kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya berbunga maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7; bdk. Mat 26:36-46; Mrk 14:32-42; Luk 22:39-46). Yesus selalu membiarkan rasa takutnya memprakarsai diri-Nya kepada ratib yang lebih khusyuk dan iman yang lebih kuat lagi kepada Bapa-Nya (lihat Yoh 12:27-28).

Nah, Yesus menginginkan agar kita lagi memiliki iman yang sama kepada kemampuan Bapa firdausi buat mereservasi kita. Sonder iman ini kita ki ajek akan tetap terikat oleh kehebatan dan kecemasan. Lebih parah lagi, tanpa iman kepada ‘seorang’ Allah nan mengasihi, maka pada kesudahannya kita belaka dapat mengandalkan segalanya kepada diri kita sendiri. Dan semakin lama kita hidup, semakin sadar pula kita akan betapa rentan diri kita ini. Ujung-ujungnya kita dilanda rasa agak gelap terhadap kondisi kebugaran kita, “keamanan” moneter (financial security) kita, orang-anak adam dalam kehidupan kita, segala yang dipikirkan orang-makhluk tidak tentang diri kita, dlsb.

Bisa jadi kita merasa terpasung n domestik suatu situasi sonder pamrih, dan enggak terserah sendiri pun yang mau dan congah menolong kita. Bukankah hal kita nan begini tidak banyak berbeda dengan yang dihadapi oleh para murid Yesus seperti digambarkan intern teks kita periode ini? Barangkali pemikiran bahwa Allah berlimpah di perdua-tengah kilangangin kincir ribut pun menakutkan bagi kita. Apa pun yang ada kerumahtanggaan perasaan kita, silakan kita mencoba meragamkan hati kita dan mendengarkan pembukaan-perkenalan awal nan diucapkan Yesus:
“Inilah Aku, jangan takut!”
(Yoh 6:20). Undanglah Yesus ke dalam “sampan kehidupan kita”, maka Sira akan membawa anda ke pantai dengan selamat (lihat Yoh 6:21).

Tahmid:
Sang pencipta Yesus, tolonglah aku yang sedang mengalami badai arwah ini. Tolonglah aku agar dapat mendengar suara-Mu. Naiklah masuk ke n domestik arombai kehidupanku, tenangkanlah pikiranku dan bawalah aku dengan aman ke pantai yang dipenuhi dengan damai-sejahtera dan sukacita mulai sejak-Mu. Amin.


Gubahan

: Cak bagi mendalami Bacaan Pertama perian ini (Kis 6:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “
MENGAJARKAN DAN MEWARTAKAN SABDA ALLAH
” (bacaan tanggal 29-4-17) dalam situs/blog

PAX ET BONUM

http://catatanseorangofs.wordpress.com
; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah coretan saya di hari 2022)

Cilandak, 26 April 2022

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Source: https://sangsabda.wordpress.com/tag/yesus-berjalan-di-atas-air/

Posted by: caribes.net