Yosua 1 Ayat 9 Artinya

Yosua 1:1-9

Melangkah Tentu Bersama Tuhan — Akhirusanah 2022 dan awal hari 2022 dikawal oleh turunnya hujan sejak 31 desember semalam. Suka-suka nan saya kepikiran dari kemarin lho pak bu. Kasihan para penjual terompet, kembang api dan pernak pernik tahun mentah karena mereka pasti merugi karena hujan yang gak berhenti-cak jongkok dari semalam sampai perian ini.

Kalau kita gak makara bakar-bakaran semalam karena hujan, itu mah gak rugi. Tubin lilin lebah masih dapat dibakar ikan, ayam aduan atau milu bakarnya, kaprikornus kemakan juga. Tapi cak bagi para penjual terompet tahun baru mau jual kapan pun? Lha wong momennya hanya memadai di silih masa persis kok, pukul 00:00.

Kasihan mereka, karena mengawali tahun tak dengan harapan yang menjadi kenyataan. Akan tetapi malah mau untung jadinya teriris. Mengawali hari yang hijau di tahun yang bau kencur dengan camar duka begitu, pasti kurang mengenakkan. Berbarengan cak bertemu yang pahit di semula.

Pembacaan Bibel kita hari ini, kita bersesuai Yosua. Kita pasti masih ingat bahwa sebelum perikop ini terjadi, Yosua yaitu salah suatu orang yang paling berpikir nyata di Injil. Yusuf (yang kembali salah satu ahli pikir berupa – karena gak pernah kita lihat dia marah di Alkitab) belum lahir di zaman Yosua.

Yosua 1:1-9

Perintah TUHAN kepada Yosua untuk merebut petak Kanaan

1:1 Sesudah Musa hamba Halikuljabbar itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:
1:2 “Hamba-Ku Musa telah lengang; sebab itu bersiaplah saat ini, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju daerah yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada makhluk Israel itu.
1:3 Setiap tempat nan akan diinjak makanya punggung kakimu Kuberikan kepada sira, sama dengan yang mutakadim Kujanjikan kepada Musa.
1:4 Dari padang gurun dan jabal Libanon nan sebelah sana itu mencapai sungai segara, yakni sungai Efrat, seluruh tanah hamba allah Het, sampai ke Laut Besar di sebelah surya terendam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.
1:5 Seorangpun bukan akan dapat bertahan menghadapi engkau segolongan hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan lampir kamu; Aku enggak akan membiarkan engkau dan enggak akan menghindari engkau.
1:6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan menganjuri nasion ini punya negeri nan Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka cak bagi diberikan kepada mereka.
1:7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang sudah lalu diperintahkan kepadamu makanya hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.
1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan lilin batik, supaya engkau bertindak diskriminatif sesuai dengan segala yang terjadwal di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berbuah dan dia akan beruntung.
1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan batil lever, sebab TUHAN, Allahmu, lampir kamu, ke manapun engkau menghindari.”

Siapa tokoh Alkitab yang ada berusul zaman Adam hingga zaman Yosua di perikop kita yang pula nanang substansial (selain Kaleb nan menjadi teman Yosua mengintai dan mengirimkan deklarasi yang konkret itu)? Bahkan Abraham atau Musa sekalipun cak semau kalanya mereka gak sepositif itu menyikapi beberapa hal.

Sahaja semua gambaran-kenangan kita tentang Yosua yang selalu berpikir berwujud seperti privat kisah 12 pengintai(masih siuman ceritanya cerek) menjadi hilang tanpa eks saat kita mendaras perikop kita hari ini.

Coba hitung berapa kali Yosua membutuhkan kalimat penegasan dari Allah, hanya meski Yosua bisa optimistis dan percaya bikin melakukan barang apa yang Tuhan perintahkan kepadanya? Hitung saja berapa boleh jadi banyaknya Tuhan berkata, “Sahaja kuatkan dan teguhkanlah hatimu …” Berapa bisa jadi? Tiga mana tahu. Memangnya gak memadai sekali ya?

Saya cak hendak mengajak kita untuk menimang-nimang dua hal saja bikin mengawali awal masa yang sejuk karena hujan roboh kali ini.

Mengawali dengan Kesuntukan

Yang pertama, sememangnya antara tukang terompet. Yosua dan kita mana tahu memiliki kemiripan. Mengawali tahun dengan kehabisan yang osean.

Pakar terompet: kehilangan pokoknya gak mengsol.

Yosua: Kehilangan Musa dan dipilih untuk menggantikan Musa.

Kita: Kekeringan banyak keadaan lebih-lebih di awal tahun begitu juga ini, misalnya kehabisan vitalitas karena mungkin ada beberapa keadaan yang bersumber hari semalam sebatas hari ini kita belum mendapatkannya. – usia yang hilang?

Kita mengawali musim nan bau kencur ini dengan banyak kehabisan?

Iya, kehilangan. Tahun 2022, kita masih kerja, akan tetapi di periode 2022 hari pertama ini ternyata kita msih juga belum kerja. (Coba ganti pekerjaan dengan perkenalan awal kehilangan lainnya: ditinggal perantaraan pacar? keluarga nan masih juga belum harmonis?)

Pengingatan akan pengalaman masa lampau yang gak enak pasti akan mewujudkan kita berat melangkah di hari nan katanya baru ini cerek.

Pada jadinya, setiap kita harus memilih sikap apa yang cak hendak kita pahami intern mengawali langkah di tahun baru ini. Dan bakal hal itu, kita dapat membiasakan banyak dari Yosua di perikop kita hari ini.

Setelah dicerewetin Almalik acap kali (berarti memang harus ada yang cerewetin kita pun ya tiap hari), Yosua berhasil melangkah dengan iman.

Coba lihat ayat 10.
Suntuk Yosua memberi perintah kepada pengatur-pengatur tentara nasion itu, …

Orang mungkin berpikir peralihan dari ayat 1-9 menuju ke ayat 10 itu waktunya cepat ya. Sekiranya buat saya sih waktunya lama. Selama itu sehingga Tuhan membutuhkan berkali-kali kalimat pemantapan kepada Yosua di ayat 1-9 sebatas akhirnya Yosua berani melangkah (bersama seperti mana Yang mahakuasa).

Pengalaman Maujud

Saya mau menarik sekali lagi sampai ke pasal selanjutnya: Pasal 2 tentang Pengintai-pengintai di Yerikho.

Terdengar tidak luar ya. Dahulu Yosua sekali lagi menjadi peronda-pengintai, lampau dia korespondensi melangkahi jalan yang perian ini Yosua mengulanginya pun momen sira mengutus insan bikin mengintai.

Buat saya di sini Yosua sedang mengumpulkan semua pengalaman positifnya di masa yang habis untuk memandang jiwa barunya menuju masa depan.

Hari ini, internal ajakan Tuhan di Resepsi Kudusnya, kurang malar-malar sih penegasan berbunga Sang pencipta kepada kita sekiranya Dia memang etis-etis mengasihi kita?

Almalik itu seperti suara yang sering kita dengar periode panjat kereta (Commuter) atau panjat Transjakarta. “Mind your step … Hati-hati melangkah, perhatikan langkah Anda …

Akan tetapi, Tuhan yang kita kenal di dalam Yesus Kristus bukan tetapi sekedar ngomong doang “hati-hati melangkah”. Tuhan yang kita kenal di dalam Kristus punya kelebihan buat menegaskan kepada kita bahwa Sira sesayang itu kepada kita. Di mana kelebihannya? Di sini. Di Resepsi Tulen-Nya. Semua mutakadim dibayar dengan lunas di muka.

Selamat melangkah dengan pasti bersama dengan Halikuljabbar di perian yang hijau ini.

Ingatlah pada dua keuntungan dari kegagalan. Pertama, jika Sira gagal, Anda belajar apa yang tak berkarya di dalam diri Anda. Kedua, kekesalan menyerahkan peluang kepada Ia kerjakan menyedang cara baru. (Roger von Oech)

Source: https://www.gerry.id/2019/01/yosua-11-9.html

Posted by: caribes.net